Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 69 Salah menilai


__ADS_3

"Mas, maafkan aku ya?" saat kami berdua tidur di atas ranjang masing-masing, Oma Farra yang meminta di persiapkan, agar Mas Abyan tidak tidur satu ranjang bersamaku.


Di dalam ruangan ini hanya ada kami berdua, sedangkan yang lain sudah pulang ke rumah masing-masing.


"Sudah di maafkan, Ay." jawaban yang terus Mas Abyan ucap ‘kan.


"Jika pihak berwajib tidak datang, mungkin aku sudah-"


"Semuanya nggak terjadi, Ay." putus Mas Abyan.


Memiringkan tubuh, melihat Mas Abyan yang duduk memegang tablet. Seperti biasa, dirinya sibuk masih sempat mengerjakan hal lain.


"Jika terjadi-"


Mas Abyan melihatku. "Jangan berpikiran yang negatif." perintahnya.


"Ayo Mas jawab, jika terjadi, gimana?" penasaranku dengan jawaban Mas Abyan.


"Mamas nggak mau, Ay. Membayangkan sesuatu yang tidak penting. Jika terjadi Mamas bisa apa?" jelasnya.


Iya juga sih, tapi siapa sebenarnya yang sudah menyelamatkanku? Huuuf! Semoga, orang baik itu, di beri kemudahan dalam hidupnya, di lindungi oleh Tuhan.


"Mas, tau nggak?"


"Nggak tau, Ay." jawab Mas Abyan langsung.


"Dengarin dulu, Mas."


"Hmmm!" senyumnya melihat ke layar tablet.


"Mas tau nggak? Nia sempat cerita masalah mantanku yang bernama Doni." ingin gue bercerita.


"Hmmm, kenapa?"


"Aku termasuk wanita yang menjaga diri begitu ketat, Mas."


"Oh iya." Mas Abyan melihatku.


"Hmmm, pacaran aja hanya lewat handphone. Kalau bertemu terus jalan-jalan atau duduk berdua kalau bisa bermeter-meter." jelasku mengingat hal itu.


"Hmmm, wajar sih kamu di dekatin Mamas takut?" kembali melihat ke layar tablet.


"Mas, kalau lagi sibuk. Fokus aja dulu sama pekerjaan jangan dengarin aku. Entar salah loh."


Senyumnya melihatku. "Nggak, Ay. Santai aja." kembali melihat layar tablet.


Kami berdua seperti ini, terlihat seperti sahabat yang saling bertukar pikiran.


"Serius loh Mas, kalau salah, jangan aku yang di salahkan."

__ADS_1


"Iya sayang." senyumnya.


Hmmm, romantisnya.


"Ayo lanjutkan lagi ceritanya." Mas Abyan tertarik dengan ceritaku.


"Hmmm, Mbak Nia cerita katanya selama aku dan Bang Doni pacaran, ternyata dia menjadi wanita pemuas nafsu Bang Doni."


"Hmmm, kamu nggak di apa-apain ‘kan, Ay?" Mas Abyan terkejut melihatku.


"Kan aku udah bilang tadi, bahwa aku wanita penjagaan dirinya ketat, Mas."


"Berarti Mamas, yang pertama."


"Hmmm!" mengiyakan maksud Mas Abyan.


Senyumnya. "Hmmm, terus."


"Mas, sebelum melanjutkan ceritanya. Aku boleh minta pendapat Mamas nggak?"


"Iya boleh, Ay."


"Hmmm Mas, sebenarnya aku salah nggak sih, menilai keluargaku itu, selalu menentang keinginanku sampai-sampai menyetujuinya pernikahan kita karena Mamas orang kaya." jelasku jujur.


Mas Abyan meletakkan tablet di atas meja, dirinya turun dan berjalan mendekatiku. Tibanya naik ke atas ranjang yang gue tiduri. "Mas, entar ranjangnya rusak, atau ambles ke bawah." mencegah.


Mas Abyan masih naik, terpaksa gue bergeser dirinya tidur di sampingku. "Nggak akan ambles, ranjangnya kuat." tangan Mas Abyan memelukku.


"Hmmm, asal jangan bergerak terlalu berlebihan." jelasnya sambil membenarkan selang infus yang terpasang mengenai dirinya. "Ay, mungkin di posisimu mereka begitu, bisa saja di posisi lain mereka bukan seperti itu. Mereka menentang karena Mamas perhatikan keluargamu mau pun di keluarga orang lain mempunyai banyak masalah, mungkin mereka tidak mau kamu sampai menjalani hidup seperti mereka yang di bilang menyakitkan kedepannya." jelasnya seperti seorang kakak menasehati adiknya.


