Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 75 Tuduhan


__ADS_3

Melihat silau oleh sinar mentari pagi yang mengintip dari belakang gorden putih yang menjuntai ke lantai. Membuat mataku, susah untuk melihat ruangan.


Perlahan membuka mata lagi, ingin bergerak, namun tidak bisa. Sadarku merasakan tangan Mas Abyan memeluk dari belakang.


Entah beberapa kali kami berdua senam aerobik semalam, ingatku terakhir hampir subuh, sisanya nggak ingat lagi.


Melihat jam telah pukul sembilan pagi. Kami berdua melewatkan shalat subuh, paling nanti di qadha aja shalatnya.


Melepaskan tangan Mas Abyan, ingin bergerak, aw... sakit banget. Rasanya tulang bagian bawah bergeser.


Mas Abyan terbangun. "Hmmm, udah bangun, Ay?" kembali dirinya memeluk.


"Mas udah pagi." pelanku berbicara.


"Hmmm, apa?" Mas Abyan melihat jam. "Astaghfirullah Ay, kesiangan." dirinya perlahan duduk.


Perlahan melihat Mas Abyan, bibir dan tubuhnya terdapat bercak darah, mungkin semalam akibat gigitan gue.


"Ay, mau mandi sekarang?" tawarnya.


Perlahan bergerak. "Aw..." sakitnya.


"Kenapa, Ay?" Mas Abyan terlihat cemas.


"Hiks hiks hiks." puraku menangis.


"Ay, kenapa?" Mas Abyan memegang bahuku.


"Mas, gimana ini?" serunya bercandai Mas Abyan.


"Apanya yang gimana?" dirinya belum juga nyambung.


"Kita nggak perawan lagi, entar di grebek warga gimana?"


Senyum Mas Abyan. "Ay, jangan bercanda." mendekati wajahnya.


"Mas maaf, bibir dan bahumu?" mulai serius memegang bibir dan bahunya.


Mas Abyan memegang tanganku.


Cup!


Mencium tanganku. "Nggak apa-apa, Ay. Luka Mamas sebentar lagi akan hilang, kalau kamu seumur hidup bahkan selamanya tidak akan pernah kembali lagi." jelas Mas Abyan. "Terimakasih, Ay. Telah menjaganya untuk Mamas."


"Hmmm, iya Mas. Sama-sama."


"Mamas siapkan air hangat, kita mandi bersama."


"Malu, Mas." menutupi wajahku dengan selimut.


Mas Abyan membuka selimut. "Apa Ay, yang kamu malukan? Semuanya sudah terlihat."


"Mamas ajalah yang mandi, aku masih belum bisa bergerak." tolakku memang benar adanya.


"Masih sakit ya, Ay?"


"Hmmm iya, Mas. Sepertinya tulangku bergeser."


"Ah serius, Ay? Coba Mamas lihat." masuk ke dalam selimut.


"Mas..." cegahku menahan kepala Mas Abyan.


Dirinya keluar dari dalam selimut. "Kenapa, Ay?"


"Udah aku hanya bercanda, itu sak-"


"Gara-gara semalam? Bentar lagi sembuh, entar Mamas beli obatnya di apotek." Mas Abyan memutuskan ucapanku.

__ADS_1


"Hmmm, iya Mas."


"Sebentar, Mamas ke kamar mandi dulu." Mas Abyan mengambil handuk yang terjatuh di lantai dekat ranjang, melilitkan di bagian perutnya.


Jalan ke dalam kamar mandi, sedangkan gue berusaha untuk duduk secara perlahan, aw... Sakitnya. Beginikah yang di rasakan Falisha dan Mika waktu itu.


Di satu sisi, gue hanya bisa tersenyum, merasa bersyukur telah memberikan hak sebagai seorang istri, menjaga untuknya.


Mas Abyan keluar dari dalam kamar mandi. "Sini Mamas gendong, kita mandi bersama."


"Hmmm, iya Mas."


Mulai Mas Abyan menggendongku dengan tubuh yang tertutup selimut. Penglihatan kami tertuju pada ranjang yang di mana-mana ternodai, serta pakaianku habis tidak berbentuk lagi.


"Mas, kita semalam membunuh siapa sih?" sempatku bercanda.


"Menusuk seseorang yang masih bersegel." jawabnya berbisik nakal.


Mengulum senyum, merasa malu mengingat kejadian semalam.


"Udah biarin, nanti Mamas yang bersihin." sambung Mas Abyan dengan tersenyum.


"Iya, Mas." memeluk leher Mas Abyan.


***


Selesai mandi dan berpakaian, Mas Abyan menggendong ke ruang tengah, tadinya ingin berjalan sendiri. Tapi, rasa bersalah dan cemas Mas Abyan, di tambah gue sulit untuk berjalan, jadinya di gendong terus.


"Ay, istirahat di sini. Mamas mau buat sarapan dulu." meletakkanku di kursi sofa.


"Hmmm, iya Mas."


"Sebentar Mamas ambil bantal dulu, agar kamu bisa tidur." jalannya cepat ke dalam kamar.


Tidak butuh waktu lama Mas Abyan membawa bantal meletakkan di kursi sofa. "Tidurlah dulu, istirahat. Nanti kalau sudah selesai masak, Mamas bangunin kita makan bersama."


