
Kami semua turun dari pesawat.
"Aaah... Segarnya." Falisha merentangkan ke-dua tangan.
"Rasanya enak banget." sambung Mika ikut merentangkan ke-dua tangan.
"Kalian berdua mau berdiri di situ aja." ucap Oma melihat Mika dan Falisha masih berdiri di dekat pesawat.
"Habis enak Oma di sini." Falisha mengikuti jalan kami yang mengarah ke villa.
Mika mengikuti dari belakang bersama Falisha. "Ra, ini punya elu?" tanya Mika.
"Punya Mas Abyan." candaku.
Mas Abyan melihatku. "Punya kamu, Ay. Ini mahar yang kamu pinta dulu." mengingatku.
"Kaya mendadak lu, Ra." ucap Falisha.
"Calon, Bos." sambung Mika.
"Kamu mau, Yang?" Dokter Idris terlihat tidak mau tersaingi.
"Nggak! Saham yang kamu kasih udah banyak. Jangan banyak-banyak, Mas. Entar aku pusing seperti Zahra." jawab Mika tersenyum-senyum.
"Kamu pusing ya, Ay?" Mas Abyan memegang tanganku.
Menganggukkan kepala. "Banget, Mas." candaku.
Mas Abyan diam seperti banyak pikiran. "Perasaan kamu nggak ngapa-ngapain, Ay." ucap Mas Abyan yang ingin membuatku tertawa.
"Pusing kebayangkan uang." sambung Falisha. "Jadi bingung uang yang di peroleh untuk apa? Sedangkan Zahra selama ini tidak terlalu suka belanja." jelas Falisha ada benarnya.
"Iya-iya. Mamas belum menerima pesan black card yang di kasih ke kamu, Ay. Kamu pakai apa enggak?" Mas Abyan ternyata mengingatnya.
"Enggak, Mas. Buat apa coba? Semuanya udah lengkap di kamar." jelasku apa adanya.
Mas Abyan tersenyum-senyum. "Gunakan sesuka hatimu, Ay. Uang yang Mamas cari untukmu."
"Tapi aku belum butuh, Mas. Nantilah kalau benar-benar butuh, baru aku gunakan." belaku.
Mes Abyan hanya tersenyum-senyum.
Kami semua telah sampai, ternyata villa sudah ramai oleh pengunjung.
"Kenapa banyak orang begini, Mas?" bingungku.
"Langsung acara, Ay. Soalnya Oma, Ayah, Ibu, Mas Darman, Hanum, Amel, dan Tama langsung pulang. Perusahaan nggak bisa di kosong begitu aja. Amel dan Tama juga mau sekolah." jelas Mas Abyan.
__ADS_1
Iya juga sih.
Kami semua bersalaman pada warga di sana yang hadir.
"Duh Bu Zahra, akhirnya benar-benar hamil." ucap Bu Inem terlihat bahagia. "Berarti ramuannya manjur." sambungnya lagi.
"Terimakasih, Bu. Atas ramuan yang di berikan." hanya itu yang bisa di ucapkan.
"Sama-sama."
"Oh ini ya Ra, yang buatin kamu ramuan herbal itu." ucap Oma.
"Iya, Oma. Ini semua berkat Ibu Inem." ucapku memegang punggung Bu Inem.
"Terimakasih ya, Bu. Tapi kalau boleh saya minta di racikan lagi." ucap Oma tersenyum.
"Oh untuk Ibu, ya? tanya Bu Inem pada Oma.
Kami semua tersenyum-senyum.
"Ibu bisa aja kalau bercanda." Oma terlihat malu. "Itu ramuan untuk ke-dua cucu saya." Oma menunjuk Falisha dan Mika. "Sudah lama menikah, belum juga hamil." jelasnya terlihat sedikit sedih.
"Oh, kirain untuk Ibu." Bu Inem tersenyum malu salah duganya. "Nanti saya racik saat pulang. Malam kalau tidak ada halangan saya antar ke sini."
"Bu, boleh nggak ikut." ucap Mika. "Kata Zahra, ada air terjunnya di tempat Ibu." ingatnya pada ucapanku.
Melihat Mas Abyan. "Mamas nggak bilang sama aku."
"Kamu tinggal melihat sudah jadinya aja, Ay."
