
Ceklek!
Membuka pintu masuk lagi ke dalam kamar, menutup dan bersandar di belakang pintu.
Ya Allah, semoga Falisha dan Mika engkau berikan jalannya, sedih banget rasanya mendengar kabar mereka.
Jalan mendekati meja, pikiran gue nggak fokus kemana-mana.
"Ay, sini?"
Melihat suara Mas Abyan, yang ternyata dirinya duduk di balkon telah mengganti pakaian. Berjalan pelan menghampiri. "Mas ngapain disini?" melihat meja terdapat banyak makanan.
"Nungguin kamu, Ay. Biar makan sama-sama." senyumnya.
"Kenapa nggak makan duluan Mas, kamu pasti lapar?" duduk di hadapan Mas Abyan.
"Udah kenyang lihatin kamu." gombalnya.
Senyumku. "Ternyata Mamas bisa gombal." mulai menyantap makanan.
"Benar adanya kok, Ay." mulainya makan.
Apa gue tanya aja ya masalah mantannya? Kebetulan Mas Abyan lagi gombal. Ah gue coba dulu siapa tau di jawab.
"Hmmm, Mamas pintar ya gombal, pasti banyak dulu pacaranya."
"Kalau pacar hanya kamu, Ay?" jawabnya.
"Maksud Mamas?"
"Hmmm, entar kapan-kapan kita cerita." putusnya membuat gue penasaran, kenapa Mas Abyan nggak mau ngaku tentang tunangannya bernama Cherly? Masa mereka nggak berpacaran langsung aja mau nikah.
"Hmmm, iya Mas." mungkin belum saatnya gue tau, ini yang di namakan gue belum yakin dengan cinta Mas Abyan.
"Teman kamu gimana, Ay. Udah selesai?"
"Hmmm, tadi hanya minta di belikan pembalut, berhubung aku membawanya di dalam tas, langsung aja di kasih, lagian dia malu minta sama pelayan."
"Kamu lagi datang bulan?"
"Hmmm, iya Mas." bohongku.
Mas Abyan tersenyum-senyum. "Kenapa, Mas?" aneh melihat reaksi Mas Abyan.
Menggelengkan kepala. "Hmmm, nggak apa-apa." masihnya tersenyum.
Apa mungkin Mas Abyan berpikir gue menolak tadi, gara-gara datang bulan.
Ah sudahlah berpikiran yang lain aja, ini gara-gara Mika dan Falisha jadi gue ikut-ikutan mesum.
***
Ceklek!
Dup!
Berjalan ke ruang tengah membawa dua amplop putih bersi surat pengunduran diri, sedih rasanya berpisah dengan teman-teman yang telah menjadi keluarga selama tujuh tahun lamanya.
"Mas..." ucapku saat duduk di lantai beralas karpet berhadapan dengan Mas Abyan yang duduk di lantai dengan fokusnya ke layar laptop dan beberapa berkas di atas meja.
"Hmmm, kenapa Ay?" melihatku.
__ADS_1
"Ada pena nggak minjam? Penaku tadi di pinjam teman lupa mengambilnya."
"Buat apa?" matanya kembali ke layar laptop.
"Buat tanda tangan ini." meletakkan dua amplop putih di atas meja.
"Apa itu?" melihatnya.
"Surat pengunduran diri."
"Kenapa ada dua?"
"Satu buat Mamas." langsung meletakkan di dekat Mas Abyan. "Satunya lagi buat Bu karu." senyumku, beginilah punya teman ngasih surat langsung sama CEOnya.
Mas Abyan membuka dan membacanya. "Hmmm, coba kamu ambil penanya di kamar Mamas, lemari dekat ranjang." perintahnya.
"Iya Mas." berdiri jalan ke kamar Mas Abyan, ini pertama kali gue masuk ke dalam sana.
Ceklek!
Melihat kamar Mas Abyan penuh dengan bau khas Mas Abyan manis-manis gimana gitu, nuansa catnya berbeda, di sini berwarna coklat mudah bercampur putih, kalau di bandingkan dengan kamar gue, kenapa rapi kamar Mas Abyan. Jadi minder gue sebagai wanita, melihat lemari yang di tunjukkan Mas Abyan, membukanya perlahan mencari pena, melihat sebuah buku tulis bersampul kulit berwarna hitam, siapa tau penanya di dalam sana.
Membuka terjatuh sebuah kertas kecil di kakiku, mengambil.
Melihat selembar foto perempuan cantik, berambut setengah bahu sama seperti gue, bedanya dia di keriting gantung gitu modelnya, membalik foto tertulis. "Kau akan selalu mengingatku, walau kita tidak akan pernah bertemu lagi."
Inikah mantan Mas Abyan jangan-jangan melihat rambut gue yang sama, dirinya membayangkan wanita ini.
"Ada apa, Ay?" ucap Mas Abyan ternyata sudah berada di belakang.
