
Mata yang masih mengantuk membuka secara perlahan, merenggangkan otot tubuh dengan menariknya.
Aaaah...
Legahnya tidur gue pulas banget. Lihat jam pada tangan kiri, menunjukkan pukul tujuh malam.
Melebarkan mata bangun dari tidur. Gawat-gawat pintu pagar bentar lagi tutup, jam sembilan Bibi nutupnya. Bisa-bisa kena ceramah tiga hari tiga malam gue. Membenarkan hijab yang terpasang. Ingatkan mandi aja belum, masih untung sudah gosok gigi, cuci muka tadi pagi di rumah sakit. Lama juga gue tidur dari jam sepuluh pagi sampai jam tujuh malam, tidur atau mati suri gue.
Turun dari ranjang.
"Khem!"
Terdengar jelas di belakangku.
Ingat pada kejadian hari ini, sadarku melihat sekeliling tempat bahwa ini kamar hotel. Perpaduan warna hijau tua bercampur cream, terlihat nyaman dalam ruangan.
Bunga mawar merah yang berhamburan di lantai, serta boneka angsa putih di atas meja menyapaku dengan khasnya bau-bau kamar pengantin.
Berbalik ke arah suara, senyuman tipisku persembahkan.
Laki-laki yang gue lihat, mencuci ke-dua mata dengan cahaya menyilaukan. Memberi keberkahan dengan ukiran yang di pahat sempurna. Ada juga rupa manusia yang terlahir bagaikan malaikat begini. Entah malaikat pencabut nyawa, pencatat amal buruk, atau penjaga neraka.
Ya Allah, menjomblo delapan tahun dapat yang seperti ini. Bisa gila gue, tapi sama saja.
Pak Abyan turun dari atas ranjang, otakku mencerna sebentar, tadi perasaan tidur di sofa lihat benar adanya sofa di belakang. Kenapa bisa tidur di atas ranjang? Mataku melebar, itu sebelahan lagi sama Pak Abyan. Apa mungkin Pak Abyan yang memindahkan ke ranjang?
"Mau kemana?" Pak Abyan berdiri berjalan mendekat.
Aduh jawab apa ya?
"Itu Pak, mau ke kamar mandi." alasanku.
Berhenti Pak Abyan di hadapanku yang berjarak setengah meter. "Iya sudah silahkan." senyumnya.
"Ah iya Pak." langsung berlarian ke dalam kamar mandi, tidak lupa mengunci pintu saat berada di dalam sana.
Huuuf!
Rasanya gue mau jantungan seperti ini terus, gimana bisa keluar dari pernikahan ini?
Satunya jalan mengajaknya berdiskusi, ah iya itu jalannya.
Bismillahirrahmanirrahim.
Keluar kamar mandi, ternyata Pak Abyan duduk di balkon.
"Sini Ra." panggilnya duluan.
Berjalan ke arahnya. "Duduklah." perintah Pak Abyan dengan tersenyum.
"Iya Pak." mengikutin arahan.
__ADS_1
Di atas sana kami berdua bisa melihat lampu-lampu jalan, dan suasana sekitar.
Pak Abyan memberiku handphone. "Lihatlah agar dirimu yakin."
Mengambil handphone di tangan Pak Abyan, melihat video dirinya mengucapkan ijab kabul dengan suara lantang, di saksikan Bibi serta orang-orang yang nggak gue kenal. Ternyata Uwa Sani yang mewakili Ayahku sebagai wali.
Serta berbagai souvernir, berisi mahar di berikan.
"Ini, Pak." memberikan lagi handphone Pak Abyan.
Dah percaya diri ini, patung ukiran sang maha karya benar-benar suami gue. Mengingat keluarga yang gue marah tanpa sebab, diri ini merasa bersalah.
Tapi ini jugakan yang mereka mau, orang yang mereka pilih itu yang seperti ini.
Nikah siapa? Pilihan siapa? Ngejalani juga siapa? Suka heran sama keluarga gue.
"Sudah percayakan?" tanya Pak Abyan.
Mengangguk jawabku iya. Ada alasan yang harus tepat, kenapa beliau menikahi gue?
"Bapak kenapa mau menikahin saya?" serius gue ingin tau jawabannya.
Biasanya orang kaya suka yang namanya main jodoh atau nikah paksa. Agar si laki dapat kuasa dari pihak keluarga. Akhirnya menyetujui ikut perjodohan, kawin kontrak, nikah paksa, lihat di beberapa novel dan nonton drama.
Aneh juga sebenarnya, kenapa nggak nikah sama sederajat yakan? Sama-sama beruang, biasanya juga bersangkutan hubungan kerja sama gitu.
Ini nikah sama gue, yang termasuk gelandangan tapi bukan, anggaplah pekerja keras.
Senyum manis lagi Pak Abyan lakukan. Bapak kalau elu senyum-senyum gitu, bisa gila gue, nih trauma gue hilang dengan sekejap aja.
