
"Hai cantik, udah siap main dengan Abang." mata yang gue tutup, langsung terbuka kembali, melihat laki-laki bertubuh kekar perlahan mendekat, mohon jangan lakukan.
Dor...
Laki-laki di hadapanku berhenti mematung, penglihatannya yang kosong.
Kain hitam dari arah belakang menutupin seluruh kepalaku.
Dor...
Dor..
Hanya itu yang terdengar, tubuh gue bergetar hebat, siapa yang datang? Tiba kain kecil menutupi hidung gue, sepertinya kain ini di beri obat bius, gue coba pura-pura pingsan penasaran dengan kejadian ini.
"Hmmm, mmmm, mmm." bohongku melawan agar tidak di bius, setelahnya gue seperti orang yang tidak sadarkan diri, jatuh di pegangannya. Dari yang gue rasa seperti seorang laki-laki, dadanya tidak terasa ada buah melon atau buah jeruk.
Siapa yang memegangku, apa Mas Abyan, atau pihak berwajib?
Bagaimana jika bukan mereka? Tapi orang lain lagi yang ingin membunuhku secara perlahan-lahan.
Setelah terlihat tidak sadarkan diri kain kecil yang menutupin hidung gue tadi dilepas, gue mencoba mencium bau di tubuh laki-laki ini, siapa tau ini Mas Abyan.
Kenapa baunya bukan Mas Abyan? Seperti bau tubuh seseorang yang gue kenal juga, rasanya di mana ya? Apa di rumah sakit, tapi siapa? Masa Dokter Idris tapi bukan deh, masa keluarga pasien.
Suuut...
Suuut...
Dirinya memberi kode.
Dor...
Dor...
"Aaaaaah..." pekikan suara laki-laki meraung kesakitan.
Bugh!
"Aaaah.."
Brak!
"Aaaaaa..."
Bugh!
"Aaaaah..."
Dor...
Dor...
"Aaaah..."
Terdengar jelas seperti sedang berkelahi satu sama lain, kalau pihak berwajib nggak mungkin pasti mereka menyuruh orang-orang tadi mengangkat tangan tanpa berbuat kekerasan secara langsung. Siapa mereka?
Brak!
"Aaaah... Ampun, Mas?" terdengar suara Siska.
Apa? Siska berucap Mas, jangan bilang Mas Abyan. "Ampun, Mas! pekiknya lagi.
Prak!
"Aaaaah, jangan Mas aku salah." ucap Siska.
Gue semakin penasaran siapa yang Siska panggil Mas Abyan, Mas Idris, Mas Darman, Mas Joko, Mas Antam, Mas mulia, Mas, Mas siapa sih?
Dor...
Bugh!
Brak!
"Mas, aku nggak akan melakukan ini lagi?" terus Siska berucap seperti dirinya memohon ampunan, tapi tidak sama sekali di jawab oleh Mas-Mas itu.
__ADS_1
Penasaran gue semakin kuat, tibanya kepala laki-laki yang memegangku mendekat sepertinya dia tau gue nggak pingsan.
Tibanya kain kecil tadi kembali menutupi hidung gue dengan cukup lama. "Hmmmm, mmmm." habis juga nafas gue yang tidak mau mencium obat bius ini. "Hmmm, mmmm." akhirnya dengan terpaksa menarik nafas, kepala terasa pusing sekali, perlahan menghilang kesadaranku.
***
Duh... Kepala gue sakit banget, mencoba menggerakkan tangan memegang kepala dan lekuk leher yang terasa berat.
"Ay..." suara Mas Abyan memanggil.
"Zahra udah sadar, ya?" suara Ibu Sari.
"Iya, Bu." jawab Mas Abyan.
Suara langkah kaki mendekat, mataku terasa berat untuk melihat mereka. "Ra..." suara Yayu Diyah memanggil.
Perlahan membuka mata, penglihatanku masih buram, mencoba mengedipkan mata.
"Mas, panggil Idris, sepertinya Zahra menahan sesuatu." perintah Bu Sari.
"Iya cepetan, takut Zahra kenapa-napa." sambung Oma Farra.
"Ah iya." jawab Mas Abyan seperti jalan keluar ruangan.
Masih menahan sakit di kepala, rasanya bumi ini berputar-putar.
"Ada apa?" Dokter Idris datang.
Ingatku pada bau parfum kemarin, menciumnya perlahan, saat Dokter Idris memeriksa kondisiku.
Kenapa parfumnya berbeda? Gue semakin penasaran, siapa yang menyelamatkan kami?
"Ra, coba buka perlahan mata kamu jangan dipaksa kalau nggak bisa." Dokter Idris memberi arahan.
Perlahan membuka mata yang masih berat, melihat sekeliling sudah di perhatikan banyak orang. Ayah Dameer, Ibu Sari, Oma Farra, Mas Abyan, Mas Darman, Falisha, Hanum, Mika dan tiga saudariku yang hadir di ruangan.
Apa Falisha dan Mika udah sehat kembali? Jadi tinggal gue yang di rumah sakit.
"Bagaimana, Zahra?" tanya Dokter Idris.
"Hmmm!" perlahan bangun.
"Oh Zahra mau duduk, naikin tempat tidurnya aja, biar dia bisa menyender di tempat tidur." perintah Dokter Idris.
"Ah iya." Mas Darman langsung mengikuti arahan Dokter Idris.
Perlahan tempat tidur di posisikan empat puluh lima derajat.
"Ay, gimana rasanya masih sakit nggak?" Mas Abyan terlihat cemas.
"Hmmm, kepalaku masih pusing Mas." jawabku jujur.
