Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 66 Kamar Utama


__ADS_3

"Di sana kamar utama, Ay." tunjuk Mas Abyan satu kamar berjarak kurang lebih sekitar tujuh meter.


Fungsi kamar utama apa?


"Kenapa, Ay?" sadarnya melihat gue diam.


"Mas, kamar itu untuk tamu ya?"


"Bukan!"


"Untuk gudang."


"Gudang di belakang."


"Hmmm, untuk Bi Ning."


"Hahaha..." tawa Mas Abyan pecah.


Mas, elu udah sehat belum sih? Gue nanya begini di tertawakan. Memegang kening Mas Abyan sedikit menjinjit agar sampai.


"Kenapa, Ay?" Mas Abyan memegang tanganku.


"Kirain, Mamas masih sakit."


Cup!


Mencium tanganku. "Nggak Ay, udah sembuh. Di rawat semalam oleh Suster cantik."


"Mas, aku serius?"


"Mamas juga serius."


"Terus kenapa Mamas tertawa?"


Mas Abyan memelukku. "Ay, itu kamar buat kita berdua." ucapnya pelan.


"Bukannya Mamas bilang kamar kita yang ini dan itu." tunjukku kamar yang Mas Abyan tunjukkan tadi.


"Sementara, Ay."


"Kenapa begitu, Mas? Sekalian aja pindah ke kamar sana." tunjuk kamar utama.


"Mamas nggak bisa lagi menahannya."


DEG!


"Kenapa?"


Mas Abyan mendekat ke telingaku. "Kamu lagi datang bulan, atau kamu bohong lagi, dosa, Ay?"


Menggelengkan kepala. "Nggak bohong Mas, serius."


Senyumnya melepas pelukan. "Ngertikan sekarang masa nggak ngerti."


"Mamas menahannya selama ini?"


"Nggak, Mamas hanya ingin kamu nyaman. Kita jalan kelantai atas." ajaknya mengubah pembicaraan lain.


"Hmmm!"


Jalan menaikin lift bukan tangga.


Ting!


Berjalan keluar, penglihatanku merasa segar, Mas Abyan membuat ruang kaca dengan berbagai macam tanaman hijau, terdapat tempat tidur dan kursi ayunan untuk santai di sana.


"Sini duduk, Ay." ucapnya saat setelah duduk di ranjang minimalis.

__ADS_1


Rasanya, gue mau tidur di sini aja deh, guling santai, mencoba sensasi di sana, Mas Abyan mengikuti yang dirinya juga tidur di ranjang.


"Kita tidur di sini aja kali, Ay."


"Hmmm, sama denganku, Mas. Tadi sempat berpikir begitu. Hanya saja kacanya sangat terang, bisa di lihat orang."


"Siapa Ay, yang lihat?"


"Siapa tau ada helikopter atau pesawat terbang lewat."


Mas Abyan berdiri menekan sesuatu di dinding, tibanya kaca tadi bergerak terbuka, kemudian di tutup semacam solar flat berwarna hitam, di lanjuti dengan plafon berwarna putih.


Hanya bisa diam melihat canggihnya atap rumah. "Nggak ada lagi yang bisa melihat, Ay." Mas Abyan kembali rebahan. "Ay..." panggilnya menghadapku.


"Hmmm, kenapa Mas?"


"Mas belum di isi baterai hari ini."


Melihat sekeliling. "Nah itu colokan listrik, Mas." menunjuk stop kontak di ujung dinding tempat tidur.


"Ay, bukan itu." tangan Mas memegang pinggangku, merapatkan tubuh kami berdua.


"Hmmm, lalu apa?" jangan bilang Mas Abyan.


Cup!


Mencium bibirku, lidahnya yang menari-nari di dalam sana, perlahan menghisap, sedangkanku mengikuti permainan Mas Abyan, entah kenapa ada rasa panas yang timbul di sekujur tubuhku.


Tangan Mas Abyan yang memegang pinggangku mulai bergerak perlahan masuk ke dalam hijab, membuka resleting pakaianku bagian atas. Masuknya perlahan. "Astaghfirullahal'azim." suara seseorang terkejut melihat kami.


Langsung saja kami berdua duduk, mencari sumber suara yang berucap. Tanganku membenarkan resleting dan hijab.


"Bi Ning." panggil Mas Abyan.


Apa? Melihat Bi Ning sudah di hadapan kami dengan membelakangi, mungkin tadi sempat melihat kami yang sedang berbuat mesum. "Maaf Tuan muda, Bibi nggak sengaja."


"Nggak apa-apa Bi, ada apa?"


"Itu, tadi Bibi mau bilang bahwa makanan sudah siap."


"Oh iya Bi, sebentar lagi kami kesana."


"Hmmm, iya Tuan. Bibi duluan ke bawah."


