
Ternyata malam-malam duduk di sini nyaman juga melihat alam sekitar dengan desiran ombak di bibir pantai.
"Ay, masuk yuk. Udaranya kurang nyaman." ajak Mas Abyan.
"Mamas udah nggak mual lagi?" takutku pada kesehatan Mas Abyan.
"Duduknya sedikit jauh aja, Ay." solusi Mas Abyan.
"Mamas aneh deh."
"Aneh kenapa, Ay?"
"Mamas mempunyai penyakit alergi terhadap sesuatu ya?" siapa tau begitu.
"Nggak, Ay. Mamas seperti ini semenjak kamu pergi ke Bali." jelas Mas Abyan. "Awalnya hanya biasa-biasa aja. Semakin hari semakin nggak nyaman dengan penciuman Mamas."
"Mamas udah periksa belum ke dokter?" takutku Mas Abyan mempunyai penyakit tertentu.
"Mamas sudah periksa ke dokter spesialis. Semuanya baik-baik aja, Ay." jelas Mas Abyan.
Apa benar gue ini hamil? Tapi, kenapa Mamas yang mual-mual.
"Iya udah, kita masuk ke dalam aja, Mas. Aku lapar." jelasku yang belum makan gara-gara memikirkan Mas Abyan.
"Iya, Ay." Mas Abyan berdiri dengan menarik tanganku.
Gue mengikuti Mas Abyan, kami berjalan pelan ke dalam villa.
Melihat Oma, Ibu, Falisha, Mika, Ayah, Mas Darman, Pak Aziz, dan Dokter Idris sedang menyantap makanan dengan begitu lahapnya.
"Sini, Ra. Makan dulu, kamu belum makan." ajak Oma.
"Mamas duduk di sini." tunjuk Mas Abyan pada bangku kayu minimalis.
Gue menganggukan kepala.
"Kenapa kamu di situ, Abyan?" ucap Ibu.
"Mamas nggak mau mendekat." ucapku saat duduk di tempat semula.
"Udah di tes, Mbak?" tanya Falisha yang begitu antusias.
"Mamas nggak mau di tes." candaku.
"Abyan nggak boleh?" tanya Oma.
"Kata, Mamas. Dirinya takut negatif." jahilku menyindir Mas Abyan.
"Ay, Mamas dengar." ucap Mas Abyan dari belakang.
"Kenapa sih, Mamas ngelarang?" tanya Dokter Idris.
"Siapa yang ngelarang? Zahra yang belum tes." ucap Mas Abyan membela diri.
"Jadi di antara kalian berdua dimana yang benar?" tanya Ayah.
Gue tersenyum-tersenyum.
"Makan dulu, Ayah." alasanku.
"Mbak, bisa nggak tes sekarang?" ucap Hanum ikut nimbrung, penasarannya.
"Kasihan Zahra belum makan." ucap Mas Abyan.
"Tesnya hanya sebentar." ucap Dokter Idris terlihat juga penasaran.
Oke gue ngalah deh.
Gue berdiri. "Kalau gitu, tunggu sebentar." berjalan mendekati Mas Abyan. "Mana, Mas. Alatnya." pintaku.
"Nih, Ay." Mas Abyan memberikan alat yang masih di pegangnya. "Mamas boleh ikut nggak?" tawarnya.
Gue melebarkan mata. "Malu, Mas." ucapku pelan memberi kode.
"Apa yang di maluin, Mbak?" ucap Falisha mungkin mendengar ucapan gue.
Gue melihat Falisha dengan tersenyum. Elu bikin gue emosi aja.
"Ayo, Ay." Mas Abyan menarik tanganku. Terpaksa gue mengikuti jalan Mas Abyan.
Ceklek!
Kami berdua masuk ke dalam kamar mandi.
Dup!
"Cobalah, Ay." perintah Mas Abyan.
"Mamas tunggu di sini." perintahku.
"Kenapa?"
"Malu, Mas." walau udah saling lihat, tapi gue tetap aja merasa malu.
Mas Abyan tersenyum-senyum. "Tunggu di sini." perintahku lagi jangan sampai Mas Abyan ikut masuk ke dalam kamar mandi khusus buang air kecil.
Mas Abyan hanya diam.
Ceklek!
Dup!
__ADS_1
Gue melihat alat tes kehamilan, entah kenapa gue merasa takut begini ya?
