Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 112 Pasrahnya.


__ADS_3

Acara telah selesai, tapi Ibu-ibu mulai meminta berfoto bersama Mas Abyan, Pak Aziz, Ayah Dameer, Mas Darman, dan Dokter Idris.


Ah, penampakan seperti ini sudah biasa bagi kami sebagai istri.


Lima power rangers jadi selebriti kalau kemana-mana walau sudah memiliki istri dan anak, masih aja menjadi idolanya para kaum hawa.


"Sepertinya mereka berlima butuh topeng deh kalau jalan-jalan kemana-mana." Oma terlihat kurang menyukai dengan suasana di sini.


Falisha melipat kedua tangan mengeluarkan nafas kasar. "Enak banget suami gue di peluk gitu ya?" terlihat jelas wajah Falisha merasa kesal.


"Sepertinya kita harus membubarkan mereka sebelum para suami berniat miliki istri banyak." sambung Hanum.


"Gue setuju." Mika juga ikut merasa kesal.


"Pak." Ibu Sari memanggil scurity yang berjaga di sekitar.


Dengan berjalan sedikit berlarian menghampiri. "Iya, Bu. Ada apa?" wajahnya terlihat penat. Pak scurity terlihat sudah tidak sanggup menjalankan tugasnya.


"Tolong bubarkan mereka semua. Bilang, kalau masih di sini. Siap-siap di panggil satpol PP untuk menangkap mereka." perintah Bu Sari terlihat sangat jengkel di hatinya.


"Baik, Bu." Pak scurity menghampiri semua scurity yang berjaga.


Mulai mereka menjalankan perintah Bu Sari.


Satu persatu mulai pergi dengan wajah-wajah kurang di beri sesajen.


"Semua sudah pergi, mari kita pulang ke Jakarta." ucap Oma, dirinya melihatku. "Ra, besok usahakan pulang. Jangan lama-lama di sini." perintahnya lagi.


"Emang kenapa, Oma?" baru juga sampai masa pulang lagi. Nggak Oma, nggak Mas Abyan. Suka banget ingin segala sesuatu yang serba cepat.


Oma tersenyum. "Di sini banyak hutan, Ra. Kata orang jaman dulu. Nggak baik untuk orang yang sedang hamil." jelas Oma membuatku ingin tersenyum tapi jelas ku tahan. Entahlah percaya nggak percaya gue, soal yang begituan.


"Iya Oma." mengikuti maunya Oma. Dari pada gue terkena ceramahnya.


Oma mengelus perutku. "Sehat-sehat ya, Nak."


"Iya, Oma." perhatian banget, Oma.


Mulai kami bersalaman, berjalan mengantar Oma, Ibu, Ayah, Mas Darman, dan Hanum di dekat pesawat.


Lambaian tangan saat mereka masuk.


Pesawat mulai terbang ke atas langit.


Setelah pergi, kami yang tinggal kembali ke villa.


"Kami berempat ikut Bu Iyem dulu ya, Ra." ucap Falisha.


"Gue nggak di ajak?" inginku ikut.


Mas Abyan memegang bahuku. "Nanti kalau jalannya sudah selesai, baru kita ke sana di lain waktu." cegahnya.


Hmmm! Lama banget pastinya.

__ADS_1


"Iya, Ra. Elukan sudah seharian penuh nggak istirahat. Lagian hari juga udah mau sore. Kata Oma nggak boleh keluyuran kemana-mana lagi." jelas Falisha mengikuti ucapan Oma yang selalu melarang ini dan itu dengan berbagai segala mitos bertebaran.


"Iya, Bu. Di sini di larang banget, kalau orang hamil berjalan keluar. Apalagi di waktu malam dan sore." Ibu Iyem ikut menceramahi.


"Hmmm." anggukku pelan mengikuti maunya mereka, walau di hati masih bergejolak ingin ikut.


"Dada..." ucap Falisha dan Mika berjalan mengikuti Bu Iyem.


Gue hanya bisa menghebuskan napas kasar. "Ayo, Ay. Masuk ke dalam." ajak Mas Abyan berjalan duluan masuk ke villa.


Gue hanya bisa mengikuti, melihat orang-orang masih membersihkan tempat bekas acara.


Gue masuk ke villa.


Mas Abyan menutup pintu.


Berjalan masuk ke dalam kamar, menuju kamar mandi membersihkan tubuh. Melilitkan handuk setelah selesai.


Keluar kamar mandi melihat Mas Abyan lagi-lagi duduk di atas ranjang memainkan tabletnya.


Bisa nggak, sehari aja. Nggak lihat Mas Abyan nggak memegang tablet, leptop, pena, berkas. Gue aja semenjak tau hamil, berhenti dulu menulis naskah dan lainnya.


