
POV Abyan
Beberapa hari ini entah kenapa tubuh gue kurang nyaman. Lebih anehnya saat diperiksa, semuanya baik-baik saja.
Tapi kenapa, kepala gue sering terasa sakit, apalagi mencium bau parfum, makanan yang menyengat.
Padahal setiap hari mulai makan, olahraga semuanya tidak pernah gue lewatin. Terjadwal dengan rapi, tapi kenapa ya?
Ah sudahlah, mungkin faktor gue kurang istirahat akhir-akhir ini.
Gue merevisi kembali berkas-berkas yang menumpuk di atas meja.
Ceklek!
Suara pintu memecahkan konsentrasi ku.
Dup!
Melihat Ayah, Idris, Darman, dan Aziz berwajah lesu, letih, lemas, duduk di kursi sofa berwarna hitam di hadapanku.
Gue kembali melihat lembaran kertas.
"Mas..." panggil Idris.
"Hmmm!" jawabku sambil melihat tulisan di kertas yang ku pegang.
"Mas, balas dendam ya sama kami semua?" ucap Ayah terdengar kesal.
Gue melihat Ayah, Idris, Darman dan Aziz sedang melihat ke arahku.
"Balas dendam, apa?" bingung dengan pertanyaan mereka.
"Mas, nggak lihat kami berempat dengan wajah kurang multivitamin?" ucap Idris semakin membuat gue bingung.
"Kalian sakit?" mungkin mereka sama seperti gue yang akhir-akhir ini kurang nyaman di tubuh.
"Sakit secara jasmani dan rohani." jelas Aziz.
"Tega banget, Mas. Dirimu." ucap Darman.
"Tega gimana maksudnya?" gue belum ngerti maksud mereka yang menudu gue melakukan hal lain. Apalagi sampai membuat mereka sakit.
"Mas 1 minggu istri-istri kami sudah pergi ke Bali." jelas Idris.
"Terus?" apa mereka ingin ke Bali juga.
"Mas, kami ini butuh charger, agar melakukan aktivitas dan pekerjaan lebih semangat." jelas Darman.
"Di bawah meja banyak stop kontak kalau mau charger." candaku.
"Aaah, Mas nggak lucu." jelas Idris. "Apa Mamas nggak mau gitu bertemu sama Zahra?" sambungnya lagi.
Jelas gue rindu, tapikan pekerjaan banyak banget. Melihat tumpukan berkas di atas meja. Di tambah gue mau pergi berlibur setelah akhir tahun. Ini semua harus selesai pada waktunya.
"Mas, ke Bali yuk?" ajak Ayah. "Ikut liburan."
"Ngg-"
"Bisa di tunda, Mas." jelas Aziz memotong pembicaraanku.
"Tapikan elu tau, Ziz. Klien kita minta pekerjaan ini, selesai sebelum akhir tahun." jelasku apa adanya.
__ADS_1
"Mas, mereka ngerti kok kalau Mamas yang menundanya. Lagian mereka juga akan lebih paham dengan kondisi Mamas yang habis menikah, belum sempatnya bulan madu." jelas Ayah.
"Tapikan setelah menikah, aku udah cuti, Yah." walau hanya dirumah saja.
"Oke, urusanmu selesai. Bagaimana dengan Aziz dan Idris?" jelas Ayah. "Mereka habis menikah, langsung kerja loh, Mas."
Benar sih, kenapa gue nggak kepikiran ya.
Ceklek!
Fadel masuk.
Dup!
"Sudah diskusinya?" ucap Fadel tersenyum-senyum.
"Mamas belum ngasih keputusan." jelas Darman.
Fadel ikut duduk, melihat ke arah gue. Mereka ramai-ramai ke sini demonstrasi ceritanya.
"Mas, ambillah cuti 1 minggu. Investor dan klien lainnya juga ngerti jika Mamas ambil cuti ke Bali." ucap Fadel.
"Lagian, Mas. Mereka tidak bisa berkutik kalau Mamas yang menentukan. Jangan terus terpacu untuk tepat waktu. Okelah selama ini kinerja kita selalu memuaskan, tapi mereka pasti ngertilah, Mas. Kalau pemimpinnya butuh liburan. Mereka aja bisa, kenapa Mamas nggak? Hanya satu minggu loh, Mas." jelas Ayah.
Sepertinya mereka berlima sedang merayu gue, untuk cuti.
Gue tersenyum-senyum.
"Nah, Mamas setuju." ucap Darman.
"Enggak!" langsungku berucap.
"Aaaaah..." mereka semua mengembuskan napas kasar.
Gue yang tadinya fokus ke lembaran kertas, kini langsung melihat Fadel. "Maksud elu, apa?"
