Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 7 Perkenalan


__ADS_3

"Ayah, Abyan..." teriak dua anak kecil sekitar empat tahunan, berlarian dari dalam ruangan.


Senyum Pak Abyan merentangkan ke-dua tangan memeluk mereka.


Ayah? Jangan bilang ini anaknya Pak Abyan? Berarti gue menjadi istri ke-dua dong. Melihat Falisha, mengerutkan ke-dua alis.


Falisha hanya diam, tersenyum-senyum memainkan ke-dua alisnya.


Lu senyam senyum aja, nggak lihat gue penuh tanda tanya begini.


"Ayah, kenapa tadi malam nggak pulang?" tanya anak perempuan.


"Biasanya Ayah pulang, siapa dia Ayah?" liriknya tidak senang anak laki-laki melihat gue. Jangan bilang dirinya marah, Ibu kandung mereka tersaingi. Ini maksudnya gimana sih? Gue nikah jadi istri ke-dua gitu.


"Ayahkan kemarin nikah sama Aunty Zahra." jawab Pak Abyan santai.


"Maaf ya saya terlambat." suara perempuan yang keluar dari dalam kamar. Gue melihat wanita cantik berjalan menghampiri.


Jangan bilang ini istri pertama Pak Abyan? Cantik banget.


Mendekati, gue berdiri. "Kenalkan saya istri pertama Mas Abyan bernama Hanum." senyumnya mengajak kenalan.


Benarkan gue.


"Hanum, jangan cari masalah." Pak Abyan berucap dengan wajah datar.


"Hahaha..." tawa Falisha menggemparkan ruangan. Sedangkan Ibu Sari dan Ayam Dameer hanya tersenyum-senyum.


Kenapa dengan mereka?


"Sa-saya teman Pak Abyan." jawab gue jujur.


"Hahahaha..." Falisha makin tertawa.


"Zahra..." panggil Pak Abyan. "Kalian kenapa sih, udah nggak waras?" dirinya terlihat kesal.


"Emang salahnya dimana?" Hanum kebingungan.


"Kalau elu istri pertama Mas Abyan. Gue istri ke-dua dong." Falisha makin tertawa.


Maksudnya ini adiknya Pak Abyan atau istrinya?


"Gue siapa?" candaku.


"Hahaha..." semua tertawa hebat.


"Mbak adiknya Mas Abyan." jawab Falisha masihnya tertawa.


"Maaf, Mbak! Saya adik Mas Abyan yang paling kecil." jelas Hanum.


"Adik atau istri?" masih bingung gue.


"Saudarinya Abyan Ra, yang terakhir. Ibu mempunyai anak tiga." perjelas Ibu Sari.


Oh saudarinya, kirain benaran istrinya.


"Ah saya Zahra Aneska, Mbak."


"Panggil saja saya Hanum." memeluk gue. "Selamat datang di keluarga kami ya, Mbak. Usia saya masih dua puluh enam tahun, sudah melangkahi ke-dua saudara saya duluan." jelasnya. "Ayo kita duduk dulu Mbak." ajaknya.


"Ah Iya." mengikuti arahan.


"Bilang aja elu udah kebelet mau kawin." Falisha menyindir Hanum.


"Bunda nggak seperti itu Aunty." bela anak kecil tadi.


"Eh anak kecil mana tau." balas Falisha.


"Taulah! Kamikan si kembar pintar." jawab anak laki-laki yang nggak mau kalah, bergandengan dengan kembarannya.


"Bunda Hanum menjemput kami ke dunia." jawab anak perempuan dengan polos.


"Terserah kalian aja, pusing gue." jawab Falisha.


"Ini kenalkan anak saya Mbak, yang laki-laki namanya Tama. Adiknya bernama Amel. Mereka kembar. Usianya lima tahun, baru masuk sekolah." melihat ke anaknya. "Salam sama Aunty Zahra." perintahnya.


"Nggak mau, Bunda. Aunty udah ambil Ayah Abyan." tolak Amel.


Hmmm, gemasnya mereka.