"Ma-maaf Mas, nggak sengaja lihat ini jatuh ke bawah." gugupku berkata dengan hati yang sakit.
Mengambil foto di tanganku dan duduk di tepi ranjang sebelah gue. "Cantik nggak, Ay?" santainya bertanya.
"Hmmm, cantik Mas." jalan keluar ruangan, nanti aja gue tanda tangani.
"Ay, tunggu! Duduk di sini." menepuk ranjang di sebelah Mas Abyan.
"Hmmm!" kembali berjalan mengikuti arahan, duduk di samping Mas Abyan.
"Ini adalah wanita yang mengejar Mamas dari tingkat sekolah menengah pertama sampai lulus kuliah." mulanya Mas Abyan bercerita.
"Itu mantan atau pacar Mamas?" sungguh sakit banget hati gue bertanya begini, ternyata Mas Abyan masih menyimpan foto wanita yang dicintainya.
"Bukan mantan maupun pacar." jawabnya santai.
"Lalu?" penasaran, apa Mas Abyan berbohong?
"Teman biasa, hanya saja dirinya banyak berkorban mendapatkan Mamas."
"Terus?"
"Sebagai gantinya Mamas mengajak dirinya menikah."
"Terus, kenapa kalian nggak menikah?"
"Kamu cemburu, Ay?" mengalihkan pembicaraan.
"Mamas nggak jawab pertanyaanku?" jujur Mas ayo.
"Hmmm, dirinya meninggal saat sesudah kami bertunangan pada waktu itu Cherly minta Mamas untuk membeli buah, tibalah mobil menabrak sangat kuat dan membakar dirinya." terlihat mata Mas Abyan berembun.
__ADS_1
"Mamas sangat mencintai Mbak Cherly ya?"
"Kamu cemburu, Ay?"
"Jawab Mas, ngapain aku cemburu sama mantan Mamas?"
"Tapi perasaanku-" putusnya membuat gue merasakan sakit.
"Mamas masih mencintainya?" tanyaku melihat ke arah lain.
"Mamas belum selesai, Ay." memegang kepalaku agar melihat ke arahnya. "Tapi perasaan Mamas hanya untuk kamu."
Bisa ya Mamas berbohong. "Hmmm, iya udah tolong ambilkan penanya aku mau tanda tangan Mas." mengalihkan ke pembahasan lainnya.
"Ay..."
"Iya Mas..."
"Kamu marah?"
"Enggak Mas, untuk apa?" bohongku.
"Ay, Mamas mengajak Cherly untuk menikah bukan berarti Mamas mencintainya, tapi rasa simpati Mamas untuk membalas perasaannya."
"Mas setahu aku nih ya, nggak ada orang yang menikah begitu, mungkin buktinya kita berdua, yang sedikit berbeda. Aku tau kok Mas, kamu sebenarnya mencintai Mbak Cherly, hanya aja itu semua nggak sadar." jelasku menahan sesak di dada, langsung aja berbicara tanpa berputar-putar lagi.
"Ay, percaya sama Mamas." memelukku.
"Iya aku percaya." bohongku.
"Kamu harus percaya, Ay." paksanya.
"Iya aku percaya, Mas." air mataku luruh begitu saja, bodoh jadi wanita nggak bisa apa kuat? Nangisnya entar gitu di kamar sebelah.
"Mamas cinta sama kamu." melepaskan pelukan.
"Terus kenapa Mamas menyimpan foto itu?" meliht foto yang di pegang Mas Abyan.
"Mamas merasa bersalah, Ay. Rasanya Mamas telah membunuh wanita ini." melihat foto.
"Jawab jujur, sejujur-jujurnya. Mamas sempat menyukainya ya ‘kan."
Senyum Mas Abyan. "Oke Mamas jujur, memang iya! Tapi itu dulu, Ay, sama seperti kamu yang mencintai mantanmu bernama Doni." jelasnya membuatku terdiam, ternyata gue salah berpikiran egois bersikap cemburu pada orang yang telah meninggal dunia. Gue seperti serakah mau semuanya harus menjadi milik gue. Padahal itu semua hanyalah titipan.
Menghapus air mata. "Hmmm, maaf Mas, aku hanya ingin tau aja tadi. Ternyata begitu besar cinta Mamas pada Mbak Cherly."
"Tapi itu dulu, Ay." mengambil ke-dua tanganku. "Sekarang ada kamu, di hati Mamas."
Cup!
Mencium bibirku sekilas, sepertinya Mas Abyan semakin naik tingkat deh, mau ya nyium terus.
"Hmmm iya Mas, sama seperti aku yang kini hatiku hanya ada kamu, Mas." senyumku.
"Ay, boleh jujur nggak?"
"Kenapa Mas?"
Mas Abyan mencubit pipiku. "Kamu gemesin."
Bisa ya Mamas merubah hati gue yang lagi panas jadi adem gini.
__ADS_1
Bersambung...