Hmmm, mungkin Mas Abyan benar. Apa gue menanyakan langsung pada Bi Rosida yang nggak suka gue dan Bang Doni bersama? Mungkin juga dari awal mereka sudah tau tabiat Bang Doni, tapi ngapain juga gue tanyain masa lalu yang sudah berlalu.


"Ay, jangan di pikirkan masalah itu. Sekarang kamu harus fokus sembuh dulu, maaf Mamas nggak bisa menjaga kamu dengan baik sampai-sampai kamu begini." merasa bersalah.


"Nggak Mas, kamu nggak salah. Semuanya sudah terjadi atas kehendak Tuhan. Hmmm kalau di pikir-pikir, kasihan Siska dan Nia Mas, mereka harus meregang nyawa." hati nuraniku tidak bisa marah, melihat musuh mati sia-sia begitu, sebelum bertobat.


"Mereka yang salah! Udah Mamas nggak mau membahas mereka, kita bahas Falisha dan Idris." jelasnya.


"Hmmm kenapa dengan mereka, Mas?"puraku terkejut.


"Mereka dalam jangka waktu dekat, akan menikah."


"Alhamdulillah, kapan Mas?" bahagianya gue mendapat kabar, walau Falisha dan Mika belum cerita.


"Hari minggu! Paginya Falisha, malamnya Idris."


"Secepat itu, Mas?"


"Hmmm, Oma yang mau. Biar capeknya sekalian."

__ADS_1


"Hmmm, gitu! Falisha nikah sama siapa, Mas?"


"Sama Aziz, awalnya Mamas kira bercanda saat Falisha dan Idris serentak ingin menikah secara tiba-tiba, aneh sih, apalagi Idris nikahnya sama sahabat kamu Mika."


"Apa?" puraku terkejut.


"Hmmm, jangan bilang Idris itu dari awal menyukai Mika deh, bukan kamu, Ay." pikir Mas Abyan membuat gue berpikiran sama ya? Tapi nggak mungkin juga, orang Dokter Idris sering bercandain gue ngajak nikah, sedangkan sama Mika kalau berbicara seperlunya, apalagi bahasnya hanya pasien aja, kalau bukan kejadian malam itu, mana mungkin mereka menikah.


"Hmmm, mungkin aja kali, Mas." puraku mengiyakan pendapat Mas Abyan. "Aku jadi pelampiasan gitu, padahal sebenarnya Dokter Idris nyindir Mika."


"Hmmm, bisa jadi gitu, Ay."


"Tapi Mas, soal Falisha yang mau menikah dengan Pak Aziz, apa mereka berpacaran selama ini?"


"Hmmm, dari penjelasannya kemarin waktu kamu masih belum sadar."


"Tunggu, Mas!" memotong pembicaraan Mas Abyan. "Aku nggak sadar berapa lama?" penasaran jadinya.


"Dua hari dua malam." jelasnya.


Ah gue seperti habis lembur aja, sampai nggak sadar selama itu. Gue kira hanya beberapa menit.


"Lama juga, Mas."


"Hmmm, akibat pukulan dan lainnya." jelas Mas Abyan.


"Hmmm, gitu!" untung gue masih selamat dan sadar. "Lanjut lagi Mas yang cerita Falisha tadi." penasaran sama mereka, soal masalah gue anggap aja angin lewat.


"Falisha bilang dirinya dengan Aziz sudah pacaran cukup lama, tapi mereka menyembunyikan status mereka karena takut Mamas dan lainnya menentang status mereka. Apalagi status Aziz termasuk bukan pilihan Oma, dan Aziz merasa rendah saat Falisha di suruh kencan buta terus menerus." jelas Mas Abyan membuat gue terharu dengan akting mereka untuk menyakini bahwa mereka menikah bukan hal lain, melainkan sama-sama saling mencintai. Semoga Pak Aziz membuka hatinya untuk Falisha, Dokter Adam dan Mika juga di berikan jalannya.


"Semoga mereka langgeng ya, Mas."


"Hmmm, kita juga." senyumnya.


"Mas jangan mancing." ucapku yang saat ini sedang tidak bisa di ganggu dulu, bergerak aja masih sakit.


"Mamas nggak mancing sayang, Mamas lagi tidur di sini sama kamu." candanya.


"Bukan itu, Mas maksud aku-"


"Apa? Pikiran kamu mesum ya?"


"Mamas sendiri ngajarin aku gitu." ngeyelku.


"Kapan Mamas ngajarin?" belanya.


"Mamas bilang kemarin nggak bisa menahannya." ingatku dengan ucapan Mas Abyan yang berbayang terus di otak gue, mengajak traveling kemana-mana.


"Hmmm, intinya tadi itu doa kita, bukan hal lain." jelasnya tidak mau membahas hal yang sensitif.

__ADS_1


"Hmmm, iya Mas. Aamiin."


Bersambung...


__ADS_2