Mas Abyan jalan ke dapur.


Mataku mulai tertutup.


Ding!


Suara Bel berbunyi.


Ding, dong!


Kembali berbunyi, hmmm, siapa sih?


Mas Abyan berjalan cepat ke arah pintu.


Ceklek!


"Oma, Ibu." Mas Abyan terlihat terkejut.


"Abyan kenapa kamu pulang nggak bilang-bilang sama kami semua, lagian pindah juga nggak kasih tau." suara Oma terdengar marah.


"Oma, Ibu masuk dulu. Bicaranya di dalam, jangan di depan pintu, malu sama tetangga." jelas Mas Abyan, ada benarnya.


Oma dan Ibu masuk ke dalam rumah, melihatku yang masih rebahan.


"Zahra, kamu kenapa tidur di situ?" tanya Oma terlihat curiga.


"Ah, lagi santai Oma." jelasku.


Oma melihat Mas Abyan menggunakan celemek di tubuhnya. "Nggak bener nih! Masa kamu Abyan yang masak. Jangan-jangan-" Oma terlihat curiga, dirinya langsung berjalan ke arah tiga kamar memasukinya satu persatu.


"Mama mau ke mana?" Ibu Sari menyusul.

__ADS_1


"Mas..." melihat Mas Abyan yang hanya memegangi kepalanya.


Aduh gawat, mana kamar utama belum di bersihkan.


"Abyan, Zahra..." pekik Oma Farra, suaranya memenuhi isi ruangan, berjalan mendekat.


"Kalian berdua, baru melakukannya." Oma terlihat menahan sesuatu. "Be-berati selama ini-" dirinya memegang dada langsung terjatuh kelantai.


Brak!


"Oma, Ma..." teriak kami serentak melihat Oma seperti terkena serangan jantung.


Gue yang susah berjalan, memaksakan mendekati Oma.


Mas Abyan memeriksa kondisi Oma. "Ayo kita pergi ke rumah sakit sekarang."


"Iya, ayo cepetan." Ibu Sari terlihat syok.


Mas Abyan menggendong Oma, sedangkan gue berusaha berjalan melupakan rasa sakit yang menjalar di bawah sana.


***


Kami semua menunggu Oma di depan pintu kamar, saat Dokter Idris memeriksa keadaan Oma.


Tadinya Dokter Idris dan Pak Aziz cuti sampai selesai resepsi yang di adakan tiga hari lagi.


Mendengar Mas Abyan memberi kabar, Oma pingsan langsung aja berkumpul di rumah sakit .


Gue yang tidak bisa berkata apa-apa lagi, saat melihat Oma begini. Rasanya aneh, kenapa Oma sangat syok, kami baru melakukannya?


Kenapa saat dirinya memarahi Siska dulu, biasa-biasa saja?


Duh malu gue, melihat Falisha, Mika, Mas Darman, Ibu, Ayah, Hanum, Pak Aziz yang sudah mengetahui sebab Oma pingsan.


Ceklek!


Dokter Idris keluar ruangan.


"Gimana Dris, dengan Oma?" Ibu Sari terlihat cemas.


"Oma udah sadar, tuh lagi duduk santai di atas ranjang." jelasnya santai.


"Ah, masa." jawab Ibu Sari jalan masuk ke dalam, kami semua mengikuti.


"Mama baik-baik ajakan?" teriak Ibu Sari.


"Iya baik-baik aja, hanya masih syok." melirikku dan Mas Abyan.


"Udah Oma, kenapa harus syok gara-gara hal begituan? Itukan urusan Mbak Zahra dan Mas Abyan." Falisha membela.


"Berarti malam itu mereka berdua mempermainkan kita." Oma berbicara jujur, tibanya menutup mulut.


"Lebih baik Oma jaga kesehatan, tolong jangan lakuin ini lagi." Mas Abyan terlihat kesal di campur malu.


"Kalau bukan bantuan Falisha, Oma mana tau kalau selama ini hanya akting kalian saja di depan kami semua. Jangan-jangan, kalian berdua menikah paksa dan menjalin kontrak seperti di film-film." tuduhan Oma membuatku terkejut.


Gue dan Mas Abyan melihat ke Falisha, Ayah, Ibu, Mas Darman, Pak Aziz, Hanum, yang juga melihat ke arah kami, mungkin pikirannya sama dengan Oma Farra.


Apa ini yang di sebut Falisha memberi dorongan dan hadiah? Ingin marah nggak bisa, apalagi tuduhan Oma yang nggak benar.


"Ayo Ay, kita pergi dari sini." Mas Abyan menarik tanganku.


"Abyan, tunggu!" pekik Oma.


Kami berdua berhenti kembali melihat Oma. "Cukup Oma, jangan lagi mengganggu rumah tangga Abyan, di sini yang menjalani Abyan dan Zahra, kami berdua sepakat menikmati masa-masa kami bersama sebelum mempunyai keturunan. Tapi Oma mengacaukan semuanya, tolong jaga kesehatan Oma." Mas Abyan kembali menarik keluar ruangan, dirinya benar-benar terlihat marah, akibat Oma dan Falisha memberi obat yang terbilang berbahaya itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2