
Usia kandunganku hari ini tepat delapan bulan, perut yang semakin hari terasa mulai memperlambat setiap gerakan maupun aktivitasku. Tapi gue merasa bahagia, sebentar lagi kami akan kedatangan anggota baru di angkasa earld group.
Melihat televisi berita hari ini, menayangkan pasar tradisional.
Entah kenapa, melihat kepiting besar yang berukuran jumbo itu menarik perhatian?
Rasanya, kalau di masak kepiting asam manis lidahku akan menari-nari di balutan awan putih di atas sana.
Melihat sekeliling pasti Mas Abyan berada di atas.
Berjalan menaikin lift.
Ting!
Lift terbuka, Mas Abyan sedang menyiram tanaman.
"Mas..." mendekatinya.
"Kenapa, Ay?" matanya masih fokus menyiram bunga lily damai.
"Mas, mau nggak, kita jalan ke pasar tradisional?" takutku pasti Mas Abyan nggak mau. Entah kenapa, dirinya semakin hari, semakin mengurangi aktivitasku untuk keluar rumah.
Mas Abyan meletakkan wadah berisi air itu di atas meja, dirinya melihat ke arahku.
"Mau beli apa, Ay?" tanyanya sedikit datar.
Mencari alasan yang sekiranya Mas Abyan nggak bisa menolak. Ah gue ada ide. "Mas..." mengelus perut yang terlihat bulat ini. "Aku mau makan kepiting besar." melihat Mas Abyan dengan sedikit melas.
"Mamas minta Bi Ning yang belanja ke sana ya, Ay." inginnya jalan ke arah lift.
"Aku ingin ke sana, milih sendiri, Mas."
Mas Abyan berhenti kembali mendekatiku. "Nggak bisa, Ay. Kamu berjalan aja susah." alasannya membuatku kurang tepat.
"Mas, bukannya di usia kandungan begini. Ibu hami di anjurkan selalu jalan-jalan dan beraktivitas." jelasku benar adanya.
Mas Abyan tampak terlihat berpikir. "Kamu mau jalan, kita keliling komplek ini aja ya, Ay." jelasnya.
Dengan cepat gue menggelengkan kepala. "Nggak mau, Mas. Aku mau jalan ke pasar tradisional. Kalau kamu nggak mau. Aku sendirian naik motor kesana." jelasku yang berjalan ingin meninggalkan Mas Abyan.
Tanganku langsung di pegangnya. "Tapi, Ay. Mamas nggak mau kamu kenapa-napa." Mas Abyan terlihat khawatir.
__ADS_1
Apa sih yang Mas Abyan khawatirkan? Lagian selama ini nggak terjadi apa-apa.
"Mas, sekali ini aja. Kamu mau, anak kita nantinya ileran terus, kata Oma ya, Mas. Kalau apa yang aku mau nggak tersampaikan, bisa-bisa anak kamu ileran." jelasku tentang sesuatu yang Oma selalu larang, itulah jurusku untuk meluluhkan hati Mas Abyan.
Mas Abyan lagi-lagi terlihat diam, ayolah Mas Abyan jangan banyak pikiran kenapa sih?
Mas Abyan menganggukkan kepalanya menyatakan setuju, walau wajahnya datar aja. Belum ikhlas sepertinya. Tapi gue bahagia, dirinya setuju aja udah bikin nih hati ingin lompat jungkir balik kalau bisa.
"Tapi, ada satu syarat." pintaku pada Mas Abyan.
"Hmmm, syarat?" Mas Abyan terlihat bingung.
"Hmmm, Mamas harus memakai rambut palsu. Gayanya terlihat tua." jelasku nggak mau lagi melihat Mas Abyan menjadi perhatian para kaum hawa di sana. Gue ini mau belanja, bukan mau memamerkan ke gantengnya Mas Abyan.
Mas Abyan tersenyum-senyum. "Mas, aku serius loh?" anehku melihat Mas Abyan tersenyum.
"Ini maunya si untun, atau maunya kamu, Ay?" masihnya Mas Abyan tersenyum.
"Iya jelas akulah, Mas. Aku nggak mau, enak-enak belanja. Kamu sibuk berfoto dengan para fans kamu itu. Kalau itu sampai terjadi. Kamu aku tinggal di tempat." ancamku.
