
Mandi membersihkan tubuh menggunakan air hangat, setelahnya mengeringkan dengan handuk dan melilitkan di tubuh.
Ceklek!
Keluar kamar mandi, langsung menuju lemari pakaian melihat banyak banget pakaian dinas yang sudah di siapkan oleh Ibu Sari, hanya saja gue pakai daster biasa saat di dalam kamar.
Menelan saliva melihat pakaian yang kurang bahan itu, sekalian aja gue nggak perlu pakai pakaian. Melihat pakaian yang hanya menutupi area sensitif saja.
Gue pakai ini langsung keluar kamar, tibanya ada orang lain yang lihat di ngap tanpa perundingan, sesudahnya Mas Abyan nguburin gue hidup-hidup.
Meletakkan lagi pakaian tadi, mengambil yang tidak terlalu vulgar tapi menarik.
Mulai mengeringkan rambut, setelahnya memakai pakaian dalam di lapisi dress batas atas lutut, dengan tali seukuran sejari belahan dada terlihat sedikit. Memakai cardigan dress tipis berlengan panjang, batas lutut, talinya gue ikat sampul pita.
Berdiri di depan cermin, mulai memakai lip tint berwarna merah sedikit ke dalam, dengan rasa stroberi.
Memakai parfum sedikit, di pergelangan tangan dan bagian leher. Menyisir rambut dengan menyanggul sedikit longgar.
Melihat hasil karya, gue terlihat seperti wanita malam deh, ini kira-kira Mas Abyan tertarik nggak lihat gue, atau malah terlihat jijik.
Gue aja yang menilai seperti ini, terlihat agresif banget.
Huuuuf!
Mencoba mengatur nafas, jantung gue mulai mengadakan tumpengan di dalam sana.
Bismillahirrahmanirrahim, semoga Mas Abyan suka.
Ceklek!
Melihat semua ruangan, takut ada Pak Amin atau orang lain, hmmm aman nggak ada orang.
Berjalan mendekati kamar Mas Abyan, tangan mulai ingin mengetuk pintu tapi nggak jadi. Duh jantung gue goyang aerobiknya kuat banget, berjalan pelan kesana-kemari menenangkan pikiran. Gue nih mau buka segel kok begini banget, nggak apa-apa ‘kan menawarkan diri.
Menarik nafas dalam-dalam, kemudian di keluarkan, bismillahirrahmanirrahim semoga lancar luncur tanpa hambatan, pahala Ra pahala.
Kembali berdiri di dekat kamar Mas Abyan, mengangkat tangan.
Tok tok tok.
Menunggu Mas Abyan membukakan pintu, berjalan kesana kemari menunggu, masih juga belum di buka. Apa Mas Abyan di kamar mandi atau udah tidur ya? Tapi melihat Mas Abyan tadi, nggak mungkin secepat itu pulih.
Aduh jantung gue mau lepas rasanya.
Coba aja lagi deh gue ketuk.
Tok tok tok.
Menunggu beberapa detik, masih juga nggak di buka. Apa Mas Abyan benar-benar sudah tidur kali ya?
Hmmm, mungkin benar, sudahlah gue lebih baik kembali ke kamar jalan memutar.
Ceklek!
Pintu Mas Abyan terbuka.
"Ada apa, Ay?" suaranya terdengar lemas.
Melihat Mas Abyan, dirinya terlihat basah, memakai handuk batas pinggang, wajah dan tubuh memerah, dengan nafas yang tidak beraturan.
"Mamas kena-"
Mas Abyan langsung menciumku, tangannya merapatkan tubuh kami.
Mas Abyan melepas ciuman. "Ay, Mamas sudah bilang jangan mendekat, kamu masih aja nggak dengar. Sekarang kamu nggak bisa lari lagi, Ay." kembali mencium, tibanya Mas Abyan melepaskan dan menjauhiku.
"Nggak! Mamas harus tahan, kamu masih datang bulan." kembali ke kamar.
"Nggak lagi Mas, udah tiga hari yang lalu." langsung berbicara jujur.
Mas Abyan berhenti, kembali dirinya melihatku, kemudian berjalan mendekat begitu cepat dirinya langsung menggendong seperti di culik, berjalan ke kamar utama.
__ADS_1
Ceklek
Dup!
Meletakkan gue di atas ranjang, baru kali ini masuk ke dalam kamar utama, Mas Abyan mematikan lampu menyisakan lampu berwarna kuning yang terbilang sangat romantis, menghidupkan AC agar ruangan terasa dingin dengan tubuh kami yang mulai terasa panas.
"Ay, kamu nggak bisa lari lagi." Mas Abyan telah berada di hadapanku dengan jarak kami yang begitu dekat.
Terdengar jelas suara detak jantung kami berpadu, mengadakan tumpengan bersama.
"Hmmm, iya Mas." jawabku.
Mas Abyan kembali menciumku, menghisap dan mengabsen setiap yang ada di dalam sana, tangannya membuka ikatan cardigan, secara perlahan melepaskannya membuang ke sembarang arah.
Mulai Mas Abyan mengarahkanku untuk tidur di atas ranjang yang di tutupin seprai putih, Mas Abyan melepaskan ciuman, dirinya mengambil selimut tebal yang berada di bawahnya. Menutupi tubuh kami berdua, dadaku yang naik turun mulai nafasku susah untuk di tarik, jantung yang tidak tau lagi detaknya mengarah kemana.
