
"Yuk kita joging di belakang hotel, pulang nanti aja." ajak Falisha seperti ketua geng di antara kami bertiga.
"Boleh juga tuh." jawabku melepas mukena sehabis sholat subuh.
"Yuk, udah lama juga gue nggak berkeringat." setuju Mika.
"Jangan lupa handset buat nutupin telinga." ingat Falisha padaku dan Mika.
"Siap Bos!" memberi hormat, mengganti pakaian yang lebih enak di gunakan saat olahraga. Ini adalah kebiasaan kami bertiga kalau kumpul, makanya gue bawa pakaian sesuai kondisi yang sudah biasa itu.
Setelah siap turun ke bawah, dengan cuaca di bilang baru terlihat terang, tapi pengunjung sudah ramai di sana.
Kami bertiga lari santai aja.
Fiwit!
"Hai."
"Kenalan yuk, Neng."
"Bidadari berjalan nih."
"Satu dong buat gue."
Masih banyak lagi yang berbicara para fans yang hadir.
Kami bertiga fokus lari-lari kecil, puranya memakai handset di telinga, padahal nggak ada musik, untuk menghindari hal semacam itu, ini sudah biasa bagi kami bertiga.
Tubuh mulai berkeringat oleh sinar matahari.
"Lanjut yuk, ke tempat fitness." ajak Mika.
"Dimana?" tanyaku.
"Oh ada, dekat sini, jalan kaki sampai. Mau nggak kalian?" tanya Falisha.
"Lanjut." ucapku dan Mika serentak.
Lari kecil ke luar hotel.
"Kalian berdua masuk duluan gue aja yang bayar." ucap Falisha.
"Serius?" tanyaku kurang nyaman.
"Anggap aja gue traktir kalian seperti biasa."
"Oke! Makasih, Sha." ucapku dan Mika serentak.
Gue yang favoritnya hanya berlarian kecil di kinetic treadmill, sedangkan Falisha dan Mika, mencoba berbagai macam alat lainnya.
Sudah lama gue nggak olahraga seperti ini, rasanya nyaman, apalagi gue menghidupkan musik. Rasanya ada semangat terletak di sana. Keringat mulai mengalir deras di dalam lapisan kain menutupin tubuh.
"Ra..." panggil Mika, menyenggol lenganku.
Melepaskan handset dan mematikan mesin. "Apa, Mik?"
"Sarapan yuk, lapar banget nih." ajaknya.
"Baru juga ngeluarin keringat sedikit."
"Falisha juga tuh, udah lapar katanya. Pulang yuk ke hotel makan, udah itu mandi. Cus kita check out dari hotel langsung ke klinik kecantikan perawatan dulu. Udah lama nih, kulit gue mulai nggak terawat lagi, semenjak banyak pasien di tambah lembur."
"Oke deh kalau gitu, gue juga mau perawatan biar awet mudah." candaku.
__ADS_1
"Biar Mamas naksir, kalau unboxin tambah menarik." ucap Falisha mendekat.
"Terserah elu aja yang penting lu bahagia." ucapku lantang.
"Bahagialah, masa enggak." sambung Falisha terus.
"Udah ya bercandanya, perut gue udah goyang dumang nih. Mari jalan." ucap Mika langsung jalan.
"Yuk mari." ucap serentakku dan Falisha.
***
"Ra, gue antarin lu sampai sini aja ya? Gue mau antar Mika." ucap Falisha masih di dalam mobil bersama Mika, sedangkan gue sudah di luar depan pintu mobil berhadapan dengan Falisha.
"Oke! Makasih ya, Sha."
"Iya, dada..." Falisha dan Mika melambaikan tangan sambil perlahan pergi.
"Dah..." melambaikan tangan juga dengan tersenyum melihat mereka pergi menjauh.
Huuuuf!
Hati gue belum siap rasanya bertemu dengan Mas Abyan, melihat apartemen yang menjulang tinggi ke atas langit.
Mengambil handphone yang belum di aktifkan di dalam tas, menunggu beberapa detik tidak ada yang menghubungi termasuk Mas Abyan.
Mungkin benar, gue bukanlah orang yang di cintai sebagai perempuan, hanya status istri aja buatnya.
Gue berharap apa coba?
Apa gue mulai menyukai Mas Abyan sebagai lawan jenis?
Masuk perlahan, melihat lorong yang sepi seperti biasa. Berhenti di depan pintu, gue masih belum siap bertemu Mas Abyan. Ingatanku masih jelas dan nyata, melihat Mas Abyan bermain adegan panas.
Bisa gila gue begini. Apa gue cemburu karena benar-benar telah membuka hati, atau cemburu gue ini istri sah Mas Abyan?
Masuk aja dulu, nanti mikirnya lagi.
Menekan tombol huruf, membuka secara perlahan.
Ceklek!
Melihat Mas Abyan duduk memainkan handphone. Kenapa sih Mas, setiap melihat wajah elu, gue di beri anugerah terus menerus gini? Mas Abyan mungkin mendengar suara pintu dirinya langsung melihatku dengan tersenyum.
Hati ini menggila, apa yang harus gue lakukan?
Menutup pintu secara perlahan, dan jalan cepat ke arah pintu kamar, Mas Abyan mengejar.
Gue bukan ke arah kamar, malahan berlarian ke arah meja makan meletakan paper bag dan tas kecil di sana. Mas Abyan mengikutin dari belakang, gue berjalan semakin cepat. Untung nih kaki udah biasa jalan, akibat di rumah sakit sering di panggil pasien minta pertolongan ini dan itu.
