Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Chapter 100 Berjuang


__ADS_3

POV Zahra


"Ay, Mamas ke atas sebentar." ucap Mas Abyan saat kami sampai di rumah.


"Mamas nggak ganti pakaian dulu?" melihat Mas Abyan masih menggunakan pakaian kemeja putih berlengan panjang dan celana panjang dasar berwarna hitam.


Mas Abyan tersenyum. "Mamas nyelesain pekerjaan sebentar aja. Soalnya mau di kirim ke Aziz, untuk di kirim ke kantor cabang. Persiapan rapat besok."


"Mamas, mau aku buatkan jus dan cemilan." tawarku ingin sekalian meminta maaf.


Jujur, saat acara berlangsung di tambah pertanyaan yang selalu muncul di setiap acara, jantung gue nggak berhenti berdetak, sampai bingung ingin menjawab pertanyaan presenter. Tapi Mas Abyan yang menjawab semuanya.


Dengan santai dirinya menjelaskan.


Gue benar-benar takut Mas Abyan akan marah setelah ini, apalagi di sepanjang perjalanan dirinya hanya diam.


"Buat jus aja, Ay."


"Jus apa, Mas?"


Mas Abyan tersenyum. "Apapun yang kamu buat, Mamas minum." Mas Abyan langsung masuk lift setelah berbicara, dengan tersenyum lift tertutup.


Entah kenapa gue merasa Mas Abyan benar-benar marah.


Gimana ya caranya agar Mas Abyan nggak marah?


Ah gue tau, dengan cepat masuk ke dalam kamar, langsung ke kamar mandi membersihkan tubuh. 5 menit selesai langsung ke ruang pakaian, memilih pakaian yang terlihat menggoda tapi sopan. Oke ketemu.


Inilah cara yang paling ampuh.


Menguncir rambut dengan menyanggul cepol tinggi.


Keluar kamar, tidak mungkin Pak Amin akan masuk kerumah. Lagian hari sudah malam.


Mulai membuat jus Apel dan rujak buah mangga.


10 menit selesai. Gue membawa semuanya menggunakan nampan.


Ting!


Lift terbuka, gue masuk.


Ting!


Keluar lift, melihat Mas Abyan fokus pada laptopnya yang duduk di lantai beralas bulu berwarna putih.


Melihat Mas Abyan begini, bikin jantung gue menari-nari riah di dalam sana. Gantengnya itu maksimal banget, hati gue nggak bisa bohong.


"Ini, Mas. Jusnya." meletakkan di atas meja.


"Hmmm! Iya, Ay." matanya fokus ke layar leptop.


Gue hanya melihat Mas Abyan sambil makan rujak. Fokus banget Mas Abyan, gue jadi nggak tega gangguin dia untuk sekedar minta maaf. Apalagi pakaian gue begini.


Enak banget ini rujak.


"Ay... Makan rujak lagi?" suara Mas Abyan terdengar saat mata gue fokus ke rujak.


"Habis beberapa hari ini, nggak makan buah Mas." melihat Mas Abyan kembali fokus ke layar laptop.


Hmmm... Rasanya gue ganggu kali ya? Apa gue coba berbicara saja. Tapi takut kerjaannya terganggu.


"Ay, sudah Mamas maafkan." Mas Abyan membuka suara duluan.


"Tapi aku belum meminta maaf, Mas?" suasana menjadi semakin kurang nyaman.


"Nggak perlu, Ay." santainya menjawab.


"Mamas kalau marah, jangan di tunda." enak gitu, dari pada gue di diamkan terus.


"Mamas nggak marah, Ay." jawabnya santai.


Apa Mas Abyan sudah tau ya?


"Mamas sudah tau kalau aku penulis selama ini?" langsung aja gue tanya.


"Hmmm!" Mas Abyan menganggukan kepala.


Deg!


"Mamas di kasih tau Falisha?"


"Sebentar Mamas ngirim berkas dulu." Mas Abyan fokus ke layar laptop.


"Hmmm!"


3 menit gue menunggu sambil makan rujak buah.


Mas Abyan menutup layar laptopnya.


"Kamu sendiri, Ay. Yang ngasih tau Mamas." jelasnya sambil mengambil rujak.

__ADS_1


Deg!


"Kapan aku cerita, Mas?" perasaan gue nggak pernah bicara begitu.


Mas Abyan tersenyum sambil mengunyah makanan. "Kamu sedang menggoda Mamas ya, Ay?" Mas Abyan membahas ke lain arah.


"Enggak! Aku hanya ingin aja pakai pakaian ini. Kenapa nggak boleh ya, Mas?"


