
"Lu kenapa sih, Mik?" kepoku, setelah kami bertiga duduk di atas ranjang, dengan Mika yang menangis sekitar sepuluh menit lamanya.
Gue dan Falisha memang menunggunya selesai menangis, membiarkan Mika mengeluarkan emosinya lewat tangisan, agar beban yang di rasakan berkurang walau belum semuanya.
Lama nunggu langsung aja nanya, gue 'kan jiwa ingin taunya kuat.
"Itu Sha, Ra. Cowok gue, habis putus." jawab Mika ambigu.
"Cowok elu putus apanya?" tanya Falisha.
"Sendalnya kali hahaha..." sempatnya gue bercanda.
"Ya Allah Mik, sendalnya putus elu tangisi." canda Falisha ikut tertawa.
Mika yang tadinya sedih juga tertawa.
"Seriuslah." kembali ke mode serius.
"Iya nih, elu bikin suasana nggak bisa apa syahdu sedikit, menikmati momen-momen yang sakral." ucap Mika.
"Habis elu, yang mancing." jawabku.
"Udah-udah cerita yang benar napa?" ucap Falisha.
Mika mengelap air matanya. "Gue mutusin Abang Jun."
"Apa?" teriak gue dan Falisha di telinga Mika, karena posisi Mika di tengah-tengah duduknya.
"Kalian gila ya, teriak di telinga gue." menutupin lubang telinga.
"Lu sih, ngajarin kita terkejut yang ngajak satu desa ikut terkejut juga." ucap Falisha.
"Maaf, udah lanjut." ucapku
Mika membuka telinga dan kembali ke mode sedih. "Dia selingkuh."
"Alhamdulillah." ucapku dan Mika.
"Kalian, bikin gue emosi."
"Iya Maaf." emang itu yang kami mau. "Lu tau dari mana dia selingkuh? Jangan sampai lu seuzon sama orang." ucapku, puranya simpati.
"Iya lu tau dari mana coba?" tanya Falisha.
'Hiks hiks hiks. Gue lihat, dia meluk tetangga gue malam-malam saat pulang dinas sore."
Kami berdua terdiam sebentar mencerna, hahaha... Tertawa bersama.
Jelas Mika bingung melihat kami berdua yang tertawa bukannya sedih.
"Kalian kenapa sih?"
"Elu bercanda ya?" tanya Falisha.
"Nggak serius!" jawab Mika.
__ADS_1
"Kacang hijau, salah alamat sepertinya hahaha..." sambungku.
"Iya benar, seperti lagu ayu ting ting. Kesana kemari membawa alamat, namun yang ku temui bukan dirimu, sayang... Yang ku terima... Tetanggamu... Hahaha...." ucap Falisha tertawa puas.
"Terus-terus lu temui dia?" tanyaku masih menahan tawa.
"Iya, gue datang. Pura-pura lewat, terus berkata maaf Mas, Mbak, saya permisi dengan gue tersenyum."
"Terus?" tanya Falisha yang kami berdua ke mode serius lagi.
"Terus tetangga gue bilang, iya nggak apa-apa." jawab Mika, memperagakan situasinya.
"Cowok lu gimana?" tanya Falisha.
"Dia senyum aja, nggak merespon."
"Gila tuh kacang hijau." ucap Falisha berakting, padahal udah tau tabiatnya.
"Terus?" tanyaku semakin penasaran.
"Tetangga gue mendekatin, ngasih undangan ternyata. Maaf Mik, ini undangan buat kamu, jangan lupa hari minggu datang."
"Terus elu mau datang?" tanyaku.
"Harus datang, kita bawa Reok Ponorogo atau kuda lumping hahaha... Suruh Mas Abyan yang bawa hahaha..." ucap Falisha tertawa.
"Gila lu jangan ngajak-ngajak ya, Sha." ucapku menahan tawa.
"Benar juga kata Falisha, tapi bukan Pak Bos juga kali. Mampus kita bertiga, di cincang." ucap Mika ikut tertawa.
"Tuh laki kirim pesan meminta maaf, dia juga masih ingin sama gue, dengan alasan dirinya di jodohkan. Gue penasaranlah besoknya langsung tanya sama tetangga gue. Jawabnya mana ada mereka di jodohkan pacaran lagi ada, saling jatuh cinta udah kira-kira tiga bulanan. Berarti selama pacaran sama gue dia selingkuh." jelas Mika.
"Enak ya jadi laki, kalau bosan ke tetangga jalannya hahaha..." ucap Falisha, yang hobinya bercanda.
