Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 27 Chef Ganteng


__ADS_3

"Mas-mas, sini." memanggil ke Chef ganteng, sepertinya ketua dari yang lain.


Dirinya mendekat. "Ada apa Nyonya?"


Ah malu gue di panggil Nyonya.


"Coba di cicip dulu." pintaku menyuruhnya duluan merasa ‘kan masakan gue, sebelum dihidangkan. Orang ahli ‘kan beda lidahnya sama yang tinggal makan.


"Boleh Nyonya." maunya.


Menyerahkan daging sapi, di atas piring yang sudah gue siapkan.


Chef mengambil sendok, irisnya pelan menggunakan pisau khusus.


Dirinya tersenyum melihat tekstur luar dan dalam daging.


Gue penasaran itu Chef senyum karena senang dengan takarannya atau bentuknya kurang menarik.


Chef mulai memasukkan daging, ke dalam mulut.


Dirinya tersenyum-senyum, melihat ke arah lainnya. Gue yang menunggu lama bingung, hasilnya gimana? Soalnya keluarga gue kalau masak nyuruh sih, bukan mau sombong. Mereka nyuruh gue yang paling depan, entah malas atau enak.


"Enak Nyonya." ucap Chef dengan tangan yang berbentuk emoji ok. "Nanti boleh ya Nyonya minta resepnya." pintanya tanpa malu.


Ah hayati jadi malu. "Bohong kali dirimu?" Gue masih belum percaya, siapa taukan mereka menganggap gue nyonyanya jadi menghormati dan menghargai.


"Nggak Nyonya, saya serius." jawabnya meyakinkan.


Gue nggak percaya. "Bohong dosa loh, Mas?" ingin menerima yang pasti.


Senyumnya. "Saya orangnya jujur Nyonya, jika memang tidak enak, saya akan berkata tidak enak. Ini juga pekerjaan saya, walau pekerjaan saya menaruh nyawa, mereka yang tidak setuju penilaian saya, apapun itu tetap jujur walau hal itu menyakiti." jelasnya membuatku terkejut, semoga ucapan Chef benar adanya.


"Baiklah saya percaya, soal resep boleh, sini dicatat bumbunya." ucapku langsung.


Ngasih ilmu mah jangan tunda-tunda, kalau itu bermanfaat, mereka suka lanjut.


"Chef namanya siapa?" tanyaku.


Dirinya yang memegang tablet ternama.


"Nama saya Angga, Nyonya." senyumnya.


Ya Allah ganteng juga, kalau di lihat-lihat.


"Sudah nikah ya Chef?" tanyaku balik.


"Belum Nyonya." jawabnya malu-malu.


"Umurnya emang berapa?" sambil membalik daging, sedikit lagi selesai.


Gue nanya-nanya gini, seperti sensus penduduk ya.

__ADS_1


"Tiga puluh tahun, Nyonya." jelasnya.


Sepertinya cocok deh kalau Mika mau, siapa tau dia putus sama pacarnya yang gatel dan playboy itu.


"Oh, simpan nomor saya. Nanti saya kirim."


"Benar Nyonya, tuan muda nggak marah?" tanyanya yang mulai akrab.


"Enggaklah" senyumku. "Kalau beliau marah, lapor ke saya. Biar saya telan." candaku dengan menyajikan daging panggang di atas piring, malam ini gue jadi juru masak dulu.


"Kami bantu Nyonya." tawar Chef Angga.


"Nanti kalian di pecat lagi, belum di bayarkan nggak enak." tolakku dengan tersenyum. "Catat aja berapa sepiring, entar minta mereka bayar." candaku pada Chef, Bi Tanti, dan asisten rumah tangga lainnya.


Mereka semua tertawa, lirikku pada semua keluarga yang berkumpul, ternyata tawa para pegawai memancing mereka untuk melihat ke arah kami.


"Kalian makan aja." perintahku.


"Nggak Non! Inikan acara Nona sama tuan mudah dan keluarga. Seharusnya kami yang melayani." ucap Bi Tanti.


"Nggak apa-apa nanti jangan lupa aja bayarnya di kasir." candaku lagi.


Mereka tertawa lagi, dengan bahagia.


"Ayo, sini tabletmu." mengambil langsung tabletnya, lama nunggu Chef Angga. Gue isi nomor di sana dengan nama Zahra Aneska.


"Entar saya kirim lewat pesan menu resepnya." ucapku mengetik nomor telepon, kemudian menelepon ke handphoneku, dah masuk.


Gue matikan.


