
Berjalan perlahan masuk ke dalam ruangan, melihat keluarga pasien dan teman kerja berdiri melihatku.
"Ra, gimana?" tanya Bu Karu.
"Ibu baik-baik ajakan?" tanya Fadel.
"Sus, nggak di marah ‘kan?" keponya keluarga pasien.
Terpaksa gue harus berakting sedih.
Hiks hiks hiks, puraku menangis.
"Sini duduk dulu." Mika menarik tanganku dan menarik kursi untuk duduk.
Gue duduk mengikuti arahan, melihat mereka yang berbaris melihatku. Beginilah keponya rakyat Indonesia kalau ada berita beginian, sekalian aja di video terus di sebar luaskan viral masalah gue tadi.
Di pecat kerja sebagai perawat, pulangnya daftar jadi artis seru juga kalau gitu, sayangnya di sini nggak ada yang memegang handphone, paling gosip simpang siur gitu aja.
"Elu kenapa nangis, Ra?" tanya Bu Ima.
"Ayo jelasin ke kami, Ra." ucap Bu Hasya penasaran.
"Tadi si wanita udah klarifikasi katanya dia salah orang." ucap Mika.
"Seharusnya keluarga si perempuan harus mengobatinya secara rutin, jangan sampai terjadi begini." ucap Bu Hasya.
"Hiks hiks hiks saya di pecat." jelasku menghayatin drama yang ada.
"Kenapa bisa, elukan nggak salah Ra?" ucap Bu karu.
"Ayo kita demo ke Pak Abyan, main pecat aja nggak lihat situasi." ucap Fadel terlihat emosi.
"Ayo." sambung keluarga pasien ikut serta.
"Eh tunggu-tunggu, ini semua salah di saya juga. Ikut emosi dan membuat keributan."
"Wajarlah Sus, siapa sih yang nggak marah di tuduh jadi pelakor. Apalagi ini zaman lagi naik daunnya sebutan pelakor, dan sebutan itu termasuk aib bisa merusak nama baik kita." sambung keluarga pasien.
"Tapi Pak, saya sudah mencabut rambutnya." mengeluarkan sisa rambut Siska. "Kalau dalam hukum saya sudah berbuat kejahatan, bisa masuk penjara, lebih baik saya di pecat mencari pekerjaan lain dari pada harus masuk jeruji besi."
"Iya juga." ucap Bu Hasya. "Jadi hari ini elu terakhir kerja?" sambungnya.
"Besok masih dinas pagi Bu, sisanya saya nggak kerja lagi." rasanya sedih harus berpisah dengan mereka secepat ini.
"Yang sabar ya Sus, nanti kalau ada pekerjaan lain saya bantu kok." ucap keluarga pasien yang perihatin melihat kondisiku.
"Nggak perlu Pak, saya ada pekerjaan sampingan di luar. Jadilah untuk makan sehari-hari." tolakku.
"Wah Suster Zahra masih jomblo ya?" tanya keluar pasien yang bergiliran mengeluarkan suara.
"Iya! Ada yang mau nggak?" ucap Bu Ima bercanda.
"Ada keluarga saya yang bekerja sebagai perwira masih jomblo Bu, mau nggak?"
"Ah nggak usah Pak, saya sudah bersuami." ucapku jujur.
Gawat kalau Mas Abyan tahu, istrinya mau di nikahin keluarga pasien.
__ADS_1
"Ra, elu ikut gila ya gara-gara kejadian tadi?" Bu Hasya terlihat emosi.
"Serius Bu." jawabku jujur yang selalu tak di percaya.
"Ibu jangan bilang di pecat jadinya depresi." ucap Fadel.
Bu karu hanya tersenyum-senyum, dirinya yang tidak bisa melakukan apa-apa.
"Serius Bu, udah nikah?" pasien laki-laki yang duduk di kursi roda mendekati.
"Elu sakit berjalan ke sini." ucap keluarganya.
"Abah ‘kan tau saya ngefans sama Suster Zahra." jujurnya.
"Tapi Suster Zahra bilang udah nikah, Rio." jawab Abahnya.
"Udah-udah keluarga pasien dan pasiennya kembali keruangan masing-masing, ikuti aturan rumah sakit, udah kita ngegosipnya." ucap Bu karu menengahi.
"Ah iya lebih baik pulang ke ruang masing-masing, urusan saya udah selesai." ucapku yang kurang nyaman di perhatikan banyak orang.
"Ayo kita bubar." keluarga pasien mengikuti arahan.
"Suster yang sabar ya, rezeki nggak akan kemana-mana. Kata orang tuh hilang satu tubuh seribu. Semangat ya Sus." ucap pasien bernama Rio
"Hmmm, makasih Rio." rasanya senang mendengar ucapannya.
"Sama-sama Sus, saya ke kamar dulu."
