
1 bulan lebih Mas Abyan sibuk dengan pekerjaannya, gue yang juga sibuk dengan mengetik naskah dengan Falisha di rumah.
Setelah naskah gue di tulis dan di setujui pihak manajemen, sunting pun di mulai, gue juga sibuk dengan Falisha yang sering kelapangan melihat artis yang mainkan drama. Semua terlihat bagus, gue akhiri ceritanya happy ending. Tapi gue nggak tau, hubungan gue dan Mas Abyan bagaimana kedepannya?
Mas Abyan juga nggak tau, gue kerjanya begini, dirinya hanya tau, kalau gue keluar dengan Falisha jalan-jalan. Sempat ingin mengakui gue ini penulis, tapi Mas Abyan terlihat tidak mempunyai waktu untukku bercerita. Sibuknya seperti membuat sekat di antara kami berdua.
Bertemu Mas Abyan saja, hanya sarapan pagi, karena dirinya suka pulang malam. Terkadang nggak pulang, benar kata Falisha, siap-siap aja Mas Abyan dan Pak Aziz menjadi sepasang kekasih karena mereka selalu bersama.
"Ra, keluar yuk, nongkrong di kafe pinggir jalan." ajak Falisha yang sudah beberapa hari tidur di rumah bersama gue.
Kami berdua duduk di lantai atas.
Gue melihat jam di handphone. "Udah jam 9, Sha."
"Emang kenapa? Kota Jakarta 24 jam ramainya, biasa aja kali." jelas Falisha terlihat bosan.
"Iya udah, kabarin para suami dulu sebelum keluar."
"Udah nggak usah, lagian mereka juga nginap lagi di perusahaan. Kita juga hanya sebentar." cegah Falisha.
"Iya juga sih. Mika gimana?"
"Nih, dia yang ngajak nongkrong, katanya bosan di rumah, Mas Idris sibuk operasi sama jaga malam."
"Kenapa kita bertiga jadi jomblo gini ya, punya suami tapi ngerasa nggak punya?" jelas ku.
"Nah kalau elu tau, dah yuk berangkat." Falisha berdiri. "Kita jemput Mika, tidur di hotel aja." jalannya ke arah lift.
Gue mengikuti dari belakang, bosan juga di rumah.
***
"Eh kafe mana yang enak?" tanya Falisha menyetir mobil pelan, mencari tempat.
"Di sana aja, Sha!" tunjuk Mika kafe di pinggir jalan. "Seru tuh kelihatannya, nggak terlalu ramai."
"Oh, oke!" Falisha mulai memarkirkan mobil. "Yuk turun." sambungnya lagi sambil melepaskan sabuk pengaman.
"Ayo..." gue dan Mika jawab serentak.
"Duduk di situ aja," tunjuk Mika kursi kayu berukuran panjang.
"Yuk," ajak Falisha.
Gue ikut ketua geng, dimana mereka, di situlah gue berada.
"Pesan apa?" tanya Falisha saat duduk.
"Gue Es capuccino 1, sama steak kentang." ucap Mika.
"Elu Ra?" Falisha melihat gue.
"Jus jeruk aja satu, sama rujak mangga 1." ingin ku makan yang masam-masam manis gitu.
"Ra, serius?" tanya Falisha.
"Seriuslah emang gue bohong." jawab ku jujur.
__ADS_1
"Jangan bilang el-"
"Hamil gitu." jawab ku langsung memotong perkataan Mika.
Mika dan Falisha menganggukkan kepala serentak.
"Yang duluan buka segelkan kalian berdua." jelas ku benar adanya.
"Gue habis datang bulan Ra, baru juga selesai hari ini. Elu jugakan tau." ucap Falisha.
"Mending lu habis datang bulan, gue baru tadi siang datangnya." ucap Mika.
Falisha dan Mika melihat gue. "Lu, Ra?"
Terakhir emang haidnya saat mas Abyan beliin gue pembalut sih. Ah siapa tau aja gue telat biasa, lagian juga suka gitu. "Belum tanggalnya, palingan bentar lagi. Gue aja biasa-biasa aja nggak ada tanda-tanda. Lagian ya, emang kita sering makan rujak minum beginian. Udahlah jangan berpikir yang bukan-bukan, belum terjadi juga. Entar gue berharap garis 2 jadi sedih. Bertemu mas Abyan aja pagi, di tambah mikir yang tadi. Hah bukan hidup gue bahagia, malah sengsara, stres gue jadinya." jelas ku benar adanya.
"Iya juga sih," ucap Mika.
"Udah pesan sana, kita makan sama-sama." perintah ku.
"Ah Iya-iya, gue juga udah lama nggak makan rujak di tambah sambal, hmmm buat Saliva gue mau mengalir." ucap Falisha.
