Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 70 Langsung Nikah


__ADS_3

"Udah siap, Ay?" tanya Mas Abyan saat kami mau menghadiri acara lamaran Falisha dan Mika.


"Hmmm, udah Mas." sekarang gue udah sembuh, akibat pantauan Mas Abyan yang selalu mengecek kesehatanku setiap hari.


"Oh iya, Ay. Oma mau kita menginap di rumah, kamu mau nggak?"


"Hmmm, mau Mas. Bentar aku bawa pakaian dulu."


"Iya, Ay." senyumnya.


***


"Perkenalkan nama saya Warto Sunarto, saya datang kemari sebagai juru bicara dari pihak Bapak Samsudin dan Ibu Ernawati untuk menyampaikan niat baik kami, mempersunting adinda Falisha Anatasya dari Bapak Dameer Angkasa dan Ibu Sari Sayuti agar dapat menikah dengan Ananda kami Pratama Aziz Eramdin." ucap keluarga besar dari Pak Aziz. "Sekiranya apa jawaban dari Bapak dan Ibu atas niat kami ini?" sambungnya dengan sedikit gugup.


"Perkenalkan saya Abyan Angkasa Kakak dari adik saya Falisha, sebagai juru bicara di sini. Kami sebelumnya berterima kasih atas niat baik Bapak dan Ibu yang datang inginnya mempersunting adik saya Falisha. Kami semua telah sepakat menerima lamaran ini dengan sebagai mana mestinya." jawab Mas Abyan yang inginnya menyambut niat Pak Aziz untuk menikahi Falisha.


"Alhamdulillah." serentak keluarga besar Pak Aziz.


Menyaksikan lamaran ini, teringat dengan kondisiku yang di lamar tapi di tolak, saat Mas Abyan datang, langsung aja nikah.


"Selamat ya, Sha. Semoga elu bahagia." ucapku pelan di telinga Falisha, dengan memegang tanganya yang dingin terlihat gugup, takut apa yang dirinya inginkan tidak terjadi. Saat Mas Abyan menerima niat baik itu, Falisha tampak bernafas legah dan tersenyum-senyum.


"Iya, Ra."


"Soal mahar, mas kawin dan lainnya. Bagaimana Bapak dan Ibu?" tanya Pak Warto.


"Kami meminta cukup seperangkat alat shalat sebagai Mas kawin." jawab Mas Abyan.


"Maaf Pak Abyan, kami bukan mau menentang. Hanya takut jadi perbincangan dari pihak keluarga, saat bawaan kami hanya alat shalat." Pak Warto ada benarnya.


"Bukan begitu Pak Warto, kalau bisa nikah aja sekarang." solusi Oma Farra.


"Apa?" kami semua terkejut atas ucapan Oma.


"Lebih cepat lebih baik, soal lainnya nanti kita bahas." sambung Oma Farra lagi.


"Saya setuju." Falisha menyetujuinya langsung.


"Ih elu, kalem dikit napa?" ucapku berbisik.


"Lama, mending nikah aja langsung tinggal resepsi." balas Falisha. "Entar lama keburu gue berbadan dua." bisiknya.


"Tapikan bisa aja belum, itu berudu lewat aja."


"Kalau langsung mampir gimana?"


"Iya juga sih."


"Bagaimana, Bapak dan Ibu?" sambung Ibu Sari sepertinya menyetujui.


Pak Aziz hanya diam, dirinya terlihat datar saja, pasrah dengan keadaan.

__ADS_1


Mereka saling berbicara sebentar. "Tapi Bu, berkas dokumen, alat shalat, dan penghulunya belum ada?" Pak Warto kembali mempertanyakan hal tersebut, tidak mungkin menikah tanpa semua itu.


"Pak Aman suruh mereka masuk." perintah Oma Farra.


"Iya Bu." jawab Pak Aman yang duduk di dekat pintu.


Keluarga besar Pak Aziz merasa terkejut, sama seperti gue yang terkejut. Ini hari bukan mau lamaran langsung nikah aja. Sepertinya keluarga besar Mas Abyan suka banget memaksa orang untuk menikah mendadak begini, mainnya itu lo sat set tanpa perundingan, setuju lanjut ke intinya.


"Permisi." ucap Pak penghulu yang telah hadir.


"Oh silahkan duduk, Pak." Ayah Dameer bersuara.


Pak penghulu mengikut arahan. "Mari kita mulai."


"Ayo Nak Aziz, duduk di dekat Pak penghulu." Oma Farra mengarahkan.


"Ayo, Nak." sambung Ibu Ernawati.


"Hmmm, iya." jawab Pak Aziz perlahan berdiri duduk berhadapan dengan Pak penghulu.


