
"Ra kita duduk di meja yang sama. bersama Oma, Mika, Hanum, Ibu. Mas Abyan, Mas Aziz, Mas Darman, Mas Idris, Ayah, di meja khusus mereka." jelas Falisha saat kami masuk ke gedung untuk memulai acara. "Itu dia." Falisha menujuk meja bundar di lapisi kain putih.
Sudah ada Oma, Ibu, Hanum, dan Mika.
"Kita berdua aja nih yang terlambat?" gue mencari Mas Abyan.
Melihat semuanya pada menggunakan jas hitam untuk laki-laki dan perempuan memakai gaun.
Terlihat hanya gue yang menggunakan cadar.
Gue nggak mau, wajah yang berharga ini terekspos ke mana-mana.
"Maaf, kami telat." ucap Falisha pada Ibu, Hanum, Mika, dan Oma.
"Biasa aja, Mbak." ucap Hanum.
"Kamu pakai cadar, Ra?" tanya Oma.
"Iya, Oma. Aku malu di lihat orang." jelasku.
"Malu kenapa?" tanya Oma.
"Malu nanti wajahku dimana-mana. Nggak bisa jalan bebas." ucapku penuh arti.
"Oh." Oma tersenyum mengerti maksudku.
"Ay..." Mas Abyan di belakang dan memegang bahuku.
"Lepas, Mas." gue melepaskan pegangan Mas Abyan.
Mas Abyan berdiri di sampingku. "Kursi Mamas, dimana?" tanyanya.
"Mamas duduk sama Ayah di sana." tunjuk Falisha tak jauh dari kami.
"Masa di pisah?" Mas Abyan nggak setuju.
"Disini bagian para perempuan, bagian lelaki di sana." jelas Hanum.
Mas Abyan terdengar membuang nafas kasar. "Mamas kesana dulu, Ay. Jangan rindu." mengelus kepalaku.
"Apaan sih, Mas?" maluku yang melihat Oma, Ibu, Mika, Falisha, Hanum tersenyum-senyum.
"Mbak kenapa baru sore keluar kamar?" tanya Falisha mulai kepo. "Biasanya udah shalat subuh, keluar masak."
"Eh, Mbak! Elu keluar aja sore, berbeda beberapa menit." ucap Hanum pada Falisha. "Kasihan tau, Bi Tuti harus nganterin makanan ke kamar kalian."
"Ya biarkan, Num. Lagi musim produksi." bela Oma dengan tersenyum.
"Iya nih, seperti nggak pernah aja." balas Falisha.
"Iya nggak juga malam sampai sore juga kali." ucap Hanum nggak mau kalah.
"Eh elu tau dari mana, kami lakuin dari malam? Pulang aja sekitar jam 2, sampai rumah." jelas Falisha.
"Berarti dari subuh." duga Hanum.
"Nggaklah! Kalau elu mau tau, dari pagi bangun tidur." jelas Falisha. " Elu, Mbak. Dari kapan?" tanya Falisha pada gue.
"Dari kemarin." jawabku yang kesal seperti tidak ada pertanyaan lain. Bikin malu aja.
__ADS_1
"Pulang aja jam 2. Malu ya, mau ngaku." canda Falisha.
"Jujur aja, Mbak." sambung Hanum ke gue.
"Malu, Mbak Zahra." sambung Falisha lagi.
"Iya-iya malu, bukan seperti elu, Mbak." ucap Hanum pada Falisha.
"Emang elu nggak?" tak kalah Falisha.
"Iya gue, jujur aja. Malam sampai subuh. Lah kalian, sampai sore." balas Hanum semakin menjahili Falisha dan gue.
"Eh, Num. Mas Darman setiap hari pulang. Lah gue sama Mbak Zahra, untung aja sebulan sekali pulang. Makanya sekali bertemu servis full." jawab Falisha semakin panas.
"Udah-udah jangan bertengkar." Ibu Sari menengahi. "Pembahasan kalian itu, di dengar tetangga." sambungnya lagi.
Membuat kami semua tersenyum.
"Mik, elu gimana?" Falisha kepo dengan Mika yang diam saja.
"Gue beginilah, mau gimana lagi." jawab Mika santai.
"Mas Idris pulangkan?"
"Pulang 2 kali sehari." jelas Mika.
"Enak lu." jelas Falisha. "Kita berdua harus banyak bersabar ya, Mbak." Falisha memegang lenganku.
"Begitulah! Elu tau nggak berita hebo." jelasku ingin bercandain mereka semua.
"Apa?" tanya Falisha.
"Semalam Mas Abyan mengakui sesuatu." jelasku.
"Tunggu! Benar nggak dugaan gue, Mbak. Mas Abyan ngaku pulang nemuin istri keduanya." jelas Falisha membuatku terkejut.
