
Pak Abyan berdiri, jalannya ke dalam ruangan meninggalkanku yang masih duduk di balkon.
"Ini pakaian kamu Ra, gantilah." menyerahkan paper bag di atas meja, Pak Abyan duduk kembali.
"Apa ini Pak?" tunjukku.
"Gantilah pakaianmu dengan itu, semoga saja ukurannya pas. Satunya lagi untuk besok, kita bertemu orang tuaku." jelasnya.
Mengedipkan ke-dua mata, besok ketemu mertua. Apa secepat itu?
"Besok jam berapa, Pak?"
"Sekitar jam sembilan atau sesudah kita sarapan." jawabnya.
"Hmmm, Pak. Saya tidak bisa memakai barang ini." menolak pemberian Pak Abyan yang harga satu pakaian bisa mencapai setengah harga motor metik, gue pernah lihat di salah satu aplikasi belanja online bergambar huruf. Makanan tadi siang belum di bayar juga.
Memang gue rajin menabung untuk masa depan dengan hasil kerja kerasku.
Tapikan nggak di habiskan secara perlahan untuk pakaian dan makanan mahal seperti ini.
Pak Abyan hanya tersenyum. "Terima atau di ganti yang lain." ucapnya penuh penekanan.
Sebagai wanita normal pikiran gue di ganti hal yang sensitif, walau bukan itu juga bisa di artikan kata ganti.
Mau di ganti apa coba? Orang kaya, butuh apa tinggal ambil.
"Ah iya Pak, kalau begitu saya ke kamar mandi dulu." mengambil paper bag tadi, berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Tidak lupa gue mengunci pintu.
Baiklah dengan senang hati gue lebih baik terima, kapan lagi memakai pakaian bagus dan mahal, walau rasanya ingin minta di ganti kertas bergambar bernilai yang bisa di gunakan untuk hal lain. Ke pasar kaki lima, udah buka toko besar gue.
Astaghfirullah, ampun ya Allah. Udah nggak bersyukur atas pemberianmu, merasa bersalah.
Sepuluh menit selesai mandi, melihat kaca.
Kenapa Pak Abyan membelikan pakaian sampai dalam-dalamnya berukuran pas. Dari mana coba dia tau? Garukku pada lekuk leher yang nggak gatal.
Anehnya kenapa harus beli, ambil aja di rumah pakaian gue banyak. Minta di ambilkan keluarga gue yang ada di sana bisakan.
Apa hanya melihat saja, dirinya sudah membaca? Secara tidak langsung, bisa saja Pak Abyan memikirkan isi-isinya juga saat memilih, geli gue jadinya.
Sudahlah terserah Pak Abyan mau apa?
Keluar kamar mandi, melihat Pak Abyan masih duduk di balkon.
"Makan dulu sini." ajak Pak Abyan, gue kembali duduk.
Oh ternyata saat gue mandi, Pak Abyan menyuruh pelayan menyiapkan makanan. Ini termasuk bayar nggak ya?
Jalan pelan duduk di sana, melihat makanan yang membuat saliva gue mengalir keluar, tapi di telan lagi.
"Makanlah, kamu belum makan malam." perintah Pak Abyan sambil memotong beef steak menggunakan pisau dan garpu.
Mengikuti secara perlahan, memotong lemah lembut takut terdengar. Hmmm, enak banget, setelah makan makanan mahal ini. Gue harus menikmatinya, mahal harganya sesuai dengan kualitas.
"Makan yang banyak." perintah Pak Abyan melihat meja ada berbagai macam jenis makanan serta minuman jus dan air putih.
Gue seperti ini, dilihat lagi dinner deh. Kenapa jantung gue ngadain tumpengan gini ya? Bisa jadi ke pikiran hal lain juga. Inikan malam pertama gue di hotel sama laki-laki, seperti malam pertama gitu. Semoga saja terlewatkan dengan mudah, takut gue buka segel secepat ini.
"Pak, kira-kira boleh nggak saya keluar sebentar?" ingat besok bertemu mertua, mau membeli sesuatu untuk mereka. Nggak enakkan datang nggak bawa apa-apa.
"Kemana, Ra?" tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Aku mau beli sesuatu untuk besok bertemu keluarga, Bapak?" jawabku jujur.
"Hmmm, nggak usah, Ra. Kita datang aja."
"Nggak enaklah Pak, sayanya."
"Emang kamu mau bawa apa?"
"Misalnya buah."
"Ada."
"Kue."
"Ada."
"Souvernir."
"Barang di sana banyak, Ra. Ibu suka belanja. Kamu nggak perlu bawa apa-apa." jelasnya.
Serius ni gue datang bawa tubuh aja, sama tas kecil. Jangan aja ya Pak, gue sebagai mantu baru jadi bahan pembicaraan, gara-gara nggak bawa apa-apa.
"Iya Pak." ikut ajalah, paling masuk telinga kanan, keluarnya telinga kiri.
Kurang lebih dua puluh menit selesai makan.
Pak Abyan menghubungi pelayan lewat telepon. Mereka datang membereskan sekitar tiga menitan.
Jam tak terasa sudah pukul sebelas malam. "Ayo istirahat." ajaknya ke dalam kamar.
Gue yang bingung harus tidur di mana? Lihat pada kursi sofa, di situ aja seperti tadi.
"Tidur di sana, Pak?" menunjuk kursi sofa.
"Tidurlah di sini." menepuk ranjang saat Pak Abyan sudah duduk di sana.
Pikiran gue travelinglah, jangan-jangan Pak Abyan ngajak gue goyang zumba.