Kembali Mas Abyan mencium bibirku, mengabsen setiap yang ada di dalam sana.
Tangannya mulia memegang pakaianku.
Street!
Street!
Sreet!
Merobek pakaianku, dan membuang sembarang arah.
Tangannya kembali.
Sreet!
Sreet!
Merobek kaca mata favoritku.
Tubuhku bagian atas tidak lagi tertutup apa-apa, Mas Abyan melepaskan bibirku dirinya mencium ke bagian leher mengabsen di setiap incinya.
Entah kenapa tubuh gue merasa sangat panas, kepalaku terasa pusing, rasa apa ini?
"Aaaah..." nggak bisa menahannya lagi.
Semakin menghisap. "Aaaah.."
Mas Abyan melepaskan, alihnya turun ke bawah, mencium perut dengan tangannya masih setia bermain buah semangka.
"Aaaaah..." melepaskan semua yang di rasa, apa begini rasa nikmat itu.
Melepaskan pegangan.
Sreet!
Sreet!
Menyobek lagi bagian bawah, tubuhku sekarang benar-benar polos. Pakaianku habis di robek Mas Abyan, membuka lebar-lebar pangkal paha mulai ingin mendekat kebagian itu.
"Mas, jangan!" cegahku memegang kepala Mas Abyan agar dirinya tidak kesana.
Mas Abyan memegang tanganku dengan lembut, dirinya masih mendekat dan bermain di sana.
"Aaaaah..." diriku kembali merasakan pusing,
"Aaaah..." benar-benar tidak bisa lagi menahannya, semua terasa panas.
"Mas aku mau buang air kecil." teriakku yang ingin mengeluarkan sesuatu.
Mas Abyan semakin bermain liar. "Aaaah..." eranganku semakin jadi.
"Mas lepas, aku benar-benar ingin buang air kecil." teriakku.
Mas Abyan melepaskan, tibanya keluar sebuah cairan, sepertinya bukan air seni.
__ADS_1
Mas Abyan membuka handuk yang lilitkan di perutnya, membuang ke sembarang arah, dirinya terlihat polos, semuanya gue lihat. Mas Abyan kembali naik ke atasku. merapatkan tubuhnya, mencium bibirku. Nafasku serasa ingin habis, melepaskan ciuman beberapa detik, kembali Mas Abyan mencium.
Ke-dua tangan Mas Abyan memegang ke-dua tanganku dengan erat, tibanya merasakan benda kenyal di bawah sana mulai ingin masuk perlahan. Hmmm sakit, mengigit bibir Mas Abyan.
Krek!
Mas Abyan melepaskan ciuman, darah segar keluar dari sudut bibirnya. Mengelap sebentar, kembali mencium. Benda kenyal kembali masuk secara perlahan, Mas Abyan melepaskan ciuman dirinya beralih mencium leherku.
Memaksa masuk.
Sakit...
Melihat bahu Mas Abyan tibanya mengigit, semakin di dorong semakin gue gigit, semakin kuat dorongan, gue semakin kuat mengigit rasanya sakit banget, dorongan semakin kuat, gue semakin menggila mengigit bahu Mas Abyan.
Sreet!
Jleb!
Full semuanya masuk.
Mas Abyan berhenti mendorong, gue berhenti mengigit bahu dan melepaskannya. Melihat darah segar di bahu Mas Abyan mengalir.
Tubuhku terasa lemas, air mata mengalir begitu saja, merasa kehilangan yang paling berharga di kehidupanku.
"Terimakasih, Ay." bisik Mas Abyan.
"Hmmm iya Mas, sama-sama."
Perlahan Mas Abyan mulai bermain goyangan aerobik secara perlahan, kembali merasa panas, rasanya kepala gue pusing, semakin naik tingkat permainannya, semakin membuat gue tidak bisa menahannya.
"Aaaaah..."
"Hmmmm, aaaah.."
"Aaah... Ah, ah."
"Hmmm... Mas..."
"Mas... Aaaaah..." eranganku menjadi jadi, nggak bisa di kontrol.
Suara decapan di bawah sana, menambah meramaikan isi ruangan.
"Aaaah..." teriakku yang terus menerus.
Kembali merasakan ingin buang air kecil.
"Mas, Aaaah, Mas aku mau buang air kecil." teriakku.
Mas Abyan semakin meningkatkan permainannya.
"Mas, Aaaaah..." nggak bisa lagi menahannya.
Mas Abyan mendorong dalam-dalam, tibanya berhenti, mengeluarkan cairan kembali.
"Aaaah..." serentak kami ucapkan.
Kami telah sampai pada puncak kepuasan dengan rahimku juga terasa hangat, mungkin berudu sedang berjalan-jalan puas di dalam sana.
Beberapa detik Mas Abyan masih di atasku, dengan nafas kami yang tidak beraturan. Mas Abyan melepaskan dan berguling di sampingku.
Keringat yang mengalir deras, nafas yang tidak bisa gue hisap secara sempurna.
Mas Abyan tibanya kembali naik ke atasku. "Ay, kurang." pintanya lagi.
Apa? Mas Abyan meminta lagi. Apa mungkin obatnya belum hilang? Jika belum mau gimana lagi.
"Hmmm, iya Mas lakukanlah." kembali melayani Mas Abyan, agar dirinya bisa meluapkan semuanya. Nggak mau Mas Abyan kenapa-napa.
Kami berdua lanjut bermain kuda lumping.
Bersambung...
__ADS_1