"Mereka akan berpesta dengan mengundang artis laki-laki terkenal dari asal Korea. Satu persatu mendapatkan pasangan."
"Apa?" kami semua terkejut.
Fadel tersenyum-senyum. "Kalian sibuk di sini, istri kalian cuci mata. Akibat istri tidak di perhatikan." terlihat Fadel menakuti
Gue merasa panas.
"Ayolah, Mas. Mau kamu diam-diam istri kita cari yang lain." ucap Idris memanasi.
Gue yakin kalau Zahra nggak mungkin selingkuh. Tapi gue nggak bisa menebak kalau Zahar tertarik dengan yang lain saat gue tidak berada di dekatnya.
"Mas, jangan bikin kami semua berontak." ucap Darman.
Baiklah gue putuskan untuk libur dulu.
"Ziz, lakukan rapat 25 menit lagi. Kita ambil cuti." perintahku pada Aziz.
"Yes..." mereka semua merasa bahagia termasuk gue.
"Untukmu Darman, siapkan jet pribadi dan kebutuhan kita selama di Bali. Sisanya boleh keluar, kecuali Fadel. Ada yang ingin aku bicarakan."
"Ok! Siap."
Mereka semua pergi meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Ceklek!
Dup!
Kecuali Fadel yang masih tertinggal atas perintahku.
"Kenapa, Mas. Elu masih penasaran dengan Cherly?" tebak Fadel benar adanya.
Entah kenapa gue merasa ada yang mengganjal.
"Elu pasti ingin tau, kenapa gue bisa tau semuanya." sambung Fadel benar adanya.
Gue ingin masalah Cherly selesai sampai di sini.
"Jelaskan." perintahku tanpa basa-basi lagi.
"Awalnya gue itu, penasaran dengan kematian Cherly yang terbakar sampai tidak menemukan jasadnya. Setelah abu di kumpulkan, gue meminta seseorang untuk memeriksa abu tersebut. Apa ada gen dari tubuh Cherly? Ternyata hasil, Nol."
Apa?
"Kenapa elu nggak ngasih tau gue?" kesalku dengan sikap Fadel, yang termasuk mempermainkan situasi.
"Mas, gue butuh bukti sebelum ngasih tau elu." ucap Fadel benar adanya. "Masalahnya, jejak yang di tinggal Cherly dan Reyhan begitu sulit di tebak. Sepertinya mereka merencanakan secara detail."
"Maksud elu, selama ini Cherly mendekati gue, hanya permainan semata?" mungkin saja begitu.
"Gue nggak tau jelas, Mas. Tapi yang gue duga, Cherly secara paksa melakukan hal itu atas perintah Reyhan. Secara garis besar, Cherly telah mengandung anaknya Reyhan. Dan Anak inilah menjadi ancaman untuk Cherly." jelas Fadel.
Gue nggak peduli masalah itu.
"Terus, apalagi yang elu ketahui?"
"Yang gue ketahui sekarang. Cherly hanya mengejar diri lu lagi. Setelah luluh dan melepaskan Zahra. Reyhan masuk menghancurkan hubungan elu dan Cherly kembali. Itulah yang gue nilai sampai saat ini." Fadel melihat gue dengan tatapan datar. "Ingat, Mas! Jauhi Cherly, dirinya berbahaya. Gue dengar dari orang suruhan, Cherly merencanakan sesuatu pada elu untuk waktu dekat ini."
Gue hanya tersenyum. "Gue hanya bisa mengandalkan elu, untuk hal semacam itu. Secara urusan gue banyak, elu pasti tau itu."
"Oke! Gue lakukan, kalau bukan gue ngefans sama elu, Mas. Nggak mungkin gue senekat ini."
Ucapan Fadel membuat gue merinding.
"Gue harap, elu tidak menyukai sesama jenis, Del." lihatku pada kertas kembali.
"Hahaha.... Hahaha... Hanya sebatas fans, gue masih normal untuk hal semacam itu." belanya.
"Kapan elu, mau nikah?" gue mengalihkan ke pembahasan lainnya. "Secara usia elu sudah 31 tahun."
"Aku galau, Mas." mulainya Fadel bersedih.
"Apa yang elu galaukan?" gue melihat Fadel, dengan rasa penasaran.
"Mbak Zahra udah nikah?" ucap Fadel bikin gue panas.
"Lebih baik elu keluar dari ruangan." kesalku.
"Hahah... hahah... Raja hutan cemburu." Fadel berdiri berjalan ke arah pintu.
Ceklek!
Dup!
Itu anak, bikin gue panas aja.
__ADS_1
Bersambung...