Pusing kepala gue, nanya serius di balik tanya lagi.
"Kamu ingat nggak, pernah menabrak saya?" mengingatkan gue lagi.
Jelas bingung gue, kapan lagi pernah bertemu nih Bapak, nabrak lagi?
"Kapan, Pak?"
"Lupa ya?" baliknya nanya lagi
Senyumku yang bingung jawab apa? Entar di jawab salah, Bapak marah mau lari kemana gue.
Pak Abyan mengeluarkan nafas kasar, seperti memikirkan sesuatu.
Bapak pulang saja ke rumah, istirahat dengan tenang ingin sekali berkata seperti itu.
"Kamu ini punya riwayat amnesia ya? Bagaimana kamu bisa berkerja di rumah sakit, kalau kamu saja butuh rumah sakit juga. Apa kamu tidak tau bisa saja pasien yang riwayat penyakit serius mau di operasi ke tukar dengan pasien yang tidak mempunyai penyakit serius. Salah bertindak bahaya loh, Ra. Jika kamu punya penyakit amnesia." ceramahnya Pak Abyan membuatku terkejut.
Ingin sekali jiwa ini berkata berantem yuk, Pak. Anda ceramah di waktu yang kurang tepat. Apalagi berkata gue punya penyakit amnesia. Emang gue harus ingat dengan wajah-wajah orang. Hidup dua puluh delapan tahun yang gue lihat banyak kali, Pak. Enak aja katain gue amnesia, bawa-bawa pasien lagi. Kerja gue selama ini bagus tidak ada tukar menukar pasien.
Diam saja yang bisa gue lakukan, jika di bantah bisa-bisa hipotensiku loncat menjadi hipertensi. Nggak sudah-sudah kita cerita habis lebaran.
__ADS_1
"Jadi gimana menurut kamu, kita pacaran dulu?" tawarnya.
"Sebenarnya saya ingin tau, Bapak menikahin saya karena apa?" kepo gue.
"Karena itu maumu."
"Ayolah Pak, saya hanya bercanda."
"Bercanda kamu nyata sekarang, kita juga tidak bisa cerai."
"Kenapa?"
"Sudah jadi turun menurun di keluarga saya." jawabnya jujur.
"Kita bisa langsung cerai, Pak." sebelum pernikahan ini terikat lebih lama.
"Tidak bisa Ra, semua telah terjadi."
"Seharusnya Bapak, menemuin saya lagi sebelum menikah." jelasku.
"Bagaimana saya mau menemui kamu, sedangkan semuanya sudah jelas." ungkapnya memang benar. "Semua telah terjadi, di keluarga saya menentang akan perceraian." sambung Pak Abyan.
Benar adanya cerita yang tersebar, keluarga besar angkasa earld group, terkenal setia pada pasangan. Sejauh ini belum ada berita miring tentang keluarga besar mereka.
Gue bahagia aja, dapat yang seperti ini. Siapa yang mau coba di duakan, atau di tigakan. Maklumlah orang konglomerat biasanya banyak simpanan.
Nggak tau sih Pak Abyan gimana orangnya, belum kenal gue. Jalani ajalah dulu kali ya, entar juga tau belangnya di mana.
Nggak mungkinkan perempuan satu aja nggak ke tertarik sama karismanya yang wow. Di senyumi aja dah lumer.
"Apa Bapak menikah secara paksa?" siapa tau begitu. Nggak mungkin dirinya mau-mau aja menikah.
"Benar adanya, saya di paksa keluarga untuk menikah. Terpaut usia saya tiga puluh tiga tahun." jelasnya.
Benar berarti dugaan gue. "Apa Bapak butuh surat kontrak dengan saya, batasan waktu sampai Bapak menemukan cinta sejati?" solusiku.
Senyum Pak Abyan. "Enggak! Cukup kamu jadi istri saya." teguhnya dalam pilihan.
"Tapi Pak kita tidak saling kenal, apalagi mencintai."
"Makanya saya mengajak kamu pacaran." balasnya santai.
"Teman dulu." tawarku yang belum bisa menerima semua ini. Sepertinya kalau saya terus-menerus menolak hasilnya akan sama saja.
"Baiklah, kita berteman dulu." putusnya mengikuti solusi gue.
"Bagaimana dengan status saya Pak? Derajat kita jauh berbeda. Keluarga Bapak apa bisa menerima saya?" bagaimana pendapatnya.
Senyum Pak Abyan. "Ibu saya seperti anda, Nenek saya juga seperti anda. Status bukanlah masalah di keluarga kami." jelasnya lagi.
Syukurlah kalau begitu! Gue nggak tau, apa bisa menghilangnya trauma gue dengan adanya ke hadiran Pak Abyan. Masih adakah juga cinta itu di dalam diri ini, tumbuhnya kembali dengan sesosok yang baru.
__ADS_1
Mirisnya gue masih tenggelam ke dasar laut paling dalam. Sampai-sampai permukaan tak dapat di tempuh lagi.
Bersambung...