
"Ay, Mamas antar kamu ya, sekalian ke kantor." tawar Mas Abyan saat kami telah keluar kamar bersiap dengan rutinitas masing-masing.
"Hmmm, iya Mas." mungkin Mas Abyan mau mampir ke rumah Ibu dulu.
Kami berdua keluar apartemen menaikin mobil yang di bawa Mas Abyan, di pinggir jalan melihat buah, pikirku untuk buah tangan membawa ke rumah Ibu.
"Mas, bisa mampir ke supermarket sebentar nggak?" melihat Mas Abyan.
"Mau beli apa, Ay?"
"Hmmm, buah buat Ibu."
"Ada di rumah."
"Beda Mas, bawa buah dari menantu sama beli sendiri." jelasku.
"Hmmm, iya udah kita mampir di tokoh depan aja kalau gitu." setujunya memberi solusi.
Mobil berjalan pelan-pelan kemudian berhenti. "Bentar ya Mas, aku beli buah dulu, Mamas tunggu di sini." pintaku.
"Hmmm, Iya Ay. Uangnya?"
"Udah pakai aja uang aku." langsung turun dari dalam mobil.
"Mas, beli buah yang di dalam keranjang itu." tunjuk sepaket buah yang sudah di bungkus rapi di dalam keranjang.
"Oh ini." ambilnya.
"Berapa?" tanyaku
"Dua ratus lima puluh ribu, Neng."
"Oh sebentar." mengambil uang di dalam tas. "Ini Mas." menyerahkan uang padanya.
"Ini Neng, terimakasih. Jangan lupa beli di sini aja ya Neng, buahnya." tawarnya.
"Oh, iya Mas sama-sama, insyaallah saya mampir beli buah di sini." jawabku tersenyum mengambil buah di tangan Mas penjualan.
Jalan lagi masuk ke dalam mobil, meletakkan buah di kursi belakang.
"Udah." ucapku pada Mas Abyan.
"Hmmm."
Mas Abyan membawa mobil pergi. Tak lama kami berdua sampai dan berhenti di depan teras. "Mas mau ikut turun?" tanyaku saat melepas sabuk pengaman.
Mas Abyan melihat keluar mobil, ternyata Oma Farra, Ibu Sari dan Ishana keluar dari dalam rumah sepertinya menyambut kami.
"Mas turun sebentar." jawabnya juga melepas sabuk pengaman.
Kami berdua turun dari dalam mobil, tak lupa juga membawa paper bag isi pakaian untuk menginap di hotel dan buah yang di beli tadi.
Tibanya Ishana langsung memeluk Mas Abyan. "Mas kangen." ucapnya manja.
Gue berdiri di samping Mas Abyan, rasanya mau pulang aja. Kenapa juga yang di nikahin gue? Kalian deh yang pengantin barunya. Pagi-pagi di buat ilfeel melihat dua sejoli kalau bertemu.
Mas Abyan melepaskan pelukan Ishana dengan tersenyum. "Iya Ishana." jawabnya, setelah melihatku mengangkat tangan, mengajak bersalaman.
Ishana langsung mengambil tangan Mas Abyan. "Mamas mau pergi ya?" tanya Ishana memegang erat dan mengayunkan tangan mereka.
Ingin banget gue lari aja dari sini.
Senyumnya. "Iya Ishana." jawab Mas Abyan, melepaskan tangan dari Ishana.
Ishana seperti cemberut, melihatku dan Mas Abyan.
Tangan Mas Abyan kembali di angkat ke arahku. "Mamas mau berangkat."
Mengambil tangan Mas Abyan, mencium punggung tangannya. "Iya Mas hati-hati."
Tangan satunya lagi menarik kepalaku.
__ADS_1
Cup!
Mencium kening. Mas pagi-pagi jangan ngajak olahraga jantung kenapa? Lama pula, menempelkannya.
Mas Abyan melepaskan ciuman. "Mamas berangkat dulu ya sayang." ucapnya manis, melihat ke arah Oma, Ishana dan Ibu. "Aku berangkat dulu Oma, Ibu, Ishana. "jalannya ke arah mobil.
