Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch -12 Berdebat


__ADS_3

Suara azan berkumandang berdering di handphoneku seperti biasa, tubuh ini terasa berat akibat resepsi dan olahraga semalam, mungkin capeknya baru benar-benar berasa kali ya pagi ini.


Saat ingin bergerak, rasanya ada yang aneh seperti ada beban menimpahku.


Pelukan hangat baru gue sadari, membuka mata secara perlahan, benar Mas Abyan melingkarkan tangannya di leher.


Perlahan melepaskan pelukan Mas Abyan, seperti menganggap gue bantal kaki. Merasa tinggi gue seratus enam puluh sedangkan dirinya sekitar seratus delapan satu cocok banget enak gitu meluk-meluk.


Setelah tangan Mas Abyan ku lepas sedikit, tangannya kembali memeluk dengan erat.


"Mas-Mas bangun." terpaksa membangunkan Mas Abyan, habis juga nafas gue di peluknya dengan erat.


"Bentar lagi, Ay." makin erat pelukannya.


Mati gue. "Mas nggak bisa bernafas." melepaskan pelukan Mas Abyan.


Mas Abyan terbangun melepaskan pelukannya. "Kamu nggak apa-apa, Ay?" duduknya langsung.


Gue juga mengikutinya duduk.


"Hampir mati Mas." jawabku.


"Jangan, Ay. Baru juga tiga hari kita nikah."


"Nggak jadi Mas, untung aja cepat di lepas."


"Maaf, Mamas kirain bantal kaki."


"Iya Mas nggak apa-apa. Yuk shalat subuh." ajakku.


"Hmmm." jawabnya mengikuti.


Setelah selesai shalat, gue melihat handphone, tenyata ada pesan masuk dari Yayu Zainisa.


"Ra pakaianmu semuanya ada di kamar Yayu, ambil aja kalau kamu butuh, nomor empat ratus lima."


"Mas, aku ke kamar Yayu bentar ya?" meminta izin.


"Ngapain, Ay?" tanyanya.


"Ambil pakaianku, Mas. Katanya kalau butuh ambil aja lagian sudah mereka siapkan. Jam segini biasanya udah pada bangun." jelasku.


"Iya sudah, Mamas ikut."


"Nggak usah Mas, hanya ambil pakaian aja." cegahku nggak mau ngerepotin.


"Tapikan banyak, Ay." pikir Mas Abyan.


Iya juga sih. "Iya deh, Mas." setujuku.


Tok tok tok.


Kami telah berada di depan kamar, Yayu Zainisa.


Ceklek!


"Eh pengantin baru, mau ambil pakaian ya?" ucap Yayu Zainisa.


"Hmmm, iya Yu." jawabku.


"Sebentar," masuknya ke dalam kamar, mengambil pakaianku. "Ini, semuanya sudah Yayu lipat." memberi tas koper berukuran besar dan tas biasa berukuran sedang. "Sisanya kamu ambil saja di rumah Bi Rosida, kalau ada waktu." sambungnya lagi.


"Iya yu, terimakasih. Aku ke kamar dulu."


"Hmmm iya, kalau sudah mandi ke kamar Yayu Dina di sebelahku kamarnya, kita kumpul di sana."


"Hmmm, iya Yu." jawabku.


"Sini biar Mamas bawa." membawa tas berukuran sedang, gue menarik koper.


Ada rasa sedih, pisah dari mereka. Tapi gue bawa pakaian gini, di lihat seperti habis kena usir penghuni rumah.


***


Tok tok tok.

__ADS_1


Ceklek!


"Masuk, Ra." ucap Bi Rosida ternyata juga berada di sana.


Gue masuk ke dalam kamar, ternyata ada Yayu Zainisa, Diyah dan Dina, Bi Nur juga di sana.


"Ada apa?" tanyaku penasaran.


"Duduk dulu." ajak Bi Rosida duduk. "Itu Ra, kami semua mau berbicara masalah mahar elu." ucapnya setelah kami berdua duduk.


"Kenapa?"


"Uang lima puluh juta, emas lima gram buat kami bagi-bagi ya."


"Kenapa begitu?" penasaranku dengan pola pikir mereka.


"Kamukan sekarang jadi orang kaya bisa mintak lagi sama suami kamu, yang di rumah buat kami. Lagian rumah, sawa dan peralatan shalat cukup besar untuk elu dapatkan." jelasnya. "Anggap aja itu balas budi kami semua."


Oh maksud kalian gue ini nyusahin gitu selama ini numpang di rumah kalian.


