Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 31 Berdiskusi


__ADS_3

Ting ting ting.


Suara handphone gue sepertinya, berhenti di depan rumah sakit menuju parkiran, mau pulang. Melepaskan tas di bahu, mendekati ke telinga. Ah suara handphone gue, dengan cepat mengambil, Falisha nelepon lihat di layar tulisan namanya.


"Halo Sha, ada apa?" mengangkat telepon darinya.


"Ra, temuin gue di kafe kita bahas masalah kejutan untuk Mika." ucapnya di seberang telepon.


"Oh, iya udah tunggu sebentar, gue kesana sekarang." mematikan handphone meletakkan di dalam tas lagi. Memasang helm dan menghidupkan mesin, bismillahirrahmanirrahim, berangkat menemuin Falisha.


Membawa motor menyebrangi jalan, menuju tempat kafe biasa di depan rumah sakit. Mematikan motor, melepaskan helm.


Mencari Falisha. "Ra, gue disini." panggilnya yang duduk di dekat kolam ikan minimalis.


Senyumku menghampiri. "Mau pesan apa?" Falisha sedang menulis di kertas membuat pesanan.


"Hmmm, jus buah naga aja."


"Makan?"


"Hmmm, enggak deh masih kenyang."


tulis Falisha. "Mas..." panggilnya ke pelayan.


"Iya Neng." pelayan mendekat.


"Nih..." menyerahkan secarik kertas.


Pelayan mengambil. "Di tunggu sebentar ya Neng."


"Iya." jawab Falisha cepat.


Pelayan pergi secara perlahan. "Ra, kasih apa ya bagusnya kejutan buat Mika?" bingung Falisha mencari solusi yang tepat dengan memutarkan bola matanya ke langit-langit kafe.


"Hmmm," mencari solusi, kalau tas, handphone, pakaian, dan lainnya udah semua, teringat bayangan wajah seseorang laki-laki yaitu Chef Angga.


"Sha, elu taukan sama Chef Angga?"


"Kenapa dengan dia?"


"Lu tau nggak dia belum nikah?"


"Emang kenapa sih elu, nanya Chef Angga, nanya nikah lagi. Cukup Mamas gue aja jadi suami elu?" penasaran Falisha.


"Pikiran elu, enak banget larinya ke sana. Gue kemarin nanya-nanya dia, waktu gue kena hukuman Oma. Katanya status dia sigle usia tiga puluh tahun, bagus nggak kalau kita jodohin sama Mika." usulku.


"Iya juga, ide bagus itu, dari pada Mika sama si jelangkung, suka berbuat onar." kesal Falisha.


"Iya nih, Mika di kasih tau masih aja cinta mati. Tau pacarnya sering godain kita, masih aja dia bela dengan alasan si jelangkung hanya ingin kenal biasa sama kita yang sahabat akrabnya. Nggak bisa apa, Mika bedain kenal biasa sama kenal mendekatin, geli gue." ikut kesal mengingat hal itu.


"Semoga aja cepat putus mereka berdua."


"Aamiin..." mengaminkan ucapan dari Falisha, gue nggak mau masa depan Mika hancur berantakan, cukup gue aja yang menggantung gini.


"Bentar gue telefon orang kantor dulu."


"Ngapain?"

__ADS_1


"Mau tanya status Chef Angga, biar lengkap."


"Oh, oke!"


Falisha menekan layar handphone, meletakkan di telinganya. "Pak, saya minta data Chef Angga sekarang juga." melihatku tersenyum. "Oh, Oke! Saya tunggu." mematikan telepon.


"Elu, nakutin ya?"


"Napa?"


"Apa aja yang elu ingin tau, tinggal tekan layar handphone udah tau aja?"


"Biasalah, gue gitu loh."


"Emang berapa lama Chef Angga sudah kerja di keluarga elu?"


"Nggak salah kurang lebih tujuh tahunan."


"Lama juga, kerja di sana. Kalau gue di terima nggak kerja di tempat elu, bentar lagi gue 'kan nganggur ?" candaku mulai.


"Boleh!"


"Kerja apa?"


"Pelayan Mas Abyan di kamar." bisiknya.


"Ih gila lu, mesum terus."


"Elu yang gila, tau Mamas gue CEO-nya masih aja berpikiran yang aneh."


"Guekan hanya bercanda." ngeyelku.


Ting!


Hebat ya kalau orang beruang, apa aja bisa di perbuat.


"Ah Ra, benar sih statusnya sigle belum nikah. Elu ada nggak nomor Chef Angga suruh aja ke sini." usulannya.


"Emang dia mau?"


"Mau, bilang aja ini penting."


