
Motor gue parkirkan di pinggir jalan saat melihat toko terkenal penuh dengan berbagai macam aksesoris, perhiasan, dan lainnya saat melihat sebuah aplikasi menyatakan ini tempat terbaik untuk membeli sebuah hadiah.
Masuk membuka pintu. "Selamat siang Kak, ada yang bisa saya bantu?" pelayan yang berdiri di dekat pintu menegur.
"Boleh saya lihat-lihat dulu?"
Senyumnya. "Oh silahkan, Kak."
Berjalan ke dalam melihat berbagai tas bermerek terkenal, kira-kira kalau gue beli ini Oma mau nggak ya? Tapikan Oma Farra orang beruang tasnya mungkin udah banyak mana harganya lebih mahal dari yang di sini, bisa jugakan dia belinya di luar negeri sana.
Jalan lagi melihat banyak pilihan yang mungkin Oma Farra juga sudah membelinya, gue ingin membeli sesuatu yang membuatnya bahagia, walaupun Oma tetap tak menyukaiku.
Hmmm, telepon Falisha aja deh, siapa tau ada solusi yang bagus.
Mengambil handphone di dalam tas menekan layar mencari nomor Falisha, langsung meletakan di telinga, menunggu sambutan Falisha.
"Halo, Ra." suara Falisha terdengar.
"Assalamu'alaikum, dulu napa?" omelku, kebiasaan nih Falisha langsung bicara aja.
"Iya maaf ukhti, waalaikumussalam. Ada apa, Ra?
"Sha, elu sibuk nggak?" siapa tau dia lagi sibuk gue ganggu nggak enakkan.
"Enggak sibuk, gue lagi di kamar aja guling-guling, hari ini libur ulang tahun Oma. Elu datangkan sama Mamas?"
"Iya insyaallah datang! Hmmm Sha, gue lagi beli kado untuk Oma, biasanya Oma suka apa ya?" melihat sekeliling ruangan.
"Beli aja pena, Oma suka mengoleksi itu, akibat mengidolakan elu yang terbilang berlebihan. Katanya jika bertemu elu, mau minta langsung di tanda tangani pakai pena koleksinya." jelas Falisha.
Berarti kalau Oma minta tanda tangani gue nanti, kira-kira sejumlah pena yang di koleksi dong, pulang tanda tangan gue ke tukang pijat atau ke dokter ortopedi deh, takut tulang gue bergeser atau retak.
"Oh iya udah gue tanya itu aja, entar kita lanjutin di rumah ya, gue matiin dulu, assalamu'alaikum."
"Iya Ra, waalaikumussalam."
Mematikan panggilan, menyimpannya lagi di dalam tas.
"Mbak, di sini ada jual pena nggak untuk hadiah?" melihat pelayan yang mengikuti dari belakang.
"Oh sebelah sana Kak, mari saya tunjukkan." berjalan ke arah dalam.
Berjalan mengikuti. "Ini semua koleksi pena yang terkenal masa kini." tunjuknya rak kaca berbaris pena mahal.
Melihat harga yang melangit, dari harga sembilan miliar, benda sekecil itu bisa membeli sejumlah rumah, subhanallah.
Mencari harga yang pas dengan isi kantong. Sepuluh juta, ah itu aja.
"Mbak, saya mau pena yang di sana." menunjuk pena berwarna hitam di kelilingi permata putih.
"Ini, Kak." tunjuknya.
"Hmmm iya Mbak, tolong di bungkus untuk hadiah."
"Iya, Kak. Silahkan ke kasir untuk pembayaran." tunjuknya kasir di tengah-tengah toko.
__ADS_1
"Oh iya." berjalan langsung ke sana.
"Mbak, saya mau bayar pena tadi."
"Sebentar ya Kak, saya cek dulu."
"Hmmm!" senyumku.
Mbak yang di kasir mendekati teman satunya lagi seperti sedang menghitung. Sekitar satu menit, dirinya kembali kemeja kasir. "Total semua harga Sebelas juta, itu termasuk wadah, aksesoris dan paper bag." jelasnya angka yang harus gue bayar.
Kalau bukan untuk Oma, gue nggak bakal beli benda semahal ini untuk kado.
Mau bayar pakai kartu yang di berikan Mas Abyan kurang nyaman rasanya.
Biarlah uang gue aja, di pakai. Berbeda juga kalau ngasih dari hasil kita sendiri, dengan hasil orang lain.
"Ini Mbak, bayar pakai ini." memberi kartu ATM.
"Oh iya." jawab penjaga kasir.
***
"Mamas nggak bawa pakaian?" saat mau pergi ke rumah Oma.
"Nggak Ay, banyak di sana." Mas Abyan tersenyum.
"Oh Iya, Mas."
Jalannya kami berdua keluar, masuk ke dalam lift, pintu telah terbuka kami lanjut berjalan ke parkiran menaikin mobil.
Tanpa berkomunikasi kami lakukan selama perjalanan. Pikiranku aja yang kemana-mana, termasuk mengingat ciuman panas Mas Abyan. Ingat dengan kejadian itu jantung senam aerobik. Awas lu jantung sampai lepas, gara-gara elu bergeraknya terlalu cepat.