"Untuk saksi silahkan duduk di samping saya, masing-masing dari pihak keluarga perempuan dua orang dan pihak laki-laki du orang." Pak penghulu memberi arahan, agar saat ijab kabul berjalan dengan semestinya.


"Ini Pak, peralatan shalatnya." Pak Aman kembali membawa alat shalat sebagai Mas kawin. "Uang untuk mengganti alat shalat ini, bisa Bapak serahkan ke Nona Falisha." jelas Pak Aman melihat Pak Aziz.


"Hmmm, iya Pak." jawab Pak Aziz mengerti.


"Baiklah kita mulai." ajak Pak penghulu setelah semuanya sudah hadir. Dirinya menjelaskan hukum-hukum dalam berumah tangga, dan lainnya.


"Malam pertama apanya, malam ke-dua kali. Elu tuh yang belum." ketus Falisha berbisik di telinga gue. "Atau jangan-jangan udah ya?"


"Belum!" ucapku jujur.


"Ah kalian berdua udah gila, butuh dorongan sepertinya." pikiran Falisha membuatku terkejut.


"Maksud elu apa?"


"Enggak, lupakan aja." putus Falisha, mungkin dirinya bercanda.


"Bismillahirrahmanirrahim." ucap Ayah Dameer, saat setelah berpegangan dengan tangan Pak Aziz. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Pratama Aziz Eramdin bin Samsudin dengan anak saya yang bernama Falisha Anatasya dengan maskawinnya berupa seperangkat alat shalat tunai.”


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Falisha Anatasya bin Dameer Angkasa dengan Mas kawin seperangkat alat shalat yang tersebut, tunai." jawab Pak Aziz.


"Sah, para saksi." tanya Pak penghulu.


"Sah..." serentak semuanya berucap.


Pak penghulu langsung membaca doa.


Teringat dengan video yang memperlihatkan Mas Abyan mengucapkan Ijab kabul, beginikah rasanya, jika gue berada di sampingnya saat itu dalam keadaan kami berdua saling mencintai. Benar rasa itu nggak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, rasanya melebihi apapun.


"Alhamdulillah semuanya telah berjalan dengan sakral, sekarang status ananda Aziz dan Adinda Falisha telah sah menjadi suami istri." ucap Pak penghulu.

__ADS_1


"Sha, udah nggak lajang lagi lu."


"Iya Ra, alhamdulillah." ucapnya merasa bahagia.


"Tinggal Mika nih, gue masih deg deg deg ‘kan."


"Gue sama Oma udah sepakat Mas Idris di langsungkan juga nikah malam ini."


"Gila keluarga elu maunya sat set aja."


"Lebih cepat lebih baik Zahra."


"Iya gue tau, tapi setidaknya jangan seperti gue."


"Eh beda."


"Apa yang beda?"


"Elu di nikahi Mas Abyan posisinya elu lagi kerja, sedangkan kami ada di tempat."


"Ah beda gue nggak hadir aja." ngeyelku.


"Terserah di elulah, yang penting gue dan Mika udah nikah. Nggak takut lagi mikirin jodoh sama berbadan dua." ucap Falisha tersenyum-senyum. "Kalau nggak dengan kejadian itu, kami berdua masih lajang." sindir Falisha.


"Elu kalau udah kebelet, ajak aja Pak Aziz ke kamar sekarang, jangan bikin gue gila akibat kelakuan elu dan Mika. Gue udah syok di nikahi Mamas elu di tambah kalian berdua, bentar lagi gue benaran gila, serius deh."


"Tapi elu masih virgin, bedanya."


"Entar juga nggak."


"Kapan?"


"Belum tau, nunggu Mas Abyan. Kalau gue langsung gitu, apa katanya, geli lagi ada Mamas sama gue. Entar dia bilang gini, agresif banget nih cewek, nggak jadilah jadi istri gue. Nah gitu."


Falisha mengeluarkan nafas kasar, terlihat kesal. "Elu lebih baik diam, ya. Entar gue kasih hadiah, yang gue janjikan kemarin ingat nggak?"


"Yang elu bilang nunggu gue dan Mas Abyan saling mencintai itu."


"Hmmm betul."


"Elu mau ngasih paket liburan bulan madu ya? Atau elu sengaja bikin drama seperti ini, agar kita bertiga bulan madu bersama." pikirku.


"Ah iya itu ide yang bagus Ra, kita bulan madu bersama seru juga, tapi beda tempat villanya."


"Kenapa beda?"


"Emang elu mau mendengar adegan hot."


"Ah gila lu ngelantur kemana-mana, udah ah fokus sama acara elu aja, geli gue pembahasan elu."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2