
"Ay, kenapa?" Mas Abyan sepertinya peka saat gue merasa gugup memegang ke-dua tangan.
Kami yang sudah berada dalam mobil menuju ke tempat Mika, selepas shalat magrib.
Di mobil ini ada gue, Falisha, Mas Abyan dan Pak Aziz.
Menyetir mobil Mas Abyan, tadinya Pak Aziz yang mau nyetir, berhubung Mas Abyan sedang berbaik hati pada pasangan pengantin baru, dirinya saja membawanya.
"Aku gugup, Mas." jujurku yang masih terpikirkan pada lamaran yang akan berlangsung ijab kabul, saat Falisha memberi tau.
"Kenapa?"
"Itu Mas, kepikiran sama Mika yang mau lamaran. Semoga saja lancar." doaku semoga Mika dan Dokter Idris menjalankan hari bahagianya dengan sukses.
"Aamiin! Ay, kamu nggak merasa gugup apa, saat Mamas ijab kabul?"
"Nggak!" jawabku jujur.
"Kenapa, enggak?"
"Gimana mau gugup, Mamas di mana aku dimana? Tau-tau pulang kerja jadi istri Mamas." merasa kesal di campur bahagia.
Falisha dan Pak Aziz terdengar menahan tawa.
Huuuf!
Nafas kasar Mas Abyan terdengar kesal. "Itukan kamu Ay, yang minta." bela Mas Abyan.
"Setidaknya konfirmasikan lagi, Mas." ngeyelku.
"Iya udah maaf, sayang."
"Khem!" Falisha dan Pak Aziz sepertinya memberi kode, mereka merasa gimana gitu mendengar Mas Abyan memanggil sayang, sama seperti gue.
"Kamu mau kita ijab kabul dan mengadakan resepsi ulang?" sambung Mas Abyan.
"Hmmm, nggak usah Mas, cukup yang kemarin aja. Itu sudah membuat aku bahagia hanya sedikit kesal aja."
"Sekarang?"
"Nggak lagi, udah cinta." candaku memamerkan kemesraan.
"Uhuk uhuk uhuk." Falisha pura-pura batuk, mendengar ucapanku.
Melihat kebelakang. "Kalian kenapa?" tanyaku kepo melihat Falisha dan Pak Aziz yang wajahnya aja melihat keluar jendela merasa kaku, duduk berjarak, tapi tangan berpegangan. Geli gue lihat mereka yang menjaga image itu, dalam hati dag dig dug.
"Nggak Mbak, hanya gatel aja tenggorokan, gara-gara makan es buah tadi." alasan Falisha.
"Hmmm." melihat ke arah depan lagi l.
"Ay, kita seperti obat nyamuk ya di sini?" sindir Mas Abyan ke Pak Aziz dan Falisha.
"Hmmm, iya Mas bener banget." balasku.
Pak Aziz dan Falisha diam aja, mereka sepertinya fokus pada dunia mereka sendiri.
"Ay, tau nggak?"
"Kenapa Mas?"
__ADS_1
"Sepertinya mulai malam ini akan ada suara teriakan di rumah Oma." sindir Mas Abyan lagi, sepertinya balas dendam dengan Falisha yang kemarin terus bercandaiku dan Mas Abyan.
"Mamas takut?"
"Nggak sih, hanya serem aja gitu tengah malam dengar yang begituan, nggak ada rupa ada suara, gimana nggak takut." makin panas sindiran Mas Abyan.
"Iya juga ya Mas, aku juga takut kalau gitu." mengikuti permainan Mas Abyan.
"Jangan takut sayang, sini peluk Mamas." Mas Abyan memainkan perannya begitu dalam.
"Tolong ya, kalian berdua jangan membuat keributan." akhirnya Falisha buka suara.
"Ay, sepertinya merasa yang di belakang." Mas Abyan tidak menjawab malah makin nyindir.
"Khem! Abyan, cukup." santai Pak Aziz memanggil Mas Abyan, sepertinya mereka berdua memang sahabat atau teman dekat biasa. Di kantor aja yang memanggil secara formal di luar ternyata mereka informal baru tau gue.
Mas Abyan terlihat mengulum tawa, senangnya bercandai Pak Aziz dan Falisha.
Mobil akhirnya sampai di lokasi. "Ayo turun." ajak Mas Abyan melepaskan sabuk pengaman.
Kami semua turun, melihat di depan rumah Mika begitu ramai.
Teruntuk para wanita tua dan mudah, melihat kami berempat turun langsung mendekati.
"Ya Allah gantengnya." melihat Mas Abyan dan Pak Aziz.
"Mulai lagi deh." Falisha terlihat kesal.
"Kakak boleh minta foto nggak?" pinta seorang wanita cantik, berambut panjang mendekati Mas Abyan.
"Iya nih bentar aja, sebelum acara mulai." Ibu-ibu telah memegang handphone dari tadi.
Mas Abyan dan Pak Aziz hanya tersenyum-senyum.
Mengangguk kepala, menyatakan iya.
"Mas aku kesana dulu." menunjuk Bu Yanti. "Dia manggil aku, kamu urus dulu fans kamu."
