
"Sekarang elu, ambil sendiri kuenya di luar sana." perintah Falisha.
"Kenapa nggak kalian aja? Gue'kan ulang tahun, masa di suruh ambil sendiri, tiup sendiri. Nggak kejutan gitu buat gue, seperti tahun kemarin." Mika terlihat sedikit kesal.
"Nggak ada." jawabku lantang.
"Ih kesal gue." jalan Mika menghentakkan kakinya seperti anak kecil sedang merajuk.
Ceklek!
"Sha, Ra!" panggil Mika yang di kejutkan dengan kedatangan Chef Angga, membawa kue ulang tahun berukuran sedang, tengah tersenyum manis, berlesung pipi sebelah kiri, gaya rambut classic fringe pakaian atasan putih berlengan panjang, di gulung setengah siku, celana dasar berwarna hitam.
Senyum Chef Angga memikat Mika, gue harap Mika melupakan masa lalu, sama seperti gue berharap melupakan masa lalu yang kelam. Bukan berarti masih mencintai, tapi rasa sakit hati ini yang belum bisa hilang.
"Selamat ulang tahun Mika." Chef Angga mengucap dengan malu.
Mika masih diam mematung melihat Chef Angga.
"Ayo Mik, tiup lilinnya jangan lu lihatin orangnya." ucap Falisha.
"Ah iya." meniup lilin dengan gaya lemah lembut, merasa malu, mungkin terpana dengan Chef Angga.
Falisha dan gue tersenyum-senyum, melihat Mika meniup lilin, yang telah sah berusia dua puluh delapan tahun.
Tepuk tangan kami sorakan. "Ini kuenya." Chef Angga menyerahkan.
Mika mengambil. "Terimakasih." senyumnya.
"Hmmm, entar habis shalat isya, ada kerjaan nggak?" tanya Chef Angga.
"Enggak ada Chef." pekikku.
Mika hanya tersenyum menggelengkan kepala, nyatanya enggak.
"Hmmm kalau gitu, kamu mau nggak makan sama aku di lantai paling atas?" ajaknya.
"Iya." jawab Falisha.
Mika melihat ke arah kami berdua, memberi kode dengan maksud dia aja yang jawab.
Melihat ke arah Chef Angga dengan tersenyum. "Iya nanti aku kesana." setujunya.
"Kalau begitu, aku permisi."
"Hmmm." Mika tersenyum-senyum.
Senyumnya Chef Angga pergi perlahan.
"Lu masuk, orang udah pergi juga." Falisha menarik Mika kembali ke dalam kamar, dirinya yang masih melamun melihat Chef Angga.
"Aaaaaa..." teriak Mika kegirangan. "Sumpah ganteng banget, siapa sih dia?" melihat kami dengan melompat-lompat.
"Lu tanya aja sendiri." jawabku yang bahagia campur bingung, melihat bestie sedikit aneh.
"Doa lu terkabulkan, dah letakin kuenya. Kita potong dulu, keburu jatuh ke bawah, gara-gara elu lagi kesurupan gitu." ucap Falisha kalau berbicara sama seperti Mas Abyan, suka benar.
"Gue lagi bahagia, bukan kesurupan." jawab Mika masih tersenyum-senyum sendiri.
"Tuhkan Ra, lu lihatkan."
__ADS_1
"Iya gue lihat."
***
Gue dan Falisha hanya berdua di kamar, duduk di balkon hotel melihat pemandangan dari atas sana, sedangkan Mika pergi dinner.
"Lu nggak teleponan apa sama Mamas?" tanya Falisha.
Handphoneku, setelah menelepon Mas Abyan sudah dari tadi di matikan. Gue mau fokus dengan acara Mika dan berkumpul bersama bestie, lagian gue juga sudah izin dengan Mas Abyan, soal foto buat ngirim ke dia, gue malas melakukannya terserah Mas Abyan mau berpikir apa tentang gue. Toh dirinya juga bisa diluar sana melakukan sesuatu di luar dugaan. Kenapa gue nggak bisa? Bisa juga kali.
"Enggak Sha, Mamas lagi sibuk juga." alasanku yang masih bungkam dengan kejadian tadi siang. "Oh ya gue baru ingat! Ra, Mas Abyan kenapa si tidurnya di apartemen dari semenjak lulus kuliah, nggak tidur di rumah aja?" ingatku dengan kejadian itu.
"Mamas berdebat dengan Oma masalah Mbak Cherly. Lu 'kan tau, Oma nggak suka sama almarhum Mbak Cherly. Mas Abyan masih tetap ingin bersamanya. Yah, gara-gara masalah itu, Mamas pindah. Dia pulang kerumah dan berbaikan sama Oma, setelah Mas Abyan keluar dari rumah sakit." jelasnya.
"Mamas lu, begitu mencintai pacarnya ya, Sha?" entah kenapa gue begitu sedih, jika Mas Abyan benar-benar terpaksa menikahiku.
"Itu dulu, sekarang sepertinya enggak, ada elu." ucap Falisha agar gue terlihat senang. "Eh benaran lu belum unboxin?" mulai Falisha berpikiran mesum, mengalihkan ke pembahasan yang lain.
"Lu pasti nggak menduga kalau gue ceritain ini."
"Apa?" penasaran mendekatiku.
"Gue sama Mamas, tidurnya beda kamar. Paham!" jelasku singkat.
"Benaran, lu?"
"Nggak percaya banget sih, lu."
"Kenapa bisa gitu?"
"Entah gue juga bingung, saat lu antarin gue ke apartemen, gue kirim pesan sama Mamas saat sudah di depan pintu. Terus gue masuk, Mas Abyan langsung aja tunjukin kamar gue dan kamar dia." ucapku sedikit sedih, entah rasa apa ini?
