Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 26 Peran Antagonis


__ADS_3

"Ya ampun cucuku, kenapa dengan hidung kamu?" Oma Farra datang dengan syok melihat wajah Mas Abyan akibat kemarin terkena wajan gosong.


Lihat wajah Dokter Idris yang rupanya hadir, menghampiri kami. "Idris kenapa dengan wajah mu juga nak?" paniknya melihat ke-dua cucunya seperti habis berkelahi.


Memegangi kepala, serius nggak bernyawa gue sekarang, kalau Oma Farra mulai ngajak berperang. Belum Oma bicara rasanya gue mau angkat tangan mengibarkan bendera putih.


"Kalian berdua kenapa?" suara Oma Farra membuat semuanya melihat ke arah kami.


"Kalian berdua berkelahi ya?" tanya Oma lagi.


"Enggak Oma." jawab serentak Mas Abyan dan Dokter Idris.


"Lalu kenapa kalian bisa begini?" tanya Oma Farra, sedikit marah. "Nggak mungkin ‘kan kalian, jatuh atau terbentur bersama?" tanyanya lagi.


Keluarga berkumpul kembali melihat kami.


Mas Abyan dan Dokter Idris saling melirik satu sama lain.


"Itu Oma, kemarin aku-" Dokter Idris melihat Mas Abyan, bingungnya harus bercerita atau tidak.


"Begini Oma, aku dan Idris pulang bersama kemarin malam ke rumahku. Semua lampu tiba-tiba padam. Idris masuk tanpa tau Zahra ada di dalam."


"Terus?" Oma melirik sebentar ke arahku.


"Terus Zahra memukul kami berdua, pakai wajan di kira pencuri."


Keluarga besar langsung tertawa, tidak untuk Oma Farra.


Dugaan gue Oma Farra akan marah satu, dua, tiga.


"Zahra..." pekik Oma. "Dimana letak sopan santunmu? Bisa ya, kamu melukai ke-dua cucuku."


Mereka semua yang melihat tertawa langsung diam.


Nah benarkan, dugaan gue.


"Oma, itu bukan salah Zahra." Dokter Idris langsung membelaku.


Mas Abyan sepertinya kalah beberapa detik. "Oma, Zahra nggak salah, kami yang main masuk tanpa mengabari dan mengucap salam." Mas Abyan berkata sebelum Dokter Idris membuka suara lagi.


"Oma percaya sama kita deh." serentak mereka berdua ucapkan.


Oma Farra terdiam melihat kami bertiga dengan wajah yang marah. "Sekarang kamu saya hukum." marah Oma Farra, menunjukku.

__ADS_1


Mampus gue, Oma Farra mulai mengeluarkan tanduknya.


"Mama jangan seperti itu, kondisinya juga Abyan dan Idris yang salah." Ibu Sari membela.


"Saya nggak mau tau, Zahra harus di hukum. Masak semua daging di sana." tunjuk Oma ke arah pemagangan yang di barisan dekat dinding, Chef dan asisten rumah tangga hanya diam melihat reaksi Oma Farra yang sedang marah.


"Kami yang salah Oma! Kenapa Zahra yang di hukum." tanya Mas Abyan


"Maafkanlah Zahra Oma, ini salah kami berdua." sambung Dokter Idris.


"Oma, Mbak Zahra nggak salah. Jika itu posisinya di aku, aku juga akan berbuat demikian untuk melindungi diri." ucap Falisha.


"Iya nih Oma, aku juga sama seperti yang di lakukan Mbak Zahra, kalau bisa gue bunuh sekalian." ucap Hanum memanas.


Mas Abyan dan Dokter Idris melihat Hanum dengan melebarkan matanya.


"Kenapa kalian, gue benarkan?" tanya Hanum takut.


"Benar jeng, Zahra nggak salah." ucap Bu Arum.


"Diam..." pekik Oma Farra yang nafasnya naik turun. "Ini sudah keputusan saya, kalau kalian berani menentang, saham maupun jabatan kalian di tarik semua. Zahra akan di asingkan." putus Oma Farra.


"Ma, Oma." ucap serentak mereka semua.


"Udah cukup, sebaiknya Zahra ikuti apa maunya Oma, Ayah harap kamu bisa mengerti, Nak. Kalian semua harap tenang jangan emosi, tidak baik untuk kesehatan Oma Farra dirinya sangat menyayangi Abyan dan Idris, kalian harap bisa memakluminya." Ayah Dameer menengahi.


Mereka semua terdiam, sepertinya menurutin kemauan Oma Farra.


