Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 49 Segala Jurus


__ADS_3

"Ay, ini bukan seperti yang kamu pikirkan." upayanya menjelaskan.


"Apa Mas yang aku pikirkan?"


"Kamu pasti berpikir tadi itu Mamas berbuat mesum dengan Siska, itu semua salah, Ay."


"Salahnya dimana Mas?" terus memancing agar Mas Abyan semakin tersudutkan.


"Salah, Ay! Mamas kira itu kamu."


"Kenapa bisa Mamas berpikiran begitu?"


"Mamas kira kamu meminta hak kamu sebagai istri, Ay. Mamas nggak tau jika itu bukan kamu, suasananya benar-benar gelap. Saat keluar kamar mandi semuanya tidak terlihat tibalah tangan itu memegang tubuh Mamas, sampai-" melihat ke pusaka antik miliknya. "Mamas sebagai laki-laki normal, hanya menurutin permainan Ay." jelasnya.


Oh Mamas normal ternyata, gue kira setengah.


"Terus kalau aku nggak datang bersama dengan yang lain?"


Mas Abyan bungkam, merapatkan gigi graham yang terlihat di pipi.


"Ay, ini bukan seperti yang kamu pikirkan." ucapan itu lagi yang gue dengar.


"Apalagi yang aku pikirkan, Mas?" ingin tau gue, benar nggak dugaanmu Mas.


"Kamu cemburu atau marah."


Masuk perangkap!


"Terus gimana perasaan Mamas saat lihat aku sama Fadel?"


Mas Abyan hanya diam, berpikir mencari jawaban sepertinya.


"Mamas cemburukan sebagai suami? Bagaimana denganku Mas yang juga cemburu melihat suami yang suka sekali di dekatin wanita lain? Aku dan Fadel hanya bercanda, kamu Mas! Nggak merasa apa lebih dari itu. Hargain aku sebagai istri kamu Mas, walau kita tidak saling mencintai." jelasku puas meluapkan emosi.


"Mamas ingin sekali melihat kamu cemburu saat Mamas di dekatin wanita." alasannya.


"Kenapa, Mas?" ingin tau kenapa dirinya melakukan hal itu, apa Mas Abyan mencintaiku?


Mas Abyan kembali bungkam.


"Mas mau meminta hak Mamas sebagai suami, atau minta semuanya?" semakin penasaran. "Ingat Mas yang ku butuhkan adalah-" jari telunjuk mengarah ke dada Mas Abyan. "Cinta, ketulusan, kasih sayang, dan juga hargain aku sebagai istri. Jika tidak ada cinta, jangan membuat hal yang tidak masuk di akal."


Nggak tau perasaan apa ini? Mungkinkah gue mulai mencintai Mas Abyan.


Mas Abyan masih bungkam.


"Aku ngantuk, mau tidur. Lebih baik Mamas bertanggung jawab atas perbuatan Mamas tadi bersama Siska." putusku berjalan mengambil bantal meletakkan di atas kursi sofa, puraku tidur.


Entah kenapa dada gue terasa sesak banget.


Mas Abyan langsung menggendong. "Turunkan aku, Mas!" berontak yang diangkat Mas Abyan.


"Diam!" pekiknya, perlahan gue di pindahkan di atas ranjang. "Tidur disini." perintahnya.


Hanya diam mengikutin arahan Mas Abyan, baru kali ini dirinya bersuara dingin dan membentak.

__ADS_1


Nggak mau gue tidur di sini, mengingat kejadian tadi. Terpaksa gue lakukan.


Mas Abyan menaiki ranjang, tidur di samping melingkarkan tanganya di perutku. "Maaf!" ucapnya pelan.


Langsung memunggungin Mas Abyan, dirinya semakin merapatkan di belakang tubuhku, gila jantung gue menari-nari langsung memejamkan mata.


Jangan bilang setelah bertengkar dengan Mas Abyan langsung di ngap gue, biasanya seperti itu lihat pada curhatan Ibu-Ibu di media sosial.


Hiks hiks hiks.


Suara tangisan tibanya terdengar di belakang gue, rasanya perih banget, apa Mas Abyan menangis?


Apa gue sudah keterlaluan?


Merasakan tubuh Mas Abyan bergetar menahan sesuatu dengan tangisan.


"Maaf, Ay." ucap Mas Abyan dengan suara pelan. "Jika waktu bisa di putar, Mamas nggak akan berbuat semacam itu." sambungnya.


Salah nggak sih, gue bikin Mas Abyan seperti ini? Tadikan rencananya mau menyingkirkan sih gitar spanyol.


