Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Chapter 94 Istri ke-dua


__ADS_3

Hari udah pagi lagi, gue merasa enak banget sekarang. Semenjak menikah berhenti kerja, tidur gue jadi teratur.


Hmmm rasanya gue nggak mau bangun.


Manik mataku membuka perlahan melihat. "Aaaaaa..." terkejut gue melihat wajah Mas Abyan tertidur cantik memeluk bantal.


Huuuf!


Rasanya jantung gue mau lepas.


Gue kira laki-laki lain.


"Ay, bisa nggak pagi-pagi jangan teriak terus? Mamas tau kamu menjaga dirinya ketat. Tapi lihat kondisi juga, Ay. Ini Mamas bukan hantu." Omelan Mas Abyan dengan mata yang masih tertutup.


"Mamas sih, pakai acara tidur nggak ngasih tau."


"Gimana Mamas mau ngasih tau? Kamunya aja tidur pulas banget." jelas Mas Abyan.


"Emang Mamas kapan pulang?" mulaiku santai.


"Jam 2."


"Malam banget, Mas. Emang habis dari mana sih? Hampir 1 bulan nggak pulang-pulang."


"Maaf ya, Ay."


"Udah di maafkan." ucapan yang sering Mas Abyan katakan dulu.


"Mamas benar-benar sibuk, Ay." jelasnya mengeratkan pelukan ke bantal kaki.


Sepertinya Mas Abyan lebih rindu sama tuh batal ya, dari pada gue.


"Habis acara, semakin sibuk ya, Mas?"


"Hmmm! Sepertinya iya, Ay. Sampai akhir tahun." jelas Mas Abyan membuat gue merasa sebentar lagi menjadi jablay.


"Jangan aja, Mamas jadi Bang Toyib."


"Hahaha..." Mas Abyan tertawa mendengar ucapan gue yang memang benar adanya.


Mas Abyan mulai membuka matanya. "Nggak ada, Ay. Bang Toyib. Adanya Bang Abyan." jelasnya.


"Mamas taukan cerita Bang Toyib yang jarang pulang itu."


"Emang gimana, Ay. Ceritanya?"


"Yang tiga kali puasa tiga kali lebaran-"


"Mamas pulang, Ay. Sebelum puasa dan lebaran." Mas Abyan menahan tawa.


"Tertawa aja, Mas. Jangan di tahan."


"Hahaha..." Mas Abyan berguling-berguling di ranjang bahagianya ketawain gue pagi-pagi.


"Lucu ya, Mas?" gue merasa bingung sendiri.


"Lucu banget, Ay."


Perasaan gue nggak lucu deh.


"Mas, boleh nggak?"


"Nggak boleh, Ay." Mas Abyan masih tertawa.


"Emang Mamas tau aku mau apa?"


"Tau!"


"Apa?"


"Kamu mau minta beliin cilok sama gerobaknya di tambah akangnya, agar di rumah ada teman berantem." canda Mas Abyan mengingatkan gue pada awal kami menikah.


"Bukan itu, Mas."


"Terus..."


"Aku mau ke bali."


"Mamas bisanya akhir tahun, Ay." Mas Abyan duduk perlahan.


"Bukan sama, Mamas."


"Terus?"


"Oma, Ibu, Falisha, Hanum, Mika, Tama, dan Amel." jelasku.


"Boleh, Ay." setuju Mas Abyan.


"Serius, Mas?" bahagiaku di perbolehkan Mas Abyan.


Mas Abyan tersenyum merentangkan kedua tangannya. "Sini peluk, Mamas."


"Nggak mau." tolakku.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Mamas nggak bawa oleh-oleh. Habis keliling dunia." candaku.


"Bawa."


"Mana, Mas."


"Peluk dulu."


"Oleh-oleh dulu."


"Peluk."


"Oleh-oleh."


"Ayolah, Ay. Nggak kangen apa sama Mamas?"


"Mamas aja nggak kangen sama aku."


"Kangen, Ay."


"Kalau kangen kenapa nggak pernah menghubungi aku?" rasanya kesal gue. "Atau jangan-jangan Mamas punya istri di luar sana, jujur."


Mas Abyan menurunkan ke-dua tangannya.


"Kamu bisa berpikir begitu, tau dari mana, Ay?"


"Mamas jarang update ya? Sekarang ini lagi buming masalah suami beristri dua. Apalagi di sebut pelakor." jelasku.


Mas Abyan hanya diam.


"Benarkan?" sambungku.


"Iya, Ay." jawaban Mas Abyan membuat gue panas.


"Serius loh, Mas?"


"Serius, Ay."


"Hah! Kenapa nggak di bawa pulang."


"Bawa, Ay. Dikamar bawah."


Jeder!


Mas Abyan serius nih.


Mas Abyan menarik tangan dan memelukku dari belakang.


