Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 16 Masa lalu Mas Abyan


__ADS_3

"Makasih ya Sha, udah antar gue pulang." ucap Mika saat kami mengantarnya duluan pulang ke rumah.


"Sama-sama, kami langsung berangkat ya. Mau antar Zahra pulang dulu. Maaf kami berdua nggak bisa mampir." ucap Falisha.


Senyum Mika. "Nggak apa-apa lain kali aja." membuka pedal pintu turun dari dalam mobil lanjutnya berdiri di depan pintu mobil dekat Falisha.


Gue dan Falisha hanya tersenyum. "Dada..." lambaian tangan gue dan Falisha lakukan.


Mika membalas. "Dada..." ucapnya.


Gue dan Falisha membawa mobil pelan berjalan meninggalkan Mika.


"Ra cerita dong, soalnya gue ingin tau, Mamas kenapa bisa nikah sama elu. Kenal di mana kalian?" ingin taunya Falisha makin mencurigakan.


"Gue terus menentang pernikahan ini, keluarga gue masih memaksa termasuk Mamas elu?" angguk Falisha mengetahui semua kondisi. "Syok gue, pulang-pulang dengan lesu, lunglai, lelah, letih, lemot gue rasain. Mandi juga belum, tidur hanya empat jam dua hari dua malam. Pulang kerja jadi istri Mamas elu."


"Terus?"


"Iya gue masuk ke kamar nangis dulu, sesak tau ni hati." tunjukku ke dada.


Falisha memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Dirinya memeluk, dan mengelus punggungku, melihat air mata mengalir.


Falisha melepas pelukan.


"Terus Yayu Diyah nyuruh gue keluar, bahwa Mamas elu mau bawa gue ke rumahnya. Gue langsung aja ganti pakaian yang belum mandi itu, dengan semprotan parfum." sambungku.


"Hahaha..., Jadi lu kapan mandi?"


"Mandi ketemu malam, jadi gue tiga hari nggak mandi."


"Hahaha... Hahah..." tawa Falisha. "Terus-terus."


"Nabrak!" kesal gue, bukannya turut berduka cita malah ketawa. Emang gue lagi komedi apa?


"Ah serius?" pegangannya tanganku.


"Lu sih ketawa, nggak lucu tau."


"Iya-iya maaf." rayunya.


"Terus Mamas Lu ngajak gue ke hotel, gue iya-iyakan aja capek gue dengan mata yang ngantuk. Udah sampe, Mas Abyan ngajak gue ke kamar. Otak gue traveling tau, takutlah baru juga kenal udah main ke kamar aja. Emang gue wanita panggilan."


"Terus lu kemana?"


"Mas Abyan sendiri yang ngajak ke restoran dulu, gue langsung iyakan aja. Dia pesan makan, sampailah selesai tu makan, nggak juga bicara Mamas lu. Nih mata gue nggak tahan ngantuk banget, rasanya ingin tidur di lantai restoran. Gue langsung aja buka suara liat jam tangan, ngasih waktu setengah jam buat ngejelasin semuanya." tarik nafas. "Dia bilang pernah ketemu gue di tempat cafe ngajak kenalan. Gue bilang kalau mau temanan gue nggak suka, kalau mau serius lihatkan lu apa yang di siapin Mas Abyan buat gue." sambungku.


"Gimana ceritanya Mamas langsung nikahi elu. Lu nggak ingat apa gitu pernah bertemu Mas Abyan di mana gitu, di tempat lain."


"Kata Mas Abyan gue pernah nabrak dia lagi jalan. Bingungkan lu dengarnya, gue aja lupa ketemu orang apalagi buat nabrak orang jalan kaki, seperti nggak ada jalan lain apa? Bisa jadi Mamas lu suster ngesot kali ya, gue tabrak nggak kelihatan."


"Hahahaha... Hahaha..." Falisha tertawa hebat.