"Hmmm, iya Mas." mengambil paper bag berisi pakaian serta paper bag kado Oma Fara.
Ternyata ramai sekali, banyak tamu undangan yang datang. Senyumku pada mereka yang melihat gue dan Mas Abyan.
Jalan masuk ternyata telah ramai, di dalam rumah.
"Ra sini." panggil Falisha yang berdiri di dekat meja berisi makanan. "Yuk ke kamar gue, bawa pakaian elu ke sana." sambungnya lagi saat setelah mendekatinya, memegang tanganku ke arah kamar.
Ceklek!
Kami berdua masuk, Falisha menutup pintu.
"Sha gue nggak tidur di kamar Mamas?" berarti bebas cerita sama Falisha malam ini, kalau tidurnya di sini.
"Enggaklah, lu tidur di sana. Hanya pakaian lu dulu di letakkan di sini."
"Napa gue nggak tidur di kamar elu aja?"
"Ih lu ‘kan istri Mamas gue."
"Tapikan gue takut Sha, terakhir tidur sekamar waktu di hotel pertama bertemu. Gue di ngap gimana?"
"Biarin, gue suruh lagi ada."
__ADS_1
"Ih elu jahat banget."
"Jahat gue mendatangkan nikmat."
"Gila elu."
Tok tok tok.
"Bentar gue buka pintu dulu." Falisha menghampirin pintu dan membukanya. "Ada apa, Bi?" tenyata Bi Tanti yang mengetuk pintu.
"Itu Non, Oma nyuruh kumpul mau potong kue."
"Iya Bi." Falisha melihatku. "Yuk Ra, barang elu tinggal di situ aja, entar kalau mau tidur ganti pakaian ambil ke kamar gue."
Menganggukkan kepala pelan, menggambil hadiah untuk Oma, berjalan mengikuti Falisha kembali ke ruang tengah berkumpul di sana.
"Mari semua kita berkumpul, Oma Farra akan memotong nasi tumpeng meresmikan usianya yang ke tujuh puluh tahun." ucap pemadu acara. Para undangan terlihat tidak begitu banyak, kebanyakan keluarga besar saja yang meramaikan.
Berkumpul di depan Oma Farra yang di depannya terdapat nasi tumpeng.
"Mari fotografer jangan lupa di foto dan videonya, oke sudah siap! Kita hitung satu, dua, tiga. Silahkan Oma di potong nasi tumpengnya."
Oma mengambil pisau, memotong meletakkan di atas piring, suapan pertama di berikan pada Ayah Dameer sebagai putra satu-satunya kemudian Ibu Sari, sebagai mantu kesayangannya.
"Mari tepuk tangan semuanya." ucap kembali pemadu acara.
Kami semua bertepuk tangan, pertanda usia Oma telah mencapai tujuh puluh tahun.
Secara bergantian kami bersalaman dengan Oma.
Mas Abyan Falisha bersalaman, gue di belakang Falisha, Hanum dan Mas Damar telah duluan, tinggal kami bertiga yang belum sebagai keluarga yang paling dekat. Menunggu giliran, sekitar satu menit akhirnya bersalaman sama Oma. "Selamat ulang tahun ya Oma, semoga panjang umur sehat selalu di murah ‘kan rezekinya. Ini kado untuk Oma." memberi paper bag mini, berisi kotak kecil segi empat panjang, sedikit aksesoris pita berwarna merah jambu.
Oma tersenyum manis, mengambil hadiah itu dan membukanya. "Kirain isinya persegi panjang tulisan garis dua." ucap Oma yang hobi berbicara terang-terangan.
Melihat Mas Abyan, Falisha dan lainnya.
Falisha mengulum tawa, sukanya melihat gue sengsara seperti ini.
"Mama mereka sedang usaha, kasihan mereka berdua kalau di paksakan terus. Percuma dong Ma, kalau Tuhan belum memberi." jelas Ibu Sari bagaikan malaikat penolong gue saat ini.
"Iya Oma, kita juga menikah jalan satu bulan." sambung Mas Abyan.
"Iya nih Oma, sabar kenapa?" akhirnya Falisha berbicara.
"Hanum hamil satu bulan setelah menikah! Nanti kalian berdua ke dokter kandungan periksa, biar nggak lama." kuat Oma pada pendirian.
"Terlalu cepat Mama, udah kita bahas yang lain, masih banyak yang mau salaman sama Mama." ucap Ibu Sari.
"Mama jangan di pikirkan, dulu kami juga lama baru mendapat Abyan, Falisha dan Hanum. Mungkin Hanum cepat dapat, memang sudah rezekinya." ucap Ayah Dameer akhirnya buka suara.
Oma hanya diam. "Yuk Mbak, ke sana aja makan." Falisha memegang tanganku.
Gue hanya menganggukkan kepala aja, tersenyum pada Oma.
Satu persatu tamu mulai bersalaman memberi kado, pada Oma. Gue yang berjalan menjauh bersama Falisha ke meja yang penuh makanan serta minuman.
__ADS_1
Mas Abyan menjumpai para tamu, berbicara di sana.
Bersambung...