"Itu Bapak aja di sana, saya di kursi." memberi solusi.
"Ra, tidur di sini." tepuk pelan ranjang. "Atau." gantung lagi membuat gue berpikiran negatif.
"Tapikan Pa-"
"Ra." potongnya langsung ucapan gue, seperti nggak boleh tidur di kursi.
"Iya Pak." meletakkan lagi batalnya.
Seram banget jadi orang.
Duduk pelan di atas ranjang, melihat bantal berukuran kecil gue ambil. "Pak kitakan sepakat menjadi teman, batal ini saya letakan di tengah." ucapanku penuh arti.
Senyum Pak Abyan sambil menganggukkan kepala, sepertinya menyetujui.
Mengambil handphone di dalam tas, meminta izin pada Bu karu satu hari dengan alasan sakit.
Di tempat gue kerja, siapa yang lembur dapat libur dua hari. Dengan aturan yang berlandaskan sebelum merawat pasien rawatlah tubuh dan kewarasan seorang pegawai. Kerja lebih efesien dan tingkatkan kesabaran dalam menghadapi pasien yang kadang keluarganya panik berlebihan.
Padahal semua itu bisa di tangani dengan mudah, jika keluarga pasien bekerja sama dengan baik.
Itulah aturan yang menurut gue, memudahkan pegawai meningkatkan kualitas tersendiri.
__ADS_1
Wajar rumah sakit tempat gue bekerja di kenal sebagai pegawai penyabar.
Melihat pada chat group keluarga banyak yang mengirim pesan dengan ucapan maaf, sekaligus membahas pernikahan tadi siang.
Gue yang lagi malas membaca satu persatu, komentar mereka nggak gue lihat. Fokus pada pesan yang di kirim ke Bu karu dulu, Ini juga sudah terlalu malam, bisa jadi beliau akan membalas besok pagi.
Meletakkan handphone di atas meja, melihat Pak Abyan masih mengotak atik laptopnya dengan fokus ke layar.
Sibuknya jadi Pak Bos malam-malam masih begadang, selesain pekerjaan.
"Semangat, Pak." tegurku memberi semangat, sebagai teman. Bantu dia gue enggak ngerti dengan tulisan diagram lika liku garis naik turun, serta tanjakan sana sini.
Pak Abyan melihatku sebentar, dengan tersenyum. "Iya, selamat tidur."
Pak Abyan, kalau lu senyum nih jantung dibuat olahraga terus, giliran lu ngeluarin gigi taring, jantung gue langsung berhenti. Lama-lama gue punya penyakit jantung, seperti ini terus.
Langsung tidur dan memejamkan mata, otak gue harus benar-benar waras untuk besok pagi.
***
Azan subuh berkumandang jelas terdengar lewat aplikasi di handphoneku, mata yang masih mengantuk akibat semalaman tidak bisa tidur. Gimana mau tidur, ini pertama kali sekamar dengan laki-laki. Takutnya di apa-apain itu lo yang bikin mata gue terang benderang.
Nih jantung menari-nari terus di dalam sana, jujur rasanya nggak karuan. Suara Pak Abyan menutup laptopnya dengan pelan terdengar di telingaku. Dirinya juga membaringkan tubuhnya dan memunggunginku.
Jujur ini laki-laki nggak ada apa rasa cemas tidur dengan wanita satu kamar. Posisinya sampai pagi seperti itu.
Entah itu tidur nggak pegal apa, seperti itu terus? Gue aja tidur gonta ganti pose, agar nyaman. Sampailah gue nggak ingat kapan mata ini ikut terlelap.
Gue yang sudah bangun menyelesaikan azan dulu, sebentar. Tibalah tangan halus dan lembut mengelus kepala gue, tunggu! Pak Abyan mau apa?
"Sayang bangun yuk, shalat bersama." bisiknya di telinga gue yang masih menggunakan hijab langsungan.
Aaaaaa... Ingin gue berteriak jantung rasanya ingin loncat sekarang juga, yakinlah gue wanita normal dengar yang seperti itu bisa meningkatkan gairah. Ada juga geli gue di campur kesal, teman manggil ayang-ayangan.
Huuuuf!
Pikiran gue harus disterilkan dulu, mari shalat subuh. Untung saja ini kamar di lengkapi peralatan alat shalat bagi agama Islam. Gue nggak susah-susah keluar mencari mushola atau masjid.
Membuka mata, bangun dari tidur. "Hmmm, iya Pak!" jawabku datar.
Turun dari atas ranjang mengarah ke kamar mandi, ku rasa ya Pak Abyan ngikutin dari belakang.
Berbaliklah dengan cepat. "Bapak mau apa?" benar adanya Pak Abyan mengikutiku.
Senyum Pak Abyan lagi-lagi membuatku terpukau, serius dah. Senyumnya itu loh, minum kopi nggak perlu pakai gula. Manis banget.
"Mau ambil air wudhu." jawabnya.
"Oh iya udah Bapak duluan." gue mengalah.
"Kenapa nggak bersama?" tawarnya.
"Entar kita ke kamar mandi berdua, bukan ambil wudhu Pak, brantem di sana." candaku agar tidak larut dalam ketegangan.
Pak Abyan mengulum tawa. "Ada-ada aja." perginya ke kamar mandi.
Terlihat jelas kuping Pak Abyan sedikit kemerahan. Apa dia malu?
Enak juga mainin anak orang, lugu apa lugu nih Bapak gemes deh.
Bersambung...
__ADS_1