"Sama gue juga." gue ikut membayangkan rasa dari mangga yang masam-masam manis itu.
"Bang!" tangan Falisha melambai memanggil pegawai berada di dekat kasir.
"Iya neng, pesan apa?"
"Nih," Falisha menulis pesanannya. "Jangan lama ya, Bang?"
Pegawai mengambil. "Di tunggu sebentar, ya neng."
Jreng!
Suara gitar mulai terdengar. "Halo mbak-mbak yang cantik, boleh ikut gabung nggak?" ucap salah satu dari 3 laki-laki yang terbilang ganteng, terlihat usianya di bawah gue, Falisha dan Mika.
"Boleh." jawab Falisha santai.
"Eh Sha,"
"Udah biarin aja ada berondong muda, lagian laki-laki kalian pada sibukkan, anggap aja refreshing." ucap Falisha memotong pembicaraan gue.
"Iya Ra, biarin aja. Lagian hanya nyanyi doang." balas Mika.
"Hmmm, iya udah deh."
"Kalian boleh duduk, tapi nyanyi yang bagus." ucap Mika pada 3 laki-laki tadi.
"Siap neng cantik," jawab mereka bertiga yang duduk di hadapan kami.
Kami begini terlihat lagi ngedate bersama ya, frustasi akibat para suami sibuk pada dunianya sendiri, jadi begini. Tapi selagi gue nggak selingkuh aman-aman aja sih.
Jreng!
Kuda yang mana kuda yang mana tuan senangi,
Kuda yang putih kuda yang putih di dalam kandang.
__ADS_1
Janda mana janda mana tuan senangi,
Janda yang putih janda yang putih berambut panjang.
Janda mana janda mana tuan senangi,
Janda yang putih janda yang putih berambut pirang.
"Khem, siapa yang janda?"
Lelaki itu berenti memainkan musiknya, saat kami semua mendengar suara seseorang di belakang Mika. Melihat ke belakang, gue terkejut ternyata Pak Aziz, di belakang Falisha sebelah kanan gue. Di belakang gue Mas Abyan. Melihat ke kiri, di belakang Mika ada Dokter Idris. Aduh, mampus gue. Kenapa mereka bertiga tau kami di sini?
"Bang cari yang lain aja?" ucap lelaki yang main gitar.
"Gue tanya siapa yang janda di sini?" tanya dokter Idris terdengar kesal. Gue melihat Falisha dan Mika mereka berdua hanya memegang kening. Ah sudahlah, ngerti gue.
Mulai para wanita berkumpul melihat para lelaki di belakang gue, Mika dan Falisha.
"Yah, melihat tiga mbak inilah. Kami pikir janda cantik. Kami siap jadi pendamping barunya, kalau kakak-kakak yang masih berpakaian kantor ini mencari wanita, jangan yang ini." jelas ucapan salah satu lelaki itu membuat perkara semakin sulit.
"Enak aja gue di bilang janda." ucap Mika pelan.
"Mana ada janda di sini?" sambung Falisha berucap pelan.
"Apalagi gue." ucapku, ikut membela.
"Ini Istri saya." peluk Dokter Idris di leher Mika.
"Ini pendamping hidup saya." peluk Pak Aziz di leher Falisha.
Mas Abyan diam sebentar, sepertinya memikirkan sesuatu. "Ini." menggendongku langsung. "Ibu dari anak-anak saya."
Semua yang melihat terkejut. "Apa?" berucap serentak.
"Mas turunin, malu." pintaku.
Mas Abyan melihatku dengan wajah datar, penglihatan yang bikin gue susah menelan saliva.
"Dris, Ziz. Bawa pulang istri kalian." perintah Mas Abyan.
"Iya nih, ayo pulang. Bau-bau sesuatu di sini nggak enak." ucap Dokter Idris.
"Hmmm, bau banget." sambung Pak Aziz.
"Bau apa?" tanya mas Abyan bingung.
Gue juga berusaha mencium bau yang di bilang Dokter Idris dan Pak Aziz, malah tercium bau mas Abyan yang manis.
"Bau-bau pelakor." jawab Dokter Idris lantang, semua yang ribut terdiam.
"Udah kalian bawa pulang istri kalian, termasuk gue." Mas Abyan melihatku dengan wajah dingin.
"Mbak, Mas. Maaf, ini pesanannya." ucap pegawai datang membawa pesanan kami.
"Bungkus, pesanan istri saya. Bawa ke mobil." Mas Abyan langsung membawaku ke parkiran.
"Mas turunin, aku bisa jalan." ucapku pelan di telinga Mas Abyan.
__ADS_1
Mas Abyan hanya diam, tanpa menjawab. Terlihat dirinya sebentar lagi akan berkhutbah.
Bersambung...