"Benar banget, Sha."
"Maksud kalian apa?" Oma terlihat penasaran.
"Ibu tau nggak masalah Mas Abyan dan Mas Aziz?" tanya Falisha.
Ibu tersenyum-senyum.
"Emang ada apa sih, Ri?" Oma memegang tangan Ibu Sari penasarannya.
"Itu, Ma. Mas Dameer menegur Abyan sama Aziz. Kalau bisa pulang menemuin istri mereka, kasihan Falisha dan Zahra selalu di nomor duakan. Sampai-sampai Mas Dameer bilang, kalau Abyan dan Aziz itu, pantas banget di bilang sepasang kekasih yang tidak pernah terpisahkan. Makanya Aziz dan Abyan bilang pulang menemui istri kedua mereka."
Kami semua mengulum senyum, takut di dengar orang.
"Memang wajar sih, ucapan Dameer, Ri. Mama aja melihat Abyan dan Aziz sibuk selalu. Setelah menikah semakin sibuk, sampai-sampai lupa honey moon. Rasanya tuh perusahaan di tutup aja." canda Oma.
"Kalau di tutup miskin kita, Oma." canda Hanum.
"Tutupnya sebentar." jawab Oma.
"Hmmm!" Hanum terlihat tidak bisa membantah.
Gue melihat keluarga Mas Abyan, benar-benar berbeda. Mereka terlihat kompak, sedangkan keluarga gue, banyak serba serbi permasalahan. Walau niat mereka baik sih.
__ADS_1
Jeng jeng jeng.
"Acara sudah dimulai." ucap Falisha. "Ra, sebentar lagi elu siap-siap. Setelah gue ke atas. Elu langsung lewat belakang ya. Terus berdiri di depan pintu masuk. Kalau gue udah memanggil dan buka pintu. Elu langsung masuk dan naik ke atas, oke!" jelas Falisha panjang lebar.
"Emang kalau gue nggak naik gimana, Sha?" malu gue.
"Tuh Ishana yang duduk di dekat para artis terkenal yang akan mewakili elu mengambil piala."
"Ah emang selalu begitu, ya?"
"Dulu, waktu elu nggak mau. Dia yang mengambilnya. Sebagai wakil, serta fans elu. Biar dia jantungan melihat elu yang hadir. Lagian di barisan belakang banyak yang menantikan elu." tunjuk Falisha di bagian belakang.
Gue melihat banyaknya muda-mudi berkumpul, membawa poster bertulis Zahra simalakama I love you dan lainnya.
Setelah melihat keadaan, gue juga ingin melihat reaksi Ishana saat yang dia idolakan selama ini, adalah gue.
"Oke deh, gue setuju."
"Sip!"
"Kita panggil Ibu Falisha dari perfilman Angkasa earld group. Sebagai wakil dari pemimpin perusahaan." ucap presenter artis terkenal di atas panggung.
Kamera menyoroti Falisha yang berdiri, dengan tepukan tangan memenuhi semua gedung.
Entah kenapa? Gue melihat Falisha malam ini begitu sempurna. Dirinya malam ini, bukan seperti sahabat gue yang terbilang suka jahil. Melihat meja Mas Abyan, Pak Aziz, Dokter Idris, Ayah Dameer, Mas Darman. Juga terlihat sempurna.
Jujur, gue merasa minder, dan nggak layak banget di sini.
Mata gue tertuju dengan Mas Abyan.
Mas Abyan juga melihat gue, dengan kedipan mata sebelah. Penglihatan gue langsung ke arah lain.
Duduk berjauhan masih aja Mas Abyan menggoda gue.
"Bu, Oma, Mika, Hanum. Aku kebelakang dulu. Entar Mik, elu videoin gue ya?" sempatnya gue meminta di dokumentasikan.
Gimana sih penampilan gue berjalan di karpet merah?
Duh jantung gue mau copot.
"Iya, Ra. Semangat." ucap Mika.
"Hmmm!" gue berdiri berjalan ke arah yang Falisha tunjukkan.
Sumpah ini pertama kali memperlihatkan jati diri gue. Semoga orang-orang di sana nggak kenal gue.
Gue berdiri diri di depan pintu, sedikit melihat layar telivisi di dinding. Agar tau, saat Falisha memanggil gue.
Bismillah semoga Mas Abyan nggak marah, jika dirinya marah terpaksa gue berhenti.
Gue akan menikmati hari ini dengan baik-baik, agar kedepannya Mas Abyan ngelarang gue.
Gue nggak akan menyesal.
Jeng jeng jeng.
"Kita sambut, penulis kita, Zahra Simalakama." teriak Falisha.
Pintu terbuka, semua orang dan kamera melihat ke arahku.
__ADS_1
Bersambung...