"Gue tanya, kita beda kamar ya Mas? Mas Abyan balik tanya, emang kamu mau kita sekamar? Iya gue ikut aja, pokoknya ada rasa yang gue rasain itu aneh, sepertinya benar Mas Abyan nggak punya rasa sama gue, dan mungkin sebaliknya gue juga enggak. Bisa jadi kami berdua masih tenggelam bersama dengan masa lalu yang menyakiti. Gue pilih aja kamar yang di tunjukin Mas Abyan." jelasku panjang.
"Tapi kenapa gue dengarin lu seperti patah hati, cinta di tolak dukun bertindak ya?"
"Lu suka ya bercanda, lagi menghayatin gini."
"Iya maaf, sayang! Terus, ke lanjutannya?"
"Gue sedih aja, nikah tanpa cinta di paksaan pula." seketika air mata gue membendung. "Saat ini Mamas hanya bisa mengancam gue, kalau misal gue nggak ikutin kemauannya." ucapku jujur, curhat pada Falisha yang seperti saudari kandung.
"Ancam, gimana?" Falisha mengelus bahuku, mungkin dirinya perihatin.
"Iya mungkin ngajak senam di ranjang." ucapku yang sedikit geli.
"Ya lanjut aja, takut banget sih lu dengan ancaman seperti itu."
"Gue nggak takut Sha! Tapi coba elu pikir, mahkota yang di jaga, lu kasih sama orang yang nggak lu cintai dan sebaliknya. Gue ingin memberikan pada orang yang tulus sama gue, sayang, cinta, ibaratnya memberikan segala-galanya yang gue mau. Gue haus akan hal itu Sha, balasannya gue memberi mahkota gue." air mata benar-benar mengalir deras. "Gue tau sebagai istri gue banyak dosa, tapi Mas Abyan hanya berani mengancam, jika kami berdua melakukannya, gue dan Mas Abyan akan bercerai Sha. Jika gue hamil, anak yang gue kandung di ambil, gue nggak akan dapat pekerjaan di manapun." jelasku memendam rasa yang nggak tau itu lebih menyakitkan. "Jika Mas Abyan meminta haknya, gue bisa apa Sha? Berarti Mas Abyan hanya ingin tubuh gue, bukan hal lain."
"Gue akan bilang ke Mamas." Falisha mulai emosi.
"Gue harap lu hanya bisa dengarin curhatan gue, tanpa ikut campur urusan gue dan Mas Abyan."
"Tapi Ra, gue ini sahabat lu serta adik ipar elu." Falisha tibanya ikut menangis.
"Tapi lu nggak berhak Sha ikut campur." jelasku lagi. "Kalau elu masih ikut campur, gue nggak mau anggap lu bestie lagi." ancamanku.
"Gue harus apa Ra, bantuin elu?"
__ADS_1
"Peluk gue aja." merentangkan ke-dua tangan, Falisha langsung memeluk. "Beri gue semangat, beri gue motivasi, udah itu aja." pintaku.
"Maaf Ra gue nggak bisa bantuin elu lebih dari itu." mengelus pundakku.
Melepaskan pelukan. "Nggak apa-apa, lu doain aja, gue dan Mas Abyan menemukan titik terangnya dalam hubungan kami." menghapus air mata yang tadinya mengalir deras dengan hati gue legah setelah mengungkapkan isi hati.
"Kemarin gue bertemu, dengan Abang Doni, Sha." sambungku.
"Mantan lu yang gila itu?" Falisha terlihat kesal.
"Nggak sengaja kemarin jalan-jalan sama Mamas ke Mall. Gue bertemu istrinya yang nggak sengaja gue tabrak, dengan boneka besar Mamas beli."
"Sebentar! Mamas beliin lu boneka?"
"Iya kalah main mesin jepit sampai setengah jam nggak juga dapat, Mas Abyan beliin gue boneka, setengah tubuh gue."
"Ih aneh, lu berdua. Masa pubertas terlewatkan."
Menepuk bahu Falisha. "Elu suka benar kalau bicara."
"Hahaha... Terus tu cewek gimana?"
"Iya awalnya baik banget Sha, wadah makanan yang di pesan jatuh oleh gue tabrak, dia biasa-biasa aja. Tiba Abang Doni datang dan saling sapa, tu istrinya berubah jadi kucing garong. Dia bilang gue ninggalin Abang Doni demi keluarga."
"Dia bilang gitu?"
"Iya Sha, terus dia bilang untung ada dia, Abang Doni bisa nikah, terus-"
"Tunggu! Jangan bilang mantan lu selingkuh Ra?" pembicaraan gue di potong.
"Kenapa gue nggak kepikiran dia bisa selingkuh?"
"Benar-benar gila tuh laki, terus?" Falisha semakin penasaran.
"Gue ambil boneka, ingin pergi aja. Eh dia tarik hijab gue. Si cewek itu langsung menampar kuat."
"Itu yang viral kemarin elu?"
"Iya, tapi netizen bukan bahas gue, lu tau 'kan siapa?"
"Tau gue! Tapi gila banget tu cewek, gue panas ni Ra. Kita temuin dia sekarang." Falisha mulai emosi sambil berdiri.
"Udah biarin ajalah, dia juga udah minta maaf."
"Kalau dia gangguin lu lagi gimana?"
"Gue langsung hubungin elu."
"Awas ya! Jangan enggak."
"Siap Bu general manager." senyumku.
"Mamas diam aja gitu lu di pukul?" duduknya kembali.
"Mamas kelihatan marah, Sha. Dia sepertinya yang membuat tu cewek minta maaf."
"Syukurlah, ada rasa manusiawi juga Mamas gue."
"Eh elu, kalau bicara benar terus hahaha..."
__ADS_1
Bersambung...