Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 72 Posesif


__ADS_3

"Khem!" terdengar suara seseorang di belakang kami.


Gue, Bang Zen dan Mika melihat ke belakang, ternyata Mas Abyan telah berdiri di sana.


Senyum Mas Abyan. "Permisi Pak, boleh bergeser ke bangku sebelah. Saya mau duduk di dekat istri saya." pintanya pada Abang Zen.


"Kamu aja di situ, saya dari tadi di sini." tolak Abang Zen.


"Ay..." Mas Abyan memberi kode padaku.


Melihat Abang Zen. "Bang, boleh ya pindah. Mas Abyan mau duduk di sini. Maklum masih pengantin baru."


Abang Zen terlihat terkejut, dirinya berdiri dan duduk di sebelahnya tanpa kata-kata lagi.


Mas Abyan langsung duduk di sampingku.


"Mamas kenapa disini? Bukannya Mamas jadi juru bicara." puraku nggak tau apa-apa.


"Mau duduk dekat istri, jangan sampai di ambil pelakor. Mamas udah nyuruh Aziz yang gantiin Mamas." jelasnya terlihat cemburu.


"Mas, saya dengar ya?" Bang Zen langsung bicara. "Maaf sebelumnya, lebih baik anda tanya ke istri anda sebelum memfitnah saya." jelasnya terlihat kesal.


Abang Zen terbilang setengah laki-laki setengahnya lagi perempuan, dirinya termasuk yang unik dari makhluk lainnya.


"Ay, siapa dia?" Mas Abyan bertanya dengan wajah yang datar sedatar kertas, cemburunya itu terlihat banget.


"Perkenalkan Mas, itu saudara Mika bernama Abang Zen, sudah menikah dan mempunyai anak satu berusia kurang lebih tujuh tahun." melihat Abang Zen. "Abang, ini suami Zahra bernama Abyan." jelasku sambil memperkenalkan mereka berdua.


Mas Abyan yang tadinya terlihat kusut, berubah tersenyum mungkin dirinya sadar sudah cemburu berlebihan. "Maaf, Bang."


Mas Abyan mengajak Bang Zen bersalaman.


"Hmmm, iya sama-sama." membalas salaman Mas Abyan tersenyum sambil melepaskan salaman. "Mana istrinya Abang?" tanya Mas Abyan.


"Sudah lama beliau meninggal dunia, saat melahirkan anak saya." jawab Abang Zen terlihat sedih.


Mas Abyan tadinya tersenyum, kembali ke mode datar. Pikirnya pasti Bang Zen lagi nyari istri baru, makanya wajah Mas Abyan berubah.


"Khem! Maaf, saya turut berduka cita." ucap Mas Abyan.


"Iya, Mas." jawab Abang Zen langsung.


Mas Abyan mengambil tanganku, memeluknya.


Sumpah demi apapun, suami gue kenapa jadi posesif gini sih?


"Malu napa, bermesraan di depan banyak orang?" sindir Bang Zen, terlihat menjahili Mas Abyan yang cemburu berlebihan.


"Urat malu saya sudah putus." jawab Mas Abyan penuh penekanan.


Hanya bisa mengulum tawa melihat tingkah Mas Abyan. "Udah-udah fokus kalian berdua, acara mau di mulai." menengahi Mas Abyan dan Abang Zen.


Mereka berdua diam.


"Mari semua berkumpul, acara malam ini akan segera kita mulai." pemandu acara memberikan arahan.

__ADS_1


"Ayo, Nak Idris, duduk di depan Bapak penghulu, serta para saksi dari sebelah pihak laki-laki dan perempuan." ajak seorang laki-laki paruh baya mengarahkan acara.


Dokter Idris berdiri dengan Ayah Dameer dan Pak Andrean orang tua dari Dokter Idris.


"Mas lepas, tanganku." bisik di telinga Mas Abyan.


"Kenapa, Ay?"


"Aku mau memegang tangan Mika, dirinya pasti gugup, Mas." jelasku.


Mas Abyan melepaskan tangan, tanpa menjawab.


Memegang tangan Mika. "Mik, ada gue jangan gugup." memberi semangat.


"Hmmm, iya Ra." terlihat jelas cemasnya.


Nggak tau, cemas Mika karena ijab kabul atau hal lainnya.


Pak penghulu mulai membaca doa, dirinya yang langsung mewakili almarhum Ayah Mika yang telah tiada atas pinta Bu Yanti sebagai Ibu kandungan Mika.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Idris Sanjaya bin Andrean Wibowo dengan ananda Mika Sridewi dengan mas kawinnya berupa seperangkat alat shalat tunai."


