
"Kami pulang dulu ya, Nak. Hari sudah malam juga?" ucap Ibu Sari.
"Terimakasih ya Ibu dan semuanya udah buat acara selamatan untuk rumah kami." ucap Mas Abyan dengan tersenyum.
"Terimakasih, maaf kami baru pindah belum bisa mengadakan syukuran." ucapku bersalaman dengan semua keluarga yang di ikuti Mas Abyan.
"Iya sama-sama Abyan, Zahra." jawab Bi Rosida dan lainnya.
"Nggak apa-apa, kami sudah menyiapkan sebelum kalian. Lagian Abyan juga sibuk terus." sambung Oma.
"Tante Zahra, Ike bolehkan nginap di sini lain waktu?" tanya Ike.
"Boleh." jawab Mas Abyan.
"Alhamdulillah, aku juga ya Mas?" ucap Falisha.
"Aziz mau di tinggal?" tanya Mas Abyan.
"Ikut." jawab Pak Aziz langsung.
Semua yang mendengar menahan tawa.
Hmmm, Pak Aziz berubah jadi gitu ya, alhamdulillah.
"Kalau Mas Abyan santai aja kalau aku nginep di rumah Ibu, dirinya tinggal di rumah." candaku.
"Kata siapa, Ay?" Mas Abyan langsung bersuara tanda dirinya tidak suka.
"Aku, barusan." ucapku santai.
"Ah, kemarin aja Ayah suruh Abyan sendiri pulang ke rumah, Mamas langsung demo sama Ayah." ucap Ayah Dameer menyindir Mas Abyan.
"Ayah, jangan di ingat lagi." Mas Abyan terdengar kesal.
"Mengingatkan aja." sindir Ayah Dameer.
"Udah pulang jangan di bahas." Oma Farra menengahi dirinya langsung berjalan keluar rumah.
Mereka semua mengikuti dengan mengulum senyum.
Selesainya mereka menaikin mobil. "Dada..." ucap semua dengan melambaikan tangan saat mobil melaju.
Melambai tanganku ke mereka dengan tersenyum.
"Selesai juga acaranya." menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri merasa syaraf di leherku terlalu tegang.
"Kenapa, Ay?" tanya Mas Abyan.
Berjalan masuk ke dalam rumah. "Hmmm, nggak apa-apa Mas. Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar."
Mas Abyan menutup pintu.
"Hmmm."
Berjalan ke kamar utama, langsung ke ruangan pakaian.
Kemarin kamarnya nggak sebesar kamar utama yang pakaian dan tempat tidur jadi satu.
__ADS_1
Kalau di ruang utama pakaian dan keperluan lainnya di letak khusus di ruang lain. Terlihat lebih rapi dan luas sih.
Mengambil pakaian daster berlengan pendek batas lutut, sudah cukup gue memakai pakaian dinas yang ujung-ujungnya habis di robek Mas Abyan, sayang banget harga pakaian yang terkenal mahal gitu habis pakai buang, seperti buang uang dengan percuma gitu. Lain kali aja, saat Mas Abyan bisa mengontrol dirinya, bisa jadi sih kemarin itu pengaruh obat, jadi khilaf aja maunya sat set sat set.
Selesai memakai pakaian, berjalan ke kamar mandi mencuci wajah, sikat gigi. Selesai keluar kamar mandi, melihat Mas Abyan seperti biasa sebelum tidur fokusnya ke layar laptop.
Menaiki ranjang, duduk di sebelah Mas Abyan. "Mamas belum mau ganti pakaian?"
"Belum, Ay. Sebentar lagi Mamas mau nyelesain pekerjaan ini sebentar." jawab Mas Abyan yang matanya fokus ke layar laptop.
"Emang banyak banget ya Mas, pekerjaannya?" melihat layar laptop yang di atas kaki Mas Abyan.
"Hmmm, lumayan. Perusahaan sebentar lagi mau mendirikan proyek baru untuk cabang di Bogor. Di tambah akan ada persaingan peningkatkan perusahaan di dunia perfilman."
"Emang perusahaan di suruh ngapain Mas, agar meningkat?" puraku nggak tau apa-apa.
"Hmmm," Mas Abyan melihatku. "Di suruh membuat film, Ay. Siapa yang berhasil membuat film yang di promosikan oleh perusahaan tersebut dan menghasilkan penonton lebih banyak, akan mendapatkan peluang lebih besar. Contohnya banyak yang berminat menjalin kerja sama." jelas Mas Abyan agar gue mengerti.
"Aku boleh jadi penulisnya, Mas?" candaku.
Mas Abyan melihat ke layar laptop lagi.
