Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Chapter - 107 Pelakor tingkat dewa


__ADS_3

Hari yang sangat indah, selepas konsultasi ke dokter, gue dan lainnya jalan-jalan di pantai.


Oma dan lainnya mandi.


Gue dan Mas Abyan, duduk di kursi plastik bertudung payung besar.


Banyak banget perempuan cantik-cantik asal negara lain memakai pakaian bekini. Cuci mata para lelaki.


Banyak juga sih, bule-bule ganteng.


"Ay, cari rujak, yuk." ajak Mas Abyan dalam fase ngidam.


Apa benar, Mas Abyan begitu cintanya sama gue, sampai-sampai semua yang harus gue rasakan, pindah ke dirinya?


"Emang ada jual rujak, Mas?" perasaanku dari tadi, enggak melihat orang jualan rujak.


"Mamas cari dulu ya, Ay." berdirinya.


"Gimana kalau nggak ada?"


"Minta Aziz aja, nyuruh pegawai hotel menyiapkan." ucap Mas Abyan santai.


Enak banget kalau jadi orang kaya, mau apa aja tinggal perintah. Semuanya disediakan.


"Pak Aziz lagi menikmati masa-masa bulan madu, Mas. Masa di ganggu." nggak nyaman rasanya.


"Aneh aja, Ay. Kalau misal Mamas yang turun langsung." ucap Mas Abyan benar adanya. Soalnya apa yang dirinya mau, di sediakan melalui Pak Aziz.


Secara jadwal pemimpin harus teratur, taulah Mas Abyan orangnya terlalu serius dalam berbagai hal.


"Iya udah mana bagus Mamas aja." mengikuti Mas Abyan.


"Tunggu sebentar!"


"Iya, Mas."


Mas Abyan berdiri dan berjalan mencari rujak buah. Melihat dirinya mencari sana sini.


Suami gue lucu juga kalau di lihat.


Ada-ada aja Ayahmu, Nak. Mengelus perut yang memang membulat. Gue kira ini perut, kebanyakan makan, ternyata ada untun.


Dut!


Hmmm, anak Bunda bergerak. Main apa sih Nak, di dalam sana?


Plak!


Mataku melihat benda seseorang terjatuh, terlihat itu seperti kalung emas.


Gue langsung mengambil dan berdiri, melihat seorang perempuan cantik bertubuh seksi, berpakaian bekini berwarna biru muda, dengan gaya rambut half curl, melewatiku.


"Mbak yang berpakaian berwarna biru." teriakku sambil berjalan mendekatinya.


Dirinya langsung melihatku.


Gue langsung berenti, seperti pernah melihat dirinya, tapi dimana?


Otakku secepat mungkin mengingat siapa wanita yang sedang gue lihat ini?


Dirumah sakit, pasien misalnya. Ah bukan.

__ADS_1


Di tempat fitness, Ah bukan juga.


Di kafe, bukan juga.


Bayangan selembar foto di lemari Mas Abyan nggak sengajaku temukan. Mataku langsung memperhatikan wajah perempuan yang sedang tersenyum mendekatiku dengan wajah yang di selembar foto itu. Ah benar ini mantan Mas Abyan yang bernama Cherly.


"Maaf, anda memanggil saya?" ucapnya dengan nada sedikit ke bahasa Inggris.


"Ini punya anda, bukan?" gue langsung memperlihatkan kalung emas di satukan dengan sebuah cincin.


"Terimakasih telah mengambil benda yang ku jatuhkan." ucapnya penuh arti. "Ah maaf, maksud saya terimakasih telah mengembalikannya lagi." ucapnya kembali penuh arti. "Maaf kalau perkataan saya salah. Saya baru belajar bahasa Indonesia." jelasnya dengan tersenyum-senyum.


Elu kira gue bodoh dengan maksud ucapan elu, wahai pelakor tingkah dewa.


Gue juga tersenyum. "Saya ambil karna itu berharga." ucapku penuh penekanan. "Saya mengerti maksud anda, tidak masalah. Belajar terus bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Agar semakin mahir." wahai pelakor.


Dirinya tersenyum. "Oke, thanks you." dirinya pergi santai menjauhi gue.


Walau tubuh elu sangat seksi enak di pandang, cantik lagi. Mas Abyan nggak akan suka dengan elu.


Ingat ya wahai pelakor, walau tubuh gue seperti ikan buntal begini bukan seperti gitar spanyol lagi. Tapi isinya melebihi apapun di dunia ini. Di buat langsung oleh sang maha pencipta.


Kesal gue. Amit-amit cabang bayi, mengelus perut.


Eh, kenapa tuh pelakor juga di sini? Jangan-jangan, mata gue mencari keberadaan Mas Abyan.


"Ay..." panggil Mas Abyan dari arah belakangku.


