
"Rio meninggal, Ra." jawab Mika.
Apa? "Inalillahi wa innailaihi rojiun. Kapan, Mik?"
"Setelah elu pulang di jemput Pak Bos, nggak lama Rio kehilangan kesadaran, Ra. Tibanya kritis nggak lama Rio di nyatakan meninggal dunia." jelas Mika terlihat sedih.
Air mataku membendung, merasa kehilangan orang yang baik sama gue. Rio yang dalam dua tahun bolak balik menjalankan berbagai pengobatan dan terapi agar dirinya sembuh, tapi tak menemukan titik terang. Akhirnya meninggal dunia.
"Hmmm iya Mik, semoga Rio bahagia di sana. Oh ya, gue mau istirahat dulu, capek di tambah ngantuk." beralih ke pembahasan lain, ingin gue membuka kado yang Rio berikan.
"Iya udah kalau gitu, dada sampai berjumpa nanti malam." ucap Falisha membuat gue terkejut.
"Emang mau ngapain, entar malam?" penasaran gue.
"Oma mau temuin elu dan Mas Abyan lagi gara-gara masalah tadi, sekalian mau ngadain makan-makan di rumah baru elu." jelas Falisha.
"Kok nggak ngasih tau dulu, gue 'kan mau siap-siap?"
"Udah semuanya di siapkan oleh Oma, elu istirahat minum obat. Urusan itu jangan di pikirkan, oke!"
"Oh iya udah kalau gitu, kalau ada apa-apa jangan aja nyalahin gue ya?"
"Sip! Ya udah, gue matiin dulu, entar kita sambung lagi."
"Hmmm!"
Falisha mematikan handphone, gue langsung berdiri membuka lemari hias, mencari kado yang di berikan oleh Rio.
Mengambil kado, maaf ya Rio baru gue buka, duduk di atas ranjang lagi membuka kotak segi empat berukuran sedang.
Melihat cincin bermata putih dan selembar kertas sepertinya surat.
Meletakkan kotak di sampingku, mengambil kertas dan membukanya.
"For Suster Zahra Aneska.
Maaf Rio yang selama ini membuat susah Suster Zahra dalam merawat Rio.
Dalam kesempatan ini Rio ingin mengungkapkan isi hati Rio yang bangkit, berusaha sembuh agar bisa mempersunting Suster Zahra yang diam-diam dalam sujud sepertiga malam selalu Rio curahkan.
Namun doa Rio terjawab, saat melihat Suster Zahra sekali memakai cincin indah yang melingkar di sela-sela jari.
Rio tau, Suster Zahra telah menikah, tapi di sisi lain Rio selalu berharap Tuhan memberikan arahan agar yang Rio duga itu salah, ternyata semuanya benar, jujur patah hati atau sakit hati itu ada, tapi hanya sebentar nggak lama.
Maafkan Rio yang selalu memaksa agar Tuhan memberikan suster Zahra sebagai pendamping hidup Rio.
Setiap hari Rio memperhatikan Suster, selalu dalam kondisi yang sedih, walaupun tertutup senyuman manis yang selalu Suster curahkan untuk Rio dan pasien lainnya.
__ADS_1
Senyuman itulah membuat Rio jatuh hati pada Suster Zahra, yang mampu mengikat walau dalam kondisi Suster yang nggak kami ketahui, bahagia atau sedih.
Rio berjanji akan sembuh, walau akhirnya penyakit ini tak kunjung bisa sembuh bahkan kematian Rio telah di depan mata.
Rio berharap, jika kita tidak di jodohkan di dunia, setidaknya kita di pertemukan di alam lainnya.
Rio sadar, Suster bukannya milik Rio tapi milih lelaki yang hebat telah mempersunting Suster dengan gagahnya bukan seperti Rio yang hanya melihat dan berdoa dari jauh.
Tapi Sus, jika Rio tidak memiliki riwayat penyakit ini. Rio dengan gagahnya mendatangkan orang tua Suster untuk menjadikan Suster sebagai istri Rio.
Semoga Suster Zahra dan suami menjalankan ibadah rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warahmah. Di berikan keturunan yang shaleh dan shalihah, di jauhkan dari orang-orang yang yang ingin berbuat jahat, seperti wanita kemarin.
Suster Zahra Aneska.
