Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 59 Di Pecat


__ADS_3

Gue dan Siska berdiri di hadapan Mas Abyan yang duduk di kursi melihat kami dengan tatapan tajam, terlihat jelas dirinya ingin marah dengan kelakuan yang kami perbuat.


Semua tidak akan terjadi kalau gitar spanyol tidak memancing gue tadi. Gue juga sadar, seharusnya tidak terpancing oleh perbuatan gitar spanyol.


"Bu Zahra dan Bu Siska tolong jelaskan kenapa kalian berani membuat keributan di dalam ruangan cempaka satu penyakit dalam. Apa kalian lupa di sana banyak pasien yang sedang di rawat?"


Gue tau Mas Abyan lagi berada di peran sebagai pemimpin, bukan sebagai pacar atau suami. Memang benar, itu yang harus dirinya lakukan agar bisa berbuat adil sebagai pemimpin.


"Mas gara-gara dia, kamu dan keluarga lainnya menjauhi aku. Ayah Dameer memindahkan aku di bawah perusahaan inti Mas. Aku nggak rela semuanya jadi begini. Ini semua salah Zahra Mas. Kamu juga harus tau, Zahra selingkuh dengan Mas Aziz." menunjuk ke arahku dan Pak Aziz yang berdiri di belakang kami.


"Bu Zahra jelaskan." suara dingin Mas Abyan membuat ruangan terasa berat.


Pak Aziz hanya diam tidak memberi klarifikasi, bahwa gue dan dirinya tidak ada hubungan apa-apa.


Mas Abyan merasa cemburu atau merasa panas akibat tingkah laku Siska, gue harus bisa menghadapinya sebagai karyawan, pacar mau pun istri.


"Maaf Pak Abyan sebelumnya."


"Sudah saya maafkan." jawabnya langsung.


"Saya sendiri sebenarnya sudah mengajak baik-baik Ibu Siska ke dalam ruangan, ingin tau kenapa dirinya bisa berteriak mencari saya dan berbicara bahwa saya ini pelakor, lebih tepatnya merebut suami orang. Saya bingung harus berpikir seperti apa?"


"Tapi Mas, dia mengakui bahwa Mas Aziz miliknya." ucap Siska menyiram bensin ke dalam api, agar masalahnya semakin besar, dan menutupin kesalahannya sendiri.


"Jawab Bu Zahra." inginnya mendengar penjelasan gue, tanpa menjawab ucapan Siska.


"Saya berbuat demikian ingin tau apa yang di sebut Bu Siska adalah Pak Aziz, sampai-sampai saya di tuduh menjadi pelakor, dirinya malah menuduh balik saya selingkuh dengan Pak Aziz dan mengkhianati Mas Abyan yang di anggapnya suami sahnya. Di situlah saya memutar kondisi bahwa saya tidak tau siapa Pak Aziz dan terbukti saya bukan pelakor. Pak Aziz hanyalah perisai agar tidak terjadi kesalah pahaman yang dibuat Bu Siska di tengah ramainya keluarga pasien yang menyebabkan nama baik saya tercoreng."


"Alah ngaku loh, jangan menutup aib sendiri. Gue tau elu berbohong dan memang benar elu tuh selingkuh." menunjukku.


"Diam..." pekik Mas Abyan berdiri terlihat marah, wajahnya yang ganteng itu terlihat menyeramkan.


Siska terlihat mematung, dirinya seolah menjadi beku tak bisa bergerak terlihat ketakutan itu menyertainya.


"Bu Siska ada tiga pilihan anda."


"Ma-maksud Mamas apa?" dirinya bergetar hebat, air matanya terlihat mengalir deras.


Kalau gue hanya bisa menjadi patung dulu, sungguh aura Mas Abyan yang sebagai pemimpin ini membuat gue takut kalau bisa hilang dulu dari sini, ucapannya kirim lewat pesan aja. Kalau seperti ini jantung berserta arwah yang menetap di tubuh gue ingin lepas semuanya.


"Kamu tinggal pilih, pertama mau meminta maaf sekarang juga pada Bu Zahra atas tuduhan yang kamu perbuat serta menjelaskan pada karyawan di ruangan cempaka satu penyakit dalam, bahwa kamu telah berbuat kesalahan. Ke-dua kamu mau di masukkan ke dalam penjara seumur hidup. Ke-tiga besok kamu tidak akan melihat dunia lagi." tiupan angin malaikat maut mulai mengisi ruang ini.


Siska masih terdiam.


"Bu Zahra anda di pecat, besok hari terakhir bekerja di rumah sakit." sambung Mas Abyan melihatku datar.


Gue nggak tau harus berpikiran apa? Mau marah nggak bisa, mungkin jika gue bukan istri Mas Abyan, bisa jadi juga di pecat dengan tidak hormat. Di sisi lain gue berterima kasih dengan adanya musibah ini, gue nggak perlu susah-susah memikirkan alasan berhenti bekerja.


"Jawab Bu Siska."


"Mas kenapa harus memilih ketiga itu? Aku mencintaimu Mas, lebih dari segalanya." mendekatin Mas Abyan.


"Berarti pilihan kamu nomor tiga." wajah Mas Abyan terlihat semakin menyeramkan.


"Nggak Mas, ampun Mas." Siska terduduk di hadapan Mas Abyan.


"Aziz, bawa Bu Siska keluar. Beri dia pelajaran, jika tidak mau menjelaskan kesalahannya, kamu taukan apa yang harus di lakukan." melihat Pak Aziz.


