
Selepas shalat magrib memasak sup bayam, ikan, tempe, tahu, dan sambal. Masakan sederhana tapi terlihat nikmat, itulah makanan sehari-hari kami.
Mas Abyan tidak banyak menuntut gue harus masak apa? Terpenting dirinya merasa kenyang setelah makan udah itu saja.
Gue kira, Mas Abyan tipe orang yang pemilih ternyata tidak sama sekali. Dirinya memang sesempurna itu menjalani hidup yang apa adanya.
Alhamdulillah, gue bersyukur atas apa yang Tuhan berikan, mungkin benar ini semua telah di tentukan, walau hati gue masih terus bertanya-tanya juga bersikap serakah ingin Mas Abyan melupakan mantan kekasihnya dan memulai hidup bersama gue sebagai istri sahnya. Tapi di sisi lain, gue hanya bisa pasrah apa pun yang terjadi, itulah jalannya.
Melihat jam menunjukkan pukul delapan malam, Mas Abyan belum juga keluar dari dalam kamar.
Apa mungkin dirinya ketiduran?
Hmmm, coba bangunin aja kali ya, soalnya ini makanan kalau udah dingin nggak enak.
Tok tok tok.
Menunggu di bukakan pintu, masih juga belum di buka, apa dia di kamar mandi.
Coba lagi aja deh.
Tok tok tok.
Kembali mengetuk pintu.
Menunggu! Hmmm, belum juga di buka, gue masuk aja deh.
Ceklek!
Membuka pintu, melihat Mas Abyan tertidur pulas di atas ranjang, dengan selimut tebal menutupi sampai dada, rapinya tidur membuat gue merasa malu, sebagai wanita seharusnya tidur gue seperti Mas Abyan, bukan tidur yang membuat selimut, batal kepala dan kaki, udah jatuh ke lantai. Pagi-pagi baru sadar, nggak ada lagi yang tersisa di atas ranjang.
Ah sudahlah mencoba bangunkan Mas Abyan dulu, entar baru belajar gimana caranya serapi Mas Abyan. "Mas bangun, makan dulu yuk." ajakku berdiri di sampingnya.
Mas Abyan biasanya kalau di panggil langsung bergerak memberi respon, apa dirinya tertidur pulas sampai-sampai nggak terbangun.
Mencoba memegang Mas Abyan. "Mas..." tanganku memegang tangannya.
__ADS_1
Ya Tuhan panas banget, memegang kening, sama saja.
Kenapa Mas Abyan nggak bilang kalau dirinya sakit? Wajar nggak bangun.
Mengambil kompres air hangat dulu deh sama obat. Jalan cepat keluar, mengambil semuanya.
Menyiapkan semua yang ku butuhkan, selesai kembali lagi ke dalam kamar Mas Abyan.
"Mas, minum obat dulu yuk." ajakku yang duduk di sampingnya, melihat respon Mas Abyan, tapi dirinya nggak juga bangun.
Terpaksa mengeluarkan segala jurus untuk memasukkan obat ke dalam mulut Mas Abyan. Perlahan mengangkat kepala dengan posisi empat puluh lima derajat, memasukkan obat dan minum. Mungkin dirinya setengah sadar saat gue memasukkan obat dan air putih.
Setelah masuk kembali menidurkan Mas Abyan ke posisi semula.
Mengambil handuk kecil yang di basahi air hangat, memerasnya dan meletakkan di kening Mas Abyan.
Jam menunjukkan setengah sembilan malam, makan dulu sebentar, obat telah masuk semoga panasnya turun.
Berjalan keluar, sengaja buka pintu kamar, jika mendengar sesuatu bisa langsung melihatnya.
Duduk di kursi mulai makan. Kenapa rasanya sedih begini makan sendiri? Biasanya ada Mas Abyan.
Berjalan kembali ke dalam kamar Mas Abyan, tak lupa menutup pintu, mengambil termometer digital alat pengukur suhu tubuh yang memang gue simpan di kotak P3K. Jika terjadi sesuatu nggak perlu cemas berlebihan.
