Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 23 Wajan Gosong


__ADS_3

Aaaaah...


Gue merenggangkan otot, sehabis pulang kerja masuk pagi, pulang jam tiga sampai rumah.


Rasa damai diri ini, saat Mas Abyan tidak berada di rumah hari ini.


Flashback


Gue duduk menunggu Mas Abyan agar bisa makan bersama. Saat setelah memasak sarapan pagi.


Ceklek!


Mendengar suara pintu kamar Mas Abyan. Gue langsung melihat ke arahnya. Mas Abyan dengan tampilan sempurna. Mataku terus menerus di beri keberkahan dengan ukiran sang maha pencipta.


Aura CEO memang berbeda, memakai dalaman putih lengan panjang, rompi biru dongker, di tambah dasi panjang yang di simpul berwarna biru muda campur putih, celana dasar berwarna biru dongker dengan gaya rambut bergaya mandarin hair cut.


Mas Abyan duduk di hadapanku. "Mas, mau kemana? Bukannya kemarin Mamas bilang kerja dari rumah sampai satu atau dua minggu. Ini baru enam hari loh, Mas?" tanyaku penasaran sambil mengisi piring Mas Abyan.


"Mamas ada kerjaan tiba-tiba di Vietnam, enggak bisa di wakili siapa pun. Kemungkinan besok Mamas pulang. Kamu nggak apa-apa sendirian di rumah?"


"Nggak apa-apa, Mas." jawabku selesai mengisi piring kami berdua.


"Mamas minta Falisha saja tinggal di sini, untuk temanin kamu malam ini." solusinya.


"Nggak, Mas. Kasihan Falisha banyak kerjaan. Lagian hanya satu malam. Mamas besok juga pulang." tolakku.


"Iya sudah kalau begitu." jawab Mas Abyan.


Setelahnya lanjut menguyah makanan.


***


Hari yang merdeka dalam hidup gue, puas sesuka hati di rumah, apapun yang bisa dilakukan.


Duduk di atas ranjang, selepas membuka pakaian kerja, tinggal tenktop dan celana pendek berwarna putih.


Istirahatku sambil membuka handphone, ternyata ada pesan dari Falisha. Melihat notifikasi chat group bestie.


"Ra kata Mamas, lu sendirian di rumah?" tanya Falisha.


"Emang suami lu, kemana Ra?" tanya Mika.


"Mamas gue, lagi ke Vietnam. Ada kerjaan." jawab Falisha.


"Oh, elu mau nggak, gue temanin? Entar pulang kerja, pulang dulu ke rumah, baru ke sana." tanya Mika yang masuk kerja shift sore.


"Gue juga mau, temenin lu Ra. Paling sedikit telat sih. Maaf, banyak kerjaan." ucap Falisha.


"Kalian nggak perlu ke sini, gue bisa jaga diri, lagian nggak takut juga. Hari ini gue mau menikmati hidup, kaliankan tau kalau gue perdana tinggal di rumah sendirian." balasku yang memang ingin sendirian. Ingin tau rasanya di rumah tanpa di temanin penghuni lainnya.


Falisha dan Mika juga sedang sibuk, di campur capek akibat pekerjaan mereka. Biarlah mereka nggak perlu susah-susah temanin gue yang sedang bahagia ini.


"Oke, selamat menikmati." ucap Mika.


"Awas lu hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa, langsung telepon gue dan Mika. Nggak usah Mas Abyan. Entar dia langsung terbang malam ini juga dari Vietnam pakai jet pribadi, kasihankan." ucap Falisha.

__ADS_1


"Iya, sayangku." jawabku mengerti.


Percakapan kami selesai, setelah gue menjawab Falisha.


Gue berdiri berjalan ke kamar mandi, karena hari sudah sore, mandi dulu.


Na na na na na... hu hu hu hi hi hi hi...


Nyanyi gue asal-asalan, yang penting bahagia.


Setelah shalat isya langsung ke dapur, tadi mampir ke supermarket, beli daging ikan enak di goreng di tambah sayur bayam sama sambal terasi dah enak.


Goyangku memegang spatula, menikmati hari-hari yang damai.


Sambil masak, mataku melihat ke arah televisi.


Drakor (Drama Korea) yang ku putar, menarik perhatian.


Duduk sebentar, meninggalkan masakan.


Melihat si cewek di tabrak lari, gue penasaran siapa yang tabrak. Seperti gue yang tabrak Mas Abyan, di halusinasinya hahaha. Tawaku geli membayangkan, gaya seperti apa saat gue tabrak Mas Abyan?


Kira-kira hampir 30 menit fokus ke televisi. Sadar mencium bau sangit, mengisi semua ruangan.


Mencium pada arah bau


Astaghfirullahal'azim!


Gue langsung berlarian ke dapur, melihat wajan yang hitam gosong, dengan api masih menyala. Matikan dengan cepat, mengambil lap mengangkat wajan ke tempat cuci piring.


Wajan panas itu, ku siram air yang keluar dari keran.