Mulaiku mengambil pakaian di dalam koper yang di bawa oleh Mas Abyan tadi ke dalam kamar. Barang-barang Falisha, Mika, Pak Aziz, Dokter Idris di villa mereka masing-masing.


Memakai pakaian.


"Ay, duduk di sini." Mas Abyan menepuk ranjang sampingnya saat ku telah selesai memakai pakaian.


Berjalan menaikin ranjang, menyender di headboard dengan meluruskan ke-dua kaki. Mas Abyan memijit kakiku pelan. "Capek nggak, Ay."


"Kenapa, masih mau ke sana?" peka Mas Abyan terhadap apa yang gue inginkan.


Mataku melihat segala ruangan. "Nggak, Mas." bohongku sebelum Mas Abyan berkata yang membuat hatiku panas. "Mas." melihat Mas Abyan.


"Hmmm!" melihatku. "Kenapa, Ay?"


"Mamas nggak pernah terlihat kumpul atau menemui teman Mamas yang pernah hadir di acara pernikahan kita." mengubah ke pembahasan lain.


Lagian ingin tau aja cerita Mas Abyan, dari pada bahas soal ingin ikut melihat air terjun bikin hati gue bergejolak aja.


"Setiap kerja, Ay." jelas Mas Abyan membuatku terkejut.


"Kerja sambil kumpul, Mas." masa gitu.


Mas Abyan memijat kakiku dengan pelan. "Mereka juga kerja di perusahaan inti, Ay."


"Kerja sama dengan Mamas?"


Mas Abyan menganggukkan kepala. "Hmmm!"


Gimana ceritanya?


"Sebagai apa, Mas?" ingin tau gue semakin dalam.

__ADS_1


"Chirs, Eden, Gavin sebagai manager. Zea sebagai sekretaris keuangan."


"Setiap hari ya Mas, kalian bertemu?"


"Iya, Ay."


"Kalau di luar?" masa di perusahaan aja.


"Hampir jarang bertemu di luar. Sibuk masing-masing, Ay."


"Berarti Mbak Cherly, sering ke perusahaan ya, Mas? Saat dulu kamu masih bersamanya." mungkin begitu, soalnya teman Mas Abyan pada tau tentang Mbak Cherly.


Mas Abyan menganggukkan kepala. "Dulu, Ay. Sekarang nggak."


"Kalau Fadel?" ingin tau tentang Fadel aja, dari pada Pelakor.


"Fadel kenapa, Ay?" Mas Abyan berhenti memijit terlihat seperti penasaran.


"Fadel kerjanya apa sih, Mas?" masa hanya ngelihatin keluarga besar angkasa earld group aja.


"Hanya mengawasi kegiatan angkasa earld group aja, Ay." Mas Abyan terlihat tidak jujur.


"Jujur, Mas?"


Mas Abyan malahan tersenyum-senyum. Entah kenapa jantung gue di buat meleleh seketika. Di senyumin aja gue langsung terpana begini. Apa dirinya terlahir bagai malaikat? Senyumnya itu nggak bisa bikin hati ini detaknya lurus aja. Pasti langsung goyang zumba. Rasanya ingin gue simpan di lemari Mas Abyan. Agar yang lain tidak melihat dirinya.


"Idris itu mafia, Ay."


"Apa?" terkejutku.


Mas Abyan menutupin ke-dua telinganya. "Ay, bisa nggak jangan teriak di telinga Mamas." Mas Abyan mengusap telinganya.


"Ma-maaf, Mas. Habis terkejut banget." jujurku.


Mas Abyan menyipitkan mata. "Terkejut boleh, Ay. Tapi nggak seperti itu juga." kesalnya.


Gue hanya bisa tersenyum-senyum, Mas Abyan marah kenapa tambah ganteng sih, Mas. Bikin dada hayati tambah robanahan.


"Senyum lagi." anehnya melihatku.


"Mamas kenapa ganteng banget sih?" entah kenapa, gue ingin berkata begitu.


Mas Abyan tersenyum-senyum. "Mamas marah, Ay. Bukan tebar pesona." jelasnya melanjutkan pijitan.


"Serius, Mas." memegang pipi Mas Abyan. "Apalagi ada ke-dua lesung pipi ini, bikin tambah ganteng."


Mas Abyan memegang tanganku. "Milik kamu, Ay." melihatku.


"Maksud Mamas?" nggak ngerti gue.


"Semua apa yang dimiliki Mamas, punya kamu. Jangan cemburu pada wanita." ucapan Mas Abyan membuatku tidak bisa menahan senyum lagi.


"Tambah pintar ya gombal." menepuk pelan bahu Mas Abyan.

__ADS_1


Mas Abyan hanya tersenyum-senyum pasrahnya dengan pukulanku yang merasa gemas dengan tingkah Mas Abyan.


Bersambung...


__ADS_2