Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 62 Menjemput


__ADS_3

"Itu bukannya Pak Bos dan Pak Aziz." ucap Bu Risma melihat Mas Abyan dan Pak Aziz berjalan ke ruangan.


Melihat para pegawai di luar memperhatikan Mas Abyan tidak mengedipkan mata, mungkin mereka tertarik melihat kegantengan Mas Abyan.


Wajar saja, Mas Abyan memakai pakaian kemeja pajang berwarna putih, rompi, dasi, jas, celana dasar sepatu kulit berwarna hitam pekat dengan rambut yang bergaya medium undercut Korea.


Gue aja yang melihat tidak bisa berkedip.


"Gawat Pak Bos datang, ayo cepat berbaris." ucap Bu Hasya.


"Elu jangan melamun, Pak Bos kesini." tarik Bu Risma.


"Ah." sadar dari lamunan akibat tarikan Bu Risma. "Kenapa harus berdiri di sini?" berbaris di depan meja.


"Lu lihat itu Pak Bos, ke sini." ucap Bu Hasya.


"Iya-iyalah itu suami gue, menjemput." jawabku jujur.


Plak!


Bu Hasya memukul bahuku pelan.


"Elu gila nanti aja! Mentang-mentang elu di pecat jadi nggak waras. Tolong ya, jangan ajak kami semua yang ada di ruangan ikut di pecat gara-gara elu. Kami semua masih mau kerja, elu enak belum punya anak sama suami belum ada pengeluaran besar, kalau kami semua banyak tau." ucap Bu Hasya terlihat geram.


"Nggak percaya banget sih Bu, itu suami saya. Lihat nih." jalanku pelan menghampiri Mas Abyan yang mulai masuk ruangan.


"Zahra..." pekik Bu Ima.


"Udah habis riwayat kita hari ini." ucap Bu Hasya.


"Mas..." teriakku melewati Mas Abyan, seperti memanggil orang lain.


"Ay, Mamas di sini." berhenti Mas Abyan di depan semua teman yang berbaris di depan meja.


Berhenti jalan, senyumku manis melihat teman kerja yang terlihat mematung, mungkin syok mereka kecuali Mika dan Bu karu yang sedikit santai.


"Oh ini Mamas gue." mendekatin Mas Abyan.


Tibanya tangan kanan Mas Abyan melingkar di leherku. "Iya ini suamimu, bukan yang lain." jawabnya spontan.


"Apa?" ucap Bu Hasya, dan lainnya berucap.


Ada yang memegang mulut, memegang dada, mulut yang terbuka lebar, dan berbagai macam lainnnya mereka ekspresikan.


"Kata mereka Mamas bukan suamiku." menunjuk ke arah teman kerja menjahili mereka.


"Mereka nggak percaya?" Mas Abyan terlihat terkejut, padahal aktingnya aja.


"Hmmm!" anggukku pelan melihat Mas Abyan.


Cup!


Mencium keningku. "Kalau begini."


Kami berdua melihat ke arah mereka, yang terlihat ketakutan.


"Anak zaman sekarang kalau lagi baru memang romantis, udah seperti kita, kalau bisa pisah ranjang." ucap Kakek yang duduk di kursi roda dan nenek yang mendorong lewat menyindir kami berdua.


Kami berdua melihat satu sama lain. "Kita nggak begitu ‘kan sayang?" tanya Mas Abyan terlihat malu mengedipkan ke-dua matanya memberi kode.

__ADS_1


"Ah kitakan romantis, selamanya bersama." senyumku menaikkan ke-dua alis memamerkan kemesraan. Serunya membuat teman kerja merasa iri.


"Mas, I love you." ucapku lembut.


"I love you to." jawab Mas Abyan.


"Ekhem!" suara Pak Aziz memecahkan drama kami.


Melepaskan pelukan. "Ekhem! Maaf saya mengganggu kalian semua, perkenalkan saya Abyan pemimpin perusahaan dan juga suami dari Ibu Zahra Aneska." ucap Mas Abyan kembali fokus.


Mereka semua hanya bisa tersenyum. "Bapak tidak menggangu, kami semua memang-" Bu karu melihat yang lainnya, dirinya ikut bingung harus menjawab apa?


"Ibu aja yang mewakili." ucap Bu Hasya pelan.


"Khem!" Bu karu mengetes suara. "Maaf, Pak! Kami semua di sini memang berkumpul untuk... Untuk..." gugupnya sampai-sampai tak tau harus berbicara apa?


"Itu Mas, mereka semua berkumpul untuk menemui aku yang hari ini nggak berkerja lagi, di akibatkan Pak Bosnya memecatku."


"Memecat istri sendiri, yang seharusnya nggak boleh kerja, tapi masih mau bekerja dan malu kalau suaminya itu pemimpin perusahaan." jujur Mas Abyan membuatku malu.


"Mas jangan buka aib kenapa?" ucapku pelan.


"Emang iya, dari awal Mamas udah bilang. Kamu tetap nggak mau ikut ucapan Mamas. Untung Siska datang, kalau enggak kamu masih mau kerja." balas Mas Abyan. "Kartu dan semuanya Mamas kasih, masih aja mau kerja." sambungnya yang berkhutbah.


"Tapikan aku butu-"


"Kurang?" putusnya.


Melihat semua teman yang fokus memperhatikan kami berdua berdebat di depan mereka.


"Mas kita lanjut di rumah aja, aku mau pulang. Bentar aku ambil tas dulu di loker." melihat Bu Hasya dan lainnya. "Ayo kumpul di dalam, kita bicara sebentar." melihat Mas Abyan lagi. "Mamas duduk dulu, sebentar." perintahku.


Berjalan ke dalam, semua teman ikut masuk mengucapkan permisi pada Mas Abyan.


