Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 13 Masuk kerja


__ADS_3

"Terimakasih, Pak." ucapku pada Pak taksi yang di pesan Mas Abyan.


"Sama-sama Bu." balasnya.


Keluar dan menutup pintu, jalan masuk ke dalam rumah sakit. Mencuci tangan dengan terkejut saat memperhatikan jari manis telah melingkar cincin permata. Melepaskan cincin, perasaan gue nggak pernah masang ini benda.


Memperhatikan, ternyata di dalam cincin tertulis latin nama Mas Abyan, mungkin saat gue tidur. Soalnya capek banget, Mas Abyan ngapa-ngapain gue juga nggak ke bangun kali ya, tapi untungnya Mas Abyan nggak ngapa-ngapain gue. Lepas dululah nih cincin, gue simpan dulu di dalam saku pakaian, susah gue mau cuci tangan sebelum dan sesudahnya menemui pasien.


"Gimana kondisi elu? Kata Bu karu elu sakit?" tanya Mika yang sudah hadir duluan.


"Alhamdulillah, baik."


"Yakin, elu udah baikan?" tanyanya lagi.


"Udah, hanya aja masih sedikit lesu." jawabku sedikit berakting layaknya orang habis sakit.


"Lu masih kurang sehat gitu, Ra." Bu Hasya baru datang, mendengar pembicaraan kami.


"Pulang aja kalau masih sakit Bu." sambung temanku lagi bernama Fadel yang juga baru hadir.


Kami berlima yang masuk shift pagi, satunya lagi belum datang masuk telat.


"Nggak ah, gue mau kerja. Entar kalau lesu nyuruh lu aja." candaku pada Fadel karyawan baru.


Fadel baru masuk sekitar dua hari yang lalu saat libur. Gue melihat group chat bahwa ada penambahan karyawan, mungkin gara-gara ngelihat gue sama Mika terus yang di suruh lembur, jadi menambah karyawan.


"Siap Bu senior." jawab Fadel memberi hormat.


"Apaan si lu, gue hanya bercanda kali." meletakkan tas di dalam loker khusus perawat.


Bu karu datang. "Udah masuk Ra, nggak ambil cuti lagi?" menyapaku dengan wajah tersenyum.


"Masa izin cuti lagi Bu, udah libur tiga hari nggak enak sama karyawan lainnya." jawabku yang berada di sampingnya.


"Nggak apa-apa kali, Ra. Elukan sakit, bukan bolos hal lain." ucap Bu Hasya, meletakkan tasnya di dalam loker.


"Kamu juga kelihatannya masih capek Ra begadang," candanya. "Eh maksud Ibu lelah, lembur kemarin." ucap Bu karu.


"Ibu bisa aja." menjawab pertanyaan Bu karu, setelahnya melihat Bu Hasya. "Tapi Bu, kalau sakit di rumah nggak ada kerjaan, rasanya tambah sakit."


"Terserah di elu aja, kalau nggak enak jangan di paksain kami siap handle." ucap Bu Hasya.


"Iya Bu terimakasih atas tawaran anda."

__ADS_1


Oper pasien yuk, suara teman satunya lagi bernama Bu Ika yang bekerja shift malam.


"Oke." balas Mika langsung.


Kami berjalan keluar ruangan, membawa buku askep (asuhan keperawatan) pasien rawat inap dan buku-buku lainnya.


Ternyata selama gue cuti, banyak pasien baru di sini.


"Ra, entar ini pasien jam sembilan ke ruang operasi ya?" pesan Bu Ika.


"Iya Bu." melihat buku pasien yang di tangani Dokter Idris.


"Dokter Idris Bu ya?" memastikan biar jelas.


"Iya Ra, Dokter Idris mau operasi jam sembilan jam sepuluh dia mau operasi ke rumah sakit lain katanya."


"Iya Bu." paham gue dengan maksud Bu Ika.


Setelah tukar pasien, kami menggantikan seprai pasien satu persatu, sambil memeriksa isi botol infus apakah masih terisi atau ada yang sudah habis, dengan aliranya apakah ada yang macet atau tidak. Kalau soal mereka mandi sudah di lakukan pegawai yang masuk shift malam.


