Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 44 Undangan


__ADS_3

Ding!


Bel pintu berbunyi nyaring. Mas Abyan berhenti, suara itu hilang, kembali Mas Abyan melanjutkan ciuman. Tangan Mas Abyan memelukku dengan erat, ke-dua tangan gue berada di dada bidang Mas Abyan mengikutin permainannya.


Ding!


Bel pintu berbunyi kembali, Mas Abyan melepaskan ciuman. Melihatku dengan datar, kembali ingin mencium.


Tok tok tok.


Suara pintu, begitu nyaring.


"Mas..." menahan bibir Mas Abyan dengan telapak tangan. "Ada tamu." ucapku malu.


Senyum Mas Abyan, menganggukkan kepala pelan. Berdiri berjalan mengarah ke pintu masuk.


Huuuf!


Jantung sepertinya lagi ngadain acara tumpengan di sana, merayakan hari ciuman pertama gue.


Manis! Gue akuin itu, gini rasanya ciuman.


"Abyan, dari mana aja kamu baru buka pintu?" teriak seorang wanita.


Penglihatanku langsung ke sumber suara Oma, Ibu, terkejutku. Ini pertama kali mereka datang ke apartemen selama gue berada di sini.


"Itu tadi-" salah tingkah Mas Abyan seperti menggaruk leher yang tak gatal, mencari jawaban.


"Mama mungkin kita yang ganggu." ucap Ibu Sari memegang bahu Oma Farra.


Wajah Oma terlihat kesal, langsungnya masuk. Melihatku yang masih duduk. "Kalian berdua dari tadi disini, nggak mendengar suara handphone kalian berbunyi, bel berbunyi, lalu suara ketukan baru di dengar." Oma Farra terlihat kesal.


Berdiri menghampirin Oma. "Itu Oma, tadi aku lagi ke kamar mandi." alasanku yang kurang tepat menahan malu, kalau gue di kamar mandi, kenapa gue duduk di kursi.


Aduh!


"Kamu Abyan, kemana?" Oma melihat ke arah Mas Abyan menyelidiki.


"Itu aku duduk Oma, handphoneku-" Mas Abyan melihat meja.


Melihat handphone Mas Abyan di atas meja, hanya memejamkan mata, angkat tangan gue.


"Hahaha..." tawa Oma, sedangkan Ibu Sari menahan tawa dengan tanganya menempel di mulut.


Gue dan Mas Abyan terlihat seperti kepiting rebus, begini rasanya malu semalu malunya.


"Iya udah, kami datang di waktu yang kurang tepat sepertinya." ucap Ibu Sari berjalan ingin keluar, Oma mengikuti.


"Oma, Ibu." langsung memanggil. "Kami nggak ada apa-apa Oma, Ibu." berjalan cepat ke hadapan mereka. "Oma sama Ibu pasti capek, duduk dulu." ucapku yang bingung harus berbuat apa?


"Hmmm, baiklah." ucap Oma Farra terlihat masih kesal, kembali berjalan ke dalam rumah, langsungnya duduk di kursi sofa, di ikutin Ibu Sari dan Mas Abyan.


"Sebentar Oma, Ibu aku ke dapur dulu." jalan cepat menyiapkan minuman.

__ADS_1


Mengambil gula ingin membuat teh hangat, biasanya kalau ada tamu dulu buatan gue hanya itu, tangan Mas Abyan langsung memegang tanganku. "Ibu sama Oma meminta air putih aja, Ay." ucapnya lembut di telinga.


"Oh iya Mas." melepaskan pegangan Mas Abyan, langsung menyiapkan cangkir dan wadah berisi air putih.


Entah kenapa jantung gue hebo gini, satu sisi teringat dengan ciuman maut, satunya lagi malaikat mautnya ngajak berantem.


"Santai aja Ay, jangan gugup." ambilnya wadah berisi cangkir dan air minum yang sudah gue siapin.


"Iya Mas." berusaha santai, berjalan mengikuti Mas Abyan berjalan menemuin Oma dan Ibu duduk di kursi sofa.


"Ada apa kalian kesini?" tanya Mas Abyan mulai serius setelah kami berdua duduk di hadapan Oma dan Ibu.


"Besok ‘kan ulang tahun Oma, kalian datang ya." jawab Ibu Sari.


"Oma 'kan bisa bicara lewat handphone, nggak harus ke rumah." balas Mas Abyan terlihat kesal.


"Besok kira-kira jam berapa Oma?" soalnya besok gue kerja masuk pagi.


"Gini Ibu jawab satu persatu, Oma mau minta maaf soal kemarin." ucap Ibu Sari.


"Iya nggak apa-apa Oma." jawabku langsung, tolonglah gue mohon jangan membangunkan singa sedang tidur.