Ya Allah, beruntung Mas Abyan nggak di rumah, kalau tidak habislah gue.


Mengipasi ruangan menggunakan hijab, sambil membuka jendela. Asap dan bau gosong mulai menghilang, lanjut lagi ke dapur membersihkan tempat masak.


Ah ujung-ujungnya mesan makanan online nih gue.


30 menit jendela yang tadi dibuka di tutup kembali.


Tibalah mati lampu, secara tiba-tiba.


Gue yang berdiri mematung, setelah menutup jendela. Melihat ruangan gelap gulita, entah perasaan gue kurang nyaman.


Nggak mungkin apartemen semahal ini bisa mati lampu, pikiran gue mulai khawatir. Jangan-jangan ada maling!


Gue memakai hijab, dengan berjalan pelan-pelan ke arah dapur minimalis, mengambil wajan gosong yang belum di cuci. Gue sengaja belum mencuci wajan gosong tadi, dengan maksud di rendam dulu agar mudah mencucinya. Hanya wajan saat ini bisaku dapatkan dengan mudah, barang lain sudahku letakkan di tempatnya di dalam lemari.


Gue ambil wajan itu, berjalan pelan ke arah pintu masuk, melirik ke arah lainya juga.


Benar adanya pintu bergerak, perlahan tapi pasti. Katanya insting wanita itu kuat, apa yang di rasakan bisa saja terjadi, lagian jika itu Mas Abyan, diakan di Vietnam. Mas Abyan juga bilang, besok baru pulang.


Tibalah pintu terbuka, bayangan laki-laki masuk perlahan. Gue yakin itu bukan Mas Abyan, tingginya di bawah Mas Abyan, sekitar batas telinga sedikit lagi mungkin bisa sama dengan Mas Abyan.


Saat laki-laki itu masuk, gue dari belakang langsung.

__ADS_1


1, 2, 3.


Prang!


Tepat sekali wajan itu memukul kepalanya, sertaku tambah lagi.


Prang!


Terkena wajahnya, saat dirinya jatuh ke bawah. Mungkin tak sadarkan diri lagi tuh orang, akibat pukulan maut gue.


Senyumku mampus lu, main masuk aja tanpa izin, ucap salam, terakhir ketuk pintu walau pun di depan ada alarm, siapa tau dia orang biasa alarm nggak ngerti.


Di belakang gue, berbunyi langkah kaki, seperti ada yang masuk lagi.


Prang!


Lampu menyala, mata gue dengan mulut yang terbuka lebar memegang wajan gosong.


Lihatku pada orang itu yang ternyata Mas Abyan di hadapan gue, wajahnya hitam, tibalah hidung Mas Abyan mengeluarkan cairan berwarna merah.


Brak!


Mas Abyan seketika ambruk tak sadarkan diri di lantai.


Gue mematung, mengedipkan mata, sesaat sadar.


Matilah gue kali ini, melihat Mas Abyan tak sadarkan diri.


Ingin membantu Mas Abyan, tapi kaki gue menyentuh tubuh seseorang di bawah sana. Melihat ke arah orang yang pertama di pukul tadi.


Terkejut gue, ternyata laki-laki itu berwajah Dokter Idris.


Kepala gue berdenyut, bagaimana bisa Dokter Idris ke sini bersama dengan Mas Abyan?


Rasanya dunia berputar-putar, ingin rasanya meminta di telan bumi saja saat ini.


Gue meletakkan wajan hitam itu ke lantai.


Menarik mereka satu persatu ke arah kursi sofa, walaupun mereka berdua sangat berat, entah itu berat tubuh atau berat dosa, gue berusaha kuat memindahkan mereka berdua.


Gue juga mengambil tisu basah membersihkan wajah mereka yang hitam akibat wajan gosong tadi.


Ingin tertawa tapi takut dosa, melihat wajah Mas Abyan dan Dokter Idris bercap noda hitam.


Gue lap darah Mas Abyan yang mengalir. Ya Allah kuat juga pukulan gue tadi sampai-sampai lecet di hidup mancungnya.


Tangan gue gemetar, saat menempelkan handiplast berkarakter boneka di hidungnya, tadi bawaan panik jadi nggak sadar, sekarang wajahnya sudah bersih membuat perasaanku aneh, melihat Mas Abyan dari dekat. Memperhatikannya secara diam-diam, boleh kali ya.


Beberapa menit lanjut gue ke Dokter idris, menempelkan handiplast berkarakter di hidung serta kepalanya. Kenapa ada rasa berbeda, di antara mereka berdua? Kalau Mas Abyan tadi tanganku sampai gemetar, dengan Dokter Idris biasa-biasa saja.


Ah sudahlah mungkin gue terbawa suasana. Sekarang ini, rasanya ingin pergi dari hadapan mereka berdua, Tuhan bantu umatmu ini, rasa gelisah yang gue rasakan.


Gimana kalau Dokter Idris tau, gue di sini dan menjadi istri Mas Abyan? Benar-benar bingung harus berbuat apa?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2