"Mampir sebentar ngopi." jawabku ikut meramaikan suasana.
"Sekalian tidur hahaha..." ucap Falisha lagi.
"Sekalian senam aerobik hahaha..." ucap Mika yang lupa akan kesedihannya.
"Terus, elu berkata apa sama tu kacang hijau?" tanyaku lagi penuh penasaran, jangan aja gue entar mati penasaran, amit amit jabang bayi gara-gara banyak penasaran selama hidup gue.
"Gue langsung aja, bilang putus. Jangan ada lagi di antara kami berdua. Kontaknya, semua foto dan lainnya gue hapus, pergi kau bandit." ucap Mika kesal.
Gue dan Falisha mengelus punggung Mika. "sabar ya Mik, ada gantinya kok." ucapku.
"Maksud kalian apa? Gue lagi patah hati di suruh pacaran."
"Kue elu bukan yang lain. Mau nggak, kasihan dari tadi di depan pintu." jawab Falisha.
"Oh iya, mana? Gue mau berdoa cepat dapat suami. Gue sudah capek, pacaran di selingkuhin terus." ucap Mika berdiri.
"Eh lu berdoa bukan di depan kue." gue memperagakan. "Angkat tangan seperti gue nih, baca doa. Cepatan." menyuruh Falisha dan Mika mengikutin. "Ya Allah semoga di tahun ini, gue, Falisha, dan Mika menikah aamiin." ucapku lantang membacakan doa.
"Eh lu ’kan udah nikah sama Mamas gue. Masa mau nikah lagi, gue rendang lu." ucap Falisha mengancam.
__ADS_1
Nggak kakak nggak adik sama aja, sukanya mengancam gue. Balik apa? Gue pula yang mengancam kalian.
"Lu jangan serakah, minta nikah lagi. Bagi-bagi jangan di ambil semua." ucap Mika.
"Iya, iya salah, balik lagi doanya." tangan gue di angkat kembali, posisi Falisha dan Mika mengikutin lagi.
"Ya Allah semoga gue dapat pengganti." ucap gue bercanda.
Plak!
Falisha memukul bahuku pelan. "lu ngajak berantem sekarang."
"Iya nih, kalau bisa gue aja jadi elu." ucap Mika.
"Mau lu, Mik?" tanyaku.
"Kalau cerita hidup lu nggak mau, nikahnya aja sama Pak Bos." canda Mika.
"Kalian gila jangan di sini, mari gue antar ke tempat lain." ucap Falisha kesal.
"Udah-udah serius kali nih berdoanya." ucapku kembali mengangkat ke-dua tangan, soalnya setiap selesai berdoa tangan kami turun semua.
"Dah gue aja berdoa." ucap Mika.
"Ya Allah semoga Zahra cepat unboxin aamiin, nah benarkan?" ucap Mika.
"Benar banget tuh." jawab Falisha.
"Kalian berdua, napa jadi doain gue? Di sini yang ulang tahun siapa sih." candaku.
"Gue." jawab Mika tersenyum.
"Iya udah doa yang benar." perintahkun.
"Sini gue yang doa." ucap Falisha.
"Udah kalau elu yang doa nggak udah-udah." menghalangi Falisha. "Kali ini serius, kasihan tuh yang bawa kue, lilinnya habis lama-lama." ceplosku berbicara.
Falisha melebarkan matanya. "Napa Sha, lu marah?" tanyaku. "Emang benar orang yang bawah, masa tuh kue datang sendiri. Mistis dong." menutupin kesalahan.
"Kenapa nggak bawa dulu aja masuk?" tanya Mika.
"Entar nggak kejutan dong, bentuk kuenya gimana." ucap Falisha.
"Udah doa dulu elu." perintahku.
"Iya-ya." balas Mika, mengangkat ke-dua tangan untuk berdoa, gue dan Falisha juga mengikutin.
"Ya Allah, gue mau kawin."
"Nikah dulu Mika." ucap serentak kami berdua.
"Iya salah! Ya Allah, di tahun ini hambamu ingin menikah. Dapat jodoh yang sayang, nggak selingkuh, baik hati, romantis, suka membantu, menabung dan doa yang tebaik pokoknya. Jauhkan dari yang haram dekatkan yang halal. Aamiin." ucap Mika tulus.
"Aamiin..." ucap kami serentak, semoga doanya terijabah 'kan, dengan kehadiran sesosok yang di pertemuan sampai ke jannah.
__ADS_1
Bersambung...