Hidup yang Rio jalani sebelum sakit, sangatlah indah tanpa beban mau pun sakit, karena apa? Rio di kelilingi oleh banyak orang yang sayang sama Rio, apa pun jalan Rio yang salah selalu di tegur walaupun teguran mereka membuat Rio sakit."
Deg!
Entah kenapa ucapan Rio, mengingatkan gue pada keluarga yang selama ini selalu berkomentar?
Ucapan Rio mampu membuat air mataku mengalir begitu deras, hantaman dan pukulannya membuat gue tersadar, semua yang gue pikirkan ternyata salah.
Apa benar selama ini Bi Rosida dan lainnya sangat sayang terhadapku, hanya saja cara mereka yang salah.
Membuat gue berpikir, mereka hanyalah benalu yang memanfaatkan ku. Astaghfirullah.
Ya Tuhan maafkanlah hambamu, selama ini telah menduga yang tidak benar pada semua keluargaku.
Terbanglah dan kepakkan sayapmu. Jangan takut pada apa yang telah Tuhan berikan.
Yakinlah semua yang di berikan adalah seperti awan mendung yang di baliknya ada pelangi yang indah.
Suster Zahra, apa boleh Rio meminta cincin yang di dalam kotak itu, di berikan pada anakmu kelak, siapa tau aku terlahir sebagai anakmu walau bukan sebagai pendamping hidupmu.
Jika itu terjadi, terimakasih sudah mau menjalankan pesan terakhir Rio.
Maaf, Rio banyak berbicara dalam tulisan yang tak seindah di ketikan.
Sekali lagi terimakasih.
From Azrio Pertama Ningrajaya."
Hiks hiks hiks.
Air mataku mengalir begitu deras, membaca surat dari Rio.
Terimakasih banyak Rio, udah membuat gue sadar tentang kesalahan yang selama ini gue perbuat.
__ADS_1
Semoga dirimu mendapatkan, tepat yang paling tinggi derajatnya di sisi sang maha kuasa.
Dirimu di pertemukan pada seseorang bidadari cantik, yang mampu membuatmu bahagia.
Ceklek!
"Ay, kenapa?" Mas Abyan masuk berjalan mendekat, mungkin dirinya mendengar tangisanku.
"Mas..." ucapku saat Mas Abyan telah duduk di samping, memperlihatkan surat yang di berikan Rio.
Mas Abyan mengambil dan membacanya.
Sekilas mata Mas Abyan membendung.
"Bagaimana keadaannya, Ay?" tanya Mas Abyan masih melihat kertas berisi tulisan Rio.
"Sudah bahagia Mas, di pelukan sang maha pencipta." jelasku dengan air mata yang terus mengalir.
"Apa, Ay?" Mas Abyan terkejut, tibanya air matanya luruh.
Entah kenapa, gue merasa Mas Abyan mengingat masa lalunya?
"Hmmm!" hanya itu jawabanku.
"Inalillahi wa innailaihi rojiun." Mas Abyan memelukku. "Semoga dirinya sangat bahagia di sana. Di gantikan dengan yang lebih dari kita."
Deg!
Ucapan Mas Abyan seperti memberikan isyarat bahwa dirinya juga mendoakan mantan kekasihnya.
"Hmmm, iya Mas."
"Cincinnya kita simpan, jika kelak kita di berikan keturunan. Cincin ini kita kasih ke anak kita, sebagai hadiah."
"Hmmm, iya Mas." alhamdulillah Mas Abyan menyetujui pesan terakhir Rio, dirinya juga tidak terlihat cemburu. Seharusnya gue juga seperti itu, bukan cemburu pada orang yang telah tiada. Astaghfirullah banyak banget dosa gue.
"Jangan sedih lagi, sekarang kamu istirahat ya?" Mas Abyan mengelus kepalaku.
"Hmmm, udah nggak lagi kok Mas." sepertinya pengaruh obat yang gue minum tadi.
"Alhamdulillah." Mas Abyan melepaskan pelukan.
"Mamas udah selesai bersih-bersihnya?"
"Udah, tinggal mindahin barang kita."
"Iya udah sekarang aja, Mas. Nanti tinggal istirahat, capeknya sekalian." solusiku.
__ADS_1
"Hmmm." Mas Abyan setuju.
Bersambung...