"Ra, elu benaran istri Pak Bos?" ucap Bu Ima


"Ra, maafin gue ya." ucap Bu Hasya.


Ada yang mau berbicara. "Berhenti!" memutuskan ucapan yang merasa takut atau hal lainnya gue memaklumi itu, siapa sih yang percaya bahwa gue menikah dengan Bos sendiri, apalagi waktu ijab kabul gue di mana, Mas Abyan dimana.


"Intinya gue udah jujur dari awal, Bu karu juga tau, tapi dirinya diam, karena suami gue yang memintanya langsung supaya tidak menimbulkan gosip, di sisi lain juga gue masih mau bekerja berhubung perempuan kemarin datang membuat keributan, terpaksa gue di pecat dan berhenti bekerja." ucapku sambil membuka loker.


"Ra banyak yang gue ingin tau, tapi intinya elu jangan ya kasih tau masalah kita ke Pak Bos ya." ucap Bu Hasya.


Senyumku. "Tenang aja kali Bu, itu juga aibku. Kalian ‘kan tau suami gue gimana killernya gimana. Istrinya aja di pecat, apalagi kalian yang bukan siapa-siapa." melihat Fadel yang nggak bersuara lagi. "Del, jadi nggak kita ke K.U.A?"


"Bu, jangan ingat lagi ya. Fadel masih mau hidup." ucapnya ketakutan seperti bukan dirinya.


"Santai aja elu sama gue."


"Ra jangan lupa ya, kalau elu hamil anak gue di jodohin." ucap Bu Hasya masihnya bercanda.


"Anak gue juga Ra, di jamin gue didik sebagus mungkin." ucap Bu Ima.


"Eh anak gue juga." ucap Bu Risma.


"Anak gue paling ganteng dan cantik cocok di jadiin mantu elu Ra." ucap Bu Ika.


"Eh anak gue juga bisa Ra, dia udah pintar belajar berbagai bahasa, cocok tuh jadi mantu elu." ucap Bu Eri.

__ADS_1


"Fadel belum punya anak Bu" ucap Fadel ikutnya bercanda.


"Pacar aja belum, apalagi anak, ingat! Tidak ada loker untuk, elu." ucap Bu Hasya.


Mengelus perut. "Ra, jangan bilang elu udah hamil ya?" ucap Bu Eri melihat gue bertindak begini.


Senyumku. "Laper Bu, gara-gara kalian daftar jadi mertua anak gue kelak." kalian nggak tau aja gue masih bersegel, belum di apa-apain.


"Ah elu, buat kami semua syok aja. Intinya semoga elu cepat mendapatkan keturunan, anak gue menunggu." ucap Bu Hasya.


"Eh anak kita juga kali." serentak Bu Risma, Bu Ika, Bu Eri.


"Ibu karu mau daftar nggak?" melihat Bu karu yang baru masuk.


"Boleh kalau kamu mau." senyumnya.


"Ra, Pak Abyan udah lama di luar jangan kamu lupakan, kasihan dia di kerumuni keluarga pasien tuh." ucap Mika.


"Apa?" dengan cepat mengambil tas. "Udah dulu ya semua, kasihan suami gue." jalan keluar.


"Iya Ra, hati-hati." ucap mereka serentak.


Melihat orang telah ramai, gue langsung mendekatin Mas Abyan.


"Yuk Mas, pulang." memegang tangan Mas Abyan. "Dada semua, kapan-kapan kita bertemu kembali." sambungku melihat semua orang yang berdiri di depan meja keperawatan.


"Suster Zahra..." pekik seorang laki-laki.


Berhenti melihat siapa yang memanggil, ternyata Rio berjalan mendorong kursi roda.


"Bu, ini hadiah buat Ibu, di dalam ada nomor saya, kapan-kapan hubungi saya. Jangan menilai isinya apa? Terimakasih sudah merawat saya selama ini." kelopak mata Rio membendung, memegang kotak kecil berbungkus kertas berwarna biru dongker, yang di beri aksesoris pita berwarna putih.


Ingatku pada kondisi Rio yang mempunyai riwayat penyakit kanker hati stadium akhir.


Melepaskan tangan Mas Abyan, Mas Abyan langsung memberi sekat antara gue dan Rio. "Maaf ini istri saya." ucapnya langsung.


"Mas..." cegahku jangan cemburu, mengambil kado Rio. "Terimakasih ya Rio, insyaallah saya akan menghubungi kamu, cepat sembuh ya."


"Ay..." terlihat jelas Mas Abyan keberatan, melihat gue menerima pemberian Rio.


"Nanti aku jelasin." bisikku menghormati Rio agar dirinya tidak terbebani.


"Iya Suster sama-sama, semoga kalian bahagia." ucap Rio meneteskan air matanya.


"Hmmm!"


Melihat teman kerja dan lainnya. "Aku pergi dulu."


"Iya Sus, Ra, hati-hati." ucap mereka serentak.


Melihat Mas Abyan. "Ayo, Mas." ajakku.


Mas Abyan tersenyum menggenggam tanganku. "Hmmm ayo." kami berdua berjalan perlahan keluar ruangan di ikutin Pak Aziz dari belakang.


Sedih itu yang bisa gue rasakan, keluar dari ruangan yang selama ini menemani hari-hariku.


Berpisah dengan keluarga yang ku anggap begitu, hampir dua puluh empat jam gue di sana, saat sebelum menjadi istri Mas Abyan. Kini tak akan pernah bisa merasakan, indahnya masa itu lagi.


Melihat Mas Abyan yang tersenyum manis melihatku, tugas baru yang ku jalani sekarang adalah menjadi istri sah dari CEO perusahaan besar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2