"Haha... Hahaha.." tawa Mas Abyan semakin membuat gue nggak ngerti dengan jalan pikirannya.
"Iya, sayang. Ayo." setujunya dengan menarik pelanku untuk turun ke lantai bawah.
Mencari rambut yang cocok dengan Mas Abyan. Ah gue melihat rambut keriting panjangnya batas bahu. "Mas, duduk." pintaku yang melihat Mas Abyan berdiri di belakang.
Mas Abyan duduk mengikuti arahanku. Mulaiku menghias Mas Abyan. "Hahah... Haha.." kami berdua tertawa. Sumpah demi apapun, kenapa Mas Abyan terlihat cantik banget?
"Ay, jangan ngidam yang aneh-aneh begini kenapa?" ucapnya masih menahan tawa.
"Mas, cantik banget." terpesonaku. Ah gue ada ide lagi, dari pada menghias Mas Abyan jadi laki-laki tua, mending jadi wanita aja. Mengedipkan mata ke Mas Abyan dari pantulan kaca, mengisyaratkan bahwa gue mau menghias Mas Abyan seperti wanita.
"Kenapa, Ay?" tanya Mas Abyan terlihat bingung. Gue kira Mas Abyan bakalan tau dengan isyarat yang di berikan. Giliran nggak ngasih kode apa-apa, dirinya bisa menebak dengan benar.
"Mamas nih, masa nggak tau sih?" kesalku.
"Iya, nggak tau, Ay."
Membuang nafas kasar, rasanya Mas Abyan bohong deh. "Mamas mau aku hias menjadi wanita cantik." jelasku.
"Ay, Mamas laki-laki normal." jelasnya membuatku ingin tertawa.
__ADS_1
"Aku tau Mamas normal. Tapi aku ingin melihatmu seperti wanita cantik. Ayolah, mau ya?" pintaku merayu Mas Abyan.
"Ay-"
"Iya sudah aku sendiri aja pergi." secepatnya memotong ucapan Mas Abyan, agar dirinya tidak bisa membantah.
"Iya udah, mau apa kamu, Mamas pasrah." ucapnya merasa tertekan.
Senyuman yang ku berikan merasa bahagia. Mas Abyan terpaksa, masih dirinya lakukan. Begitu besarnya cintamu padaku, Mas. Mulaiku menghiasi wajah Mas Abyan dengan make up senatural mungkin.
Bibirnya yang memang berwarna merah jambu itu, gue beri liptint sedikit merah ke dalam.
Kelopak matanya ku beri warnah pick sedikit aja, alisnya nggak perlu di apa-apain. Masya Allah cantik banget. Asli terpesona banget gue.
Mas Abyan tersenyum-senyum sambil menutup matanya sebelah, ke-dua lesung pipinya terlihat jelas. "Mbak, godain aku dong." ucapnya dengan nada ke wanitaan.
Langsungku mengelus perut. "Amit-amit cabang bayi." geliku melihatnya.
"Haha... Haha.." tawa Mas Abyan terlihat jelas dirinya merasa geli. "Ay, kenapa? Bukannya ini maumu." jelas Mas Abyan.
Iya sih ini mauku, tapi. "Mamas ganti pakaian sekarang." pintaku langsung. Biarlah dirinya begini untuk sementara, untuk menyaingi gue. Dari pada gue melihat Mas Abyan di lirik wanita lain.
Mulaiku mencari pakaianku yang cocok untuknya. Tapi semuanya pendek. Melihat celana dasar Mas Abyan.
"Mas pakaian ini." pintaku melihat pakaian gamisku yang berukuran besar, berwarna biru wardah.
Mas Abyan mengambil, langsungnya memakai pakaian yang ku berikan.
Selesainya, mataku tidak bisa berkedip. Mas, elu di buat apa aja, kenapa bisa sempurna ini?
"Kenapa, Ay?" Mas Abyan terlihat bingung.
"Mamas kenapa bisa begini?"
"Maksudnya?" Mas Abyan masih belum mengerti.
Langsung aja memegang wajah Mas Abyan. "Mamas kenapa bisa sih, di apa-apain tetap sempurna?" jujurku.
Mas Abyan memegang tanganku dengan tersenyum, tanpa menjawab.
Jleb!
__ADS_1
Jantung gue kenapa jadi begini sih? Mas elu benarkan manusia?
Bersambung...