"Kalian duduk kembali. Sedangkan kamu Zahra, lakukan apa yang saya suruh." perintah Oma Farra.


"Iya Oma." jawabku langsung.


Gue nggak masalah memasak, ini mah kecil. Jangan aja ya kalian malah ketagihan, resep ala Chef Zahra. Gue yang bisa megang suntikan, pulpen, bisa juga megang nih spatula, orang di asah dari kecil sampai tajam oleh keluarga gue, awas aja kalian terluka.


Ceeees...


Mulai memanggang daging yang sudah gue racik sendiri bumbunya. Chef yang di bayar paruh waktu untuk acara malam ini, serta asisten rumah tangga hanya berbaris melihatku.


Mereka semua seperti melihat senior sedang mempraktekkan cara memasak dengan benar ya, jadi malu gue.


Ishana yang memang terlihat tidak menyukai gue, masih berdiri bersama Oma Farra di samping gue berjarak dua meter.


"Baru juga nikah, udah main KDRT. Kasihan ‘kan Mas Abyan dan Mas Idris Oma." sindirnya.

__ADS_1


"Makanya Oma hukum, tuh perempuan nggak tau diri." sambungnya.


"Oma si, kenapa setuju dengan perempuan ini?" Ishana sedang melirikku, dengan tatapan kesal.


"Abyan yang mau, Oma terpaksa menuruti kemauannya, cucu kesayangan Oma." jawabnya.


"Masih jelas, sama penulis bernama Zahra simalakama." ucap Ishana.


Yah itulah nama pena gue Zahra simalakama.


"Sama aja namanya, tapi beda jauh sama idolaku." ucapnya lantang Ishana.


Gue yang mendengar sedikit geli, untung nggak nyebarin indentitas. Gimana mau tau, tabiat peran antagonis belum antagonis lainnya. Baru dua peran antagonis yang muncul ke permukaan bumi. Bisa jadi suatu saat kalian tau, akan jantungan dan langsung stroke kali ya.


"Sayang ya, Oma dapat yang seperti ini Mas Abyan." terus Ishana menyindir.


"Yah, jika Zahra simalakama bertemu sama Oma, siap-siap aja tiruan mengalah." sindir juga Oma Farra.


Jangan lama-lama Oma, sekarang pun jadi kok kalian usir, dengan senang hati.


"Iya Oma, benar itu. Oma tau nggak? Dengar-dengar Kak Zahra simalakama, akan membuka store di Paris untuk para fansnya." ucap Ishana dengan begitu bangganya.


Gue yang hanya pura-pura tuli, mengulum tawa. Mata gue saja fokus ke masakan telinga mode aktif. Itu juga yang mereka inginkan, gue di suruh mendengar ucapan pedas mereka. Apa ya biar gue tuh merasa tersakiti atau sadar dirilah lebih tepatnya.


"Oh ya, kapan Ish?" tanya Oma menambahi, entah itu benaran ingin tau atau memanasi gue aja.


"Katanya hari minggu Oma, di Museum Louvre. Makanya besok aku mau ke Paris, siapa tau bisa pulang ngajak calon Mas Abyan. Dia bisa ya Oma, buka tempat untuk bertemu para fans, di sanakan terkenal bekas istana kerajaan Perancis yang sekarang menjadi salah satu museum terbesar di dunia dan sekaligus museum paling terkenal di Paris." seru Ishana bercerita.


Iya bawalah orang yang lu sebut tadi, mau lihat gue.


"Oma boleh ikut nggak?" ucap Oma Farra.


"Boleh dong Oma, siapa tau kalau Oma kesana, Kak Zahra langsung mau, lagian nggak mungkin jugakan Oma, dia mau menolak keluarga angkasa Earld Group. Di sanakan banyak saingan Oma, nggak seperti yang tiruan matre lihat orang kaya maulah, kampungan lagi."


Terserah kalian mau bicara apa? Kalau ada mix dan speaker ingin sekali gue bernyanyi sambalado lagu ayu ting ting. Terasa pedas terasa panas.


"Kamu emang benar, udah yuk kita kumpul sama yang lain, sekalian makan yang lain dulu. Nunggu tiruan lama banget, lihat tuh masak aja nggak bisa." ucap Oma Farra, mengubah pembahasan yang lain, tapi tetap menyindir.


"Iya Oma, panas terlalu dekat. Nanti kulitku rusak." ucap Ishana.


Sumpah mau muntah gue, dengan cepat membolak-balik daging, ada beberapa yang sudah matang. Dengarin sindiran netizen perut gue cacingnya demo minta makan, gue makan dulu laper. Orang Indonesia gitu loh sambil masak sambil makan.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2