
POV Zahra
"Hey, kalian semua jangan lupa berdandan yang cantik ya." ucap Oma merapikan rambutnya yang bergaya classic bob.
Sedangkan gue memakai hijab dan pakaian berwarna pick.
"Yuhu, oke Oma!" jawab Hanum, Mika, dan Falisha sibuk menghias diri.
"Emang kita ngapain sih?" penasaranku.
"Makan malam." jawab Oma.
"Makan malam aja, Oma?" tanya Hanum.
"Iya, sambil cerita-cerita. Mereka juga request mau nyanyi dan menari bersama kita." ucap Oma sangat antusias. Berbeda dengan usianya yang terbilang cukup tua. Tapi Masih berpenampilan modis.
Gue aja kalah.
25 menit kami semua telah siap.
"Sudah siap semua?" ucap Oma.
"Siap!" kami semua menjawab dengan serentak.
"Ayo, kita cuci mata." ajak Oma.
Kami semua tersenyum-senyum melihat tingkah Oma yang terlihat kembali muda.
Ceklek!
Dup!
Berjalan keluar kamar, jelas sekali. Di sepanjang jalan, semua mata-mata tertuju pada kami.
Apalagi bule-bule ganteng melihat kami seperti terpana. Tapi sorry ya abang-abang ganteng, di hatiku ada Mas Abyan.
Ting!
Lift terbuka, kami semua masuk. Oma menekan tombol. Lift tertutup.
Dengan hitungan detik.
Ting!
Lift terbuka lagi.
Kami semua keluar.
Berjalan menuju ballroom.
Kreek!
Pintu terbuka.
Kami semua berhenti. Melihat suasana begitu sepi dan kosong.
Salah satu pegawai datang. "Maaf, Ibu-Ibu semua. Ada perintah, katanya acara di pindahkan di villa belakang hotel." jelasnya sedikit ketakutan melihat wajah Oma.
Gue aja melihat Oma seperti bom atom yang sebentar lagi akan meledak.
__ADS_1
"Siapa yang berani mengacaukan acara kami?" nada Oma terdengar menekan.
"Maaf, Bu. Ini perintah dari atasan." jawab pegawai sedikit terlihat gemetar.
"Siapa lagi kalau bukan suami kalian itu?" ucap Oma berjalan keluar ballroom.
Hmmm! Mas Abyan kesini?
"Aaaah... Dasar para lelaki, ganggu aja." ucap Hanum mengikuti jalan Oma.
"Nggak seru banget." sambung Falisha juga mengikuti jalan Oma dan gue, Mika, Ibu mengikuti juga.
"Otak gue udah traveling mau goyang dumang lagi sama akang-akang ganteng. Tertunda." ucap Mika.
"Ibu aja udah berharap penuh, bertemu cowok ganteng." canda Bu Sari.
"Ih Ibu, ingat anak-anak." ucap Hanum.
"Biarkan, anak Ibu juga udah menikah."
"Aku mah nggak mau, punya Ayah lagi." ucap Falisha.
"Ih pikiran kalian negatif sama Ibu sendiri. Ibu hanya cuci mata, sama seperti kalian. Emang kalian aja, yang bisa cuci mata." jelas Bu Sari terlihat memanasi.
"Mbak, Zahra. Nggak komentar gitu?" ucap Hanum.
"Gue bingung mau komentar apa? Soalnya sudah terwakilkan sama kalian." jelasku apa adanya.
"Iya juga sih." ucap Mika.
"Terus kemana, akang-akang gantengnya?" tanya Hanum.
"Paling mereka di bayar percuma. Biasalah hal semacam itu." jelas Falisha.
"Siapa tau aja, akang-akangnya ikut ke villa." jelasku sebelum menuduh.
"Nggak mungkin, Ra. Oma udah tau, gimana cemburunya suami kalian itu?" ucap Oma.
"Jangan bilang ini semua hanya permainan Oma agar para suami liburan?" ucap Falisha mewakili pemikiran gue.
"Tuh, tau." ucap Oma tersenyum.
"Aaaah..." kami semua menghembuskan nafas panjang.
"Kenapa, kalian nggak suka melihat para suami kalian ikut liburan?" tanya Oma bingung.
"Nggak!" jawab kami serentak.
"Kenapa?" Oma semakin penasaran.
"Oma, bukan kami semua nggak mau mereka ikut. Tapi nggak bebas." jawab Hanum. "Apalagi cuci mata, nih lihat! Batalkan." sambungnya lagi.
"Emang suami kalian kurang ganteng?" ucap Oma benar adanya.
"Lebih ganteng sih!" jawab Mika.
"Tuh tau! Udah jalani aja." ucap Oma menengahi.
Entah kenapa gue menilai Oma semakin hari orangnya asyik banget? Awal bertemu dengannya ingin sekali gue menyebutnya nenek sihir. Dirinya bisa gitu, merubah suasana menjadi berbeda-beda. Wajar Falisha , Hanum, dan Mas Abyan bisa begitu. Ternyata keturunan dari gen Oma.