"Nggak boleh gitu, Amel." suara laki-laki datang menghampiri.


Lihat ke arah suara, ya Allah gantengnya. Ini siapa lagi?


"Perkenalkan ini suami saya Mas Darman." jelas Hanum.


"Saya Darman." mengajak salaman.


Gue berdiri lagi. "Saya Zahra Aneska." membalas salamnya.


"Maaf ya Mbak, tadi anak saya seperti itu. Kami sudah sering mengarahkan mereka panggil paman Abyan, tapi masih tetap memanggil Ayah Abyan." jelas Mas Darman, terlihat kurang nyaman dengan gue, gara-gara panggilan yang mengakibatkan kesalah pahaman.


"Ah nggak apa-apa." jawab gue jujur, kalian mau panggil apa? Gue ikut aja.


"Mari duduk." ajak Hanum lagi.


Gue mengikutin arahan lagi.


"Salam sama Aunty." perintah Mas Darman lagi.


"Iya." jawab Tama dan Amel mengikuti arahan, sepertinya mereka sangat takut pada sang Ayah.

__ADS_1


Tama dan Amel menyalamiku, mencium pipi.


"Maaf ya Aunty." Amel terlihat merasa bersalah.


"Tama juga minta maaf." sambung Tama.


Gue tersenyum. "Kalian nggak salah, kenapa harus meminta maaf?" memegang bahu mereka.


Senyum Tama Dan Amel. "Makasih Aunty." serentak mereka ucapkan dengan memeluk gue.


"Hmmm, sama-sama." entah kenapa mereka benar-benar lucu sekali.


"Halo semua..." suara perempuan datang menghampirin.


Gue melepaskan pelukan, melihat wanita cantik paruh baya, bergaya modis, sepertinya lebih tua dari Ayah Dameer dan Ibu Sari.


Gue berdiri lagi, coba sekalian aja datangnya jadi gue nggak duduk berdiri, berdiri duduk. Kira-kira ada lagi nggak yang keluar sekalian gitu.


"Halo..." jawab Falisha dan Hanum serentak.


"Itu Oma Farra." bisik Pak Abyan di telingaku.


Gue langsung menghampiri, bersalaman setelah berhenti di dekat kami semua.


Gue tersenyum. "Selamat siang Oma, saya Zahra Aneska."


"Siang." melepas tangan Oma. "Saya Oma Farra." jawabnya dengan wajah yang terlihat kurang bersahabat.


"Duduklah!" malasnya melihat ke arahku.


"Ah iya, Oma." kembali duduk di samping Pak Abyan.


"Bi Tanti..." panggil Hanum.


"Iya, Non." datangnya dengan berlarian kecil, menjawab panggilan Hanum.


"Bawa Amel sama Tama ke ruang bermain." perintahnya.


"Bunda di sini aja." Amel merayu.


"Iya nih, kami mau sama Ayah Abyan." Tama memeluk Pak Abyan.


Pak Abyan mengusap lembut di kepala Tama dan Amel. "Nanti kita main. Ayah janji." mengangkat jari kelingking senyumnya.


"Janji." mengaitkan kelingkingnya.


Anggukkan kecil Pak Abyan. "Hmmm, janji."


"Hore..." lompat mereka kegirangan. "Dada semua." melambaikan tangan.


Kami semua melambaikan tangan ke arah mereka. Jalannya mengikutin Bi Tanti masuk ke ruangan lainnya.


"Oh, ini dia mantu kamu, Ri?" tanya Oma Farra.


"Cantikkan, Ma?" Ibu Sari memujiku.


Liriknya malas ke arahku. "Yah lumayanlah." tarikkan nafasnya terdengar kesal. "Eh Zahra, Oma mau tanya. Lu pakai jurus apa sih agar Abyan suka sama kamu?"


"Ma, Oma." serentak Bu Sari, Ayah Dameer, Hanum, Falisha, Mas Darman dan Pak Abyan bersuara.


"Kalian kenapa? Nggak suka?" jawabnya tambah sinis. "Jawab Zahra?" bentaknya.


