
Jalan ke ruang tengah. "Ay, udah mau pergi?" tanya Mas Abyan yang duduk di kursi sofa menonton film.
"Mamas udah bangun?" berjalan mendekati.
"Hmmm, selesai shalat subuh Mamas di sini. Kamu mau pergi sekarang, Ay?"
"Iya Mas."
"Mamas anterin ya?" tawarnya.
"Hmmm, boleh."
"Sebentar Mamas ganti pakaian dulu." Mas Abyan berdiri.
"Hmmm!"
***
"Ay, ini apartemen temanmu?" saat kami telah sampai di depan pagar.
"Ya, Mas." turun dari motor. "Mamas hati-hati di jalan."
"Hmmm iya, Ay. Kamu juga."
Mengangkat tangan, mengajak Mas Abyan bersalaman. "Aku pergi dulu, Mas."
Membalas. "Hmmm, hati-hati sayang." tangan sebelahnya menarik kepalaku dan mencium kening sekilas.
Cup!
"Assalamualaikum." ucapku saat setelah di cium Mas Abyan.
"Waalaikumussalam, masuklah." perintahnya.
"Hmmm, dada Mas." melambaikan tangan.
Mas Abyan tersenyum membalas lambaianku.
Jalan masuk ke dalam apartemen yang masih sepi entah rasanya dari tadi ada yang mengikuti jalanku, melihat ke belakang lorong terlihat sepi, apa mungkin orang lewat atau halusinasi gue aja?
Ah sudahlah, masuk ke dalam lift.
Ting!
Keluar dari dalam lift jalan menuju pintu apartemen Falisha.
Ding!
Menekan Bel.
Ceklek!
"Eh elu udah sampai." ucap Falisha.
"Hmmm."
Melihat Falisha diam melihat ke arah belakang gue tibanya. "Awas Zahra..." pekik Falisha memberi tau.
Melihat ke belakang, tibanya seseorang bertubuh tinggi berpakaian, topi dan masker berwarna hitam membawa kayu besar.
__ADS_1
Bugh!
Memukul punggungku, gue terjatuh ke lantai, sakitnya menjalar ke seluruh tubuh akibat pukulan keras, mataku berkunang-kunang, kepala yang pusing tibalah mataku terpejam.
"Zahra..." terakhir pekikan suara Falisha, meraung-raung memanggilku.
***
Byurr!
Terbangun akibat siraman air ke tubuh.
"Bangun ja***g." teriakan seorang wanita membangunkan ku.
Byurr!
Kembali gue disiram, kepala yang berdenyut dan pusing di rasakan. Menggerakkan tangan, terasa berat. Langsung membuka mata, mulutku di lakban hitam serta tangan kebelakang dan kaki di ikat menggunakan tali.
Melihat seisi ruangan tampak buram.
Byurr!
Kembali di siram air. "Bangun ja***g." pekiknya lagi.
Rasanya telingaku berdengung, perlahan mataku terlihat jelas, melihat Siska dan Nia berdiri di hadapanku.
Kenapa mereka berdua di sini? Melihat Falisha dan Mika duduk di samping kanan dan kiriku dengan tangan, kaki yang juga di ikat serta mulut juga di lakban mereka sepertinya telah bangun dari tadi atau sadar sejak awal.
"Akhirnya elu bangun juga." ucap Siksa bersikap angkuh melihatku.
Nia membungkuk, tangannya menarik hijabku melepaskannya dan membuang kesembarang arah. "Hmmm, ehmm, mmmmmh." inginku berteriak tapi tidak bisa, kenapa mereka main lepas hijabku?
"Mau berontak, elu." Siska manarik rambutku. "Gara-gara elu, Mas Abyan dan keluarga besar Angkasa Earld Group memperlakukan gue tidak seperti biasanya." melepaskan rambutku dan mendorong kebelakang, hampir saja terjatuh.
Byurr!
Maksud Nia apa? Apa gara-gara masalah kemarin mereka jadi berantem setiap hari. Terus Siska dan Nia membalas perbuatannya ke gue.
Mika dan Falisha memberontak, ingin membantu tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
"Hmmm, emmm!" inginku menjawab tapi nggak bisa.
"Cuih, jijik gue lihat elu pura-pura baik padahal pelakor." ucap Nia semakin gila, mereka nggak sadar yang merebut kekasih itu siapa?
"Elu harus tau Zahra, gue adalah wanita yang selalu jadi pelampiasan nafsu Bang Doni saat kalian masih berpacaran." ucap Nia membuatku terkejut.
"Hampir setiap malam gue tidur bersamanya, gara-gara elu tidak bisa peka terhadap hasrat laki-laki. Untung ada gue yang setia menjadi pelampiasannya, dengan cinta dan kasih sayang gue ke Bang Doni. Gue rela seumur hidup menjadi wanita yang menemaninya di atas ranjang. Saat itu Bang Doni ingin menikahimu, gue lagi hamil Zahra. Untungnya keluarga elu tidak menyetujui, tapi gue masih saja tidak di akui, Bang Doni masih mencari wanita lain untuk melupakanmu. Dengan jalan pintas gue menemui orang tua Bang Doni untuk mempertanggung jawabkan telah menghamili gue, tapi sayang setelah sebulan menikah gue keguguran, sampai sekarang belum juga mendapatkan anak lagi. Bertemu lagi denganmu Abang Doni meluapkan amarahnya dan menceraikan gue, itu semua gara-gara elu Zahra." pekiknya meluapkan emosi.