"Lu kira gue komedi kali ya, lu ketawain gue terus."


"Serius lu bisa banget, bikin suasana yang sedih kalau di hayati, berubah jadi komedian. Hidup lu seperti drama ikan teri pakek helm. Hahaha... hahaha... Besar helm dari kepala hahahaha... Maksudnya banyak lucu dari sedihnya." tawa Falisha.


"Hahaha... Gue nggak mau lu ikut stres seperti gue." ikut tertawa.


"Jangan sayang! Entar lu stres, Mamas gue ikut stres."


"Napa?"

__ADS_1


"Gimana nggak stres, lu bisa bikin ketawa. Bisakan Mamas gue juga ketawa-ketawa setiap hari. Di caplah kalian gila berjamaah hahaha..."


"Dah lanjut nggak nih?"


"Lanjut!"


Kami berdua kembali ke mode serius. "Terus gue sempat di katai oleh, Mas Abyan. Gue nih punya penyakit amnesia. Ingin banget rasanya ngajak Mamas lu berantem serius deh."


Falisha tersenyum-senyum. "Ajak aja Mamas brantem, kalau lu mau."


"Enak lu berkata, jadi gembel gue brantem sama Mamas lu."


"Haha... Ajak aja berkelahi di atas ranjang."


Mata gue melebar. "Suka lu ya, gue marah."


"Maaf-maaf, jangan marah sayangku." Falisha memelukku. "Terus gimana lagi?" melepas pelukan.


"Akhirnya gue sama Mas Abyan sepakat buat jadi teman dulu, walau awal dia ngajak pacaran. Kenal enggak! Cinta apalagi, langsung pacaran. Gue tetap mau temanan, kenalan dulu." jelasku lagi.


"Jadi status kalian temanan?"


Gue menganggukkan kepala. "Iya betul."


"Semoga kalian nantinya jadi pasangan suami istri benaran." doanya dengan sedikit tersenyum, namun terlihat jelas wajah Falisha terlihat sedih.


"Gue mau nanya, lu ada yang di rahasiakan ya? Kepo banget dengan hidup Mamas. Emang Mamas selama ini penyuka laki-laki? Umur udah gitu nggak kawin-kawin." mulai gue yang kepo.


"Nikah dulu kali baru kawin." jelas Falisha.


"Iya, nikah maksudnya."


"Tapi awas lu bilang sama orang lain, atau tanya sama Mamas langsung. Sebelum dia yang cerita, lu bisa jadi serundeng sama Oma Farra." ancamnya.


"Oh itu! Gini ceritanya Oma Farra tuh orangnya baik banget, dia tuh suka sekali, sama film yang kemarin lu buat. Berjudul only fans, pernah sampai dapat piala nominasi, yang lu nggak mau datang, hanya ambil duitnya aja. Oma Farra di beritahu oleh pihak manajemen penulisnya masih lajang, udah hebat bisa naikin tingkat perusahaan kita. Dia berusaha banget nyariin, lu. Gue nih yang berusaha nutupi lu, tanpa gue kasih tau. Guekan tau trauma lu yang nggak mau memutuskan buat menikah, yang akhirnya tetap menikah dengan Mamas gue."


"Terimakasih." pelukku merasa bahagia, ternyata teman gue peduli sampai segitunya. "Terus?" ingin tau gue semakin tinggi.


"Sebentar gue mau tanya. Elu nggak ada apa, minat buat ngejelasin ke Oma, kalau elu yang dia cari?"


"Nggak ada, biar Oma tau sendiri. Gue mau masuk di keluarga elu apa adanya, bukan ada apanya."


"Sip!" angkatnya ke-dua jempol tangan.


"Lanjut jelasin Mas Abyan tadi."


"Begini! Mamas tuh punya trauma."


"Oh ya?" terkejut gue.