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Mika Sridewi bin Widi handoyo dengan Mas kawin seperangkat alat shalat yang tersebut, tunai.” jawab Dokter Idris langsung.


"Bagaimana para saksi?" tanya Pak penghulu.


"Sah..." jawab serentak.


"Alhamdulillah." Pak penghulu membaca doa kembali.


"Hmmm, iya Ra." wajahnya Mika terlihat cemas.


"Mik, elu kenapa?" tanyaku penasaran.


"Nggak apa-apa Ra, hanya aja nggak terduga gue udah nikah." mata Mika terlihat membendung.


Memeluk Mika. "Elu kuat, elu bisa melewati ini semua. Gue yakin, hati kalian akan di bukakan oleh Tuhan yang maha esa." jelasku.


"Iya, Ra." melepaskan pelukan.


***


Mobil berhenti di depan teras rumah, kami semua keluar dari dalam mobil.


Melihat jam menunjukkan pukul sepuluh malam, saat masuk ke dalam rumah. "Nak, kalian semua langsung istirahat aja, hari sudah malam. Hari ini juga sudah banyak menguras tenaga." perintah Ibu Sari.


"Hmmm, iya Bu." jawab Mas Abyan.


"Sha nggak tidur sama gue?" serunya bercandai Falisha, saat Oma Farra, Ayah dan Ibu telah masuk ke dalam kamar.


"Mbak Zahra balas dendam ya?" ternyata Hanum mendengar.


"Nggak! Bukannya seru aja gitu." jawabku.


"Ay..." Mas Abyan memberi kode.

__ADS_1


"Hmmm, apa Mas?" puraku tidak tau apa-apa.


"Jangan ganggu pengantin baru, Mbak." sambung Hanum.


Falisha hanya diam mengulum senyum.


"Tapikan belum resepsi." ngeyelku.


Mas Abyan tibanya menggendongku. "Mas turunin, malu tau." cegahku.


"Jangan ganggu pengantin baru." jalan menuju tangga.


Melihat Falisha, Pak Aziz, Hanum, dan Mas Darman mengulum senyum.


Puas kalian ketawain gue, ini mah bercandain orang, balik ke diri sendiri.


"Mas turun, entar kita jatuh dari tangga. Nggak mau aku masuk rumah sakit lagi."


"Diam, entar kita jatuh." jalannya pelan naik ke atas.


Terpaksa gue memeluk leher Mas Abyan memejamkan mata, takut melihat ke bawah. Membayangkan jatuh, udah hidup di dunia lain gue.


Mas Abyan menurunkanku saat di depan kamar.


Ceklek!


Mas Abyan membuka pintu. "Masuklah, Ay."


"Hmmm, iya Mas." masuk ke dalam kamar.


Gue di buat terkejut, warna di dalam kamar itu berubah menjadi putih di campur coklat muda. Ranjang dan alat di kamar juga sepertinya di ganti. Apa setiap kami tidur di dalam kamar ini, akan di ganti semuanya?


"Ay, kenapa melamun?" Mas Abyan ternyata sudah duduk di ujung ranjang.


"Mas, kenapa kamarnya berubah begini? Apa setiap kita menginap, akan di ubah?" penasaran tanya aja langsung.


"Hmmm, enggak Ay. Gara-gara masalah waktu itu, Mamas nggak mau mengingatnya kembali." Mas Abyan terlihat frustasi.


Sebenarnya gue juga gitu, kalau kamar ini belum di rubah pasti teringat dengan masalah kemarin.


"Ay, duluanlah ganti pakaian kamu." perintahnya.


"Hmmm, iya Mas. Oh ya Mamas nggak kemana-mana, kan?" takutku dengan kejadian Mas Abyan, siapa tau balik ke gue.


"Nggak! Kenapa, Ay?"


"Takut aja, kejadiannya kebalik." jujurku.


"Ay, jangan buat Mamas tambah frustasi." cegahnya yang mungkin Mas Abyan berpikir, gue menyindir dirinya.


"Hmmm, enggak Mas." jalanku mengambil paper bag di atas meja, masuk ke dalam kamar mandi, tak lupa juga di kunci.


Masih cemas, siapa tau Mas Abyan tiba-tiba keluar kamar, jadinya gue mengunci pintu takut orang lain masuk, kalau Mas Abyan, gue pasrah aja, kalau orang lain, udah tamat riwayat gue.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2