Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 97 Mendekati secara perlahan


__ADS_3

Setelah mendengar curhatan terakhir Zahra, entah kenapa gue ingin berubah, kembali ke Abyan yang sesungguhnya. Bukan Abyan yang sulit di dekati. Berjanji akan merubah Zahra seperti dirinya yang telah mengubah gue.


Keluarga dan perawat datang.


Satu persatu menangis dan berkata maaf.


Gue hanya diam, merasa bersalah telah menyakiti hati mereka yang menyayangiku lebih dari apapun. Sedangkan Zahra, berbanding terbalik dari kehidupanku.


"Bu, maafkan aku. Izinkan aku untuk kembali ke Abyan yang sesungguhnya." itulah ucapan yang bisa gue katakan, saat melihat Ibu kandungku menangis.


Setelah pulang dari rumah sakit, gue meminta Aziz yang selalu berada di samping gue, untuk mendatangkan orang-orang profesional. Merubah bentuk tubuh gue yang selama ini tidak layak di katakan sebagai manusia sehat.


Mulaiku menjalani berbagai perawatan.


Tepat satu tahun gue benar-benar berubah secara drastis.


"Gue datang." itulah yang ku ucapkan saat berdiri di depan cermin dengan pakaian biasa-biasa saja. Mencari malaikatku sampai dapat, dan akan merubahnya seperti dirinya merubah gue.


Dengan jadwal yang padat, gue sambil mencari Zahra.


Entah kenapa? Tuhan menunjukkan jalannya untuk mempertemukan gue dengan Zahra.


Di saat gue sedang rapat di rumah sakit yang terbilang punya angkasa earld group.


Gue berhenti sejenak, melihat senyuman dan tawa Zahra secara langsung. Setelah menjauh, dirinya kembali terlihat merenungi nasib yang terbilang tidak tau arah.


Setiap hari gue berada di rumah sakit, bekerja sambil memperhatikannya secara diam-diam.


Entah kenapa jantung gue merasa aneh saat berpapasan dengan Zahra.


Ada sesuatu yang membuat gue kurang nyaman.


Gue sempat berpikir, apa gue mempunyai penyakit? Setelah di cek oleh Dokter spesialis, tubuh gue dalam keadaan baik-baik saja.


Di waktu yang terbilang cukup tepat, gue curhat pada Aziz teman yang selama bekerja selalu berada di samping gue. Selama itu, kami menjadi cukup dekat.


"Ziz, elu pernah nggak jatuh cinta?" gue bertanya saat kami duduk di balkon hotel sehabis kerja seharian penuh.


"Cinta pada pekerjaan, barang, harta, atau mencintai lawan jenis?"


"Lawan jenis." jawabku langsung.


"Apa?" Aziz terlihat terkejut.


"Malaikat cantik yang mengubah hidup gue." jelasku tanpa basa-basi lagi.


"Siapa? Kenapa gue nggak tau?" reaksi Aziz membuat gue sedikit geli.

__ADS_1


"Lu taukan selama gue di rumah sakit seperti apa? Gara-gara dia, gue berubah. Elu jangan banyak tanya, jawab aja pertanyaan gue tadi?" gue nggak mau, Aziz terlalu banyak pertanyaan.


"Sebentar, gue lihat google dulu."


"Kenapa ke google?"


"Emang elu pernah lihat, gue pacaran? Elu nyindir gue, atau gimana?" jelas Aziz ada benarnya.


"Ck! Percuma gue tanya sama elu."


Aziz menekan tabletnya. "Dari yang gue baca, Jatuh cinta adalah perasaan yang muncul ketika kamu sangat terpikat dan menyayangi seseorang. Berbeda dengan rasa sekadar suka, jatuh cinta melibatkan emosi yang lebih kuat. Ketika jatuh cinta, kamu merasa punya keterikatan yang teramat dengan orang yang dicintai. Begitulah yang gue baca. Elu ada nggak?" Aziz terlihat penasaran.


"Maksudnya cinta itu, seperti mencintai pekerjaan?" tanyaku agar lebih jelas.


"Iya benar! Ada nggak? Elu ingin memiliki perempuan itu seperti elu ingin mendapatkan investasi yang mendapat keuntungan lebih besar?" jelas Aziz menyamakan dengan situasi lain.


"Maksudnya gue ingin memiliki Zahra seutuhnya."


"Ah benar! Eh, namanya Zahra. Elu tau sampai segitunya dari siapa?"


"Gue minta Fadel mencari identitas lengkap wanita itu."


"Elu sampai nyuruh Fadel, turun tangan?"


"Hmmm!"


"Santai aja, gue juga lagi mencari jawaban." jawabku benar adanya. Gue ingin tau, apa yang sebenarnya gue rasakan antara Cherly dan Zahra. "Menurut elu gimana, Ziz?"