"Tidurlah Mas hari sudah malam, aku ngantuk." pintaku. Kalau cinta bilang Mas, kalau enggak bilang. Jangan menggantung. Entah kenapa gue butuh kepastian?


Mas Abyan mengeratkan pelukan. "Maafikan Mamas, setelah ini baru kamu tidur." paksanya.


Ada ya orang marah di paksa harus memaafkan.


"Sudah ku maafkan Mas, tolong lepas pelukan Mamas. Aku kurang nyaman." tegasku.


"Kamukan istri Mamas, Ay. Apa kamu jijik dengan Mamas?"


Mas Abyan menarik agar menghadapnya.


"Tolong jangan seperti ini." ucapnya saat berhadapan dengan wajah Mas Abyan.


Jujur nggak bisa melihat orang menangis di berhadapan seperti ini. Apalagi laki-laki.


Di mana posisi tidur di atas ranjang, travelingnya hayati berpikir melayang.


"Aku udah maafin kamu Mas, hanya saja capek berpikir." melepaskan pelukan Mas Abyan dan memegang tangannya. "Teman yang baik akan selalu mendukung di setiap apapun. Mungkin ini terbilang tidak masuk akal di antara kita sebagai suami istri. Setidaknya kita jalanin dengan pelan-pelan." terpaksa menasehati Mas Abyan. "Kamu pasti keberatankan, Mas. Jangan di paksa kalau kamu tidak mencintaiku. Yakinkan hatimu lagi. Sama sepertiku mencoba meyakinkan. Jangan terburu oleh nafsu." rasa jantung gue hampir lepas, posisi begini.


"Hiks hiks hiks. Maafin Mamas, Ay."


Cukup sudah bagiku tau, bahwa kamu tidak mencintaiku, Mas. Entah maaf belum mencintaiku atau maaf dengan ke jadian tadi.


Kenapa rasanya sakit ya?


"Mamas nggak keluar selesain masalah Mamas dengan Siska?" ingat dengan gitar spanyol.


"Enggak! Mamas nggak mau melihat dia lagi. Cukup kamu aja." ciumnya tanganku.


Mas elu seperti ini, lama-lama gue kepancing serius deh.


"Kenapa begitu?" berusaha fokus pada permasalahan.


"Kamu istriku, Ay. Biarkan Ayah, Ibu, Oma dan lainnya mengurus Siska. Tugas Mamas hanya kamu." air matanya masih mengalir.

__ADS_1


Lu laki-lak apa perempuan si, Mas? Kok mudah nangis di depanku, sebenarnya elu itu cinta nggak?


Melepaskan tangan Mas Abyan mengelap wajahnya penuh air mata. Kemudian.


Plak!


Memukul pelan bahu Mas Abyan mengajak bercanda. "Mas kamu tuh laki-laki, kenapa harus menangis sih?"


"Mamas nggak tau cara meminta maaf sama kamu, Ay."


"Mamas cinta ya sama aku sampai-sampai begini?" pertanyaan yang akhirnya keluar juga.


"Menurut kamu?" baliknya bertanya.


"Enggak!" memutar posisi memunggungin Mas Abyan, kesal gue nanya serius di suruh jawab sendiri.


"Sayang Mamas ke kamu melebihi apapun." ucapanya pelan memeluk lagi, dengan dagu di atas kepalaku.


Sayang aja bukan cinta ‘kan Mas. Rasanya kenapa gue di tolak ya?


"Mas nggak bisa lepas nih pelukan." paksaku lagi.


"Cium Mamas dulu tanda baikkan." negonya memeluk erat.


Iya gue cium lanjut adegan panas kita.


"Enggak!" tolakku.


"Berarti kamu masih marah sama Mamas?"


"Emang harus cium dulu baru bisa di percaya bahwa aku nggak marah."


"Hmmm, begitulah!"


"Entar kemana-mana udah ciuman." sindirku langsung.


"Udah malam sayang, mau kemana lagi?" candanya.


Mas gue ingin banget berkata, kita ini posisinya gimana sih?


"Udah ah tidur, entar lanjut berantem lagi."


"Makanya cium Mamas." rayunya.


"Enggak, entar ke lain-lain." jujurku jual mahal.


"Mamas yang cium, pilih yang mana?"


Berbalik dengan cepat. "Mana wajah Mamas." melihat dada Mas Abyan, ngalahku.


Mas Abyan bergerak memposisikan dengan wajah kami sejajar.


Malu sumpah yang gue rasakan. Bisa ya Mas, elu mengeluarkan segala jurus untuk mendapatkan yang di inginkan. Jantung gue benar-benar heboh, ingat pada ciuman ganas Mas Abyan kemarin.


Gimana kalau malam ini kami benar-benar bercinta tanpa cinta?

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2