Seprai kotor di letakan di ruang laundry. Semua selesai kembali ke ruangan, mengisi askep yang belum tertulis untuk shift pagi.


Menyusun obat untuk di berikan pada pasien atas anjuran Dokter. Semua sudah selesai, gue duduk sebentar dengan tubuh yang masih berat. Capek gue berasa banget, jangan sampai benar-benar jatuh sakit.


Melihat kertas undangan di atas meja bertulis Abyan dan Zahra di tempel di dinding meja. Kapan undangan ada disini?


"Ini undangan gue buat kalian." ucapku bahagia pada teman yang sedang sibuk masing-masing sambil memegang kertas undangan membuka dan membacanya.


"Lu kalau berhalusinasi bilang ya?" ucap Bu Hasya. "Elu tau nggak itu siapa yang nikah?" tanyanya lagi.


"Guekan." jawabku jujur.


Bu karu yang keluar ruangan, sudah kembali dengan melihat gue tersenyum-senyum sambil menggelengkan kepala, berjalan masuk ke dalam ruangan.


"Lu kalau masih sakit, bilang ya? Itu yang nikah Pak Bos. Ijab kabulnya aja pas lu lembur. Gimana mau nikah sama elu? Pak Bos di mana lu di mana. Lagian juga ya, pilihan Pak Bos bukan yang seperti elu hanya perawat biasa. Setidaknya sederajat atau kondisi keluarganya sama. Lah elu tinggal aja pindah-pindah." jawab Bu Hasya apa adanya.


Tim di ruangan pada tau, kalau gue sering pindah-pindah tempat. Soalnya kalau lebaran dua kali dalam setahun, suka pindah tempat untuk bertamu. Seperti gue banyak rumah gitu. Benar sih, kata Bu Hasya seharusnya gitu, tapi tetaplah gue yang di nikahi mereka pun tak percaya.


"Kemarin tu, resepsinya pas lu lagi sakit." sambung Bu Ima yang baru datang. "Maaf ya gue datang terlambat, ngambil rapot anak gue." ucapnya berjalan masuk.


Angguk kami serempak menyatakan iya.


"Istrinya cantik banget, pakai cadar aja udah kelihatan auranya." sambung Bu Hasya.

__ADS_1


"Oh, gitu." puraku yang polos.


Makasih kalian udah bilang gue cantik.


Lihat ke arah Mika. "Elu nggak datang?" sibuknya mengatur resep Dokter.


"Guekan gantiin lu kerja, gimana sih? Elu juga yang kemarin gantiin gue." jawabnya sambil memegangi lebaran kertas.


"Makasih, sayangku." memeluk Mika.


"Hmmm!" jawabnya singkat.


"Gue doain lu sama Mika benaran nyebarin undangan." sambung Bu Ima.


"Ya juga, lu berdua udah dua puluh delapan sama dua puluh tujuh. Gesit dikit napa nyari calon. Kalian mau apa, jadi perawan tua?" sambung lagi Bu Hasya.


"Kan gue udah nikah sama Pak Bos." jawabku jujur yang tidak di percayai.


"Sepertinya elu keganggu deh habis sakit, cek deh ke dokter psikologi di ruang sebelah." jawab Bu Hasya kembali.


"Tega banget mah Ibu ngatain diriku ini gila huhuhu..." puraku menangis.


"Iya nih, kelamaan jomblo lu." sambung Mika.


"Elu juga, jangan ngatain gue."


"Tapi gue punya cowok, lah elu jomblo delapan tahun lamanya."


"Benaran Bu?" sambung Fadel terkejut.


"Lu baru disini, jangan ikut campur." jelasku.


"Habis Fadel penasaran Bu."


"Mau tau, menguping aja. tersungging gue."


"Tersinggung kali." jawab serentak mereka bertiga.


"Iya itu maksud gue." cengirku.


"Jadilah ngerumpinya, tuh udah jam setengah sembilan. Siap-siap Ra, pasien di bawa ke ruang operasi." mengingatkan Bu karu padaku.


"Astaghfirullah, Iya Bu." ucapku mencari askep pasien bernama Tuan Ari dengan langsung ke kamar pasien membawanya ke ruang operasi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2