Meletakkan di keningnya tak butuh waktu lama hasilnya keluar tiga puluh enam derajat celcius.
Alhamdulillah panasnya turun.
Duduk di lantai, menyenderkan kepala di samping ranjang dekat Mas Abyan.
Mataku terus fokus melihat ukiran sang maha karya yang tidur dengan damai, kulit yang putih mulus, bulu mata, alis, rambut yang lurus dan tebal berwarna hitam pekat, hidung yang mancung, bibir tipis berwarna merah jambu.
Sesempurna itu dirimu Mas, mengelus kepala Mas Abyan. "Cepat sembuh ya sayang." mencium keningnya. Sedih rasanya melihat orang yang di cintai sakit begini.
Memposisikan tubuh agar nyaman, tidur sebentar nggak apa-apa kali ya?
__ADS_1
Memejamkan mata, tak begitu lama gue terbangun lagi. Biasa gue di rumah sakit begitulah, tidur ayam-ayaman, nggak bisa terlalu terlelap tidurnya, berbeda kalau di rumah nggak ada beban pikiran, tidur gue seperti orang mati suri nggak bangun-bangun.
Melihat jam di dinding menunjukkan pukul satu malam, kembali memegang tangan Mas Abyan, ya Tuhan panas lagi.
Mengambil termometer menekan tombol mengarahkan ke kening Mas Abyan hasilnya langsung keluar empat puluh derajat celcius.
Panas banget, dengan cepat mengambil obat. Membantu Mas Abyan kembali meminum obat. "Ayo Mas, diminum obatnya." mungkin dirinya yang setengah sadar meminum obatnya.
Setelah selesai memposisikan Mas Abyan seperti semula.
"Maaf ya Mas, bukan aku bermaksud untuk mesum tapi pakaian kamu harus di buka semua agar panasnya turun." ucapku pelan di telinga Mas Abyan.
Sebagai perawat hal ini sudah biasa bagi gue, tapi untuk pasien perempuan. Biasanya ‘kan kalau di rumah sakit ini tugasnya perawat cowok, berhubung dan dihubung di sini hanya ada gue terpaksa membukanya.
Pertama pakaian atas Mas Abyan ku buka, sedikit susah sih karena berat tubuhnya membuat gue lambat untuk melepaskan, selang beberapa menit tinggal bagian bawahnya, gue tutup dulu selimut batas pinggang ke lutut, membuka celana bagian bawah.
Jujur gue berbuat begini seperti sedang mencari kesempatan dalam kesempitan deh. Di sisi lain suhu tubuh Mas Abyan panas banget bahaya bisa kejang-kejang dirinya kalau nggak di buka semuanya.
Kenapa sih Mas, elu nggak bilang kalau sakit? Bisa ke rumah sakit di periksa.
"Aw," tanganku nggak sengaja memegang pusakanya. "Maaf, Mas." ucapku pelan dengan fokus kembali membuka pakaian dalam.
Huuuf!
Selesai.
Mengambil remote AC di atas meja, menekan tombol, mematikannya, agar Mas Abyan berkeringat. Melihatnya begini gue kenapa panas ya, astaghfirullahal'azim otak gue nggak waras deh.
Duduk kembali mengambil kain yang berisi air di dalam baskom. "Duh airnya dingin lagi." berdiri membawa wadah ke kamar mandi mengganti dengan air hangat.
Berhubung di sini ada air panas dan dingin gue nggak perlu susah-susah memasak pakai kompor untuk menghangatkan air.
Setengah wadah gue isi, kembali lagi ke dalam kamar, duduk di samping Mas Abyan, mengambil kain mencelupkan ke dalam wadah, memeras, siap mengompres lagi kening dan lekukan tubuhnya.
Mataku mulai mengantuk, memegang kembali kening Mas Abyan, alhamdulillah turun lagi panas-panasnya.
__ADS_1
Duduk lagi di lantai, tidur bentar nggak apa-apa kali ya, mau masang pakaian Mas Abyan entar lagi aja, gue ngantuk banget. Menyender di pinggir ranjang samping Mas Abyan, mencari posisi nyaman, memejamkan mata.
Bersambung...