Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 3 Alasan.


__ADS_3

Berjalan mendekatin motor, memasang helm.


"Kita nggak pakai motor, Ra." suara merdu Pak Abyan akhirnya keluar.


"Terus naik apa?" melepaskan helm.


"Itu mobil di depan." tunjuknya mobil mewah terparkir di depan pagar.


Perasaan tadi nggak ada disitu, kapan datangnya?


Mengikutin jalan Pak Abyan.


Melihat sebentar motor kesayangan setelah di depan pintu mobil. Entar kita bertemu lagi ya bestie. Sedih gue sempat-sempatnya memikirkan motor kesayangan. Biasanya kemana-mana di bawa, dialah sahabat baikku, walau pun sebuah motor. Tenang kita berpisah sebentar saja.


Gue hanya bisa diam saja saat ini, jangan sampai kata-kataku menyakiti siapapun, walaupun banyak orang yang berkata menyakiti.


Penglihatanku hanya keluar jendela, tanpa kata dan ekspresi di tunjukkan.


"Khem!"


Pak Abyan memecahkan keheningan.


"Kita ke hotel, bicara di sana." ajaknya.


Gue hanya diam, masih tidak ingin berkata apapun, dengan menahan kantuk yang tak tertahankan. Bisa nggak ni mata di lem dulu ke atas, kelopak matanya. Menarik nafas dalam-dalam kemudian di keluarkan secara perlahan, memberi oksigen penuh pada otak yang mulai tidak aktif berkerja.


Mobil berhenti di depan hotel yang tak jauh dari rumah.


Gue harus profesional menghadapi Pak Abyan, mengedipkan mata agar memberi casan baterai dengan semangat empat puluh lima.


Turun dari mobil di sambut scurity. "Selamat siang Pak Abyan." tegurnya dengan ramah.


Loh kenapa scurity tau nama Pak Abyan?


Senyum Pak Abyan. "Siang, ini kuncinya." memberikan pada scurity.


Apa mungkin Pak Abyan langganan tidur di hotel ini? Jadi mereka kenal.


"Baik Pak." ambilnya kunci, menaikin mobil berjalan ke arah lain.


"Ayo." ajak Pak Abyan padaku.


Berjalan masuk. "Siang Pak Abyan, ini kunci kamarnya." pegawai yang telah hadir menyambut kami memberikan card lock (kunci kamar).


Sebentar! Apa kita ke kamar?


"Maaf Pak, kita mau kemana?" melihat Pak Abyan.


"Iya ke kamar?" jawabnya santai.


"Ke kamar ngapain, Pak?" puraku polos.


"Kenapa? Apa kamu mau duduk di restoran dulu makan?" tanyanya balik.

__ADS_1


Langsung saja menganggukkan kepala, Apa perlu gue berkata, ngapain Pak kita kesana udah mau main sat set ya, nikah aja elu paksa begini?


Gue gampangan gitu, walau mata gue berat ngajaknya ke sana, tapi nggak juga dengan dirimu Pak.


Pak Abyan hanya diam, seolah dia paham kenapa gue ingin ke restoran dari pada ke kamar. Dimana kondisiku yang baru pulang kerja, belum makan langsung di bawa ke hotel. Bisa nggak sih semua itu di bilang buang energi banyak.


Pelayan datang membawa buku menu, memberikan pada kami berdua.


Gue hanya pilih menu yang terbilang murah, dengan kata murah tapi uangnya cukup banyak beli bakso bakar sama gerobaknya.


Habis sudah isi kantong gue beli ini aja.


Selama menunggu kami berdua hanya diam, melihat sana sini. Entah apa yang di pikirkan Pak Abyan?


Beberapa menit makanan langsung di sajikan. Makanku pelan dengan sopan, malu dengan atasan.


Dalam beberapa menit makanan habis, pelayan membereskan.


Gue mengangkat tangan kiri, melihat jam. "Setengah jam saya ingin mendengar alasan Bapak, lebih dari itu saya pamit untuk beristirahat. Bapak pasti mengerti kondisi saya saat ini." memberi kode keras dengan senyuman paksa.


"Saya menikahimu, karena itukan maumu." jelasnya.


"Kapan? Kita saja nggak pernah bertemu. Mungkin Bapak salah orang." bisa saja begitu.


Senyumnya mengeluarkan dua lesung pipi, sampai jantungku menari zumba.


"Coba perhatikan, kamu pernah bertemu dengan saya, di tempat cafe nggak?"