Gue hanya bisa tersenyum. "Iya Mas, hati-hati di jalan." Mas Abyan semakin ke sini semakin naik tingkat. Kami berdua seperti keluarga kecil yang bahagia di depan orang lain.
Mas Abyan menaikin mobilnya dan pergi.
Melihat Ishana yang sudah berjalan cepat ke dalam rumah bersama Oma Farra.
"Ayo masuk, Nak." ajak Ibu Sari setelah berada di dekatnya.
Mengambil tangan Ibu Sari, mencium punggung tangannya.
"Iya Bu." bahagiaku mendapatkan seorang Ibu yang baik hati.
"Ayo." ajaknya lagi,
"Hmmm!"
Kami berdua masuk ke dalam rumah, ternyata Oma Farra dan Ishana membawa tas koper.
"Hati-hati ya Ma." Ibu Sari bersalaman dengan Oma Farra dan memeluknya.
"Oma mau kemana?" puraku yang tidak tau, padahal mau ke Paris lihat Zahra simalakama lainnya.
"Ke Paris, nemuin calon cucu." ucap jujur Oma Farra.
"Ma..." panggil Ibu Sari seperti kesal.
"Oh ya Oma hati-hati." langsung bersalaman.
Di sisi penglihatan orang lain, kalau nilai gue polos, lugu gitu. Maunya di sakiti dan di khianati.
"Udah yuk Oma, pesawat bentar lagi berangkat." ajak Ishana, kemudian bersalaman sama Ibu Sari. "Aku berangkat dulu ya Bu." senyumnya ramah.
Masa bodoh, gue nggak akan sedih, bahagia ada.
"Maafkan Oma dan Ishana ya, Nak." ucap Ibu Sari memegang bahuku.
"Iya Bu, nggak apa-apa." senyumku, ada Ibu yang baik hati saja udah membuatku bahagia.
"Ayo ke dapur, paper baginya di letakkan aja di atas meja, nggak akan hilang aman." jelasnya begitu ramah.
"Ini Bu." angkat keranjang buah. "Maaf hanya ini yang bisa aku bawa."
Senyum Ibu Sari. "Nggak apa-apa, Ibu senang di bawain buah sama menantu kesayangan Ibu." mengelus kepalaku.
"Oh ya Bu, Oma tadi mau kemana?" tanyaku saat kami berjalan ke arah dapur.
"Ke Paris, itu nemuin idolanya."
Gue hanya mengulum senyum. "Siapa Bu?"
"Entahlah orangnya nggak jelas, namanya sama seperti kamu. Tapi menurut Ibu dia orangnya aneh." berdiri kami berdua di depan kitchen set.
"Ibu tau dari mana kalau orangnya aneh?" ingin tauku.
"Dari namanya aja, Zahra simalakama. Taukan kamu lagu simalakama, di turutin salah nggak di turuti salah." senyum Bu Sari ingatnya sebuah lagu. "Terus dia benar-benar menyimpan rapat-rapat jati dirinya, nggak boleh siapapun tau." jelasnya lagi.
"Masa gitu Bu?"
"Iya! Katanya dia menyimpan data pribadinya."
"Ibu tau dari mana?" ingin tau gue semakin kuat, gimana Falisha menutupin diri ini?
"Pihak manajemen, dan Falisha. Katanya jika pribadinya terbongkar, urusannya ke pihak berwajib."
"Masa sih Bu?" masih nggak percaya gue.
__ADS_1
"Iya! Ibu sama Oma sering banget ngerayu Falisha ngasih tau data si penulis itu. Ingin banget lihat anak-anak Ibu nikah, umur udah tua masih bergelut dengan dunianya sendiri, untung Hanum udah nikah, nggak ikutin dua saudaranya." jelas Ibu Sari terlihat sedih.
"Tapi sekarang Ibu legah, Abyan memutuskan menikah sama kamu. Tinggal pusing mikirin Falisha yang belum di kasih jodoh. Oma sampai maksa menyuruh kencan buta di restoran yang telah di janjikan. Sampai beberapa kali gitu ya, oh sekitar dua puluh orang nggak salah." sambung Ibu Sari.