"Boleh Ay, tapi kamu harus ikut seleksi dulu, dokumen kamu di saring apakah layak atau enggak, terus kamu interview dulu ke perusahaan, memberi surat lamaran kerja dan proses lainnya."
"Kenapa gitu? Aku ‘kan istri Mamas, langsung aja masuk." candaku.
Mas Abyan menarik nafas kasar melihatku lagi. "Ay, nggak boleh gitu?"
"Kenapa?"
"Dalam dunia pekerjaan kita harus adil, Ay. Jangan mengandalkan orang yang berada di dalamnya. Usaha dulu, agar apa yang di hasilkan terasa nikmat." Mas Abyan mulai berkhutbah.
"Tapi Bi Rosida minta kemarin, Mamas mau membantunya." ingatku pada kejadian itu.
"Sebenarnya Mamas juga bingung waktu itu, mau ngasih jalannya gimana. Berhubung kamu mengambil tindakan begitu, Mamas merasa nggak perlu memikirkannya." jelas Mas Abyan.
"Hmmm, gitu. Jadi Mamas terselamatkan olehku."
"Hmmm, bisa di bilang begitu."
Adil banget suami gue, tidak pandang bulu, mau hitam atau pun putih. Wajar dirinya bisa bertahan dalam memimpin perusahaan besar.
"Kamu tidurlah, udah malam. Mamas mau ngerjain ini dulu." perintah Mas Abyan.
"Hmmm, Mamas jangan begadang, ingat usia udah tua." candaku.
"Belum, Ay. Masih kuat." belanya.
"Ih kuat apa?" bahagianya bercandain Mas Abyan.
Mas Abyan melihatku. "Mau buktinya." tantang Mas Abyan.
"Contohnya?"
"Serius loh, Ay."
"Aku serius Mas dari tadi." yang benar adanya.
__ADS_1
Mas Abyan meletakkan laptop di atas meja kecil di dekatnya.
"Katanya mau nyelesain pekerjaan, Mas?"
"Kamu mau bukti." jawab Mas Abyan mulanya mendekat.
Baru paham maksudnya. "Ngapain, dekat begini?" jantungku menggila.
"Katanya butuh bukti, Mamas masih kuat atau enggak."
Aduh, kenapa jadi begini? "Mas, entar pekerjaan Mamas nggak selesai-selesai." mengingatkan.
"Serius loh, Ay."
"Aku juga serius Mas, udah aku percaya Mamas memang kuat banget, sampai buat aku nggak tidur semalaman." sindirku yang benar adanya.
Mas Abyan tersenyum-senyum. "Dari tadi bilang gitu, mau diginiin dulu baru jujur." kembali duduk, mengambil laptop di letakkan di atas pangkuannya.
Huuuf!
Menghela nafas panjang. "Mamas-Mamas, tetap kalah kalau aku melawanmu." ucapku pelan sambil menarik selimut, lalu tidur memunggungin Mas Abyan.
Cup!
Mas Abyan mencium pipiku. "Selamat tidur sayang." ucapnya lembut di telingaku.
Mas mancing gue, atau gimana? Bisa ya bikin nih jantung robanahan terus.
Udahlah gue capek banget, terserah Mas Abyan mau apain saat tidur. "Hmmm, iya Mas. Selamat tidur." tak butuh waktu lama terlelap bersama mimpi.
***
"Allahuakbar, Allahuakbar." azan subuh berkumandang.
Terbangun mendengar suara azan. Seperti biasa Mas Abyan memeluk dari belakang.
Mencoba melepas pelukan Mas Abyan. "Hmmm, bentar lagi, Ay." dirinya mengeratkan pelukan.
"Mas, shalat." ajakku.
"Hmmm." Mas Abyan baru sadar saat mendengar suara azan dari handphoneku. "Astaghfirullahal'azim." melepaskan pelukan perlahan Mas Abyan duduk, sesekali memejamkan mata, masihnya mengantuk.
"Mamas begadang semalam?" perlahan ikut duduk.
"Hmmm, jam satu Ay, baru tidur." akuinya.
"Malam banget, Mas. Ya udah habis sholat tidur lagi aja."
"Hmmm." Mas Abyan mengusap wajahnya.
"Oh iya Mas, hari ini Mamas ke kantor?" inginku membuat sarapan.
"Iya, Ay. Aziz ‘kan libur, walau dirinya bantu dari rumah, tapi di kantor harus ada orang." jelas Mas Abyan sambil turun dari atas ranjang.
"Gitu ya, Mas."
"Hmmm." jawab Mas Abyan jalan ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Bersambung...