Asli bikin gue panas, rasanya ingin ngajak berantem sekarang juga.


"Kenapa Oma bicara gitu?" Pak Abyan memanas.


"Kenapa bertanya pada cucu Mama seperti itu? Seharusnya Mama bersyukur, Abyan telah menikah." Bu Sari terlihat marah.


"Iya nih Oma, nggak ada pertanyaan yang lain aja?" Falisha ikut kesal.


"Oma nggak mau apa, Mas Abyan nikah?" tanya Hanum.


"Aku bersyukur kalau dapat mantu yang ingin ku jodohkan kemarin, bukan dia." jawab Oma Farra lantang dengan terang-terangan tanpa basa basi.


Gue melihat Pak Abyan, kutu Airnya Bapak keluar satu. Semalam berkata hanya desakan aja, ternyata ada perjodohan.


Berdiri Ibu Sari. "Mana orang yang ingin Mama kenalkan? Dari dulu wujudnya aja nggak ada. Apalagi orangnya nggak jelas?" pertengkaran di mulai antara Ibu dan Anak.


Ayah Dameer memegang tangan Bu Sari menyuruhnya duduk.


"Diam Sari! Aku bertanya pada cucuku. Jodoh yang kemarin jelas, hanya belum saja sempat bertemu." ngototnya.


Ibu Sari duduk. "Mana, Ma? Nggak adakan? Mama aja nggak bertemu dengan penulis itu."


Penulis? Melihat lagi ke arah Pak Abyan yang ke-dua kalinya.


Pak Abyan seperti kurang nyaman melihatku.


"Kamu belum jawab?" tanya Oma Farra, tanpa menghiraukan ucapan Ibu Sari.


"Ini pilihan Abyan, Oma." Pak Abyan langsung menjawab.


"Saya tanya pada Zahra bukan kamu." tunjuk Oma ke Pak Abyan.


"Maaf Oma sebelumnya. Saya saja juga bingung ingin menjawab apa? Tapi bisa di singkat, saya bertemu Pak Abyan baru kemarin." gue langsung menjawab.


"Apa?" Oma terlihat syok.


"Saya menghabiskan hidup saya di rumah sakit kemarin. Pas hari ijab kobul, saya lembur dua hari dua malam. Jadi saya tidak tau, kalau pulang ke rumah, telah menjadi istri Pak Abyan." sambungku lagi.


"Jelaskan, Abyan." perintah Oma Farra.

__ADS_1


"Pak kita berpisah saja." gue langsung melihat Pak Abyan. Ajakku terang-terangan berpisah. Selesaikan masalahnya kalau kita pisah sekarang juga.


"Apa?" serentak mereka semua ucapkan kecuali Pak Abyan.


"Jaga ucapan kamu Zahra yang meminta cerai, semua itu tidak bisa di ganggu gugat. Baru kali ini ada yang menolak cucuku. Biasanya para wanita akan melemparkan tubuhnya ke Abyan, agar bisa mendapatkannya. Sedangkan kamu malah meminta pisah." jelas Oma Farra.


Ingin gue berkata maunya anda apa Oma? Udah ngatain gue, sekarang nggak boleh pisah.


"Saya hanya bercanda tadi. Tapi, masih jauh dirimu mendapatkan restuku seperti Sari."


Oh bercanda, tapi canda anda nggak lucu Oma. Apalagi gue harus mendapatkan restu, di buat bingung, maunya anda apa?


"Oma di sini Abyan yang menikah, kenapa harus meminta restu dari Oma?" tanya Pak Abyan.


"Kamu cucu laki-laki satu-satunya Abyan. Istri kamu harus di didik dulu. Apalagi kamu CEO perusahaan besar." jawab Oma Farra.


"Terus apa hubungannya dengan restu Oma?"


Oma terdiam.


"Sudahlah, Abyan. Oma hanya bercanda tadi." Ibu Sari menengahi.