"Sudah tuan muda. Silahkan di ambil." ucapku sebagai pelayan baru di sini.


"Ay jangan gitulah, kalau kamu marah bilang sekarang." memelukku lagi.


Bau asap gini, di peluk-peluk.


"Mas, suka banget sekarang meluk-meluk tanpa izin." ucapku jujur.


Mas Abyan mendekati wajahnya ke telingaku. "Di sini ada keluarga besar Ay, bukannya kamu malu kalau jadi bahan pembicaraan." ucapnya berbisik.


Gue baru ingat waktu ngajakin Mas Abyan olahraga malam, memang seperti itu ucapanku.


"Nih Mas, tabletnya. Jangan lupa telepon." candaku di depan Mas Abyan.


Chef Angga mengambil. "Terimakasih Nyonya." senyumnya malu campur takut.


"Lepas Mas, malu tau." melepas paksa, biarlah mereka mau bilang apa? Sekarang gue masa bodoh, Oma Farra aja bilang gue di suruh mundur secara perlahan.


Chef dan lainnya, langsung berpura-pura melihat ke arah lain.


Kalian ada yang jomblo merasa iri, melihat kami bermesraan. Padahal berbanding terbalik.

__ADS_1


"Ay, kenapa nomor kamu di kasih ke orang lain?" nadanya sedikit dingin.


"Kamu yang megang tablet." panggil Mas Abyan ke Chef Angga.


Chef Angga langsung melihat ke arah Mas Abyan.


"Iya Tuan!"


"Udah nomor juga." ucapku langsung. "Aku ada perlu, mau belajar masak. Nanya sama yang ahli, mau belajar ke tempat kursus belum ada waktu." alasanku menengahi Mas Abyan, kasihan ‘kan Chef Angga terkena imbasnya nanti.


"Tapi A,"


"Nggak boleh, aku belajar ya, Mas?" tekanku.


"Mamas, ayo duduk." ucap Ishana memeluk tangan Mas Abyan, mengajaknya duduk lagi. "Oma Farra yang minta." ajaknya.


"Ay-" tarik Ishana kuat, memisahkan juliet dan romeo.


Dah pergilah kalian berdua, pusing kepala gue.


Cepatku memasukkan daging sapi dulu ke dalam wadah, gue bawa ke meja para keluarga berkumpul.


"Silahkan di coba, maaf kalau kurang enak." ucapku ramah.


"Mbak Zahra mah, kalau masak pasti enak." ceplos Falisha.


Gue langsung melebarkan mata, lu kalau ngomong nggak mikir-mikir apa? Masakin lu aja di depan keluarga baru ini.


Kalau selama ini jangan tanya lagi, kami suka kumpul makan-makan dan masak di apartemen yang lu sewa, menganggap itu tempat tinggal lu, dengan alasan keluarga lu jauh di kampung halaman, daerah terpencil. Ah, kesal gue kalau ingat itu.


Keluar kandang macan, masuk kandang singa, jadinya begini.


"Oh ya, kapan Mbak makan masakan Zahra?" tanya Ishana.


Nah ‘kan lu di tanya, bikin masalah aja.


"Panggil Mbak Zahra, tua dia dari elu. Lagian itu istri Mas Abyan." ketus Falisha. "Gue tau, dari baunya aja enak, nih ya gue ambil." jelas Falisha meyakinkan. "Tuh ‘kan enak banget." makannya lahap.


Bisa banget lu Sha, memutar kondisi yang panas jadi dingin.


"Wah iya ya, enak." sambung Bu Kana, merasa ingin tau.


Semua yang mencicipi, merasa senang.


Gue kembali lagi ke panggangan mengambil yang lain. Sekejap aja ini mah gue panggang, perut gue juga udah kenyang.


Semua sudah gue sajikan, Oma Farra, Ibu Sari, semuanya suka dengan masakan gue. Hanya satu Ishana, makan banyak, tapi melihat gue nggak suka.


Malah ya reaksi dia tu, seperti mancing-mancing gue buat marah sama Mas Abyan.


Dari tadi meluk-meluk, mencium bahu, udah tuh buah semangka di tempelkan banget. Ih sumpah merinding gue. Mas Abyan santai aja di gituin, nggak ada apa rasa rangsangan sebagai laki-laki. Sepertinya benar deh, Mas Abyan nggak normal.

__ADS_1


Lihat mereka tuh, pokoknya mesrah banget. Gue yang liat bukan mau marah, tapi geli, jadi perempuan kok murahan.


Bersambung...


__ADS_2