Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 18 Nober (Nonton Bersama)


__ADS_3

"Ay, ini piring biar Mamas yang nyuci, tadi kamu sudah masak." ucapnya selesai kami makan.


Apa? "Mamas sedang bercanda?" terkejutku, masa CEO perusahaan besar nyuci piring.


"Apa lucu ya, kalau Mamas nyuci piring?" tanyanya polos.


"Lebih baik Mamas duduk di kursi nonton televisi atau mengerjakan hal lainnya. Ini biar aku aja." jelasku syok jika melihat kesempurnaan Mas Abyan, tolong cukup di novel dan drama aja, di dunia nyata jangan.


"Serius, Ay?" tanyanya nggak percaya.


"Aku lebih serius, Mas." mencari solusi jangan sampai derajat gue jadi istri ini turun setingkat. "Oh, gini aja! Gimana kita nonton film bersama." solusiku yang aneh, masa ngajak nonton bersama.


"Hmmm, boleh juga." ternyata Mas Abyan setuju.


"Mamas yang mengatur filmnya? Aku nyuci piring sebentar." lebih baik begitu.


"Hmmm!" senyumnya berjalan ke televisi.


Gue langsung membersihkan wadah bekas makan di atas meja, membawanya ke tempat cuci piring. Gue Kembali memakai celemek di tubuh, fokusku menyelesaikan pekerjaan, mulai membersihkan kitchen set, selesai lanjutkan mencuci piring, sat set selesai menyusun semua alat di tempatnya semula. Melihat semuanya telah rapi dan bersih.


"Ay, sudah belum?" tanya Mas Abyan memanggil gue yang matanya masih fokus ke televisi.


"Oh udah Mas." balasku dengan cepat melepas celemek, meletakkannya di tempat semula.


Jalan menghampiri Mas Abyan. "Ay, mau nonton film apa?" tanya Mas Abyan saat gue sudah duduk, dirinya yang memegang remote televisi memperlihatkan berbagai macam film di sana, dengan ukuran delapan puluh enam inci, cukup besar televisi yang di pajang.


Melihat film horor. "Ah yang itu aja, Mas." tunjukku sepertinya seru.


Mas Abyan membuka film tersebut, gue yang duduk di sebelah kiri Mas Abyan memeluk bantal kursi berwarna coklat mudah. Siapa taukan hantunya muncul gue langsung tutup mata menggunakan nih bantal, gini-gini juga takut yang lihat gituan.


Film itu mulai menampakan hantunya yang hanya bayangan semata, apartemen kosong yang tak sanggup satu pun orang menepatinya, akibat makhluk astral yang terus mengganggu.


Pemilik baru datang membuka pintu, ternyata wanita cantik yang menempatinya. Si wanita bisa melihat wujud aslinya hantu yang ternyata laki-laki ganteng. Hantu itu tidak mau meninggalkan apartemen yang dia akuin sebagai pemiliknya.


Gue mau juga temenan sama hantu ganteng, lihat gue sebentar ke arah Mas Abyan, lebih ganteng yang di sebelah gue sih.


Fokus lagi ke televisi, si perempuan juga tetap memutuskan untuk tinggal di sana, setelah mereka bersama akhirnya saling jatuh cinta.

__ADS_1


Kira-kira gue kalau tinggal serumah sama Mas Abyan jatuh cinta nggak ya? Lanjutku fokus dengan melihat ke-dua peran utama itu pergi mencari tau di mana letak raga si cowok, ternyata terbaring di rumah sakit akibat kecelakaan.


Mulai air mata gue, mengalir.


Hiks hiks hiks.


Terdengar suara tangisan, perasaan gue nangis nggak ngeluarin suara. Melihat gue ke Mas Abyan, subhanallah Mas Abyan nangis. Tisu yang di meja telah berserakan di lantai, gue lanjut lagi nonton mungkin Mas Abyan lagi menghayatin kisah film di televisi, jangan di ganggu dulu, gue juga sama menghayati nih film.


Ketika si cowok masuk ke raganya sendiri, tapi tak bisa menyatu. Si cewek berharap penuh akan berhasil, ternyata sebaliknya raga si cowok semakin memburuk.


Hiks hiks hiks.


Tisu di Mas Abyan gue ambil satu persatu, melihat usaha si cowok, ada nggak ya pasien di rumah sakit tempat gue kerja gitu juga?