"Iya Bi."


Jalannya cepat memasuki lift.


Mas Abyan melihatku. "Maaf, Ay."


"Hmmm, nggak apa-apa, Mas." melihat ke arah lain, malu melihat Mas Abyan.


"Kamu marah, Ay?"


"Nggak!"


"Lihat Mamas kalau nggak marah?"


Perlahan melihat wajah Mas Abyan sedang tersenyum. "Yuk, kita ke bawah."


"Hmmm, iya Mas."


***


"Ay perkenalkan, ini Pak Amin suaminya Bi Ning." Mas Abyan memperkenalkan mereka padaku saat duduk di meja makan. Gue baru tau, Mas Abyan tidak memandang rendah tingginya derajat seseorang, makin cinta kalau begini.


"Perkenalkan Pak, Bi, saya Zahra Aneska pacar Mas Abyan." candaku.

__ADS_1


"Loh, Ndok. Kok bilang begitu, kalian ‘kan suami istri." ucap Pak Amin merasa terkejut dengan ucapanku.


"Pacar halal, Pak." jawab Bi Ning ramah.


"Walah, ku kira Bu Zahra kenapa gitu." jawabnya tak enak hati.


Gue dan Mas Abyan tersenyum melihat Pak Amin bersikap polos.


"Memang aku dan Zahra lagi di fase pacaran, Pak." jelas Mas Abyan tanpa malu.


"Benar adanya, sebelum memiliki keturunan di puaskan dulu pacarannya. Biar nanti nggak merasa kehilangan sesuatu." ucap Pak Amin.


"Dengar, Mas." ucapku memberi kode.


"Tapi yo sambilan." ucap Bi Ning.


Mereka berdua seperti keluarga dekat tanpa malu berbicara.


"Sambilan apa toh, Bi?" tanyaku mengikuti ucapannya ke arah daerah-daerahan.


"Sambilan buat keturunannya, karena pahala istri melayani suami, mengandung, serta melahirkan di lipat gandakan oleh Allah subhana wata'ala."


"Dengar, Ay." Mas Abyan balik memberi kode.


Ternyata gue telah salah menunda semuanya demi kenikmatan semata.


"Emang Bapak sama Bibi udah punya anak berapa?" tanyaku penasaran.


"Ada enam! Tiga perempuan, tiga laki-laki, Bu." jawab Pak Amin.


Mas Abyan melirikku, seperti memberi kode ingin banyak anak gitu.


"Banyak anak, banyak rezeki ya, Pak?" ucap Mas Abyan melihat Pak Amin kemudian melirikku lagi.


"Ya iya! Intinya, di syukuri apa pun yang di beri. Anak hanya titipan semata, kita sebagai orang tua harus mendidik, menjaga, dan mengayomi sampai mereka mampu berdiri sendiri. Setelah lepas dari tanggung jawab kita dan hidup bahagia." jelas Pak Amin membuatku seperti memiliki ke-dua orang tua baru, nasehat yang nggak pernah gue dengar sama sekali, membuatku merasa nyaman berada di dekat mereka.


"Anak Bapak dan Bibi udah ada yang menikah?" tanyaku.


"Ada, nomor empat laki-laki. Dia sendiri yang belum menikah. Katanya mau bahagiain orang tua dulu, padahal Bapak sama Ibu nggak minta apa-apa, orang kami udah bahagia melihat mereka bahagia. Kepikiran gitu, kalau ada yang seperti anakku nomor emoat, takut nggak laku-laku." jawab Pak Amin terlihat bahagia dirinya bercerita.


"Mungkin sebentar lagi Pak, yang sabar toh." ucap Bi Ning.


"Kalau aku boleh nggak jadi mantu Bapak?" candaku.


Melirik Mas Abyan berwajah datar tanpa ekspresi, biarlah Mamas mau marah, gue bercanda juga.


"Wah, kalau Nona belum menikah sama Tuan mudah mah boleh, atuh. Tapi ‘kan, udah nikah." jawab Bi Ning.


"Masih pacaran, Bi. Belum apa-apa." kodeku.


"Ay..." Mas Abyan akhirnya bersuara.


"Kenapa, Mas?"


"Awas ya, lihat nanti." ancamnya.


"Entar aku minggir ke samping nanti" candaku.


"Serius, Ay?"


"Dua rius, Mas." merasa bahagia bercandain Mas Abyan.


"Jangan bercanda sekarang, Ay?"


"Nggak bercanda Mas, aku serius. Tanya aja sama Pak Amin dan Bi Ning."


Bi Ning dan Pak Amin hanya tersenyum-senyum, sedangkan Mas Abyan terdiam tanpa kata-kata lagi, mungkin mau berdebat atau melakukan sesuatu nggak bisa di depan Pak Amin dan Bi Ning.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2