"Jadi kalian akan memberiku cicit kapan?" bahasnya ke lain. "Dengan keadaan kalian sekarang? Jangan bilang tadi malam kalian tidak membuatnya." tanya Oma Farra.


Entar saya buat pakai sagu campur gandum Oma, matanya kancing pakaian.


"Kami memutuskan untuk berpacaran dulu Oma." jawab Pak Abyan.


Teman bukan pacar Pak! Jangan bilang anda yang punya riwayat penyakit amnesia.


"Pacaran ya pacaran, tapi sekalian. Umurku tidak mudah lagi Abyan." masih dalam pendiriannya.


"Iya Oma." jawab Pak Abyan mengalah.


"Oh ya kita bahas yang lain saja. Gimana maumu, Nak. Setelah menikah dengan Abyan? Masih mau kerja, atau di rumah saja. Besok kalian akan mengadakan resepsi di hotel." tanya Ibu Sari padaku.


Apa resepsi? lihat lagi ke Pak Abyan. Kejutan ya Pak, buat gue? Untung libur.


Melihat Falisha mengulum tawa saja dari tadi. Lihat nih bestiemu frustasi tingkat dewa.


"Zahra berhenti kerja, Bu." jawab Pak Abyan.


Apa berhenti kerja? Enak banget Bapak memutuskan jalan hidup saya. Susah-susah gue ngejalani rintangan, jurangan, meringan, belokan.


"Nggaklah Pak, kontrak saya masih panjang." belaku langsung.


"Iya udah satu bulan." negonya.


"Kontraknya satu tahun, Pak. Bukan satu bulan." jelasku lagi.


"Ya udah berhenti sekarang." putusnya.


"Tiga bulan." tawarku.


Pak Abyan melihat gue dengan menyipitkan matanya. Udah sipit makin sipit lama-lama hilang Pak penglihatan anda.


"Kamu nggak masalah besok resepsi, dilihat banyak orang?" tanya Ibu Sari.


"Pakai cadar, Bu." usulku.


"Tap-"


"Ku mohon, Pak." memotong ucapan Pak Abyan.


Dirinya hanya menghembuskan nafas kasar, tanpa menjawab.


"Gimana, Abyan?" tanya Bu Sari.


"Ya, Bu." jawab Pak Abyan.


Alhamdulillah, ada jalannya.


"Mas, perasaan dari tadi panggilan kalian seperti atasan dengan bawahan deh. Bukannya kalian pacaran ya?" tanya Hanum.


"Iya nih panggil yang lainlah. Kalian juga udah nikah. Kaku banget." sambung Falisha, dengan menaik turunkan alisnya.


Kalian berdua bikin gue emosi aja. Apa salahnya sih panggilan begituan? Sudahlah tunggu jawaban Pak Abyan aja mau manggil apa?


Melihat Pak Abyan, memperhatikan telinganya memerah lagi. Pak Abyan masih anak ABG ya? Ubah panggilan aja berdebar.


"Mas Abyan." panggilku.


Lama nunggunya berpikir. Jujur rasanya manggil atasan dengan sebutan Mas, rasanya aneh. Seperti nggak sopan gitu, walau dirinya itu suami gue. Apa belum terbiasa aja kali ya?


"Iya, Ay." jawabnya datar. Tapi berhasil bikin semuanya tersenyum-senyum.


"Ay itu siapa, Pak? Eh, Mas." bingung gue.


"Ayang, Mbak." jawab Falisha.


Oh Ayang, gue kira panggilan orang lain. seperti Ayu, Ayah, Ayunda. Kelamaan jomblo apa ya? Panggilan gitu aja gue nggak ngeh.


Berdirinya kembali Bu Sari. "Sampai sini dulu perkenalannya kita. Makan yuk, sudah jamnya makan." ajaknya.


"Oh ya, yuk." Ayah Dameer juga mengajak.


"Yuk Mbak." Falisha menyambung.


"Yuk yuk makan." ajak juga Hanum. "Yuk Mas." melihat Mas Darman mengajaknya makan.


Gue dan lainnya menganggukkan kepala aja menjawab iya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2