Pak anda jangan ngajak gila, di suruh mandangin elu terus, pingsan gue.


"Saat di parkiran, saya berbicara padamu. Kamu mau pulang, kamu langsung saja bertanya mau apa pada saya? Tentu saya ingin berkenalan, kamu bilang kalau berteman saya nggak suka dengan laki-laki. Kalau mau pacaran juga enggak! Kalau mau serius maharmu lima puluh juta, emas dua puluh lima gram, belum emas kawin, rumah, sawa lima hektar. Setelah berbicara kamu pergi begitu saja." jelasnya panjang lebar.


Oh gue baru ingat. Pak Abyan ternyata laki-laki terakhir yang bikin gue kesal, sampai tujuh langit, tujuh samudra, tujuh lapis bumi dan tujuh lainnya.


Baru ingat gue, saat itu adalah hari di mana lagi kesal setengah mati. Lagi fokus makan enak, malah di tanya ini dan itu, oleh laki-laki aneh. Eh terakhir sama Pak bos, entah waktu itu benar-benar nggak memperhatikan wajahnya karena ingin banget lari bawa si abu-abu pergi yaitu motor ke sayangku.


Gue mengulum tawa.


"Kenapa, ada yang salah?" tanyanya bingung.


"Iya iyalah Pak. Waktu itu saya hanya bercanda aja, bukan serius yang di katakan." sambil nahan perutku sakit.


Lihatku kembali pada jam tangan. "Udah dulu ya Pak, saya izin pulang mau istirahat." gue berdiri.


"Tunggu!" cegahnya.


"Kenapa, Pak?"


"Kamu mau kemana?


"Pulang ke rumah."


"Kamu lupa saya suami kamu?" tanyanya.

__ADS_1


Gue menundukkan kepala, memejamkan mata sebentar, lupa. "Iya jadi saya harus kemana, Pak?"


Ya Tuhan bantu hambamu ini, ngantuk banget.


Pak Abyan memegang tanganku, dengan lembut. "Ke kamar." ajaknya.


Gue hanya diam di bawa ke arah lift menekan tombol paling atas.


Ting!


Keluar lift menuju kamar nomor dua ratus sembilan. Jantung gue menari-nari menggila kembali, tangan kami benar-benar bersentuhan ini pertama kali.


Sesampai di depan kamar, ku paksa melepas tangan dari genggaman Pak Abyan.


"Bapak mau apa?" merasa cemas.


"Di sini kamar kita." tariknya kembali tanganku.


Ceklek!


Dup!


Masuk ke dalam ruangan menutup pintu.


"Pak saya belum siap." takut melakukan hal mesum.


Pak Abyan hanya tersenyum, memegang bahuku.


Gue langsung mundur, ini laki-laki main sentuh aja. Sudah ke tangan naik ke bahu, agresif banget, geli gue.


Inginnya memegang lagi, tapi nggak jadi. Entah apa yang Pak Abyan pikirkan?


"Maaf, saya hanya ingin menyuruhmu beristirahat di sini. Saya yakin, kamu pasti sangat capek." menunjukkan isi kamar itu.


"Oh ya, tapi kenapa Bapak masih di sini?" rasa cemas, walaupun sudah meminta maaf dan bersikap sopan.


"Kamu lupa lagi, siapa saya?" mengingatkan kembali.


Gue tau kalau laki-laki dan perempuan sudah menikah satu kamar. Tapikan ini terlalu cepat.


"Saya tidak bisa istirahat Pak, kalau ada laki-laki lain. Harap maklum! Apa Bapak mau, saya menahan kantuk yang berlebihan, sampai-sampai bisa memicu jatuhnya saya sakit?" alasanku.


Senyumnya kembali menggentarkan hati. "Iya sudah tidurlah, saya keluar dulu." berjalan ke arah pintu.


Ceklek!


Dup!


Huuuf!


Melihat ruangan telah di hias begitu indah, di atas ranjang bertaburan bunga mawar merah dan dua boneka yang berbentuk angsa terbuat dari handuk putih.


Rasa sayang, untuk di tiduri. Lihat pada sofa berukuran besar dekat gue sebelah kiri, pas sekali ukurannya dengan tubuh gue yang tingginya seratus enam puluh sentimeter ini.

__ADS_1


Di sini ajalah minta bantal satu, tidur di sofa yang empuk, buang dulu masalah yang ada, memejamkan mata langsung tenggelam bersama mimpi.


Bersambung...


__ADS_2