Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Chapter 104 Memikirkan Orang Lain


__ADS_3

Gue melihat Mas Abyan tidak makan nasi seperti biasanya, hanya makan buah. Apa dirinya sudah makan duluan? Tapi nggak mungkin.


"Mamas nggak makan nasi?" tanyaku yang melihat keanehan Mas Abyan.


Gue melihat semuanya melihat Mas Abyan juga.


"Mamas akhir-akhir aneh." ucap Dokter Idris.


"Kamu kenapa, Mas?" Ibu Sari terlihat cemas.


"Aneh gimana?" Oma ikut penasaran.


"Gimana nggak aneh, Oma. Kami semua nggak boleh pakai parfum saat kerja, bicara aja sama Mamas harus berjarak tiga meter, makan harus serba vegetarian, olahraga harus berjauhan, dan banyak hal lainnya." jelas Mas Darman.


Kami semua merasa aneh dengan Mas Abyan.


"Ah, aku mau minum air dingin." Falisha berdiri membuka kulkas yang telah di siapkan di Villa tersebut.


Ceklek!


"Khemm!" Mas Abyan terlihat menahan sesuatu. "Tutup pintu kulkas." perintah Mas Abyan.


Kami semua merasa heran dengan tingkah Mas Abyan yang seperti sedang mual mencium bau dari dalam kulkas yang berada di dekatnya.


Falisha segera menutup pintu kulkas.


Kami semua melihat Mas Abyan memegang hidungnya.


Ceklek!


Falisha membuka kulkas lagi.


"Hoek!" Mas Abyan ingin muntah.


Falisha menutup kembali.


"Berhenti!" perintah Mas Abyan.


Ceklek!


Falisha membuka kulkas kembali.


"Hoek!" Mas Abyan menutup mulutnya terlihat jelas dirinya hampir muntah.


Wajah Mas Abyan memerah, menahan rasa mual yang berlebihan.


Dup!


Mas Abyan berdiri berjalan keluar ruangan.


Mata gue melihat semuanya yang melihat ke arahku.


"Ka-kalian ke-kenapa?" gue merasa seperti mereka akan menelan gue hidup-hidup.


"Ra, jangan bilang." ucap Ibu.


"Hamil." sambung Oma.


Hamil?


"Tapi yang ngidam kenapa jadi Mas Abyan?" Hanum terlihat kebingungan.


"Emang, kamu udah telat datang bulan?" tanya Dokter Idris.


"Udah jalan 4 bulan." jelas Mika.

__ADS_1


"Apa?" Mas Darman, Dokter Idris, Ayah, Pak Aziz terlihat terkejut.


"Biasa aja kali, nggak perlu semuanya ikut terkejut." ucap Falisha.


"Eh, elu lupa. Kalau elu juga terkejut tadi." ucap Mika.


"Iya juga sih." ucap Falisha pelan, dirinya langsung berjalan ke arah tempat duduknya seperti mengambil sesuatu. "Coba tes dulu. Siapa tau benar hamil." Falisha memberikanku alat tes kehamilan.


Gue mengambil. "Ini untuk Mas Abyan?" sempatku bercanda.


Semuanya terlihat tersenyum-senyum.


"Ra, Oma paling tau kalau Abyan itu laki-laki bukan perempuan." ucap Oma sambil tersenyum.


"Ibu sama Oma yang khitanan Abyan waktu masih usia 5 tahun. Dirinya juga nggak ada jenis kelamin ganda." jelas Ibu sari membuat gue ingin tertawa, tapi gue tahan.


"Lebih baik elu ke kamar mandi tes." jelas Falisha terlihat penasaran.


"Hmmm boleh nggak, aku tesnya nanti aja. Soalnya mau nemenin Mas Abyan dulu, kasihan dirinya terlihat kurang nyaman." jelasku yang masih terpikirkan kondisi kesehatan Mas Abyan.


"Iya sudah, kapanpun bisa. Temuin Abyan dulu." jelas Ayah.


Gue menganggukan kepala sambil berdiri, berjalan keluar ruangan menemui Mas Abyan yang duduk di bawah pohon tak jauh dari bibir pantai.


"Mamas kenapa?" tanyaku saat duduk di dekat Mas Abyan.


"Ay, kamu hamil ya?" Mas Abyan memegang tangan kananku.


"Nih, coba Mamas tes." gue memberi alat yang diberikan Falisha tadi ke Mas Abyan.


"Untuk apa?" Mas Abyan terlihat bingung.


"Kan Mamas yang mual-mual di tambah ingin muntah." bahagiaku menjahili Mas Abyan.


"Kamu nggak ada apa, rasa mual atau muntah?" Mas Abyan menanyakan hal yang sama seperti Ibu, Falisha, Oma, Hanum, dan Mika.


Mas Abyan mengerutkan kedua alisnya. "Apa Mamas hanya masuk angin aja ya?" ucapnya pelan terlihat jelas wajahnya sedih.


"Mamas ingin punya anak?" mungkin saja begitu, soalnya raut wajah Mas Abyan menandakan hal semacam itu.


Mas Abyan menganggukan kepala. "Hmmm!"


Deg!


"Kenapa Mamas ingin secepatnya punya anak?" penasaranku.