"Maksudnya, apa?" ucap Mas Abyan dingin.


"Itu, Mas. Kemarin aku nggak sengaja menumpahkan jus ke pakaian Oma, tanganku licin megang cangkir. Oma nggak marah kok, hanya sedikit kesal pakaiannya basah." ucapku berbohong.


Oma dan Ibu Sari hanya diam, anggaplah gue ini jadi bawang putih di sini.


"Itu-" putusku bingung mau jawab apa?


"Oma bilang, Zahra nggak usah ikut ke acara penting, takut cerobohnya itu mengundang masalah." sambung Oma Farra.


"Iya Mas, benar apa kata Oma." ucapku langsung.


"Nggak bisa gitu Ay, setiap acara kamu harus ikut." jelas Mas Abyan.


"Maka dari itu Oma kesini, bicara langsung sama Zahra takut dia nggak mau datang." jelas Oma lagi.


Entah kenapa rasanya Oma, ingin meminta maaf sama gue, mungkin ucapannya yang pedas atau ancaman gue yang tidak akan melahirkan keturunan.


"Kamu datangkan Zahra, besok habis isya, sekalian menginap." ucap Ibu Sari.


Apa? Menginap! Berarti sekamar dengan Mas Abyan.


"Itu Ibu, besok pagi aku dinas pagi pulang sore. Maaf nggak bis-"


"Lagian kalau kita tidur di rumah Oma, apa kalian ma-"


"Libur dulu Abyan." putus Oma. "Kaliankan bisa puaskan malam ini, besok libur."


Oma bikin gue ke ingat dengan adegan panas tadi.


"Iya sudah kami tidur di sana, mungkin habis isya baru ke sana." putus Mas Abyan.

__ADS_1


"Kamu nggak perlu bantuin Ra, semua udah siap." ucap Ibu Sari membalas ucapanku yang di putus langsung.


"Iya Ibu, maaf ya." rasanya nggak nyaman, tinggal datang, makan.


"Nggak apa-apa. Iya sudah kalau itu keputusannya kalian, kita belanja keperluan Oma dulu. Kalian lanjutin aja pekerjaan kalian."


"Iya Bu." jawabku langsung, eh maksud Ibu apa? Lanjut ciuman gitu.


"Awas nggak datang!" Oma memberi peringatan padaku.


"Iya Oma pasti." balasku langsung, menyadarkan dari lamunan mesum.


Oma dan Ibu Sari berdiri, gue dan Mas Abyan mengantar sampai depan pintu.


"Hati-hati di jalan Oma, Ibu" ucapku tersenyum, bersalaman dengan mereka.


Mas Abyan mengikuti.


Melihat Oma sedikit tersenyum. Apa? Oma tadi senyum ke arah gue.


"Kami pulang dulu." ucap Ibu Sari.


"Hmmm, iya Oma, Ibu. Hati-hati di jalan." ucapku.


Mereka masuk ke dalam lift, melihat Mas Abyan ternyata sudah dari tadi masuk ke dalam apartemen.


"Kamu sudah makan belum, Ay?" Mas Abyan tersenyum seperti biasa-biasa saja saat gue menutup pintu.


"Siang ini belum Mas." kenapa gue sedikit canggung? Entah kenapa juga gue gugup? Apakah, ini episode akan berlanjut ganas?


"Iya sudah kamu ganti pakaian, sebentar lagi kita makan bersama, Mamas yang masak." jalannya santai ke arah dapur.


Gue masih diam di tempat, melihat Mas Abyan memakai celemek. Ini hanya sebatas ciuman aja, nggak berlanjut, terus Mamas berubah seperti biasa. Loh kok gue seperti aneh ya?


Tadi itu Mamas bukan sih yang cium gue, atau jin yang mirip Mas Abyan. Ah gue bermimpi kali ya? Cubit sedikit di tangan, aw sakit, benar nggak bermimpi gue.


"Ay..." panggil Mas Abyan memecahkan lamunanku.


"Iya Mas." Mendekatin Mas Abyan. "Ada apa?"


Senyum Mas Abyan. "Jangan di pikirkan ucapan Oma yang sering marah. Sekarang gantilah pakaian." perintah Mas Abyan yang berpikir gue memikirkan Oma.


"Ay..." panggil Mas Abyan lagi. "Masih melamun?" kedipnya mata memperhatikanku.


"Itu Mas, mau tanya. Kita di rumah Oma satu kamar?" Ingin tau pasti, bagaimana pendapat Mas Abyan.


"Iya sayang." senyumnya sambil mengiris bawang.


"Mamas nggak apa-apa ada aku?" memastikan lagi, takut Mas Abyan terbebani.


Senyumnya menyipitkan mata sebelah. "lihat aja nanti." ucapnya gantung penuh tanda tanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2