"Hmmm." senyumku.
Mereka semua pergi secara perlahan.
Gue juga sama.
"Hiks hiks hiks, siapa yang gantiin kita kalau elu berhenti." ucap Bu Ima.
"Jadi kalian sedih gara-gara gue nggak bisa gantiin kalian gitu." candaku.
"Nggak gitu juga Ra, sepi aja nggak ada elu lagi. Kita semua ‘kan udah seperti keluarga di sini, termasuk Fadel yang bukan." sempatnya Bu Hasya bercanda.
"Loh Fadel nggak di anggap Bu? Hiks hiks hiks teganya kalian." akting Fadel membuat kami tersenyum.
"Nggak lucu elu nangis." ucapku.
"Namanya nangis pasti sedih Bu, bukan tertawa hiks hiks hiks." bela Fadel.
"Del, elu ikut Zahra nggak waras ya?" ucap Bu Hasya.
"Del yuk keruang sebelah." ajakku agar tak larut dalam kesedihan.
"Ibu ngajak Fadel ke KUA ya?"
"Iya! Sudah kesana elu di mutilasi suami gue." ucapku.
"Ih Ibu halusinasinya makin parah, atau benaran Ibu nikah diam-diam." ucap Fadel.
"Ah jangan-jangan iya." ucap Mika memanasi.
__ADS_1
"Udah di bilang gue udah nikah masih nggak percaya."ucapku jujur.
"Serius lu Ra, sama siapa? Elu nggak jujur atau ngundang kita." ucap Bu Hasya.
"Udah dibilang nikah sama Pak Bos."
Plak!
"Gila lu nggak waras kebangetan, gue lagi serius juga." pukul Bu Hasya di bahuku.
"Aku serius Bu."
"Kalau elu istri Pak Bos kenapa di pecat, atau berhenti dari awal?" Bu Hasya menyelidiki.
"Kenapa ya?" mencari alasan.
"Udah, gila berjamaah kita ngikuti Zahra yang lagi frustasi akibat besok pulang kerja jadi pengangguran." ucap Bu Ima.
"Iya nih, bahas yang lain aja. Nggak sudah-sudah bahas Zahra yang lagi frustasi, halusinasi, dan bentar lagi menjadi basi." ucap Bu Hasya.
"Kenapa basi, Bu?" bingung gue.
"Kelamaan jomblo terus di pecat lanjut pengangguran, bentar lagi jadi perawan tua." sindirnya.
"Entar gue bawa suami gue kesini besok, kalau nggak percaya." candaku.
"Sekalian keluarga elu bawa kesini, terus kita ijab kabulnya disini, pulang lu nggak pengangguran banget." balas Bu Hasya.
"Kenapa begitu Bu?"
"Kan ada suami, kalau udah gitu kerjaan elu banyak, seperti gue." kedipnya.
"Gimana Bu Zahra sama Fadel?" ucap Fadel.
"Fadel bicara gitu lagi, gue mutilasi elu." ucap Bu Hasya yang terlihat tidak menyetujui gue dan Fadel ada hubungan tertentu. "Awas ya Ra, elu nikah sama Fadel gue suntik mati kalian berdua." menunjukku.
"Ih Ibu nggak setuju banget aku sama Bu Zahra, kita ‘kan besok udah beda alam." ucap Fadel makin meningkat candanya.
"Lu kira gue mati besok." emosi rasanya.
"Hahaha... Bercanda Bu, maksudnya kita nggak kerja sama lagi." jawabnya.
"Intinya awas aja lu berdua sampai nikah, gue nggak setuju." canda Bu Hasya.
"Kalau beneran, hayo Ibu mau apa?" tantang Fadel.
"Udah jelas gue suntik mati lu, gue nggak mau Zahra Aneska hidupnya susah gara-gara elu, gajian aja baru secuil, mau di kasih makan apa Zahra."
"Udah ya kalian halusinasinya, mari kita kerja, gue lagi pusing jangan di tambah pusing." ucapku, jadilah gilanya Mas Abyan dengar bisa-bisa habis gue di ceramahnya. Kalau dengan ancamannya gue nggak takut, udah pasrah.
"Mik tulis di group besok suruh datang semua, kita pamitan dengan Zahra." ucap Bu karu.
"Ah iya Bu." Mika ke dalam ruangan mengambil handphone.
"Ra, kamu yang sabar." ucap Bu karu.
"Iya Ra, kita nggak sampai disini aja. Di lain waktu kita akan bertemu lagi, seperti kumpul lebaran, seperti biasa karena waktu itulah yang bisa kita kumpul, iya kita taulah profesi sebagai perawat hampir di sinilah rumah kita." ucap Bu Hasya.
__ADS_1
"Hmmm, iya Bu." jawabku kembali merasa sedih.
Bersambung...