__ADS_1
"Selamat datang, Ibu. Silahkan masuk." ucap salah satu pegawai yang berdiri di depan Villa. Cukup besar untuk ukurannya.
Mungkin ini tempat bukan Villa khusus menginap melainkan untuk para tamu yang ingin berkumpul atau berkunjung secara pribadi.
Ternyata nggak perlu keluar negeri untuk sekedar jalan-jalan, ternyata di Indonesia pun tak kalah bagus dari negara lainnya. Ingin rasanya gue keliling-keliling Indonesia, menikmati berbagai macam suku dan budaya yang terkenal di 38 provinsi. Entarlah kalau Mas Abyan ada waktu, ngajak dirinya jalan-jalan.
Kami semua masuk, benar adanya Mas Abyan, Pak Aziz, Dokter Idris, Mas Darman, Ayah. Sudah duduk di meja yang terbuat dari kayu, khas sekali dengan budaya Bali. Tapi kenapa ya, gue nggak pernah lihat Fadel? Apa dirinya memang hanya mengikuti dari jarak jauh? Rasanya rindu dengan candahan Fadel yang terbilang suka jahili gue di rumah sakit.
Apa kejadian waktu di kantin itu, ulah dirinya, agar Mas Abyan cemburu? Fadel-fadel, kapan-kapan ingin gue balik jahili dirinya, awas aja.
"Ayo duduk, para bidadari." ucap Ayah Dameer terlihat bahagia.
"Ngapain kalian ke sini?" ucap Oma terlihat marah, sepertinya sedang memainkan peran.
Gue melihat Mas Abyan yang duduk hanya melihat gue dengan tersenyum-senyum, ah jadi malu.
"Liburan, Oma." jawab Dokter Idris.
"Kalian di ajak kemarin nggak mau. Giliran kami undang boyband terkenal, langsung aja ke sini tanpa ngasih kabar lagi." jelas Oma membuat pikiran kami semua terwakili.
"Salahkan Mas Abyan, Oma." ucap Mas Darman.
"Salah semua." bentak Oma. "Pulang sana, kami tidak menerima laki-laki super duper sibuk seperti kalian."
"Ah Oma, jangan begitulah. Kasihan kami sudah seminggu di tinggalkan." ucap Dokter Idris terlihat melas.
"Sudahlah itu hanya tipuan kalian saja, bilang terus terang kalau kalian itu cemburu, iyakan?" suara Oma terdengar di seluruh ruangan.
"Aku kangen, Oma-"
"Sudahlah, Abyan." Oma memutuskan pembicaraan Mas Abyan. "Pulang aja, kamu nggak jelas. Seperti jalangkung. Pergi tak di jemput, pulang tak di antar." Oma benar-benar terlihat marah.
"Tapikan Mas Abyan dan Mas Aziz aja, Oma. Aku, Mas Darman, dan Paman, enggak!" ucap Dokter Idris.
"Iya pulang hanya tidur, aja. Sisanya kemana?"
Mas Abyan, Pak Aziz, Mas Darman, Ayah, dan Dokter Idris terdiam.
"Ingat ya! Jika kalian masih berperilaku begini terus, siap-siap peraturan angkasa earld group akan berubah menjadi istri mempunyai suami cadangan."
"Apa?" terkejut semua kami yang mendengar ucapan Oma.
"Janganlah Oma, begitu." Mas Abyan terdengar kesal.
"Ingat, Abyan! Oma nggak main-main dengan ucapan. Kamu itu memang pemimpin, tapi kamu harus ingat dengan pemimpin di rumah tanggamu. Jika kamu tidak bisa menyeimbangkan dua kondisi, siap-siap Zahra akan Oma nikahi dengan lelaki yang lebih menarik, dan gaga perkasa." jelas Oma membuat gue merasa terwakili.
"Huuuf!" Mas Abyan terlihat tidak bisa lagi membantah ucapan Oma.
"Apa kalian mau berjanji, sepulang liburan, harus pulang kerumah?"
"Tapi Oma, perusahaan benar-benar sedang banyak pekerjaan."
"Online, kerjakan dari rumah." jelas Oma. "Kalian bisakan, sambil melihat satu sama lain menggunakan laptop atau komputer."
"Ah, Oma. Itu kita bahas lain waktu aja." ucap Ayah menengahi. "Lebih baik, kita makan dulu. Setelahnya kita bicarakan lagi."
Oma terlihat kesal, ucapannya harus berhenti. "Iya sudah, kita makan dulu. Lagian perut Oma juga lapar melihat kalian."
Kami semua terdiam.
__ADS_1
Mulai Oma duduk di ikutin gue, Mika, Falisha, Ibu, dan Hanum. Kami duduk di samping masing-masing para suami.
Bersambung...