"Oh ya, ambil aja. Gue mau berangkat kerja." berdiri.


"Kenapa masih kerja, elukan udah kaya?" tanya Bi Nur.


"Bukannya kalian sendiri yang bilang, jangan berharap dengan laki-laki."


"Tapikan berbeda, Ra." ucap Bi Rosida.


"Apa Bi yang berbeda?"


"Keluarga angkasa earld group terkena akan setia sama pasangan, tidak ada kata cerai." jelas Bi Rosida.


"Kalau misal, aku yang ingin cerai gimana?"


"Elu yang gila, dapat berlian malah ambil kotoran."


"Terserah di kalian saja, suami aku aja nggak ngelarang. Udah dulu ya semua, entar gue telat." jalanku cepat ke arah luar kamar.


Air mata gue luruh, sesak rasanya. Sebenarnya gue ini keluarga kalian bukan sih?


Ceklek!


***


"Ay, mau berangkat kerja?" tanya Mas Abyan saat melihatku telah memakai seragam kerja.


"Iya Mas." jawabku.


"Nggak ambil cuti aja dulu hari ini. Kamu pasti capek, Ay."


"Enggak kok, Mas."


"Izin dulu, Ay."


"Nggak, Mas. Aku udah libur tiga hari, nggak enak sama teman di rumah sakit."


"Kamu aja bisa lembur, masa mereka nggak bisa, Ay."


"Berbeda Mas, mereka sudah menikah."


"Kamu juga udah nikah, Ay sama Mamas." ingatnya.


"Mas, mereka udah punya anak kasihan."


"Kamu."


"Belum, Mas."


"Maksudnya buka itu, Ay. Tapi kamukan capek belum juga istirahat."


"Sedikit kok Mas, masih bisa di tahan. Lagian pekerjaanku nggak terlalu banyak."


"Iya sudah jika itu maumu, tapi Mamas antar ya?"


"Enggak usah Mas." tolakku,

__ADS_1


"Ay, kamu itu istriku."


"Jadi kalau istri Mamas harus manja, enggakkan Mas?"


"Tapi itu tanggung jawab Mamas, Ay."


"Nggak juga Mas, banyak di luar sana jalan sendiri tanpa suami."


Ayolah Mas, ngeh gitu jadi Bos. Percuma gue nutupin wajah pakai cadar, kalau kerja elu yang antar.


"Berbeda, Ay." ngototnya.


"Mas, ku mohon, tolong mengerti. Aku masih dalam fase menikmati hari-hariku sebagai pegawai yang sebentar lagi jadi pengangguran." jelasku.


"Kata siapa kamu nganggur?"


"Terus, aku harus apa?"


"Banyak kerjaan kamu, di rumah."


"Mas mau jadiin aku asisten rumah tangga. Di gaji nggak, Mas?" candaku.


"Maunya berapa?"


"Hmmm, cukup nggak beli cilok." candaku lagi.


"Gerobaknya Mamas beli."


"Kalau orangnya?"


"Buat apa, Ay?"


"Suami ke-dua."


"Hmmm, enak aja. Mamas mau di apain." baliknya canda.


"Mamas kerja, akang bakso di rumah."


"Ngapain dia di rumah?"


"Berantem sama aku."


"Mamas juga bisa." tawarnya.


"Jangan, takut aku Mas. Belum berantem udah kalah duluan."


Mas Abyan mengulum tawa. "Iya sudah kamu boleh berangkat kerja sendirian." mengalahnya dengan mengalihkan pembahasan lain.


"Makasih ya, Mas."


"Hmmm, sama-sama."


"Oh ya, Mamas nggak berangkat kerja?"


"Enggak, Ay. Masa pengantin baru langsung kerja, apa kata mereka? Kalau kamu, kan memang tertutup identitasnya, kalau Mamas nggak."


"Iya juga sih! Tapi gimana kerjanya Mamas di kantor, entar banyak?"


"Ada Aziz yang handle pekerjaan Mamas, sisanya Mamas kerjakan di rumah selama libur." jelasnya.


"Hmmm, Iya udah aku berangkat dulu ya, Mas." mengangkat tangan mau saliman.


Mas Abyan mengangkat tangannya, mencium punggung tangan Mas Abyan.


"Nggak sarapan dulu, Ay?"


"Sarapan di rumah sakit aja Mas, ambil di kantin nanti."


"Pergi naik apa?"


"Hmmm, taksi aja."


"Iya sudah hati-hati."


"Iya Mas, Assalamualaikum." pamitku.

__ADS_1


"Waalaikumussalam." jawabnya.


Bersambung...


__ADS_2