"Mas, kenapa sih ngejar aku?" berhenti di ujung meja makan, sedangkan Mas Abyan di ujungnya lagi.
"Kamu kenapa lari, Ay?" memegang senderan kursi.
"Aku kebelet mau ke kamar mandi, Mas." alasanku.
Mas Abyan menyipitkan mata tandanya tak percaya. "Bohong!" kejarnya berusaha menangkapku.
Berlarian ke arah sofa, berkeliling kami di sana, kejar-kejaran.
"Berhenti Mas!" nafasku mulai tak beraturan, berhenti di ujung sofa, sedangkan Mas Abyan di ujung sofa lainnya.
"Kamu marah sama Mamas? Ini semua nggak yang kamu bayangin, Ay." dirinya berinisiatif naik ke sofa menangkapku.
__ADS_1
Dengan tubuh yang berat idealnya pas, gue bisa mengelak tangkapan Mas Abyan dan berlarian lagi.
"Aku nggak marah Mas, lagian kamu mau apa itu hak kamu." ucapku masih berlarian.
"Tapi, Ay. Kamu harus dengarin penjelasan Mamas dulu." masih mengejar.
Sumpah gue banyak olahraga hari ini.
Kenapa setelah menikah dengan Mas Abyan gue nggak istirahat-istirahat ya? Tiap hari gue di ajak olahraga jasmani maupun rohani.
"Berhenti Mas!" ucapku dengan nafas yang sepertinya mau habis. Kalau tau gini mending nggak olahraga tadi pagi.
Mas Abyan berhenti lagi di ujung sofa.
"Mamas ‘kan bisa jelasin di situ, tanpa dekat-dekat." jelasku nggak mau mendekatin Mas Abyan, selain bau tubuh di akibatkan keringat, juga mengingat Mas Abyan bersama wanita lain bermesraan di atas kursi sofa, gue merasa geli.
"Mamas mau kamu dengarin Mamas bicara dari dekat." inisiatifnya yang tercepat menaikin kursi sofa menangkapku.
Gue yang nggak bisa menghindar lagi dengan kecepatannya Mas Abyan, tangan kiri di tekuk kebelakang, di lanjutkan dengan tangan kanan. Gue sama persis seperti orang yang ketahuan maling.
Nafas yang terengah-engah. "Ay," melepas tanganku, di lanjutkan dengan memeluk dari belakang melingkar di leher. "Kamu harus dengerin penjelasan Mamas dulu." sambungnya.
Dengan nafas yang nggak beraturan, pasrah di peluk Mas Abyan, tidak ada lagi tenaga.
"Mamas mau ngejelasin apa? Emang ada masalah apa?" puraku yang tak tau apa-apa. "Duduk dulu Mas, aku capek." ajakku duduk, dari pada berdiri di peluk gini, gue sebagai wanita normal nggak nyaman.
Melepaskan pelukan. "Iya, Ay." tariknya tanganku duduk bersama.
Kita berdua seperti habis lari mengelilingi satu RT, gara-gara Mas Abyan ngejar gue. Pertahanannya itu kuat juga, wajar dia bisa menjalankan perusahaan besar.
Mas Abyan memegang tanganku. "Ay, kemarin yang kamu lihat, bukan seperti yang di bayangkan." jelasnya perlahan.
Hanya diam melihat Mas Abyan dan fokus pada pembicaraannya tanpa mengeluarkan kata-kata.
"Ay, wanita itu Siska namanya, dia anak teman dekat Ibu Sari. Kerjanya di bagian humas, dia datang memberikan laporan. Tadinya Aziz mau ambil, tapi Aziz ada kerjaan lain, nggak sengaja kaki Siska menabrak meja, Mamas langsung menolong, nggak taunya kami berdua jatuh bersama." jelas Mas Abyan dengan cemas.
Nggak tau harus berpikiran apa? Ada dua yang gue pikirkan saat ini, pertama semua yang di jelaskan Mas Abyan itu bohong, dirinya menutupin kesalahan. Ke-dua bisa saja Ibu Sari yang mengabari si gitar spanyol untuk menyampaikan bahwa gue datang dan membuat kesalahpahaman.
Kemarin Ishana, sekarang gitar spanyol, peran antagonis ada tiga muncul.
"Masalahnya dimana, Mas?" bingung harus beranggapan apa?
"Mamas nggak mau kamu berpikiran yang tidak-tidak, Ay."
Gue harus berpikir apa ya? Ah gue tau.
"Berarti Mamas berpikiran waktu aku sama Fadel itu yang tidak-tidak. Padahal tidak sengaja." tanyaku penasaran, Mas Abyan maunya apa?
"Iya! Makanya Mamas nggak mau kamu, berpikiran negatif."
"Mamas boleh, tapi aku nggak boleh?" tanyaku lagi.
"Itu-"
"Apa Mas?"
"Mamas nggak mau kita bertengkar." ucapannya yang bikin gue kurang greget gitu.
"Nggak kok Mas, kita nggak akan bertengkar?" berdiri, Mas Abyan membuat gue nggak nyaman dengan situasinya. "Aku ke kamar dulu."
"Ay..." menarik tanganku.
"Kenapa lagi Mas?"
__ADS_1
Mas Abyan mencium bibirku dengan ganasnya, rasa gigi gue di absen satu persatu, sedangkan gue hanya diam nggak bisa mengikutin permainannya, ini pertama kali gue berciuman. Kenapa Mas Abyan mencium gue? Jangan bilang meminta haknya.
Bersambung...