"Mungkin ini dari efek samping dari bekas luka." Dokter Idris memberi tau.
Luka, maksudnya gue nggak bersegel lagi.
"Lu-luka?" ucapku gugup, melihat Mas Abyan.
"Iya Ra, ada luka dalam akibat punggung kamu di pukul. Setelah di rontgen ada beberapa saraf terganggu, tapi kamu tenang aja semuanya sudah di obati." jawab Dokter Idris.
Huuuf!
Alhamdulillah bukan luka lain. "Kamu jangan banyak pikiran, agar cepat sembuh. Aku permisi dulu." Dokter Idris melihat ke arah yang hadir di ruangan. "Mau operasi." sambungnya.
"Hmmm, iya Dris, terimakasih." Mas Abyan terlihat legah.
"Hmmm!" Dokter Idris pergi keluar ruangan.
"Ay, kamu mau makan nggak?" tawar Mas Abyan.
"Tunggu Mas! Sebenarnya apa yang terjadi?" ingin tau apa yang terjadi setelah gue nggak sadar.
"Terjadinya penculikan, Ay. Belum tau siapa yang melakukannya, tapi kamu di selamatkan oleh pihak berwajib." jelas Mas Abyan membuatku semakin penasaran. Apa benar pihak berwajib yang datang?
"Tenang Mbak, semuanya aman." Falisha tersenyum.
__ADS_1
"Jangan di pikirkan masalah itu." sambung Oma Farra.
"Mika, Falisha, kalian nggak apa-apa ‘kan?" kepoku.
"Hmmm, kami hanya di bius aja, nggak terjadi apa-apa." jawab Mika.
Alhamdulillah, mereka baik-baik aja.
"Pihak berwajib telah mengantongi pelakunya, Ay. Kita tinggal menunggu hasil." Mas Abyan memberi tau.
Entah kenapa insiden kali ini, Siska dan Nia tidak di bahas? Siapa sebenarnya yang menyelamatkanku, apa yang terjadi pada mereka berdua? Kemana juga mereka sekarang?
Coba tanya dulu deh.
"Apa tidak di temukan orang lain selain kami, Mas?" melihat Mas Abyan kemudian ke Mika dan Falisha.
Falisha dan Mika hanya diam, sepertinya mereka tau sesuatu?
"Hmmm, tidak ada, Ay. Hanya kamu, Falisha dan Mika yang di temukan. Sisanya nggak ada siapa-siapa di lokasi." jawab Mas Abyan santai.
"Hmmm, benar apa kata Mamas Mbak, gue sempat sadar saat itu. Benar tidak ada siapapun." jelas Falisha santai, kenapa dirinya menutupi Siska dan Nia. "Soal Siska dan Nia sudah tewas di gedung lain." sambung Falisha.
"Apa?" kenapa Mas Abyan, nggak cerita langsung.
Melihat semuanya melihat ke Falisha dan Mika.
"Kenapa di jelasin?" Oma Farra terlihat tidak suka.
"Sekalian Oma, Mbak Zahra tau bahwa merekalah yang berbuat demikian. Tapi yang anehnya kita selamat, tidak tau siapa yang menolong." jelas Falisha.
"Hmmm, benar Bu, Ra dan semuanya. Aku dan Falisha sadar, tidak begitu lama pihak berwajib datang." ucap Mika.
"Ini aneh, sebenarnya siapa yang menolong kalian? Masa pahlawan super yang melakukannya." Ayah Dameer terlihat bingung.
"Udah, intinya jangan di bahas lagi tragedi ini. Semuanya sudah terjadi, bahwa Siska dan Nia telah tiada, akibat kejahatan yang mereka buat." jelas Oma Farra yang telah mengetahui.
Apa Nia dan Siska telah meninggal? Innalilahi wa innailaihi rojiun.
"Hmmm, sekarang Mbak harus sembuh. Di tambah datang bulan jadi banyak mengeluarkan darah." Hanum bersuara.
"Jangan-jangan kamu keguguran Ra?" Oma Farra membuatku terkejut.
Mas Abyan hanya diam melirikku.
"Dokter Idris udah bilang itu hanya darah biasa Oma." jawab Bu Sari.
"Siapa tau dia salah diagnosa." ngeyel Oma Farra.
"Yang Dokter itu, Oma. Apa Mas Idris sih?" tanya Hanum kesal.
"Hmmm!" Oma Farra terlihat kesal juga di bantah Hanum.
"Udah-udah yang penting Zahra sudah pulih, sekarang kita lanjuti lagi makannya." perintah Ibu Sari.
"Ah iya, ayo nanti dingin, nggak enak." ajak Falisha.
Mereka semua duduk di lantai, di atas karpet bermotif bunga.
Kalau di lihat-lihat mereka di sini, lagi besuk pasien atau lagi piknik.
"Ay..." Mas Abyan duduk di ranjang.
"Abyan selesain dulu makan kamu, baru Zahra." tegur Oma Farra. "Lagian duduk di ranjang, kalau ambles ke bawah gimana, Zahra bukannya pulih malah tambah kritis akibat kamu." sambungnya penuh perhatian.
"Hmmm, iya Oma." jawab Mas Abyan. "Ay, Mamas lanjut makan dulu, udah itu baru kamu. Istirahat dulu ya." berdirinya.
"Hmmm, iya Mas."
Cup!
Sempatnya mencium keningku.
"Khem! Sembuhkan dulu Mas, Mbak Zahranya. Puasa dulu." tegur Hanum.
"Udah sana." perintahku malu atas sindiran Hanum.
__ADS_1
"Hmmm!" Mas Abyan terlihat terpaksa.
Bersambung...