"Boleh!" senyumnya mengambil lagi rujak buah.


Gue langsung menyingkirkan wadahnya, sebelum buah itu di ambil. "Mamas belum jawab pertanyaan aku."


"Dikit aja, Ay." Mas Abyan selalu menghindar pertanyaanku.


"Iya udah kalau Mamas nggak mau bicara. Aku makan di bawah aja."


"Tunggu, Ay." Mas Abyan memegang tanganku saat ingin berdiri.


Gue duduk lagi. "Mamas selalu menghindar pertanyaanku."


"Iya Mamas jelaskan." Mas Abyan langsung mengambil wadah berisi rujak buah di tanganku.


"Kamu ingat nggak, pernah menabrak seseorang di rumah sakit jiwa? Kemudian kamu mengajaknya curhat dan duduk di pinggir lorong. Sekitar 4 tahun yang lalu." jelas Mas Abyan membuat gue mengingatkan sesuatu.


Mataku ke sana kemari, mengingat kejadian yang Mas Abyan ceritakan. Gue sering ke rumah sakit jiwa, nganterin pasien yang sering merasa cemas, khawatir berlebih-lebihan. Sekalian gue juga belajar, mengatur semua masalah yang menerpa gue.


Ada sih, terkahir kali ke rumah sakit setelah gue benar-benar merasa tidak bisa lagi melangkah. Saat itu, gue nggak tau harus apalagi dengan segala macam masalah yang menerpa, termasuk melihat Bang Doni memamerkan istrinya lewat media sosial.


Saat itu gue menabrak seseorang laki-laki yang tidak tau datangnya dari mana.


Pertama kali di sentuh, dan tidur di atas tubuh laki-laki yang terbilang sangat prihatin dalam kondisinya. Jangan bilang, mata gue melihat Mas Abyan. "Itu, Mamas?"


Mas Abyan tersenyum, menganggukkan kepala menyatakan iya.


"Tapi kenapa Mamas berbeda?" perasaan yang gue tabrak itu wujudnya benar-benar berbanding terbalik dengan Mas Abyan sekarang. "Mamas operasi plastik?" mungkin saja begitu.


"Haha.... Hahaha..." Mas Abyan tertawa puas.


"Mas aku serius."


Kenapa suka banget sih, Mas Abyan ngetawain gue?


"Hahaha.... hahaha.." masihnya Mas Abyan tertawa.


Gue diam ajalah, nggak ngerti dimana lucunya?


"Mamas nggak sampai operasi plastik, Ay. Selepas kamu cerita Mamas ingin berubah. Wujud Mamas dari dulu ya seperti ini. Hanya saja, masala-"


Mas Abyan memegang tanganku. "Mamas dari dulu nggak mencintainya, Ay. Hanya rasa bersalah yang membuat Mamas begitu."


"Maksudnya?"


Mas Abyan melepaskan tanganku, mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


Mengeluarkan semua foto yang bergambar Mas Abyan dan Mbak Cherly sedang berpelukan.


"Maksud Mamas apa?" mau memamerkan kemesraannya dengan Mbak Cherly.


Mas Abyan berdiri dan duduk di dekatku.


"Mamas ingin kamu mendengarkan apa yang Mamas ceritakan tanpa banyak bertanya dulu." jelas Mas Abyan membuat gue semakin bingung di tambah penasaran.


"Iya Mas."


"Cherly ternyata masih hidup, Ay."


Jeder!


"Maksudnya, Mas?"


"Syuuut!" telunjuk Mas Abyan ke arah bibirku menyuruh diam.


Gue menganggukkan kepala.


"Awalnya Mamas juga bingung, kenapa dirinya bisa hidup kembali, dan terus menemui Mamas untuk kembali padanya." jelas Mas Abyan membuat gue terasa panas, maksudnya Mas Abyan mau kembali dengan Mbak Cherly.


"Jangan berpikir yang bukan-bukan, Ay. Mamas di beritahu Fadel untuk-"


"Fadel yang di rumah sakit yang satu ruangan dengan aku itu, Mas?" kenapa banyak banget Mas Abyan rahasiakan?


"Fadel adalah adik Idris, Ay."


"Bukan Fadel yang kerja sama aku itu?"


"Iya, itu dia. Makanya dengerin penjelasan Mamas, jangan banyak pertanyaan dulu." pinta Mas Abyan dari tadi. Yah gue yang keponya kuat langsung aja bertanya, iya deh diam aja dulu. "Iya, Mas. Tolong ceritakan semuanya jangan ada rahasia di antara kita." pintaku yang tidak mau ada kesalahpahaman dengan Mas Abyan lagi.