Plak!
Menampar pipiku, sungguh tidak menyangka Bang Doni ternyata laki-laki jahat.
Bret!
Bret!
Bret!
Membuka lakban di mulut gue, Falisha dan Mika.
__ADS_1
Aw sakitnya, udah pipi ini mulut.
"Sekarang, kalian bertiga boleh berbicara sebelum mendapatkan hadiah dari gue?" ucap Siska.
"Dasar pe****r." ucap Falisha.
Plak!
Siska menampar pipi Falisha, tunjuknya. "Gara-gara elu Falisha, gue nggak bisa tidur dengan Mas Abyan, menghasilkan benih kami berdua." ucap Siska memanas.
"Elu sadar diri, istri Mas Abyan hanya Mbak Zahra." ucap Falisha melawan.
"Itu kemarin, setelah ini kalian bertiga akan hidup di dunia lain." ucap Nia berwajah licik.
"Maksud elu apa?" Mika bersuara.
"Eh cewek ikut campur, tadinya gue nggak mau membawa elu, tapi melihat kalian bertiga sepertinya dekat atau memang dekat, hahaha... Ikut aja sekalian." ucap Siska.
"Eh kalian berdua nggak waras, kalau gila bilang ya, di luar sana banyak kali laki-laki yang mencintai kalian apa adanya, bukan Si Doni dan Mas Abyan aja." ucap Falisha yang memang tidak kenal takut.
Byurr!
Nia menyiram Falisha. "Jaga ucapan elu ya, kami normal bisa memilih laki-laki ideal yang kami mau, sedangkan kalian jangan-jangan sesuka sesama jenis."
"Apa lu bilang?" ucap Mika memanas.
"Sudahlah Nia, kita suruh aja orang di luar masuk, biarkan mereka berpesta." ucap Siska berwajah licik.
"Apa maksud kalian?" gue penasaran.
Prok prok prok.
Siska menepuk tangan memberi kode pada orang luar, tibanya puluhan laki-laki datang masuk ke ruangan.
"Ini adalah hadiah kecil dari kami, sebelum kalian mendapatkan kehidupan yang bahagia esoknya." ucap Nia. "Nikmati saja, puaskan hasrat kalian. Jangan sampai lupa dengan hari ini." sambungnya.
"Oh ya Zahra, hiduplah di dunia lain dengan sengsara, jangan pikirkan Mas Abyan dan Bang Doni. Mereka berdua telah mendapatkan kebahagiaannya bersama kami." ucap Siska.
"Sebelum kalian berpisah, gue beri satu menit untuk berbicara satu sama lain." ucap Nia.
"Oh iya gue jelaskan sebelum mendapatkan hadiah, kalian bertiga akan mendapatkan pelayanan yang bagus, satu orang akan bermain dengan sepuluh orang."
"Apa?" serentak gue, Mika, dan Falisha berucap.
"Jangan terkejut, kalian pasti bahagia. Udah kami tinggal dulu." ucap Nia. "Mas Bro, beri mereka satu menit untuk berbicara ya. Setelah itu berpestalah sepuas kalian. Setelahnya, jangan lupa kubur di tempat yang aman tanpa jejak." sambungnya.
"Siap, Bos!" jawab laki-laki tinggi bertubuh kekar dengan wajah yang menakutkan.
"Dada, selamat menikmati." ucap Siska melambaikan tangannya, berjalan pelan meninggalkan tempat.
"Ra, Sha. Ini benaran bukan mimpi?" ucap Mika bergetar.
"Beneran, Mika." ucapku dan Falisha serentak.
"Kalian enak udah buka segel, nggak menyesal, sedangkan gue mana lagi datang bulan."
"Eh ingat ya! Kami berdua buka segel karena normal, sedangkan elu phobia di tambah sok jual mahal." ucap Falisha.
"Udah selesaikan, Neng. Mari kita bermain di jamin puas." ucap laki-laki bertubuh kekar dan beberapa orang mendekati secara perlahan.
__ADS_1
Ya Allah maafkan hambamu ini, telah menunda serta meragukan Mas Abyan. Memejamkan mata, mengalir deras air yang keluar dari dalam sana. Mas, maafkan aku, jika memang hari ini adalah kematianku semoga kelak jika kita di takdirkan bersama, gue akan berjanji melayani, mencintaimu, serta memberikan semuanya. Jikaku mati, tidak bertemu denganmu lagi, semoga dirimu mendapatkan pengganti yang lebih baik. Di jauhkan dari perempuan seperti Siska dan Nia.
Bersambung...