Mas Abyan tersenyum. "Mamas hanya bercanda." upayanya menutupi sesuatu.


"Oke!" puraku sedih. "Mamas nggak mau cerita, udah mau main rahasia sekarang." sindirku.


"Mamas nggak ada rahasia, hanya tidak ingin membebani kamu, Ay. Jika rezeki nggak akan kemana-mana." jelas Mas Abyan membuatku tenang.


Gue tersenyum. "Mas, kata Oma. Kenapa kita nggak program aja?" menyampaikan pendapat Oma tadi siang.


"Ini untuk apa?" Mas Abyan menunjuk alat yang masih dirinya pegang.


"Aku di suruh tes, Mas." jujurku.


"Emang kamu hamil?"


"Menurut Mamas?" gue balik bertanya apa pendapatnya.


"Emang kamu terlambat haid, Ay?" Mas Abyan yang sekarang menanyakan hal itu.


Gue tebak dirinya akan terkejut. "Iya, Mas."

__ADS_1


Mas Abyan terlihat diam saja. Apa dirinya tidak terkejut? Reaksinya datar aja nggak ada senyum-senyumnya.


"Kamu pernah bilang sama Mamas, kalau siklus haid kamu itu teratur. Hanya saja, saat haid nggak tau kapan berhentinya bisa lima sampai tujuh hari." Mas Abyan mengingatkanku saat gue ketahuan berbohong.


"Iya, Mas." jawabku benar adanya.


"Berarti ada tiga kemungkinan." jelas Mas Abyan. "Pertama kamu hamil. Ke-dua kamu stres. ke-tiga kamu sedang gangguan hormonal." jelas Mas Abyan seperti gue sedang konsultasi dengan dokter spesialis kandungan.


"Menurut Mamas gimana?" tanyaku ingin mendengar pendapat Mas Abyan.


"Mamas tanya. Kamu stres ya selama menikah dengan Mamas?" pertanyaan Mas Abyan membuatku bingung harus jawab apa.


"Jujur sih, Mas. Semenjak menikah dengan Mamas. Aku nggak merasa stres lagi. Apalagi harus memikirkan banyak hal." jelasku apa adanya.


"Serius, Ay." terlihat Mas Abyan tidak percaya.


Gue menganggukan kepala. "Serius, Mas. Malahan aku merasa bahagia terus setiap harinya. Apalagi lihat wajah ganteng kamu itu. lupa aku, Mas. Sama dunia fana ini." jujurku benar adanya.


Mas Abyan tersenyum-senyum. "Awas terbang." candaku menjahili Mas Abyan.


"Pegang kuat-kuat tangan Mamas, Ay." Mas Abyan mengeratkan tangannya di sela-sela jariku.


"Kenapa, Mas?" puraku tak tau, kalau Mas Abyan bahagia gue puji.


"Mamas mau terbang, Ay." jujurnya.


"Hahaha..." kami tertawa bersama.


"Jangan, Mas. Nanti susah turunnya."


"Makanya pegang tangan Mamas." Mas Abyan menyeimbangkan candahan renyah kami.


"Ay." Mas Abyan memanggil.


"Hmmm!"


"Pertanyaan ketiga?" lanjut Mas Abyan bertanya lagi.


"Apa?"


"Kamu selama ini ada gangguan hormonal nggak?"


"Sepertinya nggak ada, Mas." jujurku.


"Kamu mau cek kesehatan nggak? Agar hasilnya ketahuan. Biar bisa di obati jika ada masalah di tubuh kamu." solusi Mas Abyan yang terlihat khawatir.


Gue tersenyum hal itu sepertinya menakutkan jika gue ternyata terdeksi tidak bisa memiliki keturunan. "Aku takut, Mas?" jujurku.


"Hmmm, takut kenapa?" Mas Abyan terlihat penasaran.


"Jika aku tidak bisa hamil gimana?" sedih gue membayangkan hal itu jika terjadi. Jujur aku sebagai wanita dan manusia biasa tidak bisa berbagi.


Mas Abyan tersenyum. "Jika hasilnya kamu mandul katanlah begitu. Berarti Tuhan ingin, kita selamanya menikmati masa-masa pacaran." ucap Mas Abyan membuat gue semakin sedih.


"Mamas nggak mau, memiliki keturunan darah daging sendiri?" pertanyaan yang sudah jelas terlihat tidak masuk akal.


"Lebih baik begitu, dari pada Mamas harus berpisah denganmu, Ay."


Hmmm! Manisnya. "Mamas bisa ya gombal, di waktu yang kurang tepat."


"Serius, Ay. Lagian angkasa earld group, banyak yang bisa menjalankannya. Bukan harus kita aja." jelas Mas Abyan memang benar adanya.


Kenapa gue jadi kepikiran gini ya? Walau Mas Abyan berucap demikian, jujur hati gue merasa sedih.


Semoga terlambatnya datang bulan, bukan karena penyakit, melainkan gue hamil. Gue janji, jika memang kondisi gue yang di nyatakan tidak bisa hamil, dengan terpaksa gue akan meminta Mas Abyan untuk menikah lagi dengan cara apapun. Egois, jika gue memilih untuk bahagia sendiri, tidak memikirkan orang lain.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2