
Kerjaan selesai juga hari ini, lembur tiga hari tiga malam. Membuka pintu rumah, melihat suasana begitu sepi, sepertinya Mas Abyan telah pergi kerja.
Gue juga belum bertemu asisten rumah tangga yang bernama Bi Ning. Rumah ini terlihat bersih dan rapi, mungkin Bi Ning ke sini sewaktu Mas Abyan berangkat kerja, sedangkan ini juga sudah jam sepuluh siang.
Berjalan masuk ke dalam kamar, hari ini tidak begitu mengantuk malahan biasa-biasa saja. Gue, Fadel, dan Mika bergantian tidurnya. Pasien alhamdulillah sedikit, tidak dengan penanganan khusus. Mungkin besok mereka semua akan rawat jalan.
Menutup pintu tanpa di kunci, lagian Mas Abyan sepertinya tidak berada di rumah, dia juga selama gue di sini, nggak pernah masuk ke dalam kamar.
Meletakkan tas dan membuka pakaian di dalam kamar mandi. Menghidupkan keran mengisi bathub, tak begitu lama memasukkan sabun cukup banyak, berendam dan membersihkan tubuh dengan busa melimpah, hmmm! harumnya mencium bau sabun yang gue beli tadi di supermarket, katanya ini barang keluaran terbaru. Ternyata cukup harum dan sepertinya cocok untuk kulitku.
Berendam cukup lama, setelah itu membilas dengan air bersih, selesai memakai handuk yang di lilitkan di tubuh, keluar kamar mandi memakai pakaian tenktop berwarna putih dan celana pendek berwarna hitam. Lihat di kaca, gue seperti wanita panggilan hahaha...
Rambut di keringkan dengan hair dryer, menggoyangkan pelan. Dulu pakai handuk di lilitkan di kepala, di lanjutkan dengan kipas angin. Sekarang tinggal tekan tombol, gerak sedikit mengarah ke rambut beberapa menit kering.
Mengikat rambut yang panjangnya di atas bahu, dengan gaya kuncir kuda seperti biasa, mengambil handset besar di letakkan di dalam lemari meja hias, mendengarkan musik.
Kalau ini rumah gue, udah beli speaker besar untuk dengarin musik, biar dunia gue berwarna, mengungkapkan segala isi hati. Masalahnya ini di rumah Mas Abyan, belum dengarin musik, speakernya duluan di buang ke lubang hitam di luar planet sana.
Gue mau bergoyang dulu, anggaplah olahraga, sepertinya tubuh gue kaku nggak lentur seperti biasa. Menghilangkan stres di kepala, akibat menjalani hidup yang berubah total secara tiba-tiba, tanpa lampu merah, kuning, hijau.
Mengambil handphone, menyambungnya dengan kabel handset. Putar Lagu kangen band berjudul binti ayahnya, ini bukan andersen yang gaes. Mari bernyanyi bersama.
"Dengar kau yang aku sayang sayang, cinta ini bukan main-mainan, aku akan temui ayahmu untuk... Meminta restu...
Dalam perjalanan cintaku sayang, hanya engkau yang aku tuju... Akan ku jemput dengan halal, cintaku... Tidak mainan...
Ku terima nikahnya... Si dia binti ayahnya, berjanji tuk menjaganya, sampai ke surga...
Ku terima nikahnya... Si dia binti ayahnya dengan seperangkat alat sholat, insyaallah sah sah sah.
"Dalam perjalanan cintaku sayang, hanya kamu yang aku tuju, jemputlah aku dengan halal, cintaku tidak mainan..." ucapku sambil mengangkat ke-dua tangan bergoyang, menikmati lagu.
Mari goyang pelan, lenturkan sedikit pinggul kalian.
__ADS_1
"heiii sah, heiii sah, heiii sah." ucapku lagi.
"Ku terima nikahnya, semoga kita samawa, berjanji menjaga cinta, sampai ke surga..." ucapku bergoyang kanan dan kiri.
Ooh ku terima nikahnya, si dia binti ayahnya, berjanji tuk menjaganya, sampai ke surga... Ku terima nikahnya, si dia binti ayahnya, dengan seperangkat alat sholat, insyaallah sah...
Bergoyang kebelakang, dengan musik masih menyalah. Entah rasanya gue menabrak sesuatu di belakang, mungkin dinding, tapi kenapa seperti berbentuk?
