Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 24 Salah paham


__ADS_3

Penglihatanku hanya ke lantai, takut pada tatapan Mas Abyan yang duduk berhadapan denganku. Meremas masing-masing ke-dua tangan di pangkal pahanya.


Sedangkan Dokter Idris melihatku dan Mas Abyan secara bergiliran, penuh tanda tanya. Wajan gosong yang di letakkan Mas Abyan di atas meja di depan kami bertiga.


Mereka berdua sadar setengah jam yang lalu, awalnya Mas Abyan memegangin kepalanya, mungkin baru terasa sakit, kemudian di lanjutkan dengan Dokter Idris yang sama di lakukan seperti Mas Abyan.


Mereka berdua bangun, mungkin telah mengingat sesuatu.


Dari situ mereka duduk, saling melihat satu sama lain, kemudian ke arahku. Mas Abyan melihat wajan gosong di lantai, lupaku pada wajan itu. Seharusnya dengan cepat membersihkan. Menghilangkan jejak kesalahanku, bisa saja beralasan hal yang lain. Kenapa mereka pingsan? Tapi gue nggak tau, apa alasannya?


Memang menunggu mereka sampai sadar dan bertanggung jawab, memukul orang tanpa izin.


Di sisi lain itu juga salah mereka, masuk tanpa mengucapkan salam, dan tanpa kabar kalau Mas Abyan akan pulang hari ini.


"Maaf Mas." ucapku memecahkan keheningan, sudah sekitar lima belas menit di perhatikan. Rasanya kalau bisa, menghilang dulu dari penglihatan mereka, selesai melihat gue balik lagi, hantu dong gue.


"Sayang." panggil Mas Abyan.


"Apa, Sayang?" tanya Dokter Idris memotong pembicaraan Mas Abyan.


"Diam, Idris! Aku masih berbicara dengan Zahra. Setelah ini baru kamu." bentak Mas Abyan, nada dingin berhasil membuatku takut. Ini yang di sebut Falisha kemarin, baru di rasakan.


Hawa ruangan ini pun, berubah sangat dingin. Oksigennya saja hampir habis, sampai-sampai susah untuk bernafas.


Dokter Idris terlihat diam, menuruti ucapan Mas Abyan.


"Ay, kenapa bisa seperti ini?" lanjutnya lagi bertanya padaku, matanya menunjuk ke arah wajan gosong. "Selama beberapa tahun, tidak pernah berubah seperti ini." ucapnya dingin.


Salivaku susah untuk di telan mendengar ucapan Mas Abyan.


"Ma-maaf Mas." ucapku gagap. Tak mampu berbicara, semua rasanya tercekat di tenggorokan.


"Sudah Mamas maafkan! Sekarang, jelaskan Ay?" tanyanya lagi.


"Itu-itu, Mas. Tadi aku nggak sengaja masak, lupa dengan masakan, gara-gara ngelihatin film di televisi." ucapku dengan alis yang tidak beraturan, rasa takutku dengan aura Mas Abyan.


"Terus?" tanyanya lagi.


"Te-terus, aku mencium ba-bau sangit, setelah ingat wajannya gosong." jelasku gugup.


Mas Abyan menghembuskan nafas kasar, terdengar jelas.


"Ay, belum satu hari Mamas ninggalin kamu, kalau lewat bagaimana? Mamas nggak perduli, jika Apartemen ini terbakar hangus. Asal kamu selamat, Ay." ucapnya penuh ke khawatiran.


Mendengar ucapan Mas Abyan rasanya tenang. Mas Abyan marah bukan hal lain, melainkan khawatir.


"Mulai besok, Mamas suruh Bi Ning yang masak buat kita." solusinya.


"Jangan Mas!" cegahku.


Baru merasa kemerdekaan, masa sekarang harus di jajah lagi.


"Ay, jangan membuat Mamas kepikiran."


"Mas sekali ini aja. Aku janji nggak akan melakukannya lagi. Aku akan fokus." berusaha merayu Mas Abyan.


"Nggak, Ay. Jangan buat Mamas cemas." bersikeras Mas Abyan.


"Mohon Mas, satu kali ini aja." juangku mendapatkan kemerdekaan seribu sembilan ratus empat puluh lima.


Mas Abyan lagi-lagi membuang nafas kasar. "Baiklah, satu kali lagi, kalau terjadi. Ingat! Mamas nggak akan memberi lain kali." mengalah dengan catatan.


Menganggukkan kepala. "Terimakasih, Mas."

__ADS_1


"Kalian berdua sudah berdebatnya?" tanya Dokter Idris.


"Iya ada apa, Dris?" tanya Mas Abyan santai kembali.


"Apa maksud Mamas, memanggil Zahra, Sayang? Kenapa juga Zahra bisa di apartemen Mamas?"


Mengerutkan kening. Kenapa Dokter Idris memanggil Mas Abyan dengan panggilan Mamas? Jangan-jangan satu keluarga lagi.


"Oh kenalkan dia Zahra istriku." Mas Abyan melihat ke arahku. "Ay Ini, Idris. Sepupu Mamas dari sebelah Ayah Dameer." jelasnya memperkenalkan kami berdua.


Benar dugaanku, mereka berdua satu keluarga.


"Apa?" teriak Dokter Idris.


Kami berdua terkejut atas teriakan Dokter Idris.


Kenapa tingkah Dokter Idris seperti Mika? Kalau terkejut ngajak satu kampung ikut terkejut juga.


"Bagaimana Mamas bisa nikah sama Zahra?" terdengar Dokter Idris penuh dengan tanda tanya. "Pasti Mamas memaksa Zahra." duganya.