"Hmmm!" senyum Mas Abyan memberi kode menjawab iya.
"Sha, gue kesana ya, di panggil, Emak." mendekati Falisha.
"Oh oke!" jawabnya.
Berjalan pelan, mendekati Bu Yanti. "Sini aja toh, duduk di samping Mika." memegang tempat duduk yang terpasang kain biru mudah.
"Mik, elu cantik banget." terkejutku melihat Mika telah di hias menggunakan pakaian kebaya berwarna mocca, berbeda banget aura pengantin.
"Biasa aja, elu lihatin gue. Duduk gih." perintahnya. "Elu di sini aja sampai acara ijab kabul selesai." jelasnya.
"Ah, bukannya lamaran?" tanyaku yang ternyata Mika sudah tau. Apa Falisha yang sudah memberi taunya.
"Nikah langsung! Tadi siang pihak keluarga Dokter Idris yang memberi kabar." jelas Mika.
"Oh gitu, semangat Mika. Gue gugup tau."
"Hmmm gue juga gugup."
"Wah ini bukannya Dik Zahra ya?" suara laki-laki mendekat, duduk di sampingku.
__ADS_1
Melihat ke sumber suara. "Eh Bang Zen, kapan datang ke Jakarta?" terkejutku melihat kakak kandung Mika yang hadir, dirinya berstatus duda beranak satu, istrinya meninggal saat melahirkan.
"Baru pagi tadi datangnya." senyumnya. "Kamu makin cantik aja, Dik?"
Senyumku. "Ah, Bang Zen bisa aja muji aku, jadi malu." candaku yang memang telah akrab dari dulu.
Sekilas melihat Mas Abyan yang ternyata sudah duduk berhadapan, dirinya melihatku dengan wajah yang terbilang datar tanpa ekspresi. Mungkin merasa cemburu.
"Ra, jaga pandanganmu, melihat laki-laki." Bang Zen peka melihatku yang fokus ke Mas Abyan.
"Ganteng, nggak Mas?" candaku melihat Bang Zen, senangnya melihat Mas Abyan cemburu.
"Eh kamu jangan terpengaruh pada kegantengan laki-laki aja, isinya dulu baru fisiknya. Banyak di luar sana yang ganteng seperti mereka di kelilingi banyak perempuan. Pasti kekasih, simpanannya banyak." Bang Zen memberi arahan mencegahku, pintanya menjauhi Mas Abyan, mungkin dirinya takut gue tersakiti.
"Berarti Abang Zen juga dong?" candaku melihatnya yang gue akuin ganteng juga, walau sudah punya anak satu.
"Nggak toh, aku mah setia sama almarhum yayumu. Tapi Ibu suka ngomel terus, nyuruh Abang nikah, pusing mikirnya. Di tambah Ersa nggak mau punya Ibu lagi."
"Sedih banget hidupmu Bang."
"Begitulah! Abang ikuti alur aja, yang penting sekarang Ersa bahagia." pikiran Bang Zen patut di beri dua jempol tangan. Dimana nyari suami yang tetap setia dan sayang pada almarhum istrinya.
Melihat Mas Abyan lagi, wajahnya terlihat makin kusut.
Hanya bisa senyum yang gue lakukan. "Wes Ra, jangan beri harapan." Bang Zen melarang.
"Itu suami saya Bang." jelasku.
"Ra, nggak lucu elu bohong, sumpah." Bang Zen tak percaya.
"Ih serius, Bang." jujurku.
"Mika..." panggil Abang Zen memegang bahu Mika yang melihat sana sini.
"Hmmm, kenapa Bang?"
"Nasehati Zahra, jangan sampai masuk lubang buaya." jelasnya.
"Maksudnya, Bang?" Mika masih belum mengerti.
"Tuh." tangan Bang Zen menunjuk Mas Abyan. "Dari tadi Zahra melihat laki-laki itu, dan sama laki-laki itu juga melihat Zahra. Takutnya Zahra jadi wanita simpanannya."
Bang Zen begitu perhatiannya sama gue, sekilas mirip Ibu-ibu yang lagi melarang anaknya di dekati lelaki.
"Itu mah, suaminya Zahra Abang." jelas Mika.
"Ih iya apa? Kapan Nikahnya? Kalian kalau bercanda jangan sekarang, nggak lucu tau nggak?"
"Siapa yang bercanda, emang kenyataan gitu kok. Dia udah nikah sekitar lima bulan yang lalu nggak salah."
"Salah Mika, baru jalan empat bulan." jelasku.
"Ah begitulah." senyumnya.
"Masa sih Ra, kenapa nggak ngundang?"
"Mereka menikah tertutup, hanya keluarga besar aja yang hadir, maklumlah inginnya lebih sakral. Beda sama kita, yang satu kampung kepo, kalau nggak di undang jadi bahan ghibah." jelas Mika.
"Masa sih, Ra?" masihnya nggak percaya Abang Zen.
__ADS_1
"Terserah Abang aja." jawab Mika merasa kesal.
Bersambung...