"Lepas, Mas. Aku mau lihat wajah istri ke-dua kamu, Mas." berontakku melepaskan pelukan Mas Abyan.


"Lagi di kamar Falisha, Ay." ucap Mas Abyan di telingaku.


Gue berhenti.


"Maksud Mamas, perempuan itu bersembunyi di kamar Falisha. Agar Oma dan yang lain nggak bisa bertemu dengannya." ucapku penuh emosi. "Lepas, Mas."


"Istri ke-dua Mamas lagi tidur sama istri ke-duanya." jawaban Mas Abyan membuat gue bingung.


"Maksud Mamas?"


"Iya kami sama-sama pulang menemui istri simpanan." jawaban Mas Abyan semakin membuat gue pusing.


Oh gue baru peka. "Maksud Mamas, istri Mamas yang ke-dua itu, Pak Aziz."


"Kamu tau, Ay."


"Lepas, Mas." berontakku kembali.


"Kenapa sih, Ay? Mau menjauhi Mamas."


"Geli aku sama kamu, Mas. Diam-diam menyukai sesama jenis." candaku.


Mas Abyan semakin mengeratkan pelukan.


"Bercanda, Ay."


"Canda Mamas nggak lucu."


"Tapi, Ay. Mamas sering di katain Ayah gitu."


"Masa, Mas?"


"Hmmm! Soalnya di mana Mamas, di situlah Aziz."


"Berarti waktu di apartemen itu."


"Hmmm! Baru pindah sehari sebelum kita menikah." jelas Mas Abyan yang baru gue ketahui.


"Pak Aziz tidur di kamar aku ya, Mas?"


"Hmmm! Benar, Ay."

__ADS_1


"Tapi kok bersih banget, Mas. Biasanya kalau laki-laki yang mempunyai kamar. Pasti pasang berbagai poster, gambar, dan lain. Soalnya melihat keluargaku gitu, Mas."


"Nggak semuanya begitu, Ay. Buktinya Mamas nggak."


Gue melihat wajah Mas Abyan. "Iya yah, Mamas kenapa nggak?"


"Nggak suka! Mamas sukanya bersih, rapi, perpaduan cat yang membuat pikiran tenang, dan lampu kuning di campur putih." jelas Mas Abyan membuat gue terus belajar menjadi istri yang harus sesuai dengan keinginannya.


"Eh, Mamas bawa apa?" ingatku pada oleh-oleh Mas Abyan.


"Cilok."


"Ya ampun, Mas..." pekikku merasa kesal.


"Kenapa, Ay?"


"Aku nih serius."


"Bukannya kamu suka cilok."


"Emang cilok di negara mana yang Mamas beli?"


"Di depan rumah kita."


"Hahaha..." gila gue pagi-pagi di buat Mas Abyan gini.


"Hahaha..." Mas Abyan juga tertawa.


"Jauh banget, Mas."


"Itulah, Ay. Yang enak."


"Emang Mamas pernah makan? Kita aja baru pindah."


"Pernah! Waktu minta di beliin Pak Amin kemarin."


"Mamas pulang kemarin?"


"Iya, pulang sebentar. Ambil pakaian."


"Hmmm!"


"Ay, malam nanti acara nominasi ikut nggak?" tawar Mas Abyan.


"Emang boleh ikut ya, Mas?"


"Boleh kalau kamu mau. Semua yang punya saham di angkasa earld group wajib datang." jelas Mas Abyan.


"Tapikan aku nggak punya saham." jelasku.


"Oma ngasih tau, anak kita di beri saham di tambah nantinya melanjutkan Mamas."


"Tapikan anak kita! Ah, aku aja belum hamil. Mamas ngejek banget sih." kesal gue.


"Ayo kita buat." kode Mas Abyan.


"Nggak! Aku lapar. Lihat kita aja bangun kesiangan." melepaskan pelukan Mas Abyan.


"Mandi sebentar, Ay."


"Sambilan maksud Mamas."


"Bentar, Ay."


"Sebentar Mamas tuh, sampai malam nanti baru kelar." jelasku apa adanya. "Kalau mau tunggu aku habis makan, dan perutku terasa nyaman." jelasku.


"Janji ya, Ay."


"Nggak!"


"Kenapa gitu?"


"Ini di rumah Oma, Mas. Nggak enak aku lama-lama di kamar." jelasku.


"Mereka paham, Ay."


"Tetap, Mas. Aku yang nggak enak. Pulang dari acara aja, langsung kerumah. Terserah Mamas mau sampai kapan." jelasku.


"Ay, pulang dari acara Mamas nyelesain kerjaan."


"Iya udah, Mamas puasa sampai akhir tahun."


Gue langsung turun dari ranjang. Berlarian ke kamar mandi.


Mas Abyan paling cepat ngejar gue.


Ceklek!


Dup!


Udah pasrah kalau begini.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2