"Iya! Bedanya Mamas tuh di tinggal sama Mbak Cherly saat habis ngelamar gitu di hotel, mereka tu udah kenal lama banget, Mamas masih SMP. Sama kami aja, udah kenal banget. Soalnya Mamas sering ngajak dia ke rumah. Tapi ya jujur, gue kurang suka, Oma pun sama."


"Kenapa bisa gitu?"


"Kurang suka sama sifat yang sok baik, padahal gayanya seperti dedemit."


"Ih kok Mamas lu suka."


"Entahlah gue juga kurang tau."


"Terus?"

__ADS_1


"Nah, Mbak Cherly minta beliin buah gitu, katanya buat di bawa pulang. Mas Abyan cerita waktu di mintai keterangan oleh pihak berwajib. Pas Mamas beli mau balik, tuh mobil di tabrak sama mobil lain sampai meledak. Udah di tolongin sama pemadam kebakaran, tapi tu mobil masih ke bakar, saat udah mati tu api, Mbak Cherly nggak di temukan sepertinya sudah hangus jadi debu. Dari kejadian itu, Mamas stres seperti orang nggak waras sampai dua tahun di rumah sakit jiwa."


"Lah gue nikah sama orang gila dong?"


"Itu dulu, sekarang nggak!"


"Benar?"


"Seratus persen benar, percaya deh sama gue."


"Serius?" yakiniku lagi.


"Serius! Nggak percaya banget si lu sama gue."


"Emang! Lukan adiknya. Siapa tau elu nutupi aib Mamas, elu."


"Ya Allah, sumpah demi apapun. Kalau lu nggak percaya di cek sendiri. Lukan belajar psikolog juga jadi orang kesehatan."


"Iya deh, gue pastiin. Takutkan gue di tikam."


"Emang! Entar di ranjang tu, buat keponakan gue." candanya.


"Mesum lu."


"Emang iya."


"Bahas yang ajalah, geli gue bahasan lu. Kenapa tu bisa sembuh Mas Abyan pasti ada penyebabnya?"


"Kami semua juga bingung Mas Abyan bisa berubah dalam sekejap, dua tahun bukan waktu yang sebentar. Berubahnya tuh waktu kami di kabari perawat di sana bahwa Mamas kabur entah kemana. Pas di cari duduk tu di ujung lorong, sepi seperti banyak pikiran diam aja, walau emang tiap hari Mas Abyan sikapnya begitu."


"Kesambet kali ya Mamas lu?"


"Elu kalau bicara suka benar deh."


"Hahaha..." kami tertawa bersama.


"Kami pikir juga begitu, tapikan nggak mungkin juga, yang penting Mas Abyan sembuh, udah bikin kami semua bahagia. Mas Abyan balik semula seperti biasanya bikin semua bersyukur banget. Selama sakit Ayah yang handle pekerjaan Mas Abyan. Dia sembuh, semua dia kerjakan seperti semula."


"Mamas lu pintar ya, udah jadi CEO dari usia dini?"


"Eh, usia dua puluh lima tahun. Emang Mamas gue jin apa, bayi udah kerja?"


"Hahaha... Siapa tau aja?" candaku.


"Mamas tu otaknya lumer banget, mukanya aja beku. Sekolahnya lompatan-lompatan, sampai S3 di London."


"Emang kodok lompat?"


"Seriusan gue."


"Iya iya! Berarti gelarnya Doktor dong?"


"Iya."


"Cerita Mamas lu tragis juga, kalah gue. Tapi, sepertinya Mamas lu nikah sama gue terpaksa juga kali ya. Katanya desakan keluarga."


"Yah, kita lihat aja nanti."


"Lihatlah gimana kelanjutan drindonya, yang menceritakan si perawat cantik di paksa nikah Pak Bos ganteng."


"Iya udah kita pulang, entar Mamas gue marah kelamaan bawa istrinya keluar."

__ADS_1


"Hmmm!" anggukku pertanda setuju.


Bersambung...


__ADS_2