"Mas ampun Mas jangan begini padaku."


"Maaf Bu ikutin arahan, jangan membantah." ucap Pak Aziz setelah berada di samping Siska.


"Baiklah, saya ikuti." berdiri dan berjalan melihat gue tidak sukanya.


Ceklek!

__ADS_1


Dup!


Mereka berdua telah keluar, tinggal gue dan Mas Abyan di dalam ruangan.


"Kalau begitu saya permisi, Pak." inginku jalan.


"Berhenti di situ!" cegah Mas Abyan mendekati.


"Ay, kamu nggak apa-apa?" berdiri di hadapanku. "Wajah kamu kenapa?" memegang luka di pipi.


"Saya tidak apa-apa, Pak."


"Ay, kita panggil dokter ya." inginnya ke meja lagi mendekati telepon. "Berhenti Pak Abyan saya tidak perlu dokter, luka saya sudah di obati teman kerja di ruangan."


"Ay, kamu marah?" kembali di hadapanku.


"Nggak, Pak."


"Kenapa manggil, Pak?"


"Bukannya tadi anda duluan yang memanggil saya Ibu." membalikkan kondisi.


Mas Abyan menjentikkan jarinya.


Trek!


"Kembali ke mode semula, bahwa kita suami istri." dirinya bagaikan dukun yang habis menghipnotis gue. "Ay kamu marah?"


"Hmmm nggak Mas, aku kembali keruang nanti temanku menunggu." jawabku santai.


"Biar mereka bekerja, kamu juga sudah di pecat." tegasnya.


"Tapi itu besok Mas, sehabis aku pulang kerja."


"Nggak Mas, aku malah berterima kasih dengan hal ini aku nggak perlu lagi memikirkan alasan kenapa aku berhenti secara tiba-tiba."


"Syukurlah kalau begitu, Mamas akan kasih pelajaran untuk Siska." memelukku.


"Nggak perlu, Mas."


Melepaskan pelukan, tangan Mas Abyan masih di bahuku. "Kamu terlalu baik, Ay."


Mengambil tangan Mas Abyan, tangan kananku mengambil rambut Siska di dalam saku pakaian. "Ini aja sudah cukup." meletakkan rambut di tangan Mas Abyan.


"Ih, rambut pelakor." membuang rambut Siska. "Kenapa di kasih ke Mamas si, Ay." dirinya terlihat geli membersihkan tangannya.


Hanya bisa mengulum tawa, Mas Abyan ternyata bisa ya berpikir Siska itu pelakor. "Kenapa Mamas terlihat jijik? Bukannya uda-"


"Syuuut!" jari Mas Abyan langsung ke mulutku, menyuruh diam.


"Jangan membuat Mamas frustrasi, memikirkan hal kemarin, jangan lagi di bahas. Ingat, Ay!" tatapannya dingin.


"Kalau masih di bahas?" tantangku.


"Mamas makan kamu, Ay." ancamnya.


"Aku nggak takut ancaman Mamas."


"Serius, Ay?"


"Serius, lagian semuanya akan terjadi juga."


Mas Abyan terdiam sebentar. "Mamas bercanda sayang." memelukku. "Mamas ingin kamu memberikannya secara ikhlas."


Mengulum senyum. "Canda Mamas nggak lucu tau, kalau Mamas mau melakukannya aku ikhlas kok Mas, aku nggak mau banyak dosa gara-gara menunda kewajibanku."

__ADS_1


"Serius, Ay?"


"Hmmm, serius."


"Tapi Mamas nggak mau."


"Kenapa nggak mau?"


"Kamu lagi datang bulan." bisiknya nakal.


"Eng-"


Tok tok tok.


"Masuk." ucap Mas Abyan masih memelukku dengan ucapanku yang terpotong.


"Mas malu lepas." berusaha melepas pelukan Mas Abyan.


"Diam, Ay."


Ceklek!


Pak Aziz yang datang melihat kami berpelukan dirinya langsung membalik tubuhnya.


Pak Aziz elu terlihat polos gitu, nggak pernah lihat beginian, padahal udah lebih dari itu, Mas Abyan tau elu menodai Falisha habis lu di kubur hidup-hidup.


"Maaf Pak saya mengganggu."


"Mendekatlah." perintah Mas Abyan.


Pak Aziz berjalan mundur, melihatnya begitu, gue ingin tertawa.


"Aziz saya di sini bukan di situ, apa kamu kira saya ini hantu?"


"Tapi Pak."


"Lihat!"


Mas Abyan elu mau pamer kemesraan gitu.


Pak Aziz membalik tubuh secara perlahan. "Ekhem!" malunya melihat kami begini. "Maaf Pak, lima belas menit lagi kita akan rapat di perusahaan inti." mengingati jadwal Mas Abyan.


"Hmmm, keluarlah sebentar lagi kita berangkat. Sorry lagi panas." ucap Mas Abyan pelan.


"Hmmm, iya Pak." berjalan keluar ruangan menutup pintu.


"Mas kalau panas AC di besarin bukan meluk gini."


"Alasan aja, Ay." dirinya langsung menciumku, mengabsen di dalam sana, gue yang di buat begini terus menerus belajar membalas ciuman Mas Abyan.


Melepas. "Ada peningkatan." ucap Mas Abyan pelan.


Hanya bisa tersenyum merasa malu.


Mas Abyan melepaskan pelukan. "Kembalilah ke ruangan, hati-hati."


"Hmmm, iya Mas. Mamas juga hati-hati di jalan."


"Iya sayang."


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumussalam."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2