Dokter berusaha memasangkan alat ke dada raga si cowok agar hidup kembali, si hantu cowok juga berusaha memaksa masuk ke raga dan hasilnya si cowok di nyatakan meninggal dunia.


Semakin deras tangisan gue dan Mas Abyan, kenapa nggak di buat happy ending gitu? Tega banget si cowok pergi. Kasihankan si cewek yang di tinggal, pasti trauma dengan kejadian itu.


Beberapa hari setelah di makamkan si cowok semakin hilang wujudnya dan berpisah dengan si cewek.


Gue dan Mas Abyan menghabiskan satu bal tisu, dengan Mas Abyan tiba-tiba memeluk gue.


Gue hanya diam saja, mungkin Mas Abyan teringat dengan trauma masa lalunya dengan mencoba mengelus bahu Mas Abyan, sampai dirinya berhenti menangis. Sesedih itukah kenangan masa lalumu, Mas. Sampai sekarang dirimu belum bisa melupakan kekasih yang kamu cintai. Adakah tempatku suatu saat nanti di hatimu dan sebaliknya? Apakah rumah tangga kita akan selamanya seperti yang kamu ucapkan kemarin?


"Ay, cowoknya mati." ucap Mas Abyan masih menangis.


"Itu hanya film, Mas" mengelus bahu Mas Abyan. Sabarku menghadapi kondisinya. Menangislah Mas, mungkin selama ini dirimu hanya memendam semuanya sampai sesak itu tertimbun di dalam dada, sekarang baru bisa di luapkan.


"Tapi, Ay. Nggak bisakah hidup kembali?"


DEG!


Entah kenapa hati gue merasa perih ya? Apa Mas Abyan masih berharap pacarnya hidup?


Mungkin jika masih hidup, gue nggak akan berada di posisi ini. Takdir yang aneh, begitu menyulitkan.


"Entar kita hubungin pemainnya, suruh tuh yang mati hidup lagi ya, Mas?" ajakku bercanda.

__ADS_1


"Nggak bisa, Ay?" masih dalam kondisi belum sadar, dengan tangisan terdengar menyakitkan.


Gue merasa aneh juga di sisi lain, sepertinya nih Mas Abyan, mengambil kesempatan dalam kesempitan deh. Pikiran jahat gue menghampiri.


Gue tadinya menangis berhenti dengan sekejap, dan pasrah menepuk punggung Mas Abyan bersama jantung bergoyang-goyang hebo di dalam sana.


Mas sampai kapan elu meluk gue begini?


"Bisa, Mas." jawabku.


"Caranya?" melepaskan pelukan.


Huuuf!


Akhirnya bisa bernafas gue.


"Tadikan udah aku bilang, hubungin sutradaranya langsung." jelasku lagi.


Mas Abyan terdiam, tibanya tersenyum perlahan tertawa, hahaha...


Pertama kali gue melihat Mas abyan tertawa, ternyata tambah ganteng dan lucu, di sisi lain ingin juga gue bertanya anda masih sehat, Mas? Setelah nangis elu tertawa, sepertinya kita kerumah sakit lagi aja tes kesehatan psikologis anda.


"Maaf, Ay. Mamas terbawa suasana?"


Gue sadar, akan hal itu Mas! "Iya nggak apa-apa, Mas. Aku juga begitu tadinya. Ternyata lebih sedih lihat Mamas yang nangis dari pada filmnya." candaku.


"Hahaha..." tawanya mengelap air mata yang masih menempel di sana, dengan mata merah.


Falisha lihat Mamasnya cool dan killer tuh dari mananya sih? Kenapa yang gue lihat berbeda jauh dari penglihatannya.


"Sepertinya kita salah pilih film deh, Mas." ucapku lagi.


"Nggak salah, hanya kita terpengaruh pada kisahnya." jelas Mas Abyan telah sepenuhnya sadar.


Ingin banget gue bertanya tentang masa lalumu Mas, tapi Falisha benar, gue orang baru yang masuk dalam kehidupan Mas Abyan, lagian hal itu sudah menjadi masa lalu yang menyakitkan. Gue cukup tau dari Falisha aja udah syukur, jadi gue bisa menyeimbangi kondisi Mas Abyan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2