Gue melihat Mas Abyan yang di cari akhirnya datang.


"Kenapa berdiri di sini? Ayo duduk, panas, Ay." Mas Abyan menarikku, untuk duduk ke tempat semula.


"Sudah dapat belum Mas, rujaknya?" tanyaku sebelum menceritakan pelakor datang.


"Mas!" cegahku mengangkat tangan ke Mas Abyan.


"Kenapa, Ay?" Mas Abyan memegang handphone.


"Kita kembali ke hotel aja." ajakku merasa kurang nyaman melihat pelakor berkeliaran ikut liburan.


"Katanya mau di sini."


"Kalau Mamas mau di sini silahkan." gue langsung berdiri, berjalan ke arah hotel terdekat.


Setelah para suami datang, kami yang menyewa satu kamar itu, langsung pindah ke kamar masing-masing.


"Tunggu, Ay." Mas Abyan memegang tanganku.


"Mamas sih bikin aku Ilfeel aja." jelasku mengingat pelakor tadi.


"Kamu kenapa sih Ay, marah-marah?" Mas Abyan mulai memperhatikan reaksiku.


"Mas, lihat wanita yang duduk di kursi sana." tunjukku pada Mbak Cherly terlihat duduk santai sambil meminum jus.


Mas Abyan mulai melihat.


Dirinya terlihat terkejut.


"Ayo, Ay. Pulang ke kamar." Mas Abyan menarik tanganku.


"Mamas nggak menemui sang mantan." jahilku ingin melihat reaksi Mas Abyan. Jujur gue ingin melihat apa dirinya masih mencintai Mbak Cherly?

__ADS_1


Mas Abyan berhenti. "Percaya Ay, sama Mamas. Jangan berpikir negatif. Ayo kita ke kamar." Mas Abyan kembali menarikku.


Kami berjalan sedikit cepat ke arah hotel. Setelah didalam hotel, mulai Mas Abyan berjalan santai. "Kamu capek nggak, Ay?" Mas Abyan melihatku.


"Nggak, Mas." jujurku.


"Biasanya, Ay. Ibu hamil itu mudah capek kalau bergerak sedikit. Soalnya membawa bayi dalam kandungan." jelas Mas Abyan.


"Aku juga tau, Mas. Tapi sekarang aku belum merasakan hal itu." jujurku.


"Kamu nggak ada apa, ingin sesuatu gitu, Ay?"


Gue juga bingung, apa ya? "Nggak ada, Mas. Mungkin telah terwakilkan oleh Mamas." bisa jadi begitu.


"Berarti benar, Ay. Apa kata Oma?"


"Soal, cinta suami lebih besar."


"Hmmm! Mamas benar-benar mencintaimu, Ay." jelasnya mengeratkan pegangan tangan ke sela-sela jariku.


"Sebesar apa?" ingin tau gue.


"Sangat besar, Ay. Sampai-sampai tidak bisa di hitung."


"Apa Mamas benar-benar nggak mencintai Mbak Cherly lagi?" gue ingin memastikannya lagi.


Ceklek!


Kami berdua masuk ke dalam kamar.


Dup!


Mas Abyan memelukku. "Jangankan rasa, melihatnya lagi Mamas nggak mau, Ay." Mas Abyan melepaskan pelukan dan memegang perutku. "Di sini adalah tanda cinta kita. Jangan lagi ada pikiran hal lain." Mas Abyan terlihat berusaha meyakinkanku.


"Iya, Mas."


"Ay, gantilah pakaian dulu dengan yang nyaman. Mamas mau nelepon Aziz."


"Iya, Mas."


Ceklek!


Dup!


Mas Abyan jalan keluar kamar.


Kenapa ya, gue ngerasa Mas Abyan menyembunyikan sesuatu?


Apa mungkin, ini semua hanyalah firasat gue aja.


Mengelus perut yang dari tadi si untun bergerak. Tau ya kamu, kalau Bunda lagi cemburu sama Ayah.


Oh iya, gue lupa tanya sama Dokter Jenny. Anak gue jenis kelaminnya apa?


Terus yang gue kandung ada berapa?


Hmmm! Dokter Jenny juga terlihat kurang fokus memeriksa gue, gara-gara semuanya terus mengganggu.


Tapi yang terpenting untun sehat. Kalau lahir wajahnya sama seperti ayah ya, Nak. Gantengnya nggak pudar oleh waktu. Jangan seperti Bunda yang berwajah pas-pasan.


Entah apa yang di lihat Ayahmu pada Bunda ini, sampai-sampai jatuh cinta banget?

__ADS_1


Entar kalau tidur mau gue lihatin terus wajah Mas Abyan, agar si untun berwajah seperti Ayahnya aamiin.


Bersambung...


__ADS_2