"Hmmm, iya deh." mengeluarkan handphone lagi dari dalam tas, mengetik resep yang sudah gue tulis saat istirahat belum aja di kirim. Klik pesan terkirim, dengan tulisan akhir meminta dirinya ke kafe temuin gue, kalau dia orang yang suka berpikiran negatif, pasti mikir gue ini istrinya tuan muda ngajak bertemu, jadi di lihat ngajak dia selingkuh gitu. Semoga aja nggak seperti itu.


Ting!


Handphone berbunyi, gue melihat balasan Chef Angga.


"Gimana, Ra?" Falisha penasaran.


"Mau bentar lagi dia sampai, kebetulan lagi di jalan dekat area sini." ucapku saat sudah membaca pesan Chef Angga.


"Sip, semoga aja dirinya belum punya pacar." penuh harapan.


"Iya semoga aja."


"Ini pesanannya Neng, maaf ya lumayan lama banyak yang pesan." ucap pelayan datang meletakkan pesanan kami.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, santai aja." jawab Falisha.


"Iya Neng, silahkan diminum." senyumnya.


"Iya Mas." balasku.


Pelayan pergi setelah meletakkan pesanan.


"Permisi, Nyonya." suara laki-laki dari belakangku.


"Ah, Chef duduk dulu. Santai aja dengan kita di sini." ucapku langsung melihat Chef Angga datang menghampiri.


"Iya Nyonya." duduknya di sebelah gue dan Falisha.


"Bisa nggak kalau di depan kita-kita panggil nama aja." ucapan Falisha yang sama pikirannya denganku.


"Nanti say-"


"Entar kalau di depan tuan muda elu, baru panggil seperti biasa." langsung memotong ucapan Chef Angga.


"Khem!" senyumnya dengan mengetes suara.


Lu mau paduan suara apa disini?


"Mbak Zahra dan Mbak Falisha mau bicara apa manggil saya?" masih dengan sikap yang kaku.


"Dah, elu manggil aja tegang. Panggil aja Zahra dan Falisha, usia juga tua elu setahun dari gue." kesal Falisha.


"Iya iya Sha, Ra." ucap Chef Angga rileks.


"Udah kita bahas yang lain, Chef udah punya pacar atau tunangan belum?" tanyaku to the point (Ketitik percakapan).


"Hmmm, belum!" menggelengkan kepala.


"Kalau belum, mau nggak sama sahabat kami Mika?" langsung ke inti pembahasan Falisha berucap.


"Tunggu-tunggu tapi saya masih belum mau berhubungan dengan wanita dulu." tolaknya. "Maaf!"


Gue dan Falisha melihat sama lain, penuh tanda tanya.


"Chef penyuka sesama jenis?" tanyaku langsung bisa saja begitu.


"Ah enggak, Nyonya." melambaikan tangan batas dada, tandanya bukan hal itu alasannya.


"Ayolah, panggil aja Zahra." ucap Falisha, terus-menerus mewakili gue.


"Maksudnya, Zahra! Gue masih trauma dengan masa lalu."


Kenapa jadi booming gini soal trauma pada masa lalu?


Tariknya nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkan sepertinya itu sangatlah menyakitkan. "Saya di selingkuhi calon istri saya, dengan alasan saya ini nggak akan mampu bisa menghidupi keluarga kami di masa depan, setelah kejadian itu kami berdua putus, saat setelah beberapa tahun dan bekerjasama dengan keluarga Angkasa Earld Group calon saya kembali meminta balikan, sampai saat ini hati saya masih untuknya walaupun telah menolak untuk kembali padanya." cerita Chef Angga, membuatku merasakan apa yang dirinya jalani.


"Begini aja, bagaimana Chef mencoba membuka hati untuk sahabat kami Mika, siapa tau bisa melupakan kenangan pahit pada trauma Chef. Sahabat kami ini, orangnya setia pada pacarnya, tapi pacarnya playboy di belakangnya, dengan kami aja suka mendekati. Tolonglah Chef kasian dia." upayaku supaya Chef Angga mau.


"Lagian gue dan Falisha tidak memaksa, anggap saja ini juga balasan gue sudah membagi resep masakan, sama elu. Gimana? Dekatin aja dulu, selanjutnya terserah di kalian." semoga Chef mau.


Terlihat Chef Angga berpikir sebentar. "Hmmm, baiklah." setujunya.

__ADS_1


Alhamdulillah, melihat Falisha dengan wajah yang bahagia, kami berdua merasa senang akhirnya ada jalan untuk Mika. Semoga aja ini kado terindah untuknya di tahun ini.


Bersambung...


__ADS_2