Iya memang benar, Dok. Saya di nikah secara paksa inginku berkata begitu.


"Kami saling jatuh cinta. Kenapa harus di paksakan?" jelas Mas Abyan membuatku terkejut


"Cinta?" Dokter Idris terlihat masih tidak percaya, sama sepertiku tidak percaya dengan ucapan Mas Abyan.


Mas Abyan sepertinya harus kembali ke rumah sakit jiwa deh.


"Mas, aku yang sering curhat sama Mamas." melihat ke arahku seperti tidak sanggup berkata lagi.


"Ingin kamu tendang bolanya, sampai mencetak gol, walau sudah ada kipernya." jawab Mas Abyan membuatku terkejut lagi.


Jangan bilang Dokter Idris, berniat memperkosaku.


Dirinya menggaruk kepala, seperti banyak kutu dan ketombe.


"Maksudnya kamu mau merebut gawang, walaupun ada penjaganya."


"Nah, iya betul Mas, tapi melihat kipernya seperti Mamas." hembusan nafasnya terdengar kasar.


"Kenapa susah?" jawab Mas Abyan tepat sasaran.


Kalau gue mah, bahagia-bahagia aja jadi bahan rebutan laki-laki ganteng.


"Mas, kenapa mengambil punya Idris?" tanyanya jujur.


Memang Dokter Idris nggak pernah mengungkapkan perasaannya. Tapi Dokter Idris selalu membuat orang berpikir menyukaiku. Pernah Dokter Idris bertanya. "Will you marry me? (Maukah kamu menikah denganku?)." ucapnya yang terang-terangan sambil bercanda di depan teman-teman kerja di rumah sakit, dengan tegas gue menjawab tidak, sambil bercanda juga.


"Punya kamu? Memang kamu berpacaran atau menikah dengan Zahra?" tanya Mas Abyan santai. "Lagian kamu nggak pernah cerita, kalau wanita itu Zahra." Mas Abyan kalau menjawab pertanyaan suka benar deh.


Kalian berdua kalau merebut gue, jangan di sini juga kali, lihatlah nih jantung nggak karuan.


Dokter Idris terdiam, kelihatan bingung.


"Mas, aku salah. Seharusnya aku langsung menikahin Zahra duluan." jawabnya.


"Coba tanya sama Zahra, mau nggak sama kamu?" tantang Mas Abyan. "Yang sudah bekasku." lanjutnya dengan penekanan.


Bekas enak aja, masih bersegel kali.


"Aku nggak masalah seberapa kali, Mamas tidur dengan Zahra." melihat ke arahku. "Aku tunggu jandamu."


Gue rasanya ingin menjerit, dirimu Dokter Idris dengan tegasnya menunggu jandaku.

__ADS_1


Pikiran jahat mulai menggila, kita coba tes dua mahluk ini. "Dok, coba anda tanya sama Mas Abyan. Kira-kira dia mau nggak menceraikan aku?"


"Ay..." pekik Mas Abyan. "Kamu janji sama Mamas nggak bicara begitu." Mas Abyan mengingati.


Senyumku. "Tadi Mamas tanya ke Dokter Idris, mau nggak bekasku? Berarti Mamas mau menceraikan aku. Di mana letak kesalahannya?" ku putar balik ucapan Mas Abyan.


"Nahkan, Mamas mau nggak cerai sama Zahra?" tanya Dokter Idris.


Bagus Pak Dokter, anda memang pintar.


"Apa kalian saling mencintai?" tanya Mas Abyan dingin.


"Mamaskan tau kalau aku mencintai Zahra." terang-terangan mengungkapkan perasaannya padaku.


Akhirnya Pak Dokter menyatakan perasaannya juga.


"Kamu Zahra?" tanya Mas Abyan terlihat marah.


"Aku..." gugup menolak Dokter Idris, bahwa benar-benar tidak mencintainya. Pasti sakit hati, kasihan Dokter Idris.


"Jawab jujur." nada dingin Mas Abyan, mengerikan.


"Aku mencinta kamu, Mas." melihat ke lantai.


Aaaaa...


Masa menyatakan perasaan pada Mas Abyan terang-terangan.


"Dengarkan Idris." ucap Mas Abyan.


Melihat perlahan ke arah Mas Abyan, kupingnya memerah lagi.


Sepertinya Mas Abyan, salah paham.


"Aku tau itu tapi yang jelas, jika Mamas menceraikan dan menyakiti Zahra. Aku yang akan menghajarmu dan mengambil Zahra darimu, Mas." Dokter Idris berdiri. "Aku permisi." jalannya ke arah pintu.


"Dok." memanggil Dokter Idris, merasa kurang nyaman menolaknya secara terang-terangan.


"Iya Ra." ucapnya merdu.


"Maaf." hanya itu yang bisa ku ucapkan.


"Nggak apa-apa, yang penting kamu bahagia dengan Mas Abyan. Aku pamit dulu."


"Dok..." inginnya pergi ku tahan lagi, ingat pada kepala Dokter Idris.


Dokter Idris kembali melihatku. "Ada apa, Ra?" air matanya terlihat membendung.


"Kepala Dokter nggak apa-apa? Maaf tadi."


"Nggak apa-apa, ini nggak sakit. Aku pergi dulu." Dokter Idris pergi meninggalkan kami berdua.


Maaf Dok, telah menyakitimu.


Melihat Mas Abyan. "Mas." Ingin menjelaskan kesalah pahaman tadi.


"Aku juga mencintaimu." jawab Mas Abyan langsung.


Menarik nafas, salah pahamnya. Tunggu! "Apa, Mas?"


"Aku mencintaimu, Zahra." ucapnya lagi.


Aaaaa...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2