"Mamas menyuruh Fadel untuk selalu di samping kamu, Ay. Secara Mamas dulu mencari kamu setelah satu tahun nggak bertemu."


Mamas nyariin aku.


"Setelah kamu curhat masalah kehidupanmu, Ay. Mamas berubah secara dratis, awalnya ingin membalas kebaikanmu aja, Ay. Tapi Mamas semakin hari, semakin menyukaimu." jelas Mas Abyan membuatku ingin terbang. Tapi melihat foto itu.

__ADS_1


"Mamas bertemu Mbak Cherly dan berpelukan?" sumpah hati gue panas banget.


"Bukan Mamas, Ay. Tapi Cherly yang memeluk Mamas." jelas Mas Abyan.


"Mamas mau aja gitu."


"Itu foto di ambil oleh Reyhan yang pernah Mamas cerita sama kamu, Ay."


"Oh Mamas selama diluar berarti bertemu, Mbak Cherly?" ingin tau gue.


"Ay, dengerin Mamas dulu."


Huuuf!


Gue atur nafas dulu, soalnya kejadian Siska kemarin bisa aja terulang kembali.


"Sebelum Mamas jelaskan, boleh nggak aku pukul Mamas." kesal gue dengan Mas Abyan.


"Jangan, Ay. Dosa mukul suami. Kalau berantem di sana ayo." Mas Abyan menujuk ranjang.


"Nggak!" nadaku sedikit meninggi, tandaku benar-benar merasa kesal.


"Iya-iya boleh, tapi jangan keras-keras ya, Ay. Dan janji udah ini nggak marah."


"Iya, menghadap kebelakang." pintaku.


Mas Abyan duduk memunggunginku.


Mulai memukul punggung Mas Abyan.


Bugh!


Bugh!


Sekuat tenaga gue pukul dirinya.


"Ay keras sedikit kenapa? Enak di bagian belakang." pintanya.


"Mas aku ini mukul kamu bukan mijitin." berhentiku memukul Mas Abyan.


"Sekalian, Ay. Soalnya punggung bagian belakang lagi pegal."


Terpaksa gue pijitin Mas Abyan.


"Bawah sedikit, Ay." tanganku memijit bagian yang di pintanya.


Ini ceritanya gue minta maaf, atau lagi apa sih?


"Ay, bisa pijat ya?"


"Mamas tuh jangan mengalihkan pembicaraan." dari tadi ngejelasinya gantung terus.


"Iya, Ay. Maaf! Intinya Mamas penasaran aja kenapa Cherly berbuat demikian? Ternyata Fadel memberitahu, bahwa dirinya menemukan bukti, bahwa perbuatan Nia dan Siska sebab dirinya. Terus Cherly itu hamil anaknya Reyhan untuk menghilangkan bukti, dan kembali saat setelah melahirkan dan ingin kembali bersama Mamas dengan alasan dirinya di culik." jelas Mas Abyan membuat gue terkejut.


"Apa?" kurang di hajar banget nenek lampir.


Mas Abyan melihat ke arahku.


"Intinya, Mamas minta kamu hati-hati. Jangan percaya pada apa yang terjadi sebelum semuanya jelas. Mamas pernah cerita kalau Cherly tidak pantang menyerah. Tapi yakinlah, Ay. Mamas hanya mencintaimu." jelas Mas Abyan.


"Agar aku yakin dengan hati Mamas gimana?" itulah pertanyaan yang selalu ingin aku lontarkan dan sekarang baru bisa gue ucapkan.


"Kamu maunya apa, Ay? Mamas pasrah." ucap Mas Abyan yang membuat gue lumer.


"Terserah Mamaslah, aku nggak tau harus apa?" benar adanya.


Mas Abyan memelukku.


"Mamas hanya bisa membuktikan, bahwa Mamas benar-benar mencintaimu. Entah mungkin kamu belum puas dengan bukti Mamas. Tapi percayalah di sini Mamas sedang berjuang untuk mendapatkan cintamu, Ay." jelas Mas Abyan yang terus membuatku semakin lumer.


Nyit!


"Aw sakit, Ay."


Gue mencubit perut Mas Abyan, rasa gemas sambil melepaskan pelukannya.


"Udahlah Mamas istirahat. Aku mau istirahat juga, besok mau ke Bali." jelasku sambil berdiri.


"Jatah Mamas selama 2 minggu di Bali gimana?"


"Jata apa?"


Mas Abyan tersenyum-senyum.


Udahlah ngerti gue maksud Mas Abyan.


"Puasa." gue lari ke lift.


Jangan tanya Mas Abyan mengejar begitu cepat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2