Tanganku meraba di belakang seperti bokong, naik lagi ke atas, kenapa ada dada dan bahu yang sejajar? Mataku melebar, melepas handset di letakan di leher.
Melihat kebelakang, Mas Abyan. Sadarku dengan pakaian seksi, lari ke atas ranjang mengambil selimut, menutupin semua tubuh. Tinggal wajah gue yang terlihat. Sejak kapan Mas Abyan ada di sana? Berarti, dia melihat gue yang bergoyang dan berpakaian begini.
"Sudah bergoyangnya?" tanya Mas Abyan berjalan pelan ke arahku, dan berhenti di dekat tempat tidur.
Mas Abyan masih menggunakan pakaian kerja, dengan pakaian lengan panjang berwarna putih, di lipat batas siku. Dasi merah campur putih. Celana dasar berwarna hitam. Tangannya masuk ke dalam saku celana dasar.
"Mamas kenapa nggak ketuk pintu dulu sih?" omelku.
Senyumnya. "Mamas ketuk sampai beberapa kali, tapi kamu nggak jawab. Mamas kira tidur, tapi suara kamu bernyanyi. Mamas masuklah, mungkin kamu nggak dengar." jelasnya.
"Mamas punya mata, pasti melihat. Kenapa? Halal! Mamas bisa melihat semuanya, nggak berdosa." jelasnya mengerutkan alis.
Penglihatan gue ke Mas Abyan kurang nyaman.
Benar adanya nggak dosa, tapikan gue malu, siapa tau ada kudis, kurap, kutu air, kuman dan lainnya. Malulah gue.
Tatapannya aja biasa-biasa, tapi tu kuping Mas Abyan merah lagi, ngeri dengan pikirannya mungkin saja mesum.
Gimana tadi gue lengah? Bisa di perkaos gue, eh perkosa maksudnya, kalau suami gue normal si, untung setengah. Taulah pusing gue.
"Terus, Mamas ngapain ke kamar aku?" mengalihkan pembahasan lainnya.
Senyumnya kembali. "Kalau kamu nggak capek, mari kita jalan-jalan. Hari ini Mamas ada waktu." ajaknya.
"Oh... Iya udah aku siap-siap, Mamas keluar." usirku.
__ADS_1
Mas Abyan malah duduk di ranjang. "Kenapa? Halal." senyumnya melihatku.
Tunggulah di situ, selama Mamas nggak keluar, gue tetap di dalam selimut. Enak aja menang banyak Mas Abyan, tadi ngelihatin gue udah cukuplah.
"Ayolah, siap-siap sayang." mengedipkan ke-dua mata dengan tersenyum.
Mata gue menyipit, Mas Abyan sudah kehilangan kewarasannya deh.
Tiba-tiba Mas Abyan tertawa lepas lagi.
Sepertinya puas Mas Abyan bercandain gue, dalam keadaan yang kurang tepat.
Mas Abyan berdiri. "Mamas hanya bercanda, Mamas mau siap-siap dulu." masihnya tertawa.
Nggak kakak, enggak adik, sama aja. Suka banget bercanda yang kurang bermanfaat.
\*\*\*
"Kemana kita Mas?" tanyaku memasang sabuk pengaman, saat kami sudah di dalam mobil.
"Kemarin kamu 'kan yang ngajak Mamas. Mamas ikut aja. Kamu maunya kemana?" senyumnya yang selesai memasang sabuk, lanjutnya memegang setir, menghidupkan mesin berjalan keluar apartemen.
"Berhubung hari sudah mau jam makan, Mamas mau nggak kita makan dulu?" lihatku cuacanya juga panas.
"Boleh, makan di mana?" fokus Mas Abyan menyetir.
"Kita makan di restoran dekat sini aja." ajakku, kalau makan di rumah nasi padang, sepertinya Mas Abyan kurang suka.
Beberapa menit mencari, belum juga bertemu dengan restoran yang tepat.
"Ay, kita makan di mall mau nggak, enak di sana? Banyak menu makanan juga." ajaknya.
"Hmmm, iya Mas." mengikuti solusi dari Mas Abyan, lagian gue juga udah lama nggak ke mall jalan-jalan gitu.
Bersambung...
__ADS_1