Aziz tersenyum-senyum. "Menurut gue, elu mencintai Zahra. Jika dengan Cherly, elu hanya sekedar rasa bersalah. Itu yang gue perhatikan selama kita bersama." jelas Aziz membuat gue berpikir benar adanya. "Apa tindakan elu selanjutnya?"


"Menurut elu?"


"Menurut gue ada 2."


"Yang pertama?" tanya gue penasaran.


"Jauhi dia jika elu nggak yakin. Jangan sampai kejadian Cherly dulu, membuat elu tenggelam lagi dengan rasa bersalah."


"Ke-dua?"


"Nikahi dia secepat mungkin sebelum janur kuning melengkung." ucap Aziz tersenyum.


"Jadi gue harus memilih antara ke-dua itu?"


"Terserah di elu, mau pilihan yang menurut elu lebih baik. Lakukan saja. Pilihan tadi itu, hanya pendapat gue."


"Hmmm!"

__ADS_1


Setelah bercerita dengan Aziz, gue selalu berpikir sambil menetapkan hati gue secara tidak langsung.


Setiap hari gue kerja, melakukan sidak secara diam-diam, melihat Zahra dari jauh.


Entah kenapa gue merasa kesal, melihat Zahra yang di kelilingi oleh banyak laki-laki saat dirinya duduk makan di sebuah kafe sendirian, menikmati semangkok mie ayam dan secangkir jus berukuran sedang.


Di saat dirinya lagi asik makan, tibanya berhenti melihat beberapa laki-laki duduk di dekatnya. tanpa menghiraukan laki-laki tersebut, Zahra langsung ke kasir membayar makanan. Begitu tenggelam dirinya, sampai-sampai di dekati lelaki, wajah yang cantik itu seperti benang kusut.


Gue mengejar sampai parkiran.


"Kak, boleh saya berbicara padamu?" tanyaku yang ingin berkenalan.


"Mau apa pada saya?" jawab Zahra ketus tanpa melihat gue, dirinya sibuk meletakkan tas di kaitkan di depan motor sambil memasangkan helm.


"Saya ingin berteman dengan, Kakak."


"Kalau berteman, saya nggak suka dengan laki-laki. Kalau mau pacaran juga enggak! Kalau mau serius maharku 50 juta, emas 25 gram, belum emas kawin, rumah, sawa 5 hektar." dirinya menghidupkan mesin lalu pergi begitu saja.


Gue sempat kebingungan dengan maksud Zahra yang terbilang menantang itu.


Bagaimana reaksinya jika gue benar-benar menjadikannya istri?


Sepulang dari itu, gue langsung meminta Ibu, Hanum, Falisha. Mempersiapkan semua yang di minta Zahra, bahkan lebih dari itu.


3 hari saat gue bertemu Zahra di kafe. Gue berniat ingin melamar, ternyata keluarga Zahra ingin saat itu juga gue melangsungkan akad nikah dengan alasan bahwa jika Zahra tau, dirinya akan menentang pernikahan itu.


Mau tak mau, gue menyetujui solusi dari keluarga Zahra.


Entah kenapa, gue terjun ke dasar lautan yang menenggelamkan Zahra dan membawanya ke permukaan laut.


Ternyata gue mencintai Zahra.


Setelah akad, Zahra tidak lama pulang. Dengan wajah terkejut melihat gue. Sedangkan gue bertanya-tanya. Apa Zahra mengenali gue? Tapi dirinya malah terlihat bingung, menentang pernikahan.


Gue hanya bisa tersenyum, Zahra wanita yang berbeda.


Banyak di luar sana menginginkan gue. Sedangkan dirinya, berusaha untuk menjauhi gue. Sampai beberapa kali dirinya meminta pisah, dengan ancaman yang terbilang sedikit mesum itu gue lontarkan untuk mendekatinya secara perlahan.


Gue yakin, batu yang keras, akan juga pecah oleh tetesan air terus menerus.


Sampai gue memutuskan untuk pisah kamar dengan Zahra. Agar Zahra, terasa nyaman saat berada di dekat gue. Secara perlahan mendekati dengan belajar dari beberapa buku yang gue baca, agar bisa meluluhkan hati seorang wanita.


Walau ujian kami begitu banyak, untuk menjalankan bahtera rumah tangga. Mulai Zahra terus menerus meminta cerai, gue terjebak oleh Siska sampai Zahra di culik oleh Siska hampir, Malaikat gue meregang nyawa di tempat itu. Kalau bukan bantuan Fadel yang selalu mengikuti Zahra kemana-mana atas perintah gue. Semuanya selesai sampai di situ. Dan gue akan lebih kehilangan dari segala apa pun yang gue miliki.


Gue bagaikan terkena karma.


Dulu gue di kejar-kejar oleh wanita. Sekarang gue mengejar wanita. Dengan pelajaran Cherly yang tak pantang menyerah. Gue lakukan berbagai jurus di lakukan pada Zahra, saat belajar dari buku dan menonton film.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2