Ya Tuhan, semoga hasilnya positif. Belum di coba air mataku udah membendung aja. Takut dengan hasilnya.
"Ay, sudah belum?" ucap Mas Abyan memecahkan lamunanku.
"Belum, Mas. Tunggu sebentar."
Gue langsung mengikuti cara pemakaian alat tersebut.
Setelah selesai, gue tutup nggak sanggup melihat hasilnya.
Gue kembali merapikan pakaian.
Ceklek!
Mas Abyan terlihat penasaran. "Gimana, Ay?"
"Mas, aku belum lihat hasilnya. Sebelum kita tau hasilnya, aku mau bilang, Mamas jangan terlalu berharap. tak-"
"Sini." Mas Abyan mengambil alat itu tanpa mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu.
Gue menutup mata dengan telapak tangan, ya Tuhan jantung gue rasanya nggak karuan dengan hasilnya.
Beberapa detik terlewati. Kenapa gue nggak mendengar suara Mas Abyan jangan-jangan?
Melepaskan kedua tangan melihat Mas Abyan telah mengeluarkan air mata sambil melihat alat tersebut. Tibanya Mas Abyan memelukku. Ah, ada apa ini? Mas kenapa?
"Terimakasih ya, Ay." ucap Mas Abyan membuat jantung gue berdebar-debar semakin kencang.
"Iya Mas, sama-sama. Tapi terimakasih untuk apa?" bingungku.
Mas Abyan melepaskan pelukannya. "Lihat ini?" Mas Abyan menyerahkan alat tadi.
Gue mengambil, melihat secara perlahan. Apa? Garis dua. Melihat Mas Abyan.
Gu-gue hamil.
Mas Abyan kembali memelukku.
"Mbak, kalian berdua ngapain sih lama-lama di dalam?" teriak Falisha dari luar.
"Mas-Mas, lepas." ucapku pada Mas Abyan takut di lihat mereka yang berada di luar.
Mas Abyan masih memelukku.
Ceklek!
Mereka semua masuk.
"Tolong gue." ucapku memberi kode pada Falisha sambil menunjuk Mas Abyan.
"Mas, bisa nggak, kalau berbuat mesum jangan di sini?" Falisha mendekat. "Mamas nangis?" ucap Falisha saat melihat Mas Abyan.
Mas Abyan melepaskan pelukan.
"Ada apa Abyan?" Oma, Ibu dan semuanya mendekat.
"Lebih baik kita bicaranya di luar, kurang nyaman di sini." ucap Ayah benar adanya.
"Ah, iya ayo." ucap Falisha jalan keluar ruangan.
Semuanya juga keluar termasuk gue dan Mas Abyan.
"Ada apa, Mas. Kamu bisa begini?" ucap Ayah terlihat syok melihat reaksi Mas Abyan yang masih menangis. Begitu terharunya Mas Abyan melihat hasil yang tertera di alat ini.
Mas Abyan masih diam.
"Mamas menangis lihat ini, Yah." gue mengangkat alat tersebut mengarahkan pada mereka yang berdiri di hadapan kami.
Falisha langsung mengambil. "Alhamdulillah." ucap mereka serentak penuh bahagia.
Saling berpelukan.
"Selamat ya, atas kehamilanmu, Mbak." ucap Hanum.
"Iya, Num. Terimakasih." jawabku.
Oma memelukku. "Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga."
"Iya, Oma." hanya itu yang bisa gue ucapkan.
Oma melepaskan pelukan.
"Udah, Mas. Jangan nangis lagi." ucap Ayah mengelus bahu Mas Abyan.
"Iya nih, Mamas ternyata nggak seseram yang di duga. Ternyata aslinya lemah." sindir Falisha.
"Namanya juga terharu. Mas Darman dulu hampir pingsan malahan." ucap Hanum membuat gue baru mengetahui bahwa laki-laki sangat bahagia jika istrinya hamil dan mempunyai keturunan.
Gue melihat Mika, Dokter Idris, Pak Aziz, dan Falisha. "Maaf ya, kami duluan." gue merasa kurang nyaman.
"Nah, berarti kalian berempat program mulai besok. Selagi cuti masih beberapa hari." perintah Oma.
Falisha, Mika, Dokter Idris, dan Pak Aziz hanya tersenyum-senyum.