Hmmm, Mas Abyan kenapa sih, bikin aku lumer setiap apa yang dirinya lakukan.
"Besar nih bayarnya." bisikku di telinga Mas Abyan.
Mas Abyan tersenyum-senyum. "Bayar habis lahiran aja, Ay. Full servis." bisiknya di telingaku.
"Hayo bicara apa kalian berdua." kepo Falisha melihatku dan Mas Abyan berbisik sambil tersenyum.
"Soal Mas Abyan membuatku terkejut terus, Sha. Jadi bingung harus apa?" setengah jujurku, kalau di ceritakan Mas Abyan minta full servis malulah di dengar para warga.
"Oh, kamu jadinya baru tau. Kami semua udah tau, Ra. Hanya saja belum sempurna pembangunannya." jelas Ayah.
Gue merasa ada yang aneh.
"Maksudnya, Ayah?" ingin tauku.
"Mamas sedang membuat proyek PT beras di sini. Hasil dari sawah ini, akan di produksi menjadi beras yang akan di jual murah. Semua penduduk tidak akan pusing mikirin beli beras lagi. Termasuk juga membantu mereka yang sulit mendapatkan pekerjaan." jelas Mas Abyan.
__ADS_1
"Jadi?" gue bos besarnya dong.
"Ini semua milik kamu, Ay. Berkat maharmu, semuanya terbantu." jelas Mas Abyan lagi.
Hmmm, Mamas. Bingung harus apalagi, untuk membalas jasamu.
"Full servis aja, Ay." Mas Abyan berbisik, seperti tau aja yang gue pikirkan.
"Ayo kita duduk, acara yasinannya mau kita mulai." ucap Oma.
Kami semua duduk di tempat yang telah di siapkan.
Pembawa acara mulai berbicara. Mataku melihat lingkungan, sepertinya villa di tambah satu lagi. Di sini banyak juga perubahan. Lebih alami dan natural, walau di tengah-tengah sawa ada tiga villa.
Jelas sekali di sekeliling villa tempat untuk bersantai. Entah gue bingung ingin menjelaskan bagaimana tempat ini, intinya tempat ternyaman.
Kami semua fokus pada acara yang di selenggarakan begitu hikmat. Air mataku membendung atas doa-doa yang di lantunkan. Begitu besar Tuhan memberikan kebahagiaan padaku. Semoga anak yang ku kandung ini, sehat dan selamat sampai dirinya datang ke dunia ini.
Gue nggak tau ke depannya seperti apa? Hanya doa yang bisa ku ucapkan setiap langkahku.
"Aamiin." kami semua ucapkan saat pembacaan doa dan surat yasin selesai.
"Mari Ibu-ibu dan Bapak-bapak, di persilahkan makan hidangan yang telah di sajikan di atas meja samping dan kanan kalian." ucap pembawa acara.
Mulai semuanya makan.
"Ay, kenapa?" Mas Abyan melihatku dengan cemas, mungkin mataku sedikit merah.
"Aku terharu Mas, sama acara syukuran ini." jelasku sambil mengelap air mata.
Mas Abyan memegang tanganku. "Mamas sama, Ay. Semoga kamu dan anak kita sehat. Tuhan selalu memberikan perlindungan untuk kita semua." ucapnya membuatku ingin meneteskan air mata lagi. "Jangan nangis, Ay."
"Aku hanya terharu aja, Mas. Nggak tau harus apa, untuk membalas kebaikanmu. Jika kamu tidak menikahiku, mungkin hidupku tidak seindah ini." jelasku yang benar-benar tidak tau harus membalas kebaikan Mas Abyan.
Mas Abyan mengelus tanganku. "Mamas juga nggak tau harus apa untuk membalas kebaikanmu, Ay. Jika kamu tidak datang di hari itu. Mungkin Mamas tidak akan menerima hidup yang terbilang sempurna." ucapnya membuatku ingin terbang.
"Mamas nih gombal." ucapku tersenyum.
"Mamas nggak gombal, Ay. Serius."
"Udah bicaranya, makan dulu." ucap Ibu Sari datang mendekati kami.
"Yuk, Ay. Makan. Kasihan untun belum makan." ajak Mas Abyan.
"Iya, Mas."
Bersambung...
__ADS_1