Gue akuin, Falisha memang sering cerita, tetang perjodohan yang membuatnya nggak bisa fokus pada pilihannya sendiri.
"Hanum, Mas Darman dan anaknya kemana, Bu?" belum melihat mereka.
"Oh mereka lagi pergi ke Bandung jalan-jalan, sekolahnya Tama dan Amel yang mengadakan acara di sana. Ibu dan Bapak kandung di suruh hadir." jelasnya memberi tahu. "Oh iya, mau masak apa kita?" Ibu Sari mengalihkan pembahasan ke lain.
"Ibu mau makan apa hari ini?" tanyaku balik.
"Sepertinya hangat-hangat berkuah enak mungkin." mencari solusi.
"Gimana, masak sop ayam Bu?" memberi solusi.
"Ah iya enak tuh." melihat Bi Tanti yang telah hadir di belakang kami. "Bi tolong siapin bumbunya."
"Baik, Bu." jawabnya langsung membuka kulkas ukuran dua pintu, tinggal pilih aja di sana.
Berjalan mendekati, memegang bahan lainnya.
"Bu, kalau sop ayam, sambalnya terasi, goreng tempe dan tahu. Mau nggak?" tawarku.
"Iya boleh, udah lama Ibu nggak makan sambal terasi."
Bayanginya gue jadi lapar kembali.
"Aaaaaa..." teriakan Oma Farra, mendekatin.
"Kenapa, Ma?" tanya Ibu Sari.
"Kesal!" ucapnya dengan emosi.
"Kenapa kesal, Ma?"
"Itu Zahra simalakama nggak jadi buka stand di Paris."
"Mama sih sudah di bilang. Nggak jelas gitu." ucap Ibu Sari ketus.
"Dia nggak jadi buka di sana, katanya buka stand di negaranya sendiri. Belum tau di mananya?" jelas Oma Farra lagi.
Gue hanya diam mendengar ucapan Oma Farra dan Ibu Sari.
"Oh gitu." Ibu Sari mencari sesuatu. "Ishana mana Ma?" tanyanya.
"Pulang, dia juga kesal! Di tambah ada yang tiruan tambah kesal." jawab Oma Farra dengan melihatku tak sukanya.
Ibu Sari tersenyum. "Mama jangan bicara gitu, Zahra ‘kan cucu Mama, Istrinya Abyan." ucapnya ramah, tapi terdengar kesal.
"Pokoknya, jika Zahra simalakama udah bertemu dan setuju. Abyan harus mau, menjadikan yang asli istri ke-duanya, kalau bisa yang tiruan mundur." tetap pada pendirian Oma, dengan ucapan pedas.
Gue bisa apa? Hanya diam saja, mendengar perkataan Oma.
"Ma, kitakan sudah turun temurun, tidak beristri dua, kecuali meninggal." ucap kesal Ibu Sari.
Mengelus bahu Ibu Sari. "Nggak apa-apa, Bu. Jika Mas Abyan mau." berakting sedih menghayatin setiap drama yang ada.
"Nah sadar diri! Lagian, Ri. Dia juga menikah di tutupin cadar 'kan." tangan Oma menunjukku. "Mana orang tau kalau Abyan punya istri lagi. Jika ada acara, hanya yang asli bukan tiruan di ajak." pedas Oma Farra berucap.
Oh Oma mau menjauhi gue ternyata. "Baiklah Oma, saya siap tapi! Jangan harap Mas Abyan mempunyai keturunan dariku." ucapku penuh penekanan, asli gue juga panas.
Oma Farra terdiam, dan pergi meninggalkan kami.
"Nak, kamu jangan bicara begitu." cegah Ibu Sari.
Gue tersenyum nggak mau Ibu Sari merasa ikut tersakiti. "Aku hanya bercanda, Bu." bisikku nakal.
Ibu Sari langsung tersenyum-senyum.
Bersambung...
__ADS_1