"Sebenarnya Oma, kami berempat santai aja. Lagian rezeki nggak akan kemana-mana." ucap Falisha.
"Iya Oma, kami lagi menikmati masa-masa pacaran." ucap Mika.
"Lagian belum usia 1 tahun pernikahan kami, Oma." ucap Pak Aziz.
__ADS_1
"Nanti kalau lewat dari itu, kami akan program, Oma." sambung Dokter Idris.
Mereka terlihat santai dalam berpikir, gue suka itu.
"Mana bagus di kalian aja." ucap Ibu.
Oma terlihat diam saja tanpa merespon.
"Selamat ya, Ra." ucap Mika memeluk gue. "Akhirnya kado ulang tahun elu langsung di terima. Doain gue dan Falisha biar ngerambat."
Kami melepaskan pelukan. "Ya Allah semoga Mika dan Falisha secepatnya hamil. Aamiin." gue langsung berdoa.
"Aamiin." semuanya mengaminkan.
"Terimakasih ya, Ra." ucap Falisha.
Gue menganggukan kepala dengan tersenyum.
"Eh tunggu-tunggu, berarti usia kandungan Zahra udah 4 bulan dong." ucap Dokter Idris.
"Emang kamu nggak ngerasa, Ra. Ada yang bergerak-gerak gitu." ucap Mika.
"Iya belumlah, Sayang. Apalagi kehamilan pertama. Biasanya usia 5 bulan baru bisa terasa. Apalagi setiap Ibu hamil itu berbeda-beda kondisi perutnya." jelas Dokter Idris.
"Benar kata Mamas, aku aja baru merasa usia enam bulan. Soalnya perutku tebal." ucap Hanum.
"Kalau begitu, besok kerumah sakit terdekat untuk periksa kehamilan kamu, Ra." solusi Ibu.
"Besok kita kesana memastikannya lagi." ucap Mas Abyan terlihat santai kembali.
"Iya, Mas." gue mengikuti
Di sisi lain gue juga penasaran perkembangan anak gue di dalam perut.
Dut!
Ah apa itu? Gue merasa ada yang bergerak.
Semua melihat ke arah ku.
"Kamu kenapa, Ay?" Mas Abyan bingung melihat reaksiku yang langsung memegang perut.
Dut!
Ah bergerak lagi.
"Kenapa, Ra?" ucap Oma.
"Itu-itu perutku terasa ada yang nendang." jujurku berkata.
"Apa?" semuanya teriak.
Membuat gue terkejut, sepertinya keluarga angkasa earld group semua mengikuti Mika deh yang suka jantungan.
"Alhamdulillah. Berarti benar." ucap Ibu memeluk Oma. Falisha memeluk Mika. Hanum memeluk Mas Darman.
"Mana, Ay." Mas Abyan langsung memegang perutku.
Dut!
"Tuh, Mas." ucapku melihat Mas Abyan.
Mas Abyan terdiam. "Iya, Ay."
"Mana-mana." Falisha langsung menyingkirkan Mas Abyan.
Ibu, Falisha, Mika, Oma, Hanum memegang perutku.
Beberapa detik tidak teras gerakan.
"Mana nggak ada?" ucap Hanum.
Dut!
Dut!
Gue merasa perutku ada yang memutar.
"Aaaaaa..." semuanya teriak bahagia.
Gue hanya bisa pasrah. Jujur jantung gue ingin lepas mendengar suara teriakan mereka.
"Ada-ada?" ucap Oma, Ibu, Falisha, Mika serentak.
"Boleh nggak gue pegang." ucap Dokter Idris penasaran.
Semua melihat Dokter Idris. "Walau elu Doktor, dilarang." ucap Mas Abyan langsung.
"Iya nih, nyari masalah aja." ucap Falisha.
"Nanti kalau aku hamil." ucap Mika terlihat kesal.
"Bercanda sayang." Dokter Idris langsung memeluk Mika.
Mika diam saja.
"Mancing keributan." ucap Falisha.
Dokter Idris langsung melebarkan bola mata ke Falisha.
Semuanya tertawa bahagia melihat reaksi Dokter Idris.
__ADS_1
Hari yang penuh bahagia terimakasih ya Tuhan atas semua yang engkau berikan, semoga tidak